NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Ceo Dingin

Istri Rahasia Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / CEO / Rumah Tangga / Cinta Murni
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Armelia Melmel

Seorang Ceo yang merahasiakan pernikahannya dengan wanita yang di cintainya. Semua itu di lakukan karena keinginan sang istri. Sang istri ingin membuktikan diri ke keluarganya jika ia mampu berdiri sendiri. Bukan tanpa alasan, semua itu terjadi karena selama ini. Sang istri selalu mendapatkan perlakuan tidak adil dari keluarganya sendiri.Sang istri juga tahu jika pernikahan mereka berdua tidak akan di restui oleh keluarga suaminya karena latar belakangnya sangat berbeda jauh. Bagaimana kisah cinta mereka jika tahta dan sosial menjadi penghalang utama hubungan mereka berdua?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Armelia Melmel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.14 Makan malam di kediaman keluaga Morley

Sejenak mereka berdua diam.

 Selang beberapa menit lamanya. Lily meraih tangan Grace dan tersenyum kecil.

"Sekarang kita berdua adalah teman."

 Grace tersenyum bahagia.

"Terimah kasih Lily. Kamu adalah orang pertama yang menjadi teman ku."Ujar Grace penuh haru.

"Sudahlah. Mari makan."

 Grace tersenyum tipis.

Keduanya menyantap makanan mereka dengan lahap. Sesekali keduanya tersenyum.

 Bukan cuman Grace yang bahagia. Tapi Lily juga merasakan hal yang sama. Selama ini Lily juga tidak pernah memiliki teman.

  Grace adalah orang pertama yang mau menjadi temannya.

 Selesai makan. Kedua wanita itu segera meninggalkan kantin.

Baik Lily maupun Grace merasa tidak nyaman dengan tatapan orang-orang di kantin. Tatapan mereka terlihat merendahkan Lily dan Grace.

Beberapa jam berlalu..

 Tepat jam pulang kantor. Lily dan Grace berdiri di depan perusahaan.

 Keduanya duduk menunggu taksi mereka datang.

"Bagaimana kalau kita makan makan di cafe saja?" Grace menatap Lily.

Lily terdiam sejenak.

Selama ini, dia tidak pernah melakukan hal itu. Tapi malam ini suaminya akan pulang terlambat atau bisa saja tidak pulang.

Tidak ada salahnya jika ia pulang terlambat sesekali.

 Lily segera mengiyakannya.

"Aku setuju."

Grace tersenyum lebar.

"Bagaimana kalau kita ke apartemen ku saja? Apartemen ku tidak jauh dari sini."

Lily sedikit ragu.

Mereka berdua belum terlalu dekat untuk mengunjungi rumah mereka masing-masing. Tapi begitu melihat harapan Grace yang begitu besar. Lily takut mengecewakannya.

"Aku setuju. Sesekali aku juga akan membawa mu ke rumah ku."

Menyadari ucapannya. Lily segera menutup mulutnya. Tapi dia sudah terlanjur mengatakan hal itu.

Dia tidak bisa menarik kata-katanya kembali.

"Taksinya sudah datang."Ujar Grace segera menarik tangan Lily masuk ke dalam mobil taksi.

"Bagaimana dengan taksi ku?"Lily tampak panik.

"Batalkan saja."

"Kamu benar. Apa tidak masalah?"

Lily menoleh kepada Grace.

"Tidak apa-apa."

Lily tersenyum kecil dan membatalkan taksinya.

Hanya beberapa menit saja. Grace dan Lily sudah tiba di depan apartemen Grace.

"Maaf, tempat ku sederhana." Ujar Grace tampak malu-malu.

"Aku suka."

Di sisi lain. Tepatnya di kediaman nyonya Morley. Eldrick baru saja tiba.

Beberapa menit setelah kedatangannya. Ana dan nyonya Colins juga tiba.

Nyonya Morley adalah orang yang begitu antusias menyambut kedatangan mereka berdua.

"Selamat datang Ana dan Colins. Maaf pertemuan sebelumnya mungkin sedikit canggung."Ujar nyonya Morley dengan rendah hati di hadapan sahabatnya.

Nyonya Colins tersenyum kecil.

"Tidak apa-apa. Aku harap kali ini ada keputusan baik."

"Tentu saja."

Mery yang berada di samping putranya terlihat gugup. Dia sangat khawatir saat ini. Jika mertuanya tahu tentang putranya. Mery tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.

Eldrick sendiri duduk dengan tenang tapi dia tidak akan membiarkan perjodohan mereka terjadi. Eldrick menoleh kepada Ana. Sikap wanita itu begitu lembut. Hal itu membuat Eldrick semakin muak.

Meski Ana bisa menunjukkan kelembutannya di hadapan semua orang. Tapi Eldrick tidak akan tertipu.

Nyonya Morley tiba-tiba tertawa.

"Cucu mu ini benar-benar lembut Colins. Aku sudah tidak sabar melihat bagaimana mereka bersanding di pelaminan."Ujar Nyonya Morley dengan antusias.

Tangan Eldrick mengepal kuat.

"Aku datang ke sini bukan karena aku menyetujui perjodohan ini. Aku datang untuk memberitahu kalian jika aku sudah menikah. Jadi tidak ada perjodohan." Ujar Eldrick dengan tenang.

Nyonya Morley menggebrak meja.

Plak..

Dengan penuh amarah. Nyonya Morley menampar cucunya.

Mery menutup mulutnya.

"Ibu, apa yang anda lakukan?"Mery menghampiri putranya.

Plak..

"Aku sudah mengatakannya kepada mu jika kamu harus mengurus wanita rendahan itu tapi apa yang kamu lakukan selama ini? Kamu sama sekali tidak becus." Murka nyonya Morley.

Nyonya Colins tampak terkejut.

"Sudahlah. Jangan di paksakan. Aku tidak ingin cucuku menderita Morley. Cucumu sudah memiliki wanita lain. Bahkan mereka sudah menikah. Tidak ada yang bisa kita lakukan."Ujar nyonya Colins.

Tangan Ana mengepal kuat. Dia tidak menyangka jika Eldrick akan mempermalukan dirinya sampai sejauh ini.

"Ayo kita kembali nek."

Ana beranjak dari tempat duduknya. Dia berjalan pergi meninggalkan kediaman nyonya Morley. Setidaknya dia harus menjaga harga dirinya di depan Eldrick.

Nyonya Colins pun pamit mengikuti cucunya. Wanita tua itu merasa di permalukan. Meski begitu dia tidak bisa menunjukkan perasaan kesalnya di hadapan sang sahabat.

Melihat kepergian sahabatnya. Nyonya Morley semakin murka.

"Eldrick! Kamu sengaja melakukan hal ini? Mau di taruh mana muka nenek di hadapan nyonya Colins?"

Eldrick menatap neneknya.

"Itu salah nenek sendiri. Aku sama sekali tidak pernah menyetujui perjodohan ini tapi nenek tetap melanjutkannya. Apa nenek pikir jika wanita itu begitu lembut seperti yang nenek katakan? Dia sama sekali tidak seperti itu. Jika nenek begitu ingin berbesan dengan nyonya Colins. Harapan nenek sudah terkabul. Tapi tidak ada pernikahan dengan Ana."Ujar Eldrick dengan tegas.

"Eldrick! Berhentilah menentang nenek mu. Apa tidak bisa kamu meninggalkan wanita itu dan menikahi cucu nyonya Colins?"

Eldrick menoleh kepada mamahnya.

"Maaf mah. Aku sama sekali tidak berniat melakukan hal itu."

Eldrick beranjak dari tempat duduknya.

"Jika kamu begitu keras kepala maka jangan salahkan mamah Eldrick."

Eldrick tetap melangkah pergi tanpa menghiraukan ucapan mamahnya. Meski mamahnya mengancamnya, dia sama sekali tidak peduli dengan hal itu.

Mery duduk di sofa. Wanita paruh baya itu hanya bisa menghembuskan nafas kasar.

"Lihatlah putramu itu. Dia sama sekali tidak menghargai nenek."Ujar nyonya Morley.

"Maaf bu.Saya akan membuat wanita itu meninggalkan Eldrick."

"Sebaiknya kamu lakukan hal itu segera. Jangan membuat ku kesal."

Nyonya Morley meninggalkan menantunya dan kembali ke dalam kamarnya dengan penuh amarah.

"Ana itu begitu lembut Eldrick. Apa yang kamu katakan itu salah. Nenek sudah mengenalnya saat ia masih kecil. Dia begitu lembut dan sopan seperti sekarang."Lirih nyonya Morley.

Nyonya Morley menatap lurus ke depan. Wanita tua itu menghembuskan nafas kasar. Dia benar-benar merasa lelah.

Dia berjalan masuk ke dalam kamarnya. Wanita tua itu menghembuskan nafas kasar.

Dia berbaring. Bayang-bayang seorang gadis kecil duduk di sampingnya sambil menghiburnya membuatnya sedikit tenang.

"Pernikahan ini akan tetap terjadi."Gumam nyonya Morley.

Wanita tua itu meraih ponselnya.

"Cari tahu wanita yang bersama dengan cucuku."Perintah nyonya Morley di telepon.

"Baik nyonya."Jawab seseorang di sebrang telepon.

Nyonya Morley mematikan teleponnya.

"Selama ini aku tidak pernah mencari tahu wanita seperti apa dia. Nenek pikir jika kamu hanya main-main dengan wanita rendahan itu."Gumam nyonya Morley.

Dadanya terasa sesak. Wanita tua itu benar-benar merasa kesal saat ini. Selama ini Eldrick begitu menghormatinya tapi akan sangat berbeda jauh jika hal itu menyangkut dengan wanitanya.

Nyonya Morley merasa semakin murka saat melihat bagaimana Eldrick menentangnya.

Di sisi lain. Eldrick sudah berada di dalam mobil. Pria itu merasa sesak. Tangannya mencengkram erat kemudi. Berkali-kali terdengar hembusan nafas berat dari bibirnya.

Eldrick meraih ponselnya. Sebuah pesan masuk dari sang istri beserta foto.

Eldrick hanya tersenyum kecil.

"Akhirnya kamu punya teman."Gumam Eldrick.

1
Armelia Melmel
terimah kasih kak.
Nabila
bagus
Armelia Melmel: terimah kasih kak.
total 1 replies
Nabila
lanjut thor.. ceritanya menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!