NovelToon NovelToon
Suamiku Musuh Bebuyutanku

Suamiku Musuh Bebuyutanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Bad Boy
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Initial Be

Di SMA Nusantara, Kirei dan Arka adalah dua kutub yang tak pernah bisa bersatu. Kirei—ketua OSIS yang disiplin—membenci Arka, bad boy bertato temporer yang langganan mendapat surat teguran guru. Bagi murid lain, permusuhan sengit mereka di koridor sekolah adalah pemandangan biasa.

Namun, di balik seragam abu-abu yang mereka kenakan, ada rahasia besar yang tersembunyi. Demi janji keluarga dan menyelamatkan bisnis, Kirei dan Arka terpaksa menandatangani surat pernikahan rahasia di usia muda. Kini, dua musuh abadi ini harus tinggal di bawah satu atap yang sama dengan aturan ketat: tak boleh ada satu orang pun di sekolah yang tahu hubungan mereka. Permusuhan, rahasia, dan kepura-puraan baru saja dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Initial Be, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Getaran ponsel Arka di atas meja nakas memecahkan sepi di kamar yang gelap gulita.

Kirei yang masih berada dalam dekapan Arka merenggangkan pelukannya sedikit. Matanya menyipit, menatap pendar layar yang menyala terang memantulkan deretan nomor asing yang panjang dengan kode +44—Inggris.

Arka mengusap tengkuknya, perlahan melepaskan tangannya dari pinggang Kirei. "Gue angkat telepon sebentar," bisiknya serak di dekat telinga Kirei.

Kirei mengangguk pelan. Ada dingin yang mendadak menyusup ke kulitnya saat hangat tubuh Arka menjauh.

Arka beranjak dari ranjang, melangkah mendekati jendela kaca besar yang tersiram gerimis. Jemarinya menggeser tombol hijau, lalu menempelkan ponsel ke telinga.

"Halo?" sapa Arka, suaranya mendadak kaku dan berjarak.

Di tengah kegelapan kamar, Kirei menajamkan pendengarannya. Sayup-sayup terdengar gema suara wanita dari seberang telepon—tegas, elegan, namun sarat keangkuhan yang kental.

"Arka? Ini Mama. Kenapa ponsel kamu susah sekali dihubungi?"

Arka terkekeh sinis, menyandarkan bahunya ke bingkai jendela. "Gue sibuk. Ada apa Mama telepon malam-malam begini? Bukannya di London baru jam empat sore?"

"Mama dengar dari pengacara perusahaan... kamu ikut campur menagkap Tuan Aditama dan Bima di Jakarta?" nada wanita itu naik satu oktaf, kentara sekali tidak suka. "Ngapain kamu ikut campur urusan Keluarga Wijaya, Arka? Kamu lupa alasan Mama mengasingkan kamu di rumah itu?"

Jemari Arka mengepal rapat di samping paha sampai rahangnya mengeras tajam. "Bukan urusan Mama. Gue punya alasan sendiri."

"Alasan apa? Cewek bernama Kirei itu?" wanita itu tertawa dingin. "Jangan kekanak-kanakan, Arka. Mama sudah mengurus kepindahan kamu ke London bulan depan. Kamu harus masuk universitas di sana dan memegang cabang bisnis keluarga. Batalkan perjanjian konyol kamu sama Kakek Wijaya sebelum nama kamu ikut terseret!"

Ulu hati Kirei serasa dihantam benda tumpul mendengar cuplikan kalimat itu. London? Kepindahan bulan depan?

Kirei terduduk tegak di atas kasur, meremas pinggiran selimut abu-abu kuat-kuat. Tenggorokannya mendadak kering. Jadi... Arka memang berniat angkat kaki dari Indonesia dalam waktu dekat?

Arka mematikan sambungan secara sepihak tanpa membalas omongan ibunya. Ia bergeming di depan jendela beberapa saat, menarik napas panjang yang kelewat berat sebelum akhirnya membalikkan badan.

Tepat saat itu, sakelar otomatis bekerja dan listrik kembali menyala. Cahaya lampu kamar yang mendadak terang menerpa wajah mereka berdua.

Kirei menatap Arka dengan pandangan menuntut yang jujur dan rapuh. "Arka... lo mau pindah ke London bulan depan?"

Arka mematung. Matanya yang pekat meredam badai emosi yang berkecamuk di dada. Ia melangkah mendekati ranjang, mengempaskan diri di sebelah Kirei.

"Enggak usah dipikirkan, Kirei," sahut Arka datar, kentara sekali menghindar. "Mama gue memang suka mengatur dari jauh."

"Tapi telepon tadi..." suara Kirei bergetar tipis. "Lo beneran mau pergi?"

Arka mengunci pandangan Kirei. Tangannya terangkat, menyelipkan helai rambut Kirei ke belakang telinga secara perlahan.

"Gue enggak bakal pergi ke mana-mana sebelum tugas gue melindungi lo selesai, Bu Ketua," bisik Arka hangat. Kalimat itu terdengar menenangkan, tapi sekaligus menancapkan nyeri asing di dada Kirei. Jadi kalau tugasnya selesai... dia benar-benar bakal pergi?

Pukul 07.00 WIB.

Atmosfer SMA Nusantara kembali berdenyut. Hari ini adalah batas akhir penyerahan draf proposal sponsor Olimpiade dari divisi Humas OSIS.

Di ruang rapat, pengurus inti sudah berkumpul melingkari meja. Dion Hartono duduk rapi di sisi kanan dengan kemeja seragam licin dan senyum ramah yang memikat. Di depannya, berkas proposal dari Hartono Corp tersusun rapi.

Kirei melangkah masuk disusul Arka yang seperti biasa menyandarkan bahunya di ambang pintu depan—mengawasi dengan gaya acuh tak acuh tapi matanya mengunci Dion tanpa lepas.

"Selamat pagi, Kirei," sapa Dion hangat, berdiri sedikit memberi hormat. "Gimana draf semalam? Ada bagian yang perlu direvisi bareng?"

Kirei mengambil posisi di kursi ketua, membanting pelan cetakan draf proposal yang sudah dipenuhi coretan semalaman.

"Proposal Hartono Corp bagus, Dion," puji Kirei dingin dan profesional. "Tapi ada tiga pasal yang wajib dicoret total sebelum kita sepakati."

Dion menyipitkan mata, senyum ramahnya tak goyah. "Pasal yang mana, Kirei?"

"Pasal 4 ayat 2 soal hak akses data pribadi peserta, Pasal 7 tentang klaim paten karya siswa, dan Pasal 10 mengenai keterikatan publikasi," jawab Kirei lugas, menggeser lembaran yang penuh coretan tinta merah ke arah Dion.

Ruang rapat mendadak senyap. Pengurus OSIS lainnya saling lirik dengan raut tegang.

Dion memungut kertas itu, memindai garis-garis tinta merah yang sangat rapi dan mendetail—gaya revisi khas Kirei, tapi dengan analisis hukum yang terlalu tajam untuk ukuran anak SMA.

Dion terkekeh rendah, menatap Kirei dengan binar tertarik yang makin pekat. "Analisis yang tajam, Bu Ketua. Gue enggak menyangka lo bisa menemukan celah sekecil ini dalam semalam."

"Gue Ketua OSIS, Dion. Tugas gue membentengi hak seluruh siswa di sini," balas Kirei tanpa henti menatap mata Dion.

Dion menyandarkan punggungnya ke kursi, melirik Arka yang berdiri bersedekap dada di dekat pintu. Dion menyunggingkan senyum miring.

"Oke, gue terima semua revisi dari lo, Kirei," cetus Dion santai, langsung membubuhi tanda tangan di lembaran itu. "Tapi sebagai gantinya... Hartono Corp minta hak untuk mendampingi panitia OSIS waktu peninjauan lokasi olimpiade di luar kota akhir pekan ini. Dan gue mau lo sendiri yang mendampingi perwakilan sponsor."

Arka yang mendengar itu langsung melangkah maju, rahangnya mengetat keras. "Enggak bisa."

Dion menoleh pada Arka dengan raut polos yang sengaja dibuat-buat. "Kenapa enggak bisa, Arka? Ini kan urusan kerja sama resmi OSIS dan sponsor. Lagian... lo kan cuma kapten tim basket, bukan pengurus OSIS."

Suhu di ruangan terasa memanas. Kirei berdiri dari kursinya sebelum Arka keburu bertindak nekat.

"Peninjauan lokasi memang tugas Humas dan Ketua OSIS, Dion," sela Kirei tegas, berdiri menengahi Dion dan Arka. "Gue bakal berangkat... tapi tim basket sekolah juga ikut sebagai tim pengaman resmi kegiatan luar sekolah. Itu keputusan gue sebagai Ketua OSIS."

Dion mengangkat kedua tangan tanda menyerah sambil terkekeh tipis, sementara Arka menyunggingkan seringai puas di belakang tubuh Kirei.

Pukul 15.30 WIB.

Mentari sore yang keemasan memayungi area parkiran belakang. Kirei berjalan menghampiri motor Arka setelah selesai mengemas berkas.

Arka sudah bertengger di atas motor sport-nya, melemparkan helm kedua yang ditangkap Kirei dengan sigap.

"Keputusan lo di ruang rapat tadi oke juga, Bu Ketua," puji Arka begitu mesin motornya meraung halus.

Kirei mengunci tali helmnya, memandang Arka dari pantulan kaca spion. "Gue enggak mau Dion bermanuver sepihak. Kalau ada lo dan anak-anak basket... semuanya jauh lebih aman."

Arka memutar kepala sedikit, mengunci iris mata Kirei dengan pendar hangat. "Lo makin jago ya memanfaatkan suami sendiri?"

Pipi Kirei mendadak membara. "Arka! Ini masih di lingkungan sekolah!"

Arka tertawa lepas—suara tawa merdu yang selalu sanggup bikin dada Kirei bergetar.

Sayang, pas Kirei mau mengayunkan kaki naik ke jok belakang, sebuah sedan mewah hitam berhenti pelan tepat di samping mereka. Kaca mobil belakang bergulir turun perlahan.

Seorang wanita paruh baya berpenampilan anggun dengan kacamata hitam berbingkai emas memandang Arka dan Kirei dari dalam kabin. Aura dominan dan dingin menguar kuat dari sosoknya.

Arka membeku di atas motor, tawa di wajahnya musnah seketika. "Mama...?"

Wanita itu melepas kaca matanya, memindai Kirei dari ujung kepala sampai kaki dengan tatapan merendahkan yang dingin.

"Jadi ini cewek yang bikin kamu berani membangkang perintah Mama, Arka?" cetus suara wanita itu tajam, membelah udara sore. "Ikut Mama sekarang. Kita bicara bertiga."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!