Diceraikan saat hamil dan dibiarkan mati, Clarissa bangkit dalam tubuh Elena—gadis bangsawan super kaya.
Kini Clarissa menguasai dunia, membuang status wanita tertindas, dan naik ke puncak tertinggi. Saat sang mantan suami datang merangkak memohon ampun di kakinya, Elena tersenyum sinis:
"Mantan suami, lihatlah aku sekarang! Kamu bahkan tidak pantas menyentuh ujung gaunku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyyy ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di Balik Tirai Malam
Dua minggu berlalu dengan cepat. Adrian akhirnya menandatangani dokumen pengalihan hak akses keuangan tersebut, meski dengan wajah yang selalu mengeras setiap kali mereka berpapasan. Pria itu mengira Elena hanya menggertak. Namun, bagi Elena, kartu hitam tanpa limit itu adalah kunci pembuka gerbang emasnya.
Di dalam ruang kerja barunya di paviliun barat, Elena menatap layar laptop yang menampilkan grafik bursa saham Secilia City. Jari-jemarinya yang lentik bergerak lincah di atas papan ketik. Memanfaatkan pengetahuannya tentang plot novel aslinya, Elena telah menginvestasikan sebagian besar dana tunai ke sebuah perusahaan teknologi medis bernama "Aethelgard Corp" yang saat ini sahamnya masih dianggap sampah oleh publik.
Dalam waktu tiga bulan, perusahaan itu akan menemukan formula obat kanker revolusioner. Nilai sahamnya akan meroket hingga lima ratus persen.
"Arsenio... perusahaan keluargamu di kehidupan laluku sangat bergantung pada pasokan medis dari sektor ini," bisik Elena dengan senyuman dingin. "Saat kamu datang ke kota ini untuk melebarkan sayap bisnismu, kamu akan terkejut melihat siapa pemilik saham mayoritas dari jalur tokomu."
Setelah menyelesaikan transaksi saham terakhirnya untuk malam itu, Elena menutup laptopnya. Dia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Tubuhnya terasa sedikit penat. Elena memutuskan untuk keluar dari kastel Secilia sejenak demi mencari udara segar dan segelas teh herbal di sebuah kafe klasik yang terletak di distrik finansial teratas kota.
Elena mengenakan gaun hitam satin sederhana yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, dipadukan dengan mantel bulu tipis berwarna putih. Rambut peraknya dibiarkan terurai indah, kontras dengan kegelapan malam.
Kafe The Velvet Room sangat sunyi malam itu. Tempat ini adalah area eksklusif yang hanya bisa dimasuki oleh orang-orang dengan keanggotaan khusus sesuatu yang kini bisa Elena bayar dengan mudah. Dia duduk di sudut ruangan yang agak temaram, dekat jendela besar yang menampilkan pemandangan kerlip lampu gedung pencakar langit.
Baru saja Elena menyesap teh kamomilnya, pintu masuk kafe berdenting. Aura di dalam ruangan mendadak berubah menjadi sangat berat dan menekan, membuat pelayan kafe menunduk hormat dengan tubuh yang kaku.
Elena melirik dari balik cangkirnya. Seorang pria jangkung baru saja melangkah masuk. Pria itu mengenakan setelan tuksedo formal buatan tangan yang sangat rapi. Wajahnya memiliki garis rahang yang tegas bagai pahatan dewa Yunani, dengan sepasang mata elang berwarna abu-abu gelap yang memancarkan dominasi mutlak. Ketampanannya begitu dingin, berbahaya, dan mematikan.
Di belakang pria itu, dua orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam berjaga dengan jarak yang sangat sopan.
Otak Elena langsung berputar cepat mengenali ciri-ciri fisik tersebut. Detak jantungnya berdesir. Pria itu bukan Adrian, dan jelas bukan mantan suaminya, Arsenio. Pria itu adalah Duke Xavier von Obsidian penguasa bayangan yang sebenarnya dari seluruh distrik finansial Secilia City. Di dalam novel, dia adalah karakter terkuat yang bahkan tidak berani diusik oleh keluarga Secilia Group.
Saat Elena sedang menganalisis sosok tersebut, Xavier tiba-tiba memutar tubuhnya. Sepasang mata abu-abu gelap yang sedingin es itu langsung mengunci pandangannya tepat pada Elena.
Elena tidak menghindar. Dia mempertahankan posisi duduknya yang anggun, menatap balik pria paling berkuasa di kota itu dengan sepasang mata safir birunya yang tenang dan penuh percaya diri. Tidak ada rasa takut, tidak ada kepanikan yang biasanya ditunjukkan oleh wanita lain saat menatap Xavier.
Sudut bibir Xavier berkedut tipis, membentuk senyuman misterius yang nyaris tak terlihat. Pria itu mengabaikan meja VIP yang sudah dipersiapkan khusus untuknya di lantai atas, dan justru melangkah perlahan menuju meja sudut tempat Elena duduk sendiri.
Langkah sepatu kulit Xavier terdengar bergaung pelan di atas lantai kayu kafe yang sunyi. Setiap langkahnya terasa seperti detak jam yang membawa ketegangan baru.
Xavier berhenti tepat di samping meja Elena. Dia menunduk sedikit, menatap wajah cantik Elena di bawah temaram lampu kafe, lalu berbisik dengan suara bariton yang berat dan sangat memikat.
"Duduk sendirian di tempat setemaram ini dengan mata seindah itu... Anda tampak seperti seekor serigala yang sedang mengincar mangsanya, Nyonya Muda Secilia."
Slmt buat klian brdua....ga mst nunggu lma,clon pewaris udh hdir....
xavier pst mkin posesif.....
Elena slalu luarrrrr biasa....mreka pnts jd raja dn ratu brkuasa,scra spa pun yg mau mnjtuhkn mreka pst akan kalh...
yg 1 pnya kuasa,yg 1 otaknya emng jenius....
btw...slmt jd gembel buat mreka yg awlnya songong.....😛😛😛
aku udh mmpir...slm knal....
btw,aku ngebut bcanya krna pgn cpt komen.....😁😁😁....
brskap songonglh slagi klian bsa,abs tu siap2 mmhon sm orng yg klian hina....🙄🙄🙄