Jatuh dari puncak kejayaan menjadi lelucon sekota dalam semalam, nasib Ye Xuan tampaknya telah berakhir. Namun, keputusasaan itu justru menjadi kunci pembuka rahasia kuno yang tertidur di dalam sebuah liontin tua. Di bawah bimbingan jiwa naga kuno, Ye Xuan mempelajari rahasia kultivasi yang menyimpang dari hukum langit. Dari turnamen kota kecil hingga medan perang antar benua, Ye Xuan menelan setiap rintangan dan kesengsaraan ilahi. Dunia menganggapnya sampah, namun ia akan membuktikan bahwa dirinya adalah penguasa sejati yang akan membelah surga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Gerbang Awan Azure dan Tangga Kematian
Pegunungan Awan Azure menjulang tinggi, membelah lautan awan bagaikan pedang raksasa yang menembus langit. Air terjun spiritual mengalir dari puncak-puncak gunung yang melayang, menciptakan pelangi yang tak pernah pudar. Di sini, energi spiritual murni (Qi) begitu padat hingga membentuk kabut putih yang menyelimuti seluruh lembah.
Ini adalah markas besar Sekte Awan Azure, penguasa mutlak dalam radius puluhan ribu mil.
Di kaki gunung utama, puluhan ribu pemuda dan pemudi berkumpul di sebuah alun-alun raksasa yang terbuat dari batu giok putih. Hari ini adalah hari penerimaan murid baru yang diadakan lima tahun sekali. Wajah-wajah muda ini dipenuhi antusiasme, ketegangan, dan kebanggaan—mereka semua adalah jenius atau pewaris klan dari ratusan kota di bawah naungan sekte.
Di tengah keramaian yang bising itu, sesosok pemuda berjubah hitam polos berjalan dengan tenang. Langkahnya ringan, namun setiap pijakannya memancarkan stabilitas seperti gunung. Ia adalah Ye Xuan.
Setelah dua hari perjalanan menembus hutan dan melompati lembah, ia akhirnya tiba. Berkat Sutra Naga Pelahap Langit, ia dapat menyembunyikan aura Pembentukan Fondasi Awal-nya dengan sempurna, membuatnya terlihat seperti kultivator Alam Kondensasi Qi Tingkat 8 biasa agar tidak menarik perhatian monster tua yang bersembunyi di sekte ini.
Ye Xuan mengedarkan pandangannya. Di ujung alun-alun, terdapat sebuah Gerbang Giok raksasa. Di balik gerbang itu, ribuan anak tangga batu putih berkilau meliuk naik menuju puncak gunung yang tertutup awan. Itu adalah Tangga Awan, rute ujian normal bagi pemegang token rekomendasi.
Namun, mata Ye Xuan tidak tertuju ke sana. Pandangannya beralih ke sisi kiri gerbang utama.
Di sana, tersembunyi di balik bayang-bayang tebing, terdapat sebuah jalur tangga sempit yang terbuat dari batu berwarna merah darah. Aura pembunuhan, keputusasaan, dan bau karat darah yang kental menguar dari tangga tersebut, membuatnya tampak seperti jalan menuju mulut neraka.
Itu adalah Ujian Tangga Darah.
Ye Xuan berjalan lurus melewati antrean panjang para pendaftar normal, langsung menuju meja pendaftaran yang dijaga oleh beberapa murid sekte berjubah biru dan seorang Diaken (pengawas) paruh baya bermata tajam.
"Berhenti di sana!" bentak salah satu murid sekte, menyilangkan pedangnya saat melihat Ye Xuan menyela antrean. "Tunjukkan Token Rekomendasi Kota-mu, atau kembalilah ke barisan belakang. Berani membuat kekacauan di Gerbang Awan Azure, kau mencari mati?!"
Kerumunan jenius di sekitarnya mulai berbisik, menatap Ye Xuan dengan tatapan mengejek.
"Dari pakaiannya yang kampungan, dia pasti pengembara liar."
"Tidak tahu aturan! Dia pikir Sekte Awan Azure ini pasar malam?"
Ye Xuan tidak mempedulikan ocehan mereka. Ia menatap lurus ke arah Diaken paruh baya yang duduk di belakang meja.
"Aku tidak memiliki token rekomendasi," ucap Ye Xuan dengan nada sedatar air sumur kuno. "Sesuai dengan aturan sekte, mereka yang tidak memiliki token dapat mendaftar melalui jalur Ujian Tangga Darah. Buka jalurnya."
Keheningan seketika menyelimuti area pendaftaran itu. Angin gunung yang berhembus seolah membeku.
Murid yang menghalangi jalan Ye Xuan terbelalak tak percaya. Diaken paruh baya itu perlahan meletakkan cangkir tehnya, menatap Ye Xuan seolah menatap orang gila yang baru kabur dari rumah sakit jiwa.
"Kau... ingin mengambil Ujian Tangga Darah?" Diaken itu tertawa sinis. "Nak, tahukah kau apa itu Tangga Darah? Itu adalah jalur eksekusi kuno. Sembilan ratus sembilan puluh sembilan anak tangga. Setiap anak tangga memiliki formasi gravitasi, ilusi iblis, dan pedang Qi yang dirancang untuk merobek tubuh dan jiwa. Selama lima puluh tahun terakhir, dari ribuan penjahat dan orang putus asa yang mencobanya, tidak ada SATU PUN yang kembali dengan mayat utuh!"
"Itu hanya berarti mereka semua sampah yang lemah," balas Ye Xuan santai. "Apakah aturan sekte melarangku mengambilnya?"
Mata Diaken itu menyipit, memancarkan rasa jijik yang dalam. "Aturan tidak melarangnya. Jika kau sangat ingin mati untuk menjadi pupuk bagi pepohonan sekte kami, aku tidak akan menghentikanmu. Tapi ingat, begitu kakimu menginjak anak tangga pertama, mundur berarti mati!"
Diaken itu melambaikan lengan bajunya. Sebuah token perak terbang dan menempel pada pilar batu di samping Tangga Darah.
KREEEEK...
Penghalang energi yang menutupi tangga merah itu terbuka perlahan, melepaskan hembusan angin anyir yang membuat puluhan peserta ujian normal di dekatnya jatuh terduduk karena mual dan ketakutan.
Ribuan pasang mata kini tertuju pada Ye Xuan. Mereka ingin melihat apakah pemuda sombong ini akan mundur ketakutan setelah mencium bau kematian dari tangga tersebut.
Namun, Ye Xuan tidak ragu sedikit pun. Ia melangkah maju, meletakkan kedua tangannya di belakang punggung, dan menginjak anak tangga darah yang pertama.
BZZZT!
Saat sepatunya menyentuh batu merah itu, formasi kuno langsung aktif! Gelombang gravitasi seberat sepuluh ribu kati (5 ton) jatuh menimpa tubuh Ye Xuan layaknya gunung besi. Pada saat yang sama, jeritan hantu tak kasat mata menyerang pikiran dan gendang telinganya.
"Hah! Lihat tubuhnya, dia pasti akan hancur dalam tiga detik!" cibir salah satu murid sekte.
Satu detik. Dua detik. Tiga detik berlalu.
Ye Xuan masih berdiri dengan posisi yang sama. Punggungnya lurus ke atas. Bahkan lipatan jubahnya tidak bergetar sedikit pun.
"Sepuluh ribu kati gravitasi?" Ye Xuan bergumam pelan pada dirinya sendiri, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum meremehkan. "Apakah ini lelucon?"
Bagi kultivator Kondensasi Qi biasa, sepuluh ribu kati adalah beban yang akan meremukkan tulang mereka. Tapi bagi Ye Xuan? Tubuh Tulang Emas Primordial-nya kini memiliki kekuatan murni sebesar seratus ribu kati! Gravitasi ini bahkan tidak terasa seperti beban ransel baginya!
Tanpa mengeluarkan fluktuasi Qi sama sekali, murni hanya menggunakan kekuatan kakinya, Ye Xuan melangkah ke anak tangga kedua. Lalu ketiga. Lalu keempat.
Langkahnya stabil, santai, dan berirama. Ia berjalan mendaki Tangga Darah yang ditakuti layaknya seorang bangsawan yang sedang menikmati pemandangan di taman belakang rumahnya.
Anak tangga ke-10... Anak tangga ke-20... Anak tangga ke-50!
Di bawah sana, alun-alun menjadi sunyi senyap seperti pekuburan. Mulut para jenius yang tadinya mengejek kini terbuka lebar hingga nyaris bisa disumpal dengan telur angsa.
"B-bagaimana mungkin?!" Diaken pendaftaran berdiri dari kursinya, menendang meja hingga terbalik tanpa ia sadari. Matanya melotot ngeri. "Dia... dia bahkan tidak menggunakan lapisan pelindung Qi?! Dia menahan formasi gravitasi murni dengan tubuh fisiknya?! Monster macam apa anak ini?!"
Sementara itu, di Puncak Awan Azure yang mengapung tinggi di atas segalanya, terdapat sebuah Aula Giok yang dipenuhi para Tetua Sekte.
Di tengah aula, sebuah cermin air raksasa melayang, menampilkan kondisi ujian penerimaan murid di kaki gunung.
Penatua Zhao, utusan yang pergi ke Kota Daun Gugur bulan lalu, duduk bersila sambil menyeruput teh teh spiritualnya. Di sampingnya berdiri Su Yan, mantan tunangan Ye Xuan, yang kini telah resmi mengenakan jubah murid elit sekte berkat elemen es-nya.
"Yan'er, teman-teman dari kotamu tampaknya sudah mulai mendaki Tangga Awan normal," ucap Penatua Zhao dengan senyum tipis, melirik cermin air. "Namun, aku tidak melihat mantan tunangan sampahmu itu. Tampaknya ia akhirnya menyadari kemampuannya dan bersembunyi di lubang tikus."
Su Yan mendengus pelan, ekspresinya sedingin es. "Ye Xuan hanya memiliki mulut yang besar, Guru. Dihadapkan pada kenyataan, kesombongannya hancur dengan sen—"
TENG! TENG! TENG!
Tiba-tiba, suara lonceng perunggu kuno yang sangat berat dan berwibawa bergema di seluruh puncak sekte, memotong ucapan Su Yan.
Para Tetua di aula seketika berdiri dari kursi mereka. Wajah mereka, yang biasanya tenang, kini dipenuhi keterkejutan.
"Lonceng Pemecah Darah?!" seru Penatua Kepala dengan suara bergetar. "Ada seseorang yang memicu Ujian Tangga Darah! Dan lonceng berbunyi tiga kali... artinya orang itu telah melewati anak tangga ke-300 dalam waktu kurang dari waktu membakar setengah dupa (lima menit)!"
"Cepat! Ubah pandangan cermin air ke Tangga Darah!"
Gambar di cermin air beriak dan berubah.
Di sana, di tengah ilusi api merah dan kabut racun yang mematikan, sosok pemuda berjubah hitam polos terlihat mendaki dengan kecepatan konstan. Kedua tangannya masih bertaut santai di belakang punggung. Gravitasi yang kini mencapai lima puluh ribu kati sama sekali tidak memperlambat langkahnya.
Ketika Penatua Zhao dan Su Yan melihat wajah pemuda yang tersorot oleh cermin air tersebut, cangkir teh di tangan Penatua Zhao tergelincir dan pecah berkeping-keping di atas lantai giok.
Wajah Su Yan pucat pasi bak kertas, matanya melebar dipenuhi ketidakpercayaan yang membekukan jiwanya.
"Ye... Ye Xuan?!" Su Yan terperanjat, suaranya pecah. "Bagaimana mungkin dia ada di sana?!"
Di dalam cermin air, seolah bisa merasakan tatapan dari puncak gunung, Ye Xuan tiba-tiba menghentikan langkahnya di anak tangga ke-500. Ia perlahan mengangkat wajahnya, menatap lurus menembus kabut, seolah pandangannya menembus ruang dan langsung menatap mata Penatua Zhao di dalam aula.
Sebuah senyum iblis yang penuh tantangan terukir di wajah pemuda itu.
"Penatua Zhao..." gumam Ye Xuan di lereng gunung, suaranya tak terdengar namun gerak bibirnya terbaca jelas oleh semua Tetua di aula. "Siapkan lututmu."