NovelToon NovelToon
Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Suami Menikah Lagi di Hari Kematianku

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:23.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nilam

Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 008: Akta Cerai dan Kursi Kosong

Proses cerai tidak selesai dalam satu hari. Pak Surya sudah menjelaskan jalurnya: gugatan, panggilan sidang, mediasi, jawaban, putusan, lalu akta cerai. Namun sejak mediasi pertama, Sari berhenti merasa perlu menunggu Hendra pulang.

Ia tidak lagi menyimpan lauk terbaik untuk laki-laki itu, tidak lagi menghitung uang belanja kalau Hendra tiba-tiba meminta bantuan supplier, tidak lagi terbangun tengah malam karena takut pabrik gagal menggaji karyawan.

Pagi itu ia membuka kios seperti biasa.

Ayu datang membawa bubur ayam. "Bu, sarapan dulu. Jangan cuma minum obat."

Sari melihat bubur itu. "Kamu sekarang jadi dokter?"

"Bukan. Tapi kalau Ibu tumbang, saya yang repot."

"Jujur sekali."

"Belajar dari Ibu."

Mereka makan di belakang kios. Nadia tidak datang karena ada urusan di rumah sakit tempat ia dulu bekerja. Katanya ingin mengambil beberapa berkas lama dan bertanya soal kemungkinan kembali bekerja.

Sari senang, tapi tidak menunjukkan terlalu banyak.

Anak yang terlalu lama ditekan kadang takut pada harapan besar.

Ia baru selesai makan saat ponselnya bergetar. Nama Raka muncul.

Sari menatap layar beberapa detik sebelum mengangkat.

"Ya."

"Ma, Mama di kios?"

"Iya."

"Aku mau datang sebentar."

"Ada apa?"

Raka terdiam sejenak. "Bicara langsung saja."

"Kalau soal menyuruh Ibu rujuk dengan ayahmu, tidak usah datang."

"Bukan."

"Kalau soal uang?"

Diam.

Sari menutup mata sebentar.

Raka, anak sulungnya, selalu memulai dengan suara berat seperti kepala keluarga. Tapi ujungnya sering sama: tagihan, cicilan, sekolah anak, kartu kredit, atau proyek kecil yang butuh modal.

"Datanglah kalau mau beli sesuatu," kata Sari. "Kalau mau pinjam uang, kirim rinciannya dulu."

"Ma, jangan begitu. Aku anak Mama."

"Justru karena kamu anak Ibu, kamu harus belajar bicara jelas."

Raka menghela napas keras. "Nanti aku datang."

Telepon terputus.

Ayu pura-pura merapikan kardus, tapi wajahnya jelas mendengar.

Sari tidak menegur.

Menjelang siang, Raka datang bersama Bayu. Keduanya masuk ke kios dengan wajah tidak nyaman. Mungkin karena beberapa warga langsung mengenali mereka sebagai anak laki-laki yang tidak hadir di sisi ibu saat hampir dimakamkan.

Ayu memberi salam dingin.

"Mau minum apa?" tanya Sari.

Raka melihat sekitar. "Ma, kita bicara di belakang."

"Di sini saja. Ayu sudah tahu garis besar hidup Ibu."

Bayu tampak gelisah. "Ma, ini masalah keluarga."

"Keluarga yang mana? Yang kemarin di grup bilang Ibu mempermalukan kalian?"

Wajah Bayu memerah.

Raka menarik napas. "Kami minta maaf soal hari itu."

Sari menatapnya. "Hari yang mana?"

"Resepsi Ayah."

"Bukan pemakaman Ibu?"

Raka terdiam.

Bayu memijat kening. "Ma, kami salah. Tapi situasinya kacau. Ayah bilang Mama sudah meninggal. Kami juga bingung. Ayah minta kami datang karena... karena katanya Ratna dan Tania butuh diterima keluarga."

Sari tertawa pelan.

"Ibumu dikafani. Tapi yang butuh diterima keluarga adalah Ratna."

"Ma..."

"Lanjut. Mau uang berapa?"

Raka tampak tersinggung. "Mama pikir kami datang cuma karena uang?"

Sari diam.

Akhirnya Raka mengeluarkan map kecil. "Cicilan rumahku bulan ini berat. Proyek desain belum cair. Anak-anak juga masuk les baru. Biasanya Mama bantu dulu, nanti aku ganti."

"Pernah ganti?"

Raka membuka mulut, lalu menutupnya.

Bayu cepat menambahkan, "Aku juga lagi ada tagihan kartu kredit. Bukan banyak, Ma. Cuma sementara."

"Berapa?"

Bayu menyebut angka.

Ayu yang di depan kasir sampai menjatuhkan pulpen.

Sari mengambil kalkulator kecil dari meja. Ia menekan beberapa angka, lalu menatap kedua anaknya.

"Kalau Ibu bayar semua, totalnya hampir sama dengan biaya stok kios dua bulan."

Raka berkata, "Ma, Mama punya tabungan. Kami tahu Mama tidak miskin."

"Ibu memang tidak miskin. Itu bukan berarti uang Ibu milik kalian."

Bayu mengerutkan kening. "Kami bukan orang lain."

"Kalian juga bukan anak kecil."

Raka mulai kehilangan sabar. "Mama berubah sekali sejak cerai. Dulu Mama tidak pernah hitung-hitungan pada anak."

"Dulu Ibu salah."

Kata itu membuat kedua anaknya terdiam.

Sari melanjutkan, "Ibu pikir kalau Ibu terus memberi, kalian akan ingat Ibu dengan sayang. Ternyata saat Ibu dikafani, kalian tetap memilih berdiri di resepsi ayahmu."

"Ma, jangan ungkit terus!"

"Kenapa? Sakit?"

Raka menggertakkan gigi.

"Ibu juga sakit."

Bayu menunduk. Ia tampak lebih malu daripada Raka, tetapi tetap tidak membantah kakaknya.

Sari mengambil dua lembar kertas kosong dari laci.

"Tulis semua pengeluaran kalian. Cicilan, pemasukan, utang, kebutuhan anak. Kalau benar-benar darurat, Ibu bisa bantu dalam bentuk pinjaman tertulis dengan jadwal pengembalian."

Raka terbelalak. "Pinjaman tertulis? Sama anak sendiri?"

"Iya."

"Mama keterlaluan."

"Tidak. Ibu baru belajar tidak keterlaluan pada diri sendiri."

Bayu mengambil kertas lebih dulu, mungkin karena ia butuh uang lebih cepat. Raka tetap berdiri dengan wajah keras.

"Kalau Papa tahu, dia pasti kecewa."

Sari menatap anak sulungnya.

"Ayahmu sedang sibuk belajar mencuci piring setelah menikahi Ratna. Jangan seret dia ke sini."

Ayu batuk keras di depan.

Bayu hampir tersenyum, lalu cepat menunduk.

Raka marah. "Mama mengejek Ayah terus. Bagaimanapun dia ayah kami."

"Dan aku ibumu. Tapi itu tidak membuat kalian datang ke pemakamanku."

Raka seperti kehabisan napas.

Telepon Sari bergetar. Grup Keluarga Prasetyo.

Ibu Sri menulis pesan panjang.

Sari membuka, membaca sekilas, lalu meletakkan ponsel di meja agar Raka dan Bayu melihat.

Ibu Sri: Sari, jangan membuat anak-anak menderita karena amarahmu pada Hendra. Ibu yang baik tidak tega melihat anak kesulitan. Uang bisa dicari, anak tidak bisa diganti.

Sari mengetik di depan mereka.

Sari: Ibu yang baik juga perlu hidup. Anak yang sudah dewasa perlu belajar membayar tagihan sendiri.

Bayu menatap pesan itu.

Raka langsung mengeluarkan ponsel. Beberapa detik kemudian ia membaca balasan Ibu Sri di layar sendiri. Wajahnya makin keruh.

Ibu Sri: Kamu sudah dirusak pengacara dan Nadia. Dulu kamu tidak begini.

Sari membalas.

Sari: Dulu saya dikafani. Sekarang saya mengetik sendiri.

Grup sunyi.

Ayu tidak sanggup menahan tawa. Ia cepat-cepat menutup mulut dan pura-pura menata roti.

Raka memandang Sari dengan campuran marah dan tidak percaya. "Mama benar-benar mau mempermalukan kami di grup?"

"Kalian yang membawa Ibu ke grup."

Bayu akhirnya berkata pelan, "Ma, kalau aku tulis, Mama benar bantu?"

"Kalau memang masuk akal, Ibu bantu sebagian. Bukan lunas semua. Dan kamu tanda tangan."

"Bunga?"

"Tidak. Ibu bukan pinjol. Tapi kalau terlambat, tidak ada pinjaman berikutnya."

Bayu mengangguk lambat.

Raka menatap adiknya. "Yu, kamu serius?"

Bayu menatap balik. "Aku butuh uang."

"Harga diri?"

Bayu tertawa pahit. "Harga diri tidak bisa bayar kartu kredit."

Sari mendengarkan tanpa ikut campur. Ini pertama kalinya ia membiarkan kedua anak lelakinya menghadapi konsekuensi kecil tanpa buru-buru menyelamatkan.

Raka akhirnya mengambil kertas juga, tapi gerakannya kasar.

Mereka duduk di meja belakang, menulis dengan wajah masam.

Sari kembali ke kasir.

Seorang anak perempuan membeli penghapus bentuk kelinci. Sari melayani, memberi kembalian, dan tersenyum kecil saat anak itu berkata terima kasih.

Hidup tetap berjalan, bahkan saat keluarga lamanya berantakan di meja belakang.

Setelah hampir satu jam, Raka dan Bayu menyerahkan kertas. Sari membaca. Banyak angka bocor. Banyak pengeluaran tidak perlu. Banyak kebiasaan hidup yang selama ini ditopang oleh uangnya.

"Ibu bantu masing-masing sepertiga dari kebutuhan mendesak. Sisanya kalian urus sendiri."

Raka langsung protes. "Sepertiga tidak cukup."

"Maka kurangi gaya hidup."

"Ma!"

"Atau jual barang."

Bayu menelan ludah. "Kapan ditransfer?"

"Setelah kalian tanda tangan."

Raka menandatangani dengan wajah gelap. Bayu menyusul.

Saat mereka pergi, tidak ada pelukan. Tidak ada cium tangan. Hanya salam canggung dan langkah berat.

Ayu mendekat setelah pintu tertutup.

"Bu, Ibu baik sekali masih bantu."

Sari menatap dua lembar kertas itu.

"Ibu bukan berhenti jadi ibu."

Ia melipat kertas, memasukkannya ke map.

"Ibu hanya berhenti jadi ATM."

Ponselnya berbunyi lagi.

Pesan dari Nadia.

Bu, aku ketemu bagian SDM rumah sakit lama. Mereka bilang posisiku sudah diisi, tapi aku bisa coba daftar RS lain. Aku takut, tapi aku mau coba.

Sari membaca pesan itu dua kali.

Lalu membalas.

Coba. Ibu dukung. Jangan pulang sebelum beli kopi enak untuk dirimu sendiri.

Balasan Nadia datang cepat.

Siap, Bu.

Sari meletakkan ponsel dan menatap kiosnya.

Dadanya terasa lebih lapang. Mungkin beginilah rasanya bernapas tanpa meminta izin.

1
ronarona rahma
.😭
Risna Wati
perempuan juga punya jalan sendiri mantap 👍👍💪
Risna Wati
mantap bu sari sekarang nambah lagi dukungan nya
Risna Wati
kyk gitu lh kalo membuang berlian yang berharga dapat nya lagi batu koral biasa tidak ada harganya 🤭🙏
Risna Wati
dua wanita yang tangguh dan hebat 💪💪💪👍😍
Lesmana
mnt duit sono sama bpk elu , cumi😡😡 bpk elu kan kepala keluarga , jgn cm bs kawin lg , tp gak bs nyokong anak
Lesmana
gak tau malu lu , raka😡😡😡 br ngelak eh ternyt lngsng buka kartu mnt duit sama ibu elu sndr yg elu abaikan😡😡
Lesmana
durhaka emang nih 2 anak laki nya sari😭😭😭
Lesmana
sari sptnya gak mau dipanggil mama sama raka nih , maunya dipanggil ibu 🤭🤭
Lesmana
aih aih..raka ternyt udah berkeluarga toh , udah pny anak pula.. tp msh aja mnt support sama ibu nya eh yg didukung kawin lg malah ayahnya ??
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
Lesmana
nadia manggil sari ibu , raka manggil mama , bayu manggil sari apa yah ??
kog bs beda2 yah ??
Lesmana
bukannya pabrik entah pabrik yg mana , awalnya dibangun sama orgtuanya sari yah ?? cm yg jalanin hendra.. tp kog skrng 2 pabriknya pny kel hendra ??🙄🙄
Risna Wati
mantap karma di bayar kontan 👍🤭
Risna Wati
mantap dan tegas 👍👍🙏💪
Risna Wati
keren dan lelah bersamaan 🤭
awesome moment
hasil dri kesongongan
awesome moment
😄😄😄udh habis baru nyadar
awesome moment
cinta arman menjaga bgts. cm di dunai halukah?
Sayekti 0519
bahasanya cerdas ,,aku baca aku belajar.
Inong Suzanna
ceritanya hampir mirip sama sya,cuma sy g punya harta,itu aj msh di pantau sama bini mantanku 🙈😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!