Beda Usia + Berondong + Manis-Cemburu + Ambigu Kantoran + Cinta Diam-Diam + Cerita Per Unit】
Katanya pacaran sama berondong itu bahaya. Tapi kenapa makin bahaya, makin nagih?
Kirana cuma mau relaksasi otot di gym. Bukannya rileks, dia malah "khilaf" satu malam sama pelatih pengganti yang mukanya polos kayak anak anjing. Besok paginya? Cowok itu ternyata suami in-game sahabatnya di Raja Nusantara, anak semata wayang bos-nya Pak Handoko, dan… anak magang baru di divisinya.
Kirana pengin kabur. Tapi si adik malah bisik-bisik: "Kak, malam ini sekali lagi, ya?"
Dan Kirana bukan satu-satunya yang kejeblos.
Ada yang salah jemput di bandara, eh malah bawa pulang "pacar bayaran" yang ternyata naksir dia diam-diam sejak lima tahun lalu. Ada yang mabuk lalu nikah dadakan sama "cowok bayaran"—yang ternyata putra mahkota konglomerat. Ada manajer artis yang, semalam sebelum resign buat nikah, malah "termakan" sama aktor papan atas asuhannya sendiri selama sepuluh tahun. Ada dokter relawan yang dikejar-kejar adik tetangga yang dulu ia besarkan—sekarang balik jadi dokter pulangan luar negeri yang… nggak mau ngalah.
20 berondong. 20 kisah. Satu pola yang bikin jantungan: siang hari manis manggil "Kakak", malam hari berubah jadi serigala yang nggak mau dipanggil adik lagi.
Mereka polos di depan, tapi posesif di belakang. Mereka bilang "aku masih kecil, Kak", tapi merekalah yang ngejar sampai ke ujung dunia, beliin rumah diam-diam, jagain sampai babak belur, dan bilang: "Berhenti nganggap aku adik. Anggap aku laki-laki yang sejajar sama kamu."
Masalahnya… si Kakak keburu kabur duluan tiap pagi.
Pertanyaannya sekarang: berapa lama Kakak bisa lari, kalau tiap berondong ini nagihnya minta ampun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29
Ibu yang Datang Terlambat
Wajah Radit berhenti beberapa senti dari wajahku.
Jantungku berdetak terlalu cepat. Namun alih-alih menciumku, ia meraih tas yang terselip di belakang kursiku dan meletakkannya di pangkuanku.
"Kalau aku tetap mau memanggil Jani," katanya, "aku harus minta izin siapa?"
"Aku. Dan jawabannya tidak."
"Baik, Kak Anji. Untuk sekarang."
Ia turun, membukakan pintu, lalu memastikan aku masuk ke lobi sebelum pergi. Aku menatap lampu belakang mobilnya sampai hilang sambil kesal karena sebagian diriku kecewa ia benar-benar hanya mengambil tas.
Keesokan siangnya, Denny datang ke kantor bersama Rio. Ia menutup pintu ruanganku dan menunduk.
"Maaf soal Surya. Gue yang mengenalkan dia ke Kak Anji. Gue nggak tahu dia bakal selingkuh."
"Kesalahannya bukan tanggung jawabmu."
"Tapi ada satu hal lagi." Ia melirik Radit yang sedang menyusun dokumen. "Tante Lily mau makan malam sama asisten baru Kakak."
Tante Lily adalah investor film terakhir Denny. Setelah bercerai, ia mendapat harta besar dan terkenal bisa mengangkat aktor muda menjadi bintang hanya dengan beberapa telepon. Ia juga terkenal meminta kedekatan pribadi sebagai imbalan.
"Tidak," jawabku.
"Cuma makan. Bisa jadi kesempatan buat Radit."
"Jangan macam-macam sama Radit. Kamu punya tunangan. Fokus jaga Amara, bukan menawarkan orang lain ke tempat tidur investor."
Denny memerah. "Gue nggak bilang tempat tidur."
"Kamu tahu maksud undangannya. Bu Kanya sangat melindungi adiknya. Kalau Radit dirugikan karena kamu, kariermu di Semesta Talenta bisa selesai."
Radit menatapku tanpa senyum jahil. Setelah Denny pergi, ia berkata, "Kak Anji galak kalau membela aku."
"Aku membela standar kerja."
"Aku tetap suka."
Aku pura-pura sibuk membaca jadwal.
Sore itu, petugas keamanan kompleks menelepon ketika aku hampir sampai rumah.
"Bu Anjani, ada Bu Wahyuni yang mengaku ibu Anda. Beliau menunggu sejak pagi."
Tanganku membeku di pegangan pintu mobil.
Seorang perempuan berdiri di dekat pos keamanan. Rambutnya sudah memutih sebagian, tetapi aku mengenali bentuk wajah yang kulihat di foto lama nenek.
"Anji," panggilnya.
Aku tidak turun. "Pak, saya nggak kenal beliau. Tolong urus dan jangan izinkan masuk."
Wahyuni berlari mendekati mobil. "Ibu cuma mau bicara."
Aku menutup kaca jendela.
Saat berumur enam tahun, ayahku meninggal. Tiga bulan kemudian, Wahyuni menjual barang-barang di rumah dan menitipkanku kepada nenek. Katanya ia pergi beberapa hari untuk mencari kerja.
Ia tidak pernah kembali.
Nenek membesarkanku sampai meninggal ketika aku kuliah. Aku mengurus pemakaman sendiri, bekerja paruh waktu, dan menerima pekerjaan mengajar les untuk membayar biaya hidup. Bertahun-tahun kemudian aku memakai koneksi industri untuk menemukan Wahyuni. Ia punya keluarga baru. Aku memilih tidak mengetuk pintunya.
Sekarang, setelah lebih dari dua puluh tahun, ia baru mengetuk pintuku.
Petugas keamanan menghalanginya. Mobil bergerak masuk, meninggalkan suaranya di belakang.
Beberapa menit kemudian, satpam mengirim foto identitas dan sebuah amplop yang ditinggalkan Wahyuni. Alamat pada KTP-nya berbeda dari alamat keluarga baru yang pernah kutemukan. Di sudut amplop tertulis bahwa ia ingin menjelaskan mengapa baru datang sekarang.
Aku meminta petugas menyimpan amplop di pos. Tidak kubuang, tetapi juga tidak kuambil. Jarak itu satu-satunya kendali yang masih kupunya.
"Itu siapa?" tanya Radit dari kursi pengemudi.
"Orang salah alamat."
Ia tidak memaksa. Namun sepanjang perjalanan ke lobi, tangannya beberapa kali bergerak seolah ingin meraih tanganku lalu berhenti.
Sebelum aku turun, ia berkata, "Kalau orang itu datang lagi dan Kakak nggak mau bertemu, bilang. Aku bisa bicara ke keamanan."
"Aku bisa mengurusnya sendiri."
"Aku tahu. Membantu bukan berarti menganggap Kakak nggak mampu."
Kalimat itu menghentikan penolakanku. Radit tidak bertanya siapa perempuan tersebut dan tidak menuntut cerita sebagai harga bantuan.
Beberapa hari kemudian, kami menangani rekaman program varietas nasional di luar ruangan. Jadwal molor sejak pagi. Aku melewatkan sarapan, lalu makan siangku diberikan kepada kru yang belum mendapat bagian.
Menjelang sore, suara orang-orang terdengar jauh. Keringat dingin muncul di tengkuk dan pandanganku dipenuhi titik hitam.
"Kak Anji?"
Lututku lemas.
Radit menangkap tubuhku sebelum menyentuh tanah. Ia mengangkatku dan membawaku ke ruang istirahat bersama sementara Rio memanggil petugas medis.
Beberapa kru melihat dan mulai mengangkat ponsel. Radit langsung meminta mereka memberi ruang, bukan merekam. Rio menutup pintu serta menjelaskan kepada produser lapangan bahwa aku hanya perlu waktu pulih. Dalam hitungan menit, Radit sudah melindungi tubuhku sekaligus mencegah foto kondisi lemahku menjadi bahan akun gosip.
"Aku cuma pusing," kataku.
"Kakak sadar dan bisa menelan?"
Aku mengangguk. Radit melarutkan madu ke dalam air, menyuruhku minum perlahan, lalu memberi dua kubus gula. Setelah gemetar berkurang, ia mengeluarkan roti dari tasnya.
"Kunyah."
"Jangan perintah atasan."
"Atasan yang hampir pingsan kehilangan hak protes lima belas menit."
Ia menyerahkan koordinasi panggung kepada Rio, menelepon tim produksi, dan memesan makanan melalui GoFood. Semua dilakukan tanpa meninggalkan kursi di sebelahku.
Petugas medis memeriksa tekanan darah dan memastikan aku sudah membaik setelah asupan gula. Ia menyarankan makan lengkap, tidak kembali bekerja berat sore itu, dan memeriksakan diri bila episode serupa terulang. Radit mencatat semuanya di ponsel.
"Aku bukan pasienmu," protesku.
"Benar. Pasien biasanya lebih patuh."
Ia lalu membuat kantong darurat berisi madu sachet, permen, dan biskuit untuk disimpan di tasku. Tindakan sederhana itu terasa lebih mengganggu pertahananku daripada rayuan mana pun.
Pesanan datang dari Hotel Saverra, bukan warung terdekat. Ada nasi hangat, sup, lauk lengkap, buah, dan pencuci mulut. Di atas pencuci mulut tertancap figur kecil bergambar wajah Radit dengan tulisan, Makan, Kak Anji.
"Hotel bikin hiasan begini?"
"Aku telepon dapurnya."
"Kamu kenal kepala dapur Hotel Saverra?"
"Teman keluarga."
Dana dibekukan, tetapi teman keluarganya menjalankan hotel mewah. Kebohongan Radit semakin tidak rapi.
Malamnya, setelah kondisiku pulih dan aku pulang, Dinda menelepon. Ia sudah melihat foto paket makanan yang kukirim.
"Anji, pertimbangkan serius sama dia," katanya. "Laki-laki nggak menyimpan madu, gula, roti, lalu pesan hotel cuma karena atasannya telat makan. Dia pasti suka lo."
"Dia memang rajin."
"Rajin itu bikin laporan. Ini namanya perhatian."
"Dia lebih muda dan adiknya atasanku."
"Itu data administrasi, bukan jawaban. Lo nyaman waktu dia dekat?"
Aku teringat bagaimana Radit berhenti sebelum menyentuh, bertanya sebelum mengganti plester, dan tidak memaksa membuka cerita tentang Wahyuni.
"Terlalu nyaman," aku mengaku.
"Nah. Justru itu yang bikin lo takut."
Aku menatap plester baru di tanganku dan figur kecil Radit yang diam-diam kubawa pulang.
Radit suka aku?
Pertanyaan itu membuat dadaku berdebar lebih keras daripada saat tubuhku hampir jatuh sore tadi di lokasi.