NovelToon NovelToon
THE QUEEN'S RETURN

THE QUEEN'S RETURN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8. Topeng yang retak

Makan malam berlanjut dalam keheningan yang serba canggung. Suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya dentum yang memecah kesunyi di aula privat tersebut.

Makanan berkelas dunia yang tersaji di atas meja kayu ek itu mendadak kehilangan rasa; setiap anggota keluarga Pratama sibuk mencerna perubahan atmosfer yang dibawa oleh sosok Clarissa yang baru.

Di ujung meja, Helena duduk kaku. Jemarinya yang memegang pisau steak gemetar tipis, berulang kali melirik ke arah Victoria. Bisikan dingin Clarissa tadi masih bergaung tajam di dalam gendang telinganya, menanamkan rasa paranoia yang menggerogoti pikirannya. Setiap kali Victoria mengangkat cangkir atau melempar senyum tipis, Helena merasa jantungnya serasa diremas.

Dominic, yang duduk tepat di sebelah Victoria, beberapa kali melirik istrinya dari sudut mata. Sikap Victoria yang begitu tenang—bahkan sempat melempar lelucon tentang 'kalibrasi alat'—sama sekali tidak masuk akal baginya.

Dominic tahu betul Clarissa yang lama akan menangis histeris atau memohon perlindungan jika berhadapan dengan Helena dan tuduhan keluarga. Namun wanita di sampingnya saat ini justru menikmati setiap detik ketakutan yang

terpancar dari wajah musuhnya.

"Mampu menikmati hidangan utamanya, Dominic?" suara Victoria memecah lamunan pria di sampingnya, terdengar begitu halus namun dipenuhi kendali.

Dominic berdeham pelan, memperbaiki posisi duduknya.

"Kau bermain api malam ini, Clarissa. Mengapa kau melepaskan Helena begitu saja setelah menyudutkannya?"

Victoria meletakkan pisau dan garpunya secara perlahan, menyapu sudut bibirnya dengan serbet kain sutra.

"Mampu menangkap burung tanpa harus merusak sangkarnya, Dominic? Jika aku menjatuhkannya sekarang, permainannya akan selesai terlalu cepat. Ketakutan akan hal yang belum terjadi jauh lebih menyiksa ketimbang hukuman itu sendiri."

Di hadapan mereka, Sarah Pratama mencoba memecahkan kecanggungan dengan berdeham keras.

"Ehem... Kakek, mengenai rapat pemegang saham minggu depan, bukankah kita harus mulai membatasi akses publik agar rumor tentang Clarissa tidak terus menekan harga saham kita?"

Kakek Silas mengangkat pandangannya dari piring, menatap Sarah dingin sebelum beralih pada Victoria. "Bagaimana menurutmu, Clarissa? Ini menyangkut namamu."

Seluruh pasang mata kembali tertuju pada Victoria. Helena menyipitkan mata, berharap Clarissa akan tersudut atau menunjukkan ketidakpahamannya mengenai urusan bisnis korporat.

Victoria tersenyum tipis. Ia menegakkan punggungnya, menatap Sarah dengan pandangan lurus yang mengintimidasi.

"Mampu melihat masalah secara objektif, Bibi Sarah?" sahut Victoria anggun.

"Saham Pratama Group turun bukan karena rumor pribadiku, melainkan karena laporan keuangan kuartal kedua dari anak perusahaan di Singapura yang menunjukkan pembengkakan dana tak terduga. Jika publik melihat kita bersembunyi, mereka akan mengira Pratama Group sedang menutupi kebangkrutan. Sebaliknya, aku menyarankan kita mengadakan konferensi pers terbuka."

Sarah mendadak bungkam, wajahnya pucat pasi karena Victoria kembali menyentuh isu sensitif mengenai lini bisnis Singapura yang dikelolanya.

Dominic menatap istrinya dengan kilatan kagum yang tak lagi bisa ia sembunyikan, sementara Kakek Silas menyunggingkan senyum tipis, sebuah apresiasi langka dari sang patriark.

"Saran yang sangat tajam," puji Silas singkat. "Kita lakukan konferensi pers minggu depan."

Helena yang merasa posisinya makin tersisih dan diabaikan, mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih.

Rasa cemburu dan terancam membakar dadanya. Ketika acara makan malam selesai dan para tamu mulai berdiri untuk meninggalkan ruangan, Helena sengaja berjalan mendahului Victoria menuju area balkon luar yang sepi, berpura-pura mengambil selendangnya yang tertinggal.

Victoria yang melihat pergerakan itu, tersenyum dingin. Ia memberikan isyarat pelan pada Dominic agar tidak mengikutinya, lalu melangkah anggun menuju balkon.

Di bawah naungan angin malam yang dingin, Helena berbalik cepat begitu mendengar langkah kaki Victoria. Topeng kepolosannya runtuh seutuhnya. Wajahnya yang semula tampak manis kini terdistorsi oleh kebencian yang mendalam.

"Siapa kau sebenarnya?!" desis Helena penuh penekanan, melangkah mendekati Victoria.

"Kau bukan Clarissa! Clarissa tidak tahu apa-apa tentang keuangan Singapura, dan dia terlalu penakut untuk menatap mataku!"

Victoria menghentikan langkahnya, menyandarkan siku anggunnya di pembatas balkon marmer, menatap Helena dari atas ke bawah seolah melihat serangga kecil yang mengganggu.

"Mampu menerima kenyataan bahwa kau hanya tidak mengenal musuhmu sendiri, Helena?" jawab Victoria tenang, menyunggingkan senyuman tipis yang sangat berkuasa.

"Ini adalah aku yang sesungguhnya. Selama ini aku hanya berpura-pura menjadi wanita lemah agar bisa melihat seberapa jauh ular sepertimu berani melangkah."

Wajah Helena memerah, emosinya membumbung tinggi melihat ketenangan luar biasa di mata Victoria. "Pura-pura?! Kau pikir kau bisa membodohiku?!"

"Mengapa tidak?" bisik Victoria dengan keanggunan yang mematikan. "Kau terlalu sibuk merasa menang sampai melupakan satu hal: saat kau sibuk memasang perangkap, aku yang memilih kapan harus masuk dan kapan harus menghancurkanmu."

Helena menggeram rendah, kehilangan seluruh kendali emosinya. Ia merogoh tasnya dengan cepat, mengeluarkan sebuah botol kaca kecil berisi cairan bening. "Jika aku tidak bisa menyingkirkanmu lewat permainan kata, maka aku akan memastikannya malam ini juga!"

1
Anonim
Lanjutkan
Anonim
Teruskan
atulyaas
semangatt kakk, ditunggu updatenya yaaaa
sangat menarik sekali
Annida Annida
bagus , lanjut tor
nilim
akhirnya up jugaa aku tunggu kamuu kaa 😍, semangat ya kak 🫰
Senja_Puan: Waaah terima kasih kak😍
total 1 replies
nilim
BAGUSS UPP TERUSS😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!