NovelToon NovelToon
Suami Darurat: Sahabat Sendiri!

Suami Darurat: Sahabat Sendiri!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Kalau umur 30 gue belum nikah, lo wajib nikahin gue, Ka!"
​Janji konyol lima tahun lalu kini jadi bumerang untuk Nadira. Sisa waktunya tinggal menghitung hari, tapi semua perburuannya mencari pacar selalu berujung tragis—ditipu hingga nyaris jadi selingkuhan!
​Di sisi lain, ada Askara. Sahabat sejak kecil yang tampan dan mapan. Askara sengaja menolak ratusan wanita demi menanti hari ini tiba. Bagi Askara, janji umur 30 bukanlah lelucon, tapi strategi untuk memiliki Nadira seutuhnya.
​Waktu habis, Askara pun menagih janji! Nadira yang gengsi setengah mati terpaksa menikah dengan sahabat yang tahu semua kebiasaan buruknya.
​Mampukah Nadira bertahan saat Askara mulai membongkar batas friendzone dan menagih haknya sebagai suami?
​Gengsi tingkat tinggi VS Cinta tulus sahabat sendiri. Siapa yang bakal menyerah duluan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23: Kalung Berlian dan Keposesifan Tanpa Batas

​Wajah Nadira masih terbenam di dada bidang Askara, menyembunyikan rona merah dipipinya yang tak kunjung padam. Hawa dingin Lembang yang berembus pelan sama sekali tak mampu mendinginkan rasa malu akibat terbongkarnya aib masa kecilnya tadi.

​Askara terkekeh pelan, mengusap punggung Nadira dengan ritme teratur. Pria itu menyusupkan sebelah tangannya ke saku jas hangat yang terletak di kursi sebelah. Jemarinya meraba sebuah kotak beludru berukuran kecil berwarna biru tua.

​"Nad," panggil Askara lembut.

​"Gak mau nengok. Lo pasti mau ngetawain gue lagi," sungut Nadira dari balik dada Askara, suaranya teredam kain kaus pria itu.

​"Enggak, Sayang. Gue ada sesuatu buat lo," bisik Askara, suaranya mendadak berubah menjadi sangat hangat dan serius. "Duduk yang bener dulu, coba."

​Mendengar perubahan nada suara Askara yang tak lagi memuat ledekan, Nadira perlahan merenggangkan pelukannya. Ia mendongak, menatap Askara dengan mata berkedip-kedip pasrah. "Apaan lagi sih, Ka? Kalau lo mau ngebahas zaman SD lagi, gue beneran mau jalan kaki balik ke Jakarta nih."

​"Bukan," jawab Askara santai.

​Pria itu membuka kotak beludru biru tua di tangannya. Di atas bantalan busa putih, melingkar sebuah kalung emas putih yang begitu elegan dan berkilau. Di tengahnya, tergantung sebuah liontin berbentuk huruf 'A' yang dihiasi jajaran berlian kecil yang memantulkan cahaya matahari pagi dengan sangat indah.

​Mata Nadira membelalak seketika. "Ka... ini..."

​"Huruf 'A'. Askara," ujar Askara tegas, tanpa keraguan sedikit pun. Pria itu mengeluarkan kalung tersebut dari kotaknya. "Ini tanda penanda dari gue. Biar semua orang yang liat lo tahu kalau Nadira Ruella itu udah ada yang punya. Udah diikat sama Askara."

​"Tapi, Ka... ini kan berliannya banyak banget? Pasti mahal banget!" protes Nadira refleks, matanya tak berkedip menatap kilauan liontin itu. "Lagian kenapa huruf A sih? Kan nama gue diawali huruf N!"

​"Ya karena lo milik gue," sahut Askara posesif, menyunggingkan senyuman miring yang dominan. "Gak ada protes. Balik badan lo sekarang, gue pasangin."

​"Iya, iya! Dasar maksa!" gerutu Nadira bersungut-sungut, namun tubuhnya tetap berbalik memunggungi Askara.

​Askara menyingkap rambut gelombang Nadira ke samping, memperlihatkan leher jenjang wanitanya yang mulus. Dengan telaten dan hati-hati, Askara melingkarkan kalung emas putih itu di leher Nadira, lalu mengaitkan penguncinya. Sebelum menarik tangannya kembali, Askara sempat mendaratkan kecupan hangat di tengkuk Nadira, membuat wanita itu meremang seketika.

​"Selesai," gumam Askara.

​Nadira berbalik kembali, jemarinya menyentuh liontin huruf A yang kini menggantung cantik di dada bagian atasnya. Sensasi dingin berlian dan kehangatan ucapan Askara menyatu di dadanya, menimbulkan debaran yang makin tak terkendali.

​"Bagus kan?" tanya Askara bangga.

​"Bagus sih... tapi lo posesifnya bener-bener kebangetan ya, Ka," cicit Nadira menunduk malu, mengelus liontin itu dengan ibu jarinya.

​"Harus," sahut Askara santai. "Oh iya, soal rencana minggu depan..."

​Nadira mendongak lagi. "Kenapa minggu depan?"

​Askara menyandarkan punggungnya ke ayunan kayu, melipat kedua tangannya di dada dengan raut wajah santai seolah baru saja membicarakan cuaca.

​"Minggu depan, hari Rabu, kita bakal daftarin pernikahan kita secara hukum di KUA dan catatan sipil dulu," ujar Askara tenang.

​"WHAT?!" Nadira melongo lebar, matanya hampir keluar dari tempatnya. "RABU DEPAN?! ASKA, LO GILA YA?! Kan acara resepsi sama akad resminya baru pas ulang tahun gue bulan depan!"

​"Iya, pesta sama resepsinya emang pas ulang tahun lo," jawab Askara tanpa dosa. "Tapi buat berkas hukum dan pendaftaran resminya, gue mau diselesaiin minggu depan. Berkas-berkas lo udah diurus sama Bimo sama Tante Dinan. Lo cuma perlu luang waktu hari Rabu jam sepuluh pagi buat tanda tangan dan foto formal."

​Nadira menepuk jidatnya keras-keras, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Askara Pradipta! Lo diam-diam udah ngerencanain ini semua sampai sejauh itu?! Kenapa gue gak diberi tahu dari kemarin-kemarin?!"

​"Kalau gue kasih tahu dari kemarin, lo pasti bakal cari seribu alasan buat nunda," tembak Askara tepat sasaran, menyeringai puas. "Gue kenal lo bukan sehari dua hari, Nad. Lo itu ratunya menunda hal-hal penting kalau lagi gengsi. Jadi gue ambil alih semuanya."

​Nadira bungkam seribu bahasa. Mulutnya menganga, ingin memprotes namun semua yang dikatakan Askara adalah kenyataan pahit yang tak bisa ia bantah. Ia memang selalu ragu dan menunda jika menyangkut kepastian masa depan.

​"Jadi... Rabu depan gue resmi jadi istri lo secara hukum?" tanyanya dengan suara mencicit, memastikan.

​"Iya, Calon Istri," jawab Askara penuh penekanan, mengacak rambut Nadira gemas. "Makanya sekarang gak usah mikirin kerjaan atau si Gara lagi. Hari ini hari Minggu, waktunya kita bersenang-senang sebelum balik ke Jakarta nanti sore."

​Pukul sebelas siang, usai merapikan barang-barang dan check-out dari vila, SUV hitam milik Askara membelah jalanan kota Bandung.

​Askara mengajak Nadira mengunjungi kawasan wisata alam dan jalanan bersejarah di pusat kota. Namun, alih-alih membiarkan Nadira berjalan bebas seperti biasanya, tingkat keposesifan dan keprotektifan Askara justru meningkat sepuluh kali lipat.

​Saat mereka berjalan di sepanjang trotoar Jalan Asia Afrika yang ramai oleh wisatawan, Askara tak sekalipun melepaskan genggaman tangannya dari jemari Nadira. Malah, pria itu memindahkan Nadira ke posisi sebelah dalam trotoar, memagari tubuh wanita itu dengan lengan kokohnya setiap kali ada pejalan kaki lain yang melintas terlalu dekat.

​"Ka, lepasin dikit napa sih? Tangan gue keringetan tau!" protes Nadira mencoba merenggangkan jemarinya saat mereka mengantre gelato.

​"Gak boleh," jawab Askara singkat dan padat, makin mempererat genggamannya. "Ramai banget di sini. Lo itu ceroboh, nanti tersenggol orang terus hilang."

​"Gue udah tiga puluh tahun ya, Askara! Gak bakal hilang cuma gara-gara antre es krim!" omel Nadira melotot.

​"Tetep gak boleh," tegas Askara tak terbantahkan. Matanya bahkan sempat melayangkan tatapan tajam dan dingin kepada dua orang pemuda lokal yang kedapatan mencuri pandang ke arah Nadira. Pemuda-pemuda itu langsung berbalik dan pergi dengan wajah pucat setelah menerima tatapan mengintimidasi dari Askara.

​Nadira yang menyadari hal itu hanya bisa menggelengkan kepala. "Lo tadi ngeliatin mas-mas itu kayak mau ngajak perang tau gak? Seram banget."

​"Siapa suruh ngeliatin calon istri gue?" sahut Askara santai menyodorkan cup gelato rasa matcha kesukaan Nadira. "Makan tuh es krim lo, jangan banyak ngomel."

​"Ih, nyebelin!" bentak Nadira, namun ia tetap menerima gelato itu dengan binar mata bahagia.

​Mereka meluangkan waktu beberapa jam menyusuri sudut-sudut romantis kota Bandung, menikmati kuliner lokal, hingga berfoto bersama di beberapa spot estetik. Sepanjang perjalanan, Askara selalu memastikan Nadira berada dalam jangkauannya—memegang pinggangnya saat berada di tempat ramai, membukakan pintu mobil, hingga mengusap sudut bibir Nadira yang kotor terkena es krim.

​Sore harinya, mobil SUV hitam itu mulai memasuki jalur tol arah Jakarta. Nadira yang kelelahan setelah seharian berjalan-jalan tampak menyandarkan kepalanya di kaca jendela, matanya mulai berat.

​Askara yang sedang menyetir melirik ke samping. Dengan sebelah tangannya, ia meraih kepala Nadira pelan, mengarahkannya agar bersandar di bahu kirinya yang nyaman. Pria itu menarik selimut kecil dari kursi belakang dan menutupi tubuh Nadira.

​Nadira tidak memprotes. Ia justru mendusel nyaman di bahu Askara, jemarinya meraba liontin huruf A di lehernya yang terasa hangat.

​"Makasih ya, Ka... buat liburannya," gumam Nadira sangat pelan, setengah tertidur.

​Askara tersenyum manis, memiringkan kepalanya sejenak untuk mengecup puncak kepala Nadira.

​"Sama-sama, Sayang. Siap-siap ya, Rabu depan status lo udah resmi berubah," bisik Askara mantap, menatap lurus ke jalan tol di hadapannya dengan keyakinan penuh.

1
Azizah az
ikutan disini Thor ☺️🤗
Fitra Sari
lanjut lagi KK 🙏🥰
N07
New reader nie Thor. Suka sama gaya berceritanya, susunan kata & tanda baca juga rapi jadi enak bacanya. Semoga ceritanya juga menarik sampe ending ga bertele2.
mak mak doyan novel
nah gini kan adem.. g ada gengsi yg tinggi lgi
mak mak doyan novel
ini mah calon suami idaman
mak mak doyan novel
udah ya nad gengsinya.. semua dukung kmu sama aska
Fitra Sari
lanjut KK sampe halal 🥰
Ariska Kamisa: terimakasih kak🙏🙏
aku jadi semangat nih...
total 1 replies
umie chaby_ba
lanjut thor
umie chaby_ba
ceritanya ringan, dan bagus...
semangat terus thor...
/Heart/
Ariska Kamisa: terimakasih banyak ya kakak♥️
total 1 replies
English Lesson
Bagus👍🏻👍🏻
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
waduh... askara serem juga...
umie chaby_ba
lah aska mah lemah banget ngambek bentaran doang... 🤣
umie chaby_ba
hayo loh ...
umie chaby_ba
nadira ngeselin ih... malah cerita lagi udah tahu suasananya lagi ga beres malah cerita
mak mak doyan novel: setuju..
ngeselin bgt dia
total 1 replies
umie chaby_ba
nah kan... bukan orang biasa aja yang ujug-ujug dateng. pasti ada maksud terselubung 🤭
umie chaby_ba
mode protektif nih🤭
umie chaby_ba
dih... bisa aja brondong... bahaya banget nih... nanti nadira tergoda lagi, kesempatan banget buat nadira malah ini mah...🤭
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
umie chaby_ba
kagak inget umur banget si nad sumpah 30 tahun masih begitu, askara lo sabarnya kebangetan ini mah !!!
umie chaby_ba
sumpah nadia ini ngeselin! main nuduh penjahat kelamin lagi🤣🤣🤣🤣
umie chaby_ba
nah loh... kan bader banget lo nad udah tua geh🤭🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!