NovelToon NovelToon
Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Sistem Cashback 10x: Semakin Boros, Semakin Kaya!

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Kaya Raya / Tamat
Popularitas:53.3k
Nilai: 5
Nama Author: Galih Lestari

"Dikhianati istri, diperas mertua, membesarkan anak yang bukan darah dagingnya.

Raka Pratama hidup bak budak — sampai ia terlahir kembali dengan Sistem Cashback 10x. Sekarang, setiap rupiah yang ia habiskan kembali sepuluh kali lipat.

Perceraian? Ia yang memulai. Konglomerat yang mengancam? Hancur. Pejabat korup? Ditangkap hidup-hidup. Dari nol menuju jajaran orang terkaya dunia — ini bukan dongeng. Ini balas dendam.
"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galih Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15 - Putusan Cerai

Semua orang menahan napas.

Palu sidang jatuh.

Tok.

Suara kecil itu tidak keras, tetapi bagi Raka, bunyinya seperti rantai besi yang akhirnya putus.

Hakim menyelesaikan pembacaan putusan dengan suara datar.

Permohonan cerai talak dikabulkan.

Kesepakatan para pihak mengenai pemisahan harta, tanggungan utang pribadi, dan batas penggunaan dokumen anak dicatat sebagai bagian dari penyelesaian.

Kedudukan hukum Nila dan segala urusan administratif terkait akan ditangani melalui prosedur yang semestinya, tanpa menjadikan anak itu objek penghinaan terbuka.

Raka tidak dibebani nafkah anak biologis berdasarkan bukti yang telah diajukan dan pemeriksaan lanjutan yang akan diselesaikan kuasa hukum.

Setiap kalimat itu masuk ke ruang sidang dengan cara yang bersih.

Tidak ada teriakan kemenangan.

Tidak ada meja yang dipukul.

Tidak ada ucapan kasar.

Justru karena itu, Ratna tampak semakin hancur.

Ia duduk di kursi Termohon dengan kedua tangan menggenggam ujung kerudung. Matanya merah, bibirnya bergerak seperti ingin menyusun bantahan, tetapi semua jalur sudah tertutup oleh tanda tangan, bukti, dan putusan.

"Sidang selesai," kata hakim.

Palu mengetuk sekali lagi.

Tok.

Raka berdiri.

Hendra mengumpulkan dokumen dengan gerakan rapi. "Selamat, Pak Raka. Ini belum berarti administrasi selesai seluruhnya hari ini. Ada masa dan proses salinan putusan sampai akta cerai diterbitkan. Tapi substansinya sudah jelas."

"Saya paham."

"Kita akan urus salinan resmi. Jangan terpancing di luar."

Raka menatap Ratna yang masih duduk.

"Saya tidak punya alasan untuk terpancing."

Panitera memanggil kedua kuasa hukum untuk memastikan daftar dokumen yang tercatat. Hendra memeriksa setiap lembar: putusan, catatan mediasi gagal, akta perdamaian, lampiran bukti yang disimpan terbatas, dan catatan mengenai perlindungan identitas anak.

Raka memperhatikan proses itu dengan tenang.

Dulu, hidupnya selalu diputuskan oleh teriakan di ruang keluarga. Siapa yang menangis paling keras, dialah yang dianggap benar. Siapa yang membawa kata keluarga, dialah yang boleh mengambil uangnya.

Hari ini, semua berubah menjadi nomor perkara, tanda tangan, dan cap.

Lucunya, justru itu terasa lebih manusiawi.

Karena aturan tidak menanyakan siapa yang paling pandai berakting. Aturan menanyakan siapa yang membawa bukti.

Ratna berdiri tiba-tiba. Kursinya bergeser dan mengeluarkan suara tajam.

"Yang Mulia, saya..."

Farid segera menahan lengannya. "Bu Ratna, sidang sudah selesai."

"Tapi saya belum siap."

Hakim menatapnya dengan sabar yang dingin. "Saudari sudah diberi kesempatan dalam proses. Putusan telah dibacakan. Silakan gunakan upaya hukum sesuai aturan jika ada keberatan."

Ratna seperti ditampar oleh kata aturan.

Ia menoleh ke Raka. "Kamu tidak boleh pergi begitu saja."

Raka tidak menjawab.

Hendra yang menjawab, "Semua komunikasi melalui kuasa hukum."

Farid menarik napas panjang. Ia tahu kliennya sedang memperburuk posisi.

"Bu Ratna, cukup."

Ratna duduk kembali, tetapi air matanya jatuh tanpa suara. Kali ini, tidak ada mediator yang bertanya apakah rumah tangga masih bisa diselamatkan. Tidak ada ruang untuk menjual penyesalan. Tidak ada ibunya di samping untuk mengubah tangis menjadi serangan.

Hanya ada hasil.

Mereka keluar dari ruang sidang.

Di koridor, Bu Sumini sudah menunggu. Wajahnya kusut, suaranya pecah sejak sebelum Raka mendekat.

"Ratna! Bagaimana? Hakimnya bilang apa?"

Ratna keluar beberapa langkah di belakang, didampingi Farid. Ia tidak langsung menjawab. Farid yang bicara dengan nada profesional yang sudah kehilangan tenaga.

"Permohonan dikabulkan. Kesepakatan harta dicatat."

Bu Sumini seperti tidak mengerti.

"Apa maksudnya dikabulkan?"

Ratna menutup wajah.

"Bu... sudah."

"Sudah apa?"

"Sudah cerai."

Orang-orang di koridor menoleh sebentar, lalu kembali pada map masing-masing. Bagi mereka, satu rumah tangga selesai hanyalah satu suara lagi di gedung yang setiap hari mengurus perpisahan.

Namun bagi Bu Sumini, dunia seolah runtuh di depan pintu ruang sidang.

"Tidak," gumamnya. "Tidak mungkin. Kamu pasti salah dengar."

Farid berkata hati-hati, "Bu, putusan sudah dibacakan."

"Saya tidak tanya kamu!"

Petugas keamanan yang tadi mengeluarkannya dari ruang sidang mulai berjalan mendekat.

Bu Sumini melihat petugas itu, lalu menelan sisa teriakannya. Ini bukan lobi apartemen, bukan ruang tengah Raka, bukan tempat ia bisa memukul meja dan berharap semua orang takut.

Di sini, setiap langkah ada batasnya.

Bu Sumini menoleh ke Raka dengan mata liar. "Kamu puas? Kamu puas menghancurkan anak Ibu?"

Raka berhenti, tetapi tidak mendekat.

"Saya tidak menghancurkan siapa pun. Saya hanya berhenti ikut dihancurkan."

"Kamu akan kualat!"

Hendra maju setengah langkah. "Bu, semua komunikasi berikutnya melalui kuasa hukum. Tolong jangan membuat keributan di area pengadilan."

"Saya bicara pada mantan menantu saya!"

Kata mantan keluar dari mulut Bu Sumini tanpa ia sadari.

Raka mendengarnya.

Untuk pertama kalinya, kata itu terdengar bagus.

Mantan.

Mantan menantu.

Mantan suami.

Mantan ATM.

Ratna menatap Raka. "Kamu benar-benar tidak merasa apa-apa?"

Raka melihat wajah perempuan yang pernah ia perjuangkan dengan gaji kecil, lembur malam, dan harga diri yang ia telan setiap hari.

Dulu, pertanyaan itu mungkin akan membuatnya runtuh.

Sekarang, ia hanya merasa lelah yang sudah selesai.

"Aku merasa bebas."

Ratna tersentak.

Itu lebih kejam daripada makian.

Karena itu benar.

Raka berbalik dan berjalan menuju bagian administrasi bersama Hendra. Ia menerima tanda terima pengambilan salinan putusan, menandatangani beberapa dokumen, lalu menyimpan semuanya di map baru yang diberikan pengadilan.

Akta cerai belum berada di tangannya hari itu.

Tetapi jalannya sudah terbuka.

Beberapa waktu lagi, saat administrasi selesai dan putusan berkekuatan sesuai prosedur, selembar dokumen resmi akan mencatat apa yang hari ini sudah diputuskan: ia bukan lagi suami Ratna Dewi Hartono.

Di luar gedung, matahari Surabaya menyilaukan.

Raka berdiri di anak tangga Pengadilan Agama, menarik napas panjang.

Tidak ada bau kamar pengap.

Tidak ada suara Bu Sumini mengetuk meja.

Tidak ada Budi meminta uang.

Tidak ada Ratna berkata ia tidak cukup lelaki.

Yang ada hanya udara panas, lalu lintas, dan ruang luas yang menunggu di depannya.

Hendra berdiri di sampingnya. "Saya akan kirim jadwal pengambilan salinan dan langkah administrasi berikutnya."

"Terima kasih, Pak Hendra."

"Satu nasihat terakhir untuk hari ini. Jangan merayakan dengan menyerang balik di media sosial."

Raka tersenyum tipis. "Saya tidak butuh penonton."

"Bagus. Orang yang sudah menang sering kalah karena ingin semua orang tahu."

Hendra pergi lebih dulu.

Raka turun ke parkiran. Alphard hitam menunggu di bawah sinar matahari. Saat ia membuka pintu, ponselnya bergetar.

Pesan dari Sari.

Sari: Aku dengar sidangmu hari ini. Semoga selesai dengan baik. Kalau butuh bicara sebagai teman, kabari.

Raka membaca pesan itu dua kali.

Ia mengetik balasan pendek.

Sudah selesai. Terima kasih.

Balasan Sari datang cepat.

Sari: Kalau begitu, selamat datang kembali ke hidupmu sendiri, Mas Raka.

Raka menutup mata sebentar.

Hidupnya sendiri.

Kata itu sederhana, tetapi terasa seperti pintu yang dibuka dari dalam.

Ketika ia duduk di kursi pengemudi, panel biru muncul di depan matanya.

[Host telah memutus hubungan parasit utama melalui jalur hukum.]

[Aset, martabat, dan pilihan hidup berhasil dipertahankan tanpa mengorbankan anak yang tidak bersalah.]

[Selamat! Hadiah khusus telah dibuka: Peningkatan Karisma +100%. Aktifkan sekarang?]

1
Wega Luna
ka,rumah kita dekat dong ,saya tinggal di belakang perumahan Citraland🤣🤣🤣🤣, sawah saya sudah dibeli Citraland,,cuma masih boleh ditanami belum dibangun🤭🤭🤭
casanova
kurang suka bacanya
Tyo Reanu
bener2...dont judge a book by its cover....
Tyo Reanu
Awalnya, sempat mengira cerita ini hanya akan seperti cerita2 sistem pada umumnya, cheesy,dendam,absurd...dan saya mintamaaf yang sebesar2nya untuk penulis akan itu.
mungkin sepertinya, baru kali ini aku baca cerita di platform online yang punya alur, bahasa dan kekuatan cerita kaya gini.
terimakasih untuk cerita luarbiasa nya Gan....
irena
bagus banget ceritanya thor
Anonim
ceritanya menarik
Zidan Official
knp GK ceraiii aja woii
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
Aang Reza
bagus👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!