Beberapa hubungan berakhir bukan karena rasa cinta yang pudar, melainkan karena rahasia yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Diputus sepihak oleh Putri membuat Alex terjebak dalam labirin pertanyaan tanpa jawaban. Rasa patah hati membawanya pada titik terendah, memaksa Alex merangkak bangkit dan menata ulang takdirnya lewat kata demi kata yang ia tulis.
Kehadiran Syafa seperti cahaya senja yang tenang—menghangatkan hatinya yang beku dan membantunya menyembuhkan luka. Namun, saat batas antara masa lalu dan masa depan semakin kabur, Alex dihadapkan pada kenyataan pahit yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Setelah Kata Usai" adalah perjalanan emosional tentang bagaimana menyembuhkan diri dari pengkhianatan, memahami arti melepaskan, dan menemukan cinta sejati di tempat yang paling tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahri Sohil Munawar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 rahasia yang di sembunyikan
Di dalam kamar mandi kafe yang sepi, jantung Marko berdegup kencang menatap layar handphone-nya. Sebuah pesan singkat dari Putri benar-benar mengacaukan pikirannya.
"Koo, loo dimana?"
Sontak karena ada pesan itu, Marko langsung buru-buru mematikan layar ponselnya. Setelah berpura-pura izin ke kamar mandi demi menghindari tatapan Alex dan Umam, di sinilah dia sekarang, menyandarkan punggungnya di pintu toilet sambil mengetik balasan dengan jemari yang sedikit gemetar. Ada rasa kesal sekaligus panik yang bercampur jadi satu.
"Nape? Gue lagi sama Alex di cafe," balas Marko di ruang chat, ketikannya sengaja dibuat dingin dan ketus untuk menunjukkan kalau dia sedang tidak ingin diganggu.
Tidak butuh waktu lama, Putri langsung membalas pesan tersebut.
"Ouh, ngga, gue gabut mau ngajak lo jalan. Ada yang mau gue ceritain," tulis Putri.
Membaca ajakan tersebut, Marko sontak kaget setengah mati. Pikirannya mendadak kalut. Ia dilanda kebingungan yang luar biasa antara harus menerima ajakan tersebut atau menolaknya mentah-mentah demi menjaga perasaan Alex. Namun, di tengah keraguannya, sebuah pesan baru dari Putri kembali masuk.
"Koo, gue butuh banget. Gue bingung harus gimana ini... 😢" Putri mengirimkan pesan itu lengkap dengan emotikon sedih, seolah-olah ia sedang berada di posisi yang sangat terdesak.
Melihat respons Putri yang seperti itu, benteng pertahanan Marko akhirnya runtuh. Merasa iba sekaligus penasaran dengan apa yang terjadi, terpaksa Marko pun menerima ajakan tersebut.
"Kapan?" balas Marko singkat.
"Ntar malam di Cafe Kenangan," balas Putri cepat, seolah sudah merencanakan hal ini.
"Ya," jawab Marko, menutup percakapan itu seadanya.
Setelah menarik napas panjang untuk menenangkan diri, Marko melangkah keluar dari kamar mandi dan kembali ke meja tempat kedua temannya menunggu. Begitu dia duduk, atmosfer di meja itu mendadak berubah. Rasa canggung yang pekat langsung menyelimuti Alex dan Marko. Karena tidak ingin kecanggungan itu semakin berlarut-larut dan memancing kecurigaan yang lebih besar, Marko memutuskan untuk segera pamit.
"Gue pamit duluan ya, mau ada urusan di kampus," ujar Marko sambil meraih kunci motornya di atas meja.
"Tumben blay? Biasanya juga lo bodo amat sama urusan kampus," sahut Umam keheranan, menatap Marko dengan dahi mengernyit.
Apa yang dikatakan Umam memang benar. Selama ini, jangankan urusan organisasi atau administrasi, hal-hal berbau kampus saja jarang sekali membuat Marko tertarik untuk ikut campur.
"Hahaha, iya, katanya urgent banget barusan," kilat Marko, mencoba tertawa lepas demi menutupi kebohongannya. "Gue pamit ya!"
Tanpa menunggu jawaban lebih lama, Marko pun berbalik dan bergegas pergi meninggalkan kedua sahabatnya yang masih terpaku di meja kafe.
---- POV ALEX ----
Alex menatap punggung Marko yang perlahan menghilang di balik pintu kaca kafe. Pikirannya yang tadi penuh dengan bayang-bayang Putri, kini ketambahan satu beban baru.
"Hmmm, sebenarnya ada apa ya di antara mereka berdua?" tanya Alex dalam hati kepada dirinya sendiri. Ingatan tentang nama Putri yang sempat menyala di layar HP Marko tadi sore kembali berputar di kepalanya.
"Tumben banget anjay tuh anak. Biasanya juga bodo amat. Percaya kagak lo dia tiba-tiba rajin ngurusin masalah kampus?" celetuk Umam, memecah lamunan Alex. Umam menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
"Entah," jawab Alex singkat. Lidahnya terasa kaku, bingung harus merespons apa karena hatinya sendiri sedang berkecamuk hebat antara ingin berprasangka buruk atau tetap percaya pada sahabatnya.
"Apa mungkin dia lagi deket sama cewek ya, tapi kita kagak tahu?" tebak Umam lagi, mencoba mencari alasan yang paling masuk akal.
Mendengar spekulasi Umam, Alex menghela napas panjang lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Mungkin. Udahlah biarin aja, suka-suka dia," ucap Alex acuh tak acuh. Dia sengaja memotong pembicaraan karena sudah terlalu malas dan lelah untuk terus-terusan membahas Marko hari ini.
Setelah Mereka berdua mengobrol panjang, Alex dan Umam akhirnya memutuskan untuk menyudahi nongkrong sore itu. Mereka berdua pun bergegas pulang dan memisahkan diri ke rumah masing-masing.
Namun, nasib sial tampaknya belum mau beranjak dari Alex. Baru setengah jalan berkendara, langit yang semula cerah mendadak berubah menjadi gelap gulita, dan tak lama kemudian hujan deras langsung mengguyur jalanan dengan sangat lebat. Alex terpaksa memelankan laju motornya, menepi di depan sebuah ruko kosong untuk ikut berteduh bersama beberapa pengendara lainnya.
Sambil menyeka sisa-sisa air hujan di wajahnya, Alex berdiri menyandarkan punggung ke tiang ruko, menatap jalanan yang mulai tergenang. Di tengah riuhnya suara rintik hujan yang menghantam aspal, sebuah pemandangan di jalan raya tiba-tiba menangkap perhatiannya.
Sebuah motor melintas dengan kecepatan sedang tepat di depan tempat perteduhan Alex. Pandangan mata Alex langsung terkunci pada kendaraan tersebut. Meskipun terhalang tirai hujan, Alex sangat mengenali bentuk fisik dan pelat nomor motor itu. Itu tampak sekilas seperti motor milik Marko. Dan yang membuat dada Alex mendadak berdesir aneh adalah, sosok yang diduga Marko itu sedang membonceng seorang cewek yang mengenakan jas hujan bertudung rapat, membuat Alex sama sekali tidak tahu siapa sebenarnya cewek tersebut.
"Marko? Boncengan sama cewek?" tanya Alex dalam hati dengan dahi mengernyit. Jantungnya berdegup tidak keruan. Dia ingin memastikan lebih jelas, namun motor tersebut sudah terlanjur melesat jauh dan menghilang di belokan jalan. Karena kondisi pikirannya saat ini memang sedang tidak kondusif, Alex hanya bisa menghela napas berat, mencoba menepis prasangka buruk yang mulai berkecamuk di kepalanya.
Tak berselang lama, hujan pun perlahan-lahan mereda menjadi gerimis kecil. Alex segera memakai helmnya kembali dan melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.
Namun, sesampainya di rumah dan mengunci motor di garasi, bayangan di jalanan tadi ternyata belum juga mau hilang. Sembari merebahkan tubuhnya yang lelah ke atas kasur kamar, Alex menatap langit-langit, masih sibuk memikirkan siapa cewek yang berboncengan dengan Marko tadi. Apakah cewek itu adalah Putri? Pikiran itu muncul karena dia ingat betul pesan WhatsApp dari nama Putri yang sempat menyala di handphone Marko tadi sore di kafe.
Alex memejamkan matanya rapat-rapat, lalu menggelengkan kepala dengan kuat. Dia tidak mau larut terlalu dalam memikirkan dan mencurigai Marko, karena bagaimanapun juga, Marko adalah sahabat dekatnya sendiri. Lagipula, fokus utama Alex saat ini bukanlah itu; tujuan terbesarnya sekarang adalah berjuang sekuat tenaga untuk bisa melupakan Putri secepatnya dari hidupnya.
Malam harinya, di saat kamar tidur Alex sudah gelap dan ia bersiap untuk memejamkan mata, tiba-tiba handphone di atas nakas bergetar. Sebuah notifikasi pesan dari nomor tidak dikenal masuk.
"Dee, gimana kabar?"
Alex mengernyitkan dahi di kegelapan malam. Ia menatap layar ponselnya dengan perasaan bingung yang amat sangat. Tidak biasanya ada nomor asing yang mengiriminya pesan larut malam seperti ini, apalagi dengan sapaan seakrab itu.
"Sehat, ini siapa?" balas Alex, jemarinya mengetik dengan ragu. Jantungnya mendadak berdegup agak kencang karena sebuah ingatan lama mendadak melintas. Sebutan "Dee" adalah panggilan khusus yang terakhir kali ia dengar pada masa-masa SMA dulu. Dan di dunia ini, hanya ada satu orang yang memanggilnya dengan sebutan itu: Kak Nadia,kakak angkatnya.Tak butuh waktu lama, layar handphone kembali menyala.
"Syukurlah. Ini Kak Nadia, Dee," jawab pesan dari seberang sana.
Bola mata Alex sekilas membelalak. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa di saat kondisinya sedang hancur lebur dan sakit hati karena dikhianati, kakak angkat yang dulu paling mengerti dirinya kini datang kembali tepat pada waktunya. Kak Nadia adalah sosok yang dulu selalu mendengarkan keluh kesahnya dan paling sering menasihati hubungan asmaranya.
Tanpa bisa ditahan lagi, benteng pertahanan yang Alex bangun sejak sore tadi runtuh. Air mata yang ia tahan sejak di kafe mendadak menggenang. Dengan jemari gemetar, Alex langsung mengetikkan beban terberat di hatinya.
"Kak, Ade udah putus sama Putri."
Hanya butuh waktu beberapa detik sampai balasan dengan nada panik masuk ke ponsel Alex.
"What?? Kenapa kok bisa?? Besok ketemu bisa?"
Kak Nadia tampak sangat syok. Wajar saja, karena sejak dulu, Kak Nadia adalah orang nomor satu yang akan selalu membela Alex setiap kali ada masalah, termasuk jika itu menyangkut Putri.
"Boleh Kak, besok," balas Alex, menyetujui ajakan tersebut.
Setelah menutup ruang obrolan itu, Alex memeluk gulingnya erat-erat. Malam itu, di tengah rasa sesak yang belum sepenuhnya hilang, Alex merasa sedikit bahagia. Kehadiran kembali kakak angkatnya yang sempat menghilang tanpa kabar selama hampir dua tahun itu setidaknya memberi secercah ketenangan. Alex tahu, besok dia tidak perlu lagi berpura-pura kuat sendirian.
judul dan tagar tidak nyambung " dusta yang sempurna" tema balas dendam, romansa fantasi tapi deskripsi nya hanya berbicara putus cinta dan trauma tidak ada unsur kebohongan, fantasi, atau persaingan.
tidak memancing penasaran.
kurang emosi yang terasa
dan cover tulisan belum menyatu
kurang memikat mata
belum ada menggambar isi cerita