Lima tahun menikah tanpa keturunan, Sekar dicap "mandul" oleh keluarga Danuwijaya yang terpandang. Puncaknya, sang suami—Rendra—membawa pulang Kirana yang tengah hamil, lalu menjadikannya istri kedua dengan alasan, *"Kamu tak bisa memberi keturunan, Sekar."*
Dipaksa menandatangani izin poligami, difitnah, dipermalukan di grup keluarga, bahkan pelayan setianya disingkirkan—Sekar akhirnya memilih pergi. Ia menggugat cerai, membawa apa yang menjadi haknya, dan berbalik dari keluarga yang selama ini menginjaknya.
Takdir mempertemukannya dengan Mayjen Arka Prawiranegara—jenderal berdarah dingin di medan, namun seorang duda yang lembut pada kedua anak angkatnya. Pria yang menyelamatkannya, membelanya di depan umum, dan berjanji: *"Seumur hidup, hanya kamu. Tak akan ada istri kedua."*
Lalu takdir menampar semua yang pernah menghinanya—**Sekar hamil. Kembar tiga.** Dan hasil pemeriksaan medis membongkar kebenaran yang selama ini dikubur: **yang mandul bukan Sekar… tapi Rendra.**
Saat namanya bersinar sebagai nyonya jenderal dan bunda dari tiga bayi, Rendra datang berlutut, memohon kembali. Sekar hanya tersenyum dingin, mengelus perutnya, dan berkata pelan:
*"Kamu yang dulu tak menghargai. Sekarang… kamu sudah tak pantas lagi, Mas Rendra."*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27
Cemburu yang Lepas Kendali
Rendra menunggu di depan gedung Reksa Group sejak pagi.
Sekar melihatnya ketika pintu putar terbuka. Ia berdiri di samping mobil hitam, tanpa sopir dan tanpa jas, menggenggam sesuatu di telapak tangan. Beberapa pegawai memperlambat langkah saat mengenali mantan pasangan yang sedang ramai dibicarakan.
Bening bergerak setengah langkah ke depan.
"Kita bisa kembali melalui basement," katanya.
"Tidak perlu. Ini jalan umum."
Sekar berjalan menuju mobil yang sudah menunggu. Rendra langsung menghadang.
"Kita harus bicara."
"Hubungi pengacaraku."
"Aku tidak mau bicara dengan pengacara. Aku mau bicara dengan istriku."
"Istrimu yang mana?"
Rendra mengabaikan pertanyaan itu. Matanya menyapu Bening, kendaraan, lalu gedung tinggi di belakang Sekar.
"Kamu kembali ke perusahaan tanpa memberitahuku. Kamu membawa Mama dan Bayu melawan Ayah. Sekarang orang-orang bilang kamu dekat dengan seorang jenderal. Apa lagi yang kamu sembunyikan?"
"Urusan Reksa bukan milikmu. Hubunganku dengan siapa pun juga bukan hakmu selama kamu hidup bersama Kirana."
"Jadi benar ada laki-laki lain?"
Suara Rendra meninggi. Dua orang di tepi trotoar mengangkat ponsel.
"Yang benar adalah aku tinggal di Vila milik keluargaku dan bekerja."
"Aku melihat fotonya membawa kamu."
"Foto setelah seseorang mencoba membunuhku."
Rendra terdiam sesaat, lalu rahangnya mengeras. "Aku tidak tahu itu akan terjadi."
"Tapi kamu tahu orang Wardhani membuat masalah dan memilih menutup telinga."
"Kirana sedang hamil. Aku tidak bisa menekannya sampai terjadi sesuatu pada bayi."
"Jadi keselamatanku selalu bisa dikorbankan agar dia tidak tertekan."
"Bukan begitu."
"Selalu begitu."
Rendra membuka telapak tangannya. Separuh liontin pasangan tergeletak di sana. Pengaitnya sudah kusam, tetapi ia masih menyimpannya.
"Kamu meninggalkan cincin, tapi membawa bagianmu," katanya. "Itu berarti kamu belum benar-benar selesai."
Sekar memandang logam kecil itu tanpa rindu. "Aku membawa bagianku untuk kukembalikan pada saat yang tepat. Bukan untuk mengingatmu."
"Kamu bohong. Kita tumbuh bersama. Kamu tidak mungkin menghapus semuanya dalam beberapa minggu."
"Aku tidak menghapus. Aku mengingat setiap kali kamu diam saat aku dihina. Itu sebabnya aku pergi."
Rendra mendekat. Bening mengulurkan lengan sebagai batas.
"Jangan mendekati klien saya tanpa izin," katanya.
"Dia bukan klienmu. Dia istriku."
"Beliau sudah meminta Anda menjauh."
Rendra menatap Sekar melalui bahu Bening. "Pulanglah. Kirana bisa kuurus. Setelah anaknya lahir, aku akan menempatkan dia di rumah lain. Kamu tidak perlu bertemu dengannya."
"Kamu masih berpikir masalahnya hanya karena aku harus melihat Kirana."
"Aku bersedia berubah. Apa lagi yang kamu mau?"
"Keputusanmu datang setelah aku tidak lagi menunggu."
"Aku akan batalkan permohonan poligami."
"Kamu sudah menikah siri dan menghamilinya menurut pengakuan kalian. Apakah sekarang kamu akan meninggalkan dia hanya karena aku pergi?"
Rendra membuka mulut, tetapi tidak ada jawaban yang membuatnya terlihat baik.
Sekar melangkah ke samping. "Kita sudah selesai, Mas."
Sapaan itu terdengar seperti penghormatan terakhir kepada masa lalu, bukan pintu untuk kembali.
Rendra menangkap lengannya.
Bening segera memisahkan tangannya dan berdiri di antara mereka. "Jangan sentuh beliau."
"Minggir!"
Rendra mencoba bergerak melewati Bening. Beberapa pegawai keamanan gedung mendekat. Ponsel para pejalan kaki merekam dari berbagai sudut.
"Sekar, aku suamimu! Kamu tidak boleh pergi dengan laki-laki lain!"
"Mobil itu milik perusahaan dan Bening bersamaku. Tidak ada laki-laki lain di dalamnya."
"Jenderal itu menunggumu di Puncak?"
Sekar menatapnya. "Bahkan kalau iya, kamu tetap tidak berhak menyeretku di jalan."
Rendra berhenti, terpukul bukan oleh jawaban, melainkan oleh kemungkinan bahwa Sekar tidak lagi takut ia salah paham.
Petugas keamanan meminta Rendra mundur. Bening membuka pintu mobil dan Sekar masuk tanpa tergesa.
Rendra mengetuk kaca. "Aku akan datang ke pengadilan. Aku tidak akan menyetujui cerai."
Sekar menurunkan kaca beberapa sentimeter. "Datanglah. Untuk pertama kali, kita bicara di tempat yang tidak dikuasai keluargamu."
Mobil bergerak.
Rendra berdiri di trotoar, menggenggam liontin dan dikelilingi kamera. Tidak ada satu pun orang yang membantunya mempertahankan Sekar.
Video itu beredar sebelum mobil mencapai jalan tol.
Bening meminta sopir berhenti di rest area agar mereka dapat menyimpan semua versi asli sebelum unggahan dihapus. Salah satu video memperlihatkan jelas saat Rendra memegang lengan Sekar. Video lain menangkap ucapannya tentang menolak cerai.
"Kita lampirkan ke pengacara," kata Bening. "Apakah Ibu ingin membuat laporan atas sentuhan paksa?"
Sekar menatap bekas merah yang cepat memudar. "Catat kejadian dan minta gedung menyimpan CCTV. Untuk laporan baru, saya konsultasikan dulu. Saya tidak ingin bertindak hanya demi balasan."
Ia mengirim satu pernyataan singkat melalui kuasa hukum: Sekar hadir di kantor untuk memeriksa kepemilikan keluarga ibunya, telah meminta Rendra tidak mendekat, dan tetap akan menempuh perceraian melalui Pengadilan Agama. Tidak ada nama Arka. Tidak ada hinaan kepada Kirana.
Pernyataan itu membuat video Rendra terlihat semakin buruk. Sekar berbicara tentang proses. Rendra berbicara tentang kepemilikan.
Wida menelepon berulang kali, lalu mengirim pesan suara.
"Hapus video itu! Kamu sengaja menyuruh orang merekam untuk merusak karier Rendra."
Sekar membalas satu kalimat: `Saya tidak mengunggah video dan sudah meminta gedung menyimpan rekaman lengkap.`
Setelah itu ia memblokir nomor Wida dari ponsel pribadi dan mengarahkan komunikasi keluarga ke pengacara. Batas kecil tersebut terasa seperti mengunci pintu yang selama ini selalu diterobos tanpa mengetuk.
Judul pertama menyebut Rendra memergoki istrinya. Namun versi dari kamera lain menunjukkan ia menghadang, menarik lengan, dan berteriak tentang jenderal, sementara Sekar hanya meminta pergi.
Komentar berubah menjadi ejekan.
`Dia punya istri siri hamil tapi cemburu mantan istrinya dekat orang lain?`
`Katanya Sekar yang terobsesi. Yang mengejar mobil siapa?`
`Gengsi pejabat muda runtuh di trotoar.`
Ponsel Sekar berdering. Arka menelepon dari Kota Palagan.
"Saya melihat videonya," katanya. "Anda terluka?"
"Tidak. Bening ada di sana."
"Dia menyentuh Anda."
Suara Arka sangat tenang, pertanda amarahnya justru sedang ditekan.
"Hanya sebentar. Semuanya direkam."
"Saya tidak akan mencampuri proses Anda. Tapi kalau dia datang ke Vila atau mengancam lagi, hubungi Yudha sebelum membuka gerbang."
"Baik."
Hening sebentar.
"Sekar," panggil Arka.
Itu pertama kalinya ia menyebut nama tanpa `Bu`.
"Ya?"
"Anda tidak sendiri."
Panggilan berakhir setelah Sekar mengucapkan terima kasih. Ia menatap jalan pegunungan di depan dan merasakan dadanya menghangat.
Di Jakarta, Kirana menonton video yang sama.
Rendra berteriak mengejar Sekar. Separuh liontin berada di tangannya. Tidak sekali pun ia menyebut istri yang sedang menunggu anaknya di rumah.
Kirana memegang perut, dan wajahnya memutih oleh marah sekaligus takut.
Di layar, Rendra masih mengejar mobil perempuan yang selama ini ia katakan tidak akan pernah sanggup meninggalkannya.