Demi menghindari aib, Naresta dan Elvan memilih meninggalkan keluarga mereka dan memulai hidup baru di sebuah desa. Dengan kerja keras, mereka berhasil membangun sebuah toko yang berkembang pesat dan menjadi sumber penghidupan mereka.
Namun, kesuksesan itu tak membuat mereka diterima. Elvan yang merupakan penyandang autisme terus menjadi sasaran hinaan dan cemoohan warga. Meski begitu, Naresta tetap setia berada di sisinya, membuktikan bahwa cinta sejati tidak pernah memandang kekurangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terlalu Baik
"Mbak, ini roti cokelat yang isinya lima, terus rasa cokelat, kan?" tanya seorang pelanggan sambil mengambil satu bungkus roti dari rak.
"Oh iya, Mbak. Itu baru saja datang," jawab Naresta sambil tersenyum.
"Kalau begitu saya mau dua, Mbak. Jadi berapa totalnya?"
"Rp30.000, Mbak."
"Oh, bentar."
Pelanggan itu langsung merogoh kantong bajunya, lalu membuka dompetnya. Ia menghitung lembar demi lembar uang yang dimilikinya.
Beberapa saat kemudian, senyum di wajahnya memudar.
"Yah... uang saya kurang."
Wanita itu tersenyum canggung kepada Naresta.
"Satu saja, Mbak. Uangnya nggak cukup, hehe."
Naresta menggeleng pelan.
"Ambil saja dua, Mbak. Nggak apa-apa kok."
Wanita itu langsung mengibaskan tangannya.
"Eh, nggak usah, Mbak. Nanti pemasukan Mbak berkurang."
Naresta tersenyum hangat.
"Sudah, ambil saja."
"Ini benar nggak apa-apa?"
"Iya."
Naresta penasaran, lalu bertanya dengan lembut.
"Memangnya buat anaknya, ya?"
Wanita itu tersenyum sambil menggeleng.
"Bukan, Mbak. Suami saya suka sekali roti ini. Di toko dekat rumah saya katanya sudah nggak ambil lagi, makanya saya jalan ke sini."
"Oh, begitu ya."
Naresta tersenyum semakin lebar.
"Kalau begitu, ambil tiga, Mbak."
Mata pelanggan itu langsung membulat.
"Lho? Jangan, Mbak."
"Nggak apa-apa."
"M-mbak, nggak usah. Dua saja saya sudah nggak enak."
Naresta menggeleng pelan.
"Anggap saja satu bungkusnya hadiah dari saya.
Semoga suaminya senang."
Wanita itu terdiam beberapa saat. Matanya mulai berkaca-kaca karena tidak menyangka akan diperlakukan sebaik itu.
"Suaminya suka yang rasa cokelat, ya?" tanya Naresta sambil tersenyum.
"I-iya, Mbak. Suami saya sangat suka rasa cokelat. Makanya saya sering membelikan yang rasa cokelat."
Naresta tersenyum, lalu menoleh ke arah Elvan yang sedang menyusun dus-dus roti yang baru datang.
"Mas, tolong bawakan satu pack roti cokelat, ya."
"M-mau yang m-mana, s-sayang?"
"Itu yang Mas pegang."
Elvan menganggukkan kepalanya.
"I-iya."
Ia berdiri, lalu melangkah mendekati Naresta sambil membawa satu pack roti cokelat.
"I-ini, s-sayang."
"Terima kasih, Mas."
"S-sama-sama."
Sontak, pelanggan wanita yang berdiri di depan kasir tampak terkejut. Tatapannya bergantian mengarah kepada Elvan dan Naresta.
"Mbak... mohon maaf."
"Iya, Mbak. Ada apa, hm?" tanya Naresta lembut.
"S-suaminya juga penyandang autisme, ya?"
"Oh iya, Mbak. Ada apa?"
Wanita itu menundukkan kepalanya sejenak sebelum kembali mengangkat wajahnya.
"Mbak... suami saya juga sama."
Naresta tertegun mendengar jawaban itu.
"Benarkah, Mbak?"
Wanita itu mengangguk pelan.
"I-iya."
Matanya mulai berkaca-kaca.
"Makanya... waktu Mbak membela suami Mbak di acara desa kemarin... saya ikut menangis."
Kini giliran Naresta yang terdiam.
"Soalnya... saya tahu rasanya."
Wanita itu mengusap sudut matanya.
"Suami saya juga sering dihina. Bahkan sampai sekarang masih banyak yang menganggap dia aneh hanya karena cara bicaranya berbeda."
Naresta perlahan menggenggam tangan wanita itu.
"Mbak..."
Wanita itu tersenyum tipis di balik matanya yang berkaca-kaca.
"Terima kasih, Mbak. Karena melihat Mbak berani membela suami Mbak, saya jadi punya keberanian untuk melakukan hal yang sama kepada suami saya."
Naresta tersenyum lembut sambil menggenggam tangan wanita itu.
"Saya hanya melakukan hal yang wajar saja, Mbak."
Wanita itu menatap Naresta dengan mata yang masih berkaca-kaca.
"Dan lagian, suami saya tidak bersalah, Mbak."
Naresta menoleh sekilas ke arah Elvan yang kembali sibuk menyusun roti di rak.
"Dia tidak memilih untuk terlahir seperti itu."
Wanita itu mengangguk pelan.
"Iya..."
"Kalau ada yang seharusnya kita lakukan sebagai istri, ya mendampingi mereka. Bukan malah ikut malu atau meninggalkan mereka."
Air mata wanita itu kembali menetes.
"Terima kasih, Mbak."
Naresta tersenyum hangat.
"Justru saya yang harus berterima kasih."
"Lho?"
"Karena Mbak tetap bertahan mendampingi suami Mbak sampai sekarang."
Wanita itu mengusap air matanya sambil tersenyum.
"Saya sempat berpikir saya sendirian."
Naresta menggeleng pelan.
"Tidak, Mbak."
"Masih banyak istri yang tetap mencintai suaminya apa adanya."
Ia kemudian menyerahkan tiga bungkus roti cokelat beserta satu pack roti yang tadi diminta kepada wanita itu.
"Nih, dibawa pulang."
Wanita itu menatap roti-roti di tangannya dengan haru.
"Terima kasih banyak, Mbak."
"Sama-sama. Titip salam untuk suaminya."
"Iya, Mbak."
Wanita itu pun berpamitan dan keluar dari toko dengan senyum yang jauh lebih tenang dibandingkan saat pertama kali datang.
Sementara Naresta memandang kepergiannya dengan senyum tulus, berharap wanita itu dan suaminya selalu diberi kekuatan menghadapi pandangan orang-orang di sekitar mereka.
**
Satu minggu telah berlalu.
"Halo, Mbak."
"Eh, kamu?" ucap Naresta sambil tersenyum saat melihat wanita yang pernah datang ke tokonya seminggu yang lalu.
Pandangan Naresta kemudian beralih kepada pria yang berdiri di samping wanita itu. Pria tersebut hanya menundukkan kepala sambil memainkan jemarinya dengan gugup.
"Mau cari roti?" tanya Naresta.
"Iya, Mbak. Mbak sudah tahu, ya?" jawab wanita itu sambil tersenyum kecil. "Soalnya, di toko dekat rumah saya sudah nggak mau jual roti itu ke saya."
"Lho, kenapa?"
Wanita itu menoleh sekilas ke arah suaminya, lalu kembali menatap Naresta.
"Eh, kita belum berkenalan, ya, Mbak."
Naresta menganggukkan kepalanya.
"Iya juga. Saya Naresta," ucapnya sambil tersenyum ramah. "Dan itu suami saya, Elvan."
Elvan yang sedang menyusun barang langsung menoleh.
"H-halo..."
Wanita itu tersenyum hangat.
"Halo, Mas."
Ia kemudian menggenggam pelan tangan pria di sampingnya.
"Kalau saya, nama saya Rina."
Lalu ia menatap suaminya dengan penuh kasih sayang.
"Dan ini suami saya, Dimas."
Pria itu tampak gugup. Setelah beberapa detik, ia memberanikan diri mengangkat wajahnya.
"H-halo..."
Melihat cara bicara Dimas yang sangat mirip dengan Elvan, Naresta hanya tersenyum lembut.
"Senang bertemu dengan kalian berdua."
Tatapan Naresta tiba-tiba beralih ke luar toko. Dari balik kaca etalase, ia melihat sosok yang sangat dikenalnya.
Dewi.
Seketika wajah Naresta berubah tegang. Ia langsung menoleh ke arah Rina.
"Mbak Rina, sini. Silakan masuk dulu ke dalam."
"Eh, tidak apa-apa kah, Mbak?"
"Ayo, Mbak. Masuk saja. Nggak apa-apa."
Rina mengangguk pelan, lalu mengajak Dimas masuk lebih ke dalam toko.
Naresta melakukan itu karena ia sangat khawatir Rina dan Dimas kembali menjadi sasaran hinaan Dewi, seperti yang pernah dialaminya bersama Elvan.
Kring!
Pintu toko terbuka.
Dewi melangkah masuk dengan wajah yang tampak kesal.
"Ini, aku bayar utangku. Sekarang kasih aku utangan lagi."
Naresta tidak langsung menjawab. Ia mengambil uang yang diletakkan Dewi di atas meja kasir, lalu menghitungnya dengan teliti.
Beberapa saat kemudian, Naresta mengangkat wajahnya.
"Mbak, uangnya kurang satu juta."
Dewi langsung mendecak kesal.
"Alah, kamu ini. Mending masih aku bayar."
Naresta tetap berbicara dengan tenang.
"Tapi total utang Mbak itu satu juta lima ratus ribu. Yang Mbak bayar baru lima ratus ribu."
"Jadi?"
"Berarti masih kurang satu juta rupiah, Mbak."
Dewi melipat kedua tangannya.
"Ya sudah, anggap saja sisanya nanti. Sekarang kasih aku utangan dulu."
Naresta menggeleng pelan.
"Maaf, Mbak. Saya tidak bisa."
"Kenapa?"
"Karena utang Mbak yang sebelumnya saja belum lunas. Mana mungkin saya menambah utang lagi."
Wajah Dewi semakin merah menahan kesal.
"Kamu pelit banget, ya."
Naresta tetap mempertahankan senyum tipisnya.
"Maaf, Mbak. Ini bukan soal pelit."
"Lalu soal apa?"
"Soal aturan toko. Saya harus adil kepada semua pelanggan. Kalau saya memberikan utang lagi padahal utang sebelumnya belum lunas, itu tidak baik untuk usaha saya."