NovelToon NovelToon
Dinikahi Anak Juragan

Dinikahi Anak Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Cinta setelah menikah
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: ntaamelia

Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.

Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.

Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.

Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Nama yang Mulai Mengusik

Setelah acara selesai Diyah langsung bantu beres-beres. Namun, tidak dengan Sarmila yang langsung masuk ke dalam kamarnya dengan wajah masam. Bagaimana tidak? Diyah telah mendapatkan lamaran yang begitu spektakuler, dengan berbagai macam barang mewah yang tak mungkin dapat dibelinya.

Sementara dia? Hanya bisa duduk dan menyaksikan, dengan hati yang dipenuhi rasa iri.

Sarmila yang merajuk melempar bantal ke atas tempat tidur dengan kesal.

"Kenapa harus Kak Diyah? Aku lebih populer di desa ini, bahkan banyak pemuda yang mengagumiku," gerutu Sarmila, sebagai biduan tentu banyak orang yang mengenalnya. Meski suaranya pas-pasan, tapi tubuh molek Sarmila menjadi sasaran empuk para pria hidung belang. Bahkan dia yang lebih sering mendapat saweran.

"Apa sih kelebihannya selain menjadi tukang kebun? Huh, aku benar-benar tidak habis pikir. Seharusnya Mas Biyakta lebih milih aku 'kan?" lanjutnya sambil berkacak pinggang. Padahal sejak lamaran pertama itu tiba dia yang heboh sendiri menolak, tapi giliran Diyah yang dapat jackpot, dia malah kepanasan.

Nuni yang mendengar suara keributan dari kamar putrinya segera memilih masuk. Dia langsung menghela napas panjang, tahu sekali jika Sarmila iri dengan Diyah.

"Apa-apaan kamu ini, Sarmila?!" tukas Nuni sambil berusaha membalik tubuh Sarmila agar menghadap ke arahnya.

"Kenapa? Ibu senang ya kalau Kak Diyah yang mendapatkan semua kemewahan itu, sedangkan aku?"

Sarmila melipat kedua tangan di dada. Kini dia seperti memiliki sasaran empuk untuk meluapkan segala amarahnya.

"Aku ini lebih cantik lho, Bu!"

Nuni hanya menatap putrinya dengan tenang. Walau pun statusnya sebagai ibu tiri, tetapi dia juga bahagia jika anak-anaknya bahagia. Dia tidak ingin pilih kasih, dan dicap bahwa semua ibu tiri memang memiliki sifat seperti itu.

"Aku lebih modis, ngerti dandan, pinter cari uang, pokoknya aku lebih dari segalanya dari Kak Diyah!" cerocosnya lagi hingga Nuni langsung memberikan teguran.

"Mila ... jaga ucapanmu, walau bagaimanapun Diyah tetaplah Kakakmu yang harus dihormati. Lagi pula ini adalah keputusan langsung dari Juragan Marta!"

"Tapi apa kurangnya aku, Bu? Kenapa bukan aku?" pekik Sarmila, Nuni memberi isyarat agar Sarmila tenang, kemudian mengajaknya duduk di sisi ranjang yang telah acak-acakan.

"Masalah memilih pasangan bukan sekadar soal cantik, Sarmila," ujar Nuni dengan suara lembut.

"Lalu apa?" sambar Sarmila cepat.

"Akhlak. Mungkin mereka melihat itu semua ada pada Diyah, jadi kita tidak bisa membandingkannya," papar Nuni, supaya anaknya bisa mengerti dan lebih bijak lagi.

Namun, Sarmila malah mendengus pelan.

"Semua orang juga bilang aku baik." Dia masih berusaha mematahkan argumen ibunya tentang Diyah.

Ibunya tersenyum tipis.

"Kamu memang anak Ibu, Mila. Tapi kamu juga harus belajar mengendalikan ucapanmu."

Sarmila memalingkan wajah. Enggan untuk menatap ibunya lagi.

"Bela saja terus Kak Diyah!"

"Bukan membela." Nuni berusaha menggenggam tangan Sarmila yang masih menggebu-gebu. "Ibu ingin kamu mengerti bahwa semua yang kita impikan, tidak selalu bisa menjadi milik kita sepenuhnya. Lihatlah Kakakmu, dia habis patah hati, tapi Allah menggantinya dengan lamaran ini."

Kalimat itu membuat Sarmila terdiam sesaat. Namun, rasa iri di dalam hatinya belum juga hilang.

Dalam benaknya, jika saja keluarga juragan lebih sering melihat dirinya dari pada Diyah, mungkin pilihan itu akan jatuh kepadanya.

Tanpa disadari, rasa cemburu yang terus dipeliharanya perlahan akan menjadi benih konflik yang bisa memecah hubungan persaudaraan mereka sendiri.

****

Mentari pagi yang begitu hangat menemani langkah Diyah yang hendak pergi ke kebun. Sudah dua hari berlalu sejak kedatangan keluarga Juragan Marta.

Meski pembicaraan lamaran belum menghasilkan keputusan tanggal pernikahan mereka berdua, tapi bayangan tentang pria bernama Biyakta Kusuma terus muncul di benaknya. Bahkan wajahnya terasa kontras di otak Diyah.

Bukan karena Diyah telah jatuh cinta. Melainkan karena dia merasa aneh.

Selama pertemuan itu, Biyakta hampir tidak banyak bicara. Namun, tatapannya terasa begitu tenang, berbeda dengan sorot mata Cakra yang dulu selalu dipenuhi ambisi.

Apakah sebenarnya Biyakta tidak suka dengan perjodohan ini, tetapi terpaksa menurut karena alasan tertentu?

Diyah menggeleng pelan.

"Kenapa malah kepikiran dia?" gumamnya berusaha membuyarkan lamunan.

Diyah mulai memetik cabai yang sudah memerah. Tak lama terdengar suara seseorang yang tak asing di telinganya.

"Diyah!"

Diyah menoleh sambil tersenyum tipis.

"Anjani."

Seorang wanita sebaya menghampirinya sambil membawa keranjang anyaman yang setengahnya sudah diisi terong bulat.

Anjani adalah sahabat Diyah sejak kecil. Mereka tumbuh bersama, bersekolah di tempat yang sama, bahkan sering membantu orang tua masing-masing di kebun.

Namun, karena mendapat kabar lamaran Diyah yang mendadak, alhasil dia tidak bisa menemani sang sahabat malam itu.

"Aku dengar rumahmu kemarin ramai sekali," kata Anjani sambil menyenggol pelan bahu Diyah.

Diyah tersenyum malu.

"Berita di desa memang cepat sekali menyebar ya."

"Ya jelas. Anak juragan datang melamar. Mana mungkin tidak jadi bahan obrolan, ngomong-ngomong aku minta maaf ya, karena aku tidak bisa menemani, andai acara kerabatku bisa diundur, aku pasti lebih memilih untuk datang ke rumahmu," ujar Anjani dengan perasaan bersalah. Padahal ini adalah momen bahagia yang dia tunggu-tunggu juga.

Diyah hanya menghela napas. "Tidak apa-apa, Anjani."

Anjani memperhatikan wajah sahabatnya. Yang terlihat gelisah. "Kamu kenapa? Kaya lagi gundah gitu, bukannya harusnya senang ya habis dilamar."

"Kamu belum bisa melupakan Cakra?"

Diyah terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk.

"Luka itu masih ada. Bahkan rasanya aku tidak bisa 100 persen percaya pada pria."

"Tapi kamu juga tidak mungkin terus hidup di masa lalu, Diyah," ujar Anjani.

Diyah memetik cabai lagi, Anjani berjalan di belakangnya sambil ikut-ikutan panen.

"Aku tahu."

Keheningan menyelimuti mereka beberapa saat. Hingga tanpa sadar, sebuah pertanyaan keluar dari bibir Diyah.

"Jan ...."

"Hm?"

"Menurutmu ... Mas Biyakta itu orangnya seperti apa?" tanya Diyah ragu-ragu.

Anjani langsung menghentikan kegiatannya.

"Wah."

"Apa?" Diyah langsung gugup melihat respon sahabatnya.

"Kamu mulai penasaran?"

Diyah buru-buru menggeleng.

"Bukan begitu."

"Lalu?" cecar Anjani dengan tatapan lekat.

"Aku cuma ingin tahu, barangkali kamu sering mendengar tentangnya."

Anjani tersenyum geli.

"Kalau cuma ingin tahu, kenapa pipimu merah?"

Diyah spontan memegang pipinya yang merah seperti cabai yang dia petik.

"Ih, apaan sih."

Mereka sama-sama tertawa kecil. Dan setelah suasana kembali tenang, Anjani mulai bercerita.

"Kalau menurut warga, Mas Biyakta itu orangnya baik."

"Baik bagaimana?" Diyah langsung memotong, karena ingin mendengar yang lebih spesifik.

"Ya selain ganteng, dia itu ramah, sopan, dan nggak pernah membeda-bedakan orang."

Diyah mendengarkan dengan saksama.

"Katanya meski anak juragan, dia nggak gengsi turun ke sawah. Kadang masih ikut membantu pekerja kalau memang dibutuhkan."

"Benarkah?" Diyah terlihat sedikit lebih antusias.

Anjani berpikir sejenak.

"Iya, Diyah. Suamiku pernah mengurus surat di KUA. Katanya Mas Biyakta yang membantu. Padahal antreannya panjang, tapi dia tetap melayani semua orang dengan sabar."

Diyah mulai membayangkan wajah pria itu. Tatapan tenang, senyum tipis, cara bicaranya yang sopan.

Anjani kembali berkata, "Yang paling sering dibicarakan warga ...."

"Apa?"

"Dia belum pernah punya pacar."

Diyah sedikit terkejut. Matanya seolah ikut berbicara. "Serius?"

"Iya. Banyak yang bilang dia terlalu sibuk bekerja, sampe nggak punya waktu buat ngeladenin gadis-gadis desa yang suka padanya."

Anjani tersenyum usil.

"Kalau sekarang Mas Biyakta sampai datang melamarmu, berarti kamu memang istimewa," pungkasnya.

Diyah langsung menggeleng sambil melangkahkan kakinya.

"Jangan ngada-ngada!"

"Aku serius, Diyah."

Diyah tak menggubris. Entah mengapa, penjelasan Anjani membuat rasa penasarannya semakin besar.

Untuk pertama kalinya sejak diputuskan Cakra, nama pria lain mulai singgah di dalam pikirannya.

Bukan sebagai pengganti.

Melainkan sebagai sebuah tanda tanya yang perlahan ingin dia cari jawabannya.

1
Diah_Kustantie ✨💛
Next
Radya Arynda
semangaaat diya,biyahta,,semogah kalia selalu ber sama dalam suka duka,,,,,
Rasakan karma nya kra cakra,,,,
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
kapokkkk! kurma di bayarr kontan. dulu kalian pamerr kemesraan di depan Diyah, tapi nyatanya semua itu hanya sementara saja. di saat rumah tangga kalian penuh prahara, beda dnegan rumah tangga diyah yang banyak di hujani kebahagiaan.
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
astagaa manten baru, masak mau mesrah2han di tengah sawah 😆 kayak enggak ada tempat lain saja. lagian kalau dah kebelett mending pulang sono...jangan guling2 di tengah sawah 😆
Dien Elvina
sementara s Cakra seperti hidup d neraka dgn Rani ..jangan² s Rani hami anak orang lain
Dien Elvina
good Dyah s Laksmi harus d lawan jangan mau d tekan s benalu ..lama² juga bakal berhenti sendiri
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
nahhh gitu dong diyah! aku suka perubahan kamu. kamu harus lebih berani dan jangan cuma diam saja, saat orang lain meremehkan atau merundungmu. dengan begini, laksmi enggak bakal berani macam2...karena kamu enggak cuma diam dan pasrah.
Diah_Kustantie ✨💛
Janu sudh mulai terprovokasi kayanya.akang biya udh mulai terdiyah Diyah nih ga malu2 ngumbar kemesraan
Dien Elvina
ihh jahat banget Januar ..pengen liat Biyakta rugi dgn mengganti pupuk biar panen hancur n Biyakta kena Omelan pak Marta ..ini gara² hasutan s Laksmi sang benalu 😡
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
hohoho seperti kamu mau ngerjain mas kamu januar, kamu asal ganti pupuk supaya hasil panen hancur dan biyakta kena omel bapak kamu gitu kan? gara2 pengaruh dari laksmi. kamu sampai segitunya sama mas kamu. kamu bakal nyesel, jika tahu kalian sedang di adu dombaa.

mamvusss Sarah 🤣 bisa2nya kagak punya malu, masih pagi kok yaa bertamu ke rumah orang. gitu katanya wanita berpendidikan, tapi enggak punya attitude. malah mau jadi velakorr....bener2 enggak tahu diri.
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ: pasangan klop! 😆 januar lebih percaya sama orang lain, daripada sama saudara kandung. di peralat laksmi saja kok yaa mau2nya.
total 2 replies
Mira Hastati
bagus
Radya Arynda
waaah januar sudah ke makan sama hasutan sengkuni,,wanita iblis si lasmi....semogah kamu tidak menyesal saja war januwar...,
Mantap Biyahta,,,jangan ter goda sama perempuan lain,,,jaga selalu diyah dari orang2 sikir dan jahat....sarah,sarah katanya pramugari kok semangaat banget mau jadi pelakor....haduh
Margaretha Indrayani
diyah kalau suami sudah siap kalau kamu hamil ya sudah diterima kalau memang langsung hamil
Margaretha Indrayani
idih nenek sihir sok kuasa, wong dua juga nebeng dirumah juragan marta, gak punya malu😡😡😡😡😡.
Ny Rudi Harianto
pertanyaan yg awal nya bermaksud baik buat kedua nya malah jadi kesalahpahaman...tapi untung nya biyakta bijak sehingga gak berlanjut masalah nya
Radya Arynda
nah manyap biyantah,,kamu haru selalu melindungi dia,,,,dari mereka2 yang jahat,,,kasih tau biyantah diyah kalau kamu di kasih ramuan ber bahaya sama sengkuni lasmi,,biar kamu ngak salah nanti kalau biyan menemukan obat itu....semangaaaat....
juwita
jgn di tunda " Dyah umur km udh 30 klo di tunda lg mau umur brapa km hamil?
Maria Kibtiyah
diyah terlalu kelamar kelemer
Diah_Kustantie ✨💛
Hamil gas gacorrrr bikin adonan setiap malem sebanyak banyak nya
ɴɪɴɢ_ɴɵɴɢ
Sarmilaa ohh sarmilaa 😆 takutnya malah kamu di jatuhkan sama ekspetasi kamu sendiri. kamu terlalu percaya sama omongan laki2 kota, yang bisa saja malah membuat kamu celaka. kamu terlalu berambisi mengalahkan Diyah, dan takutnya kamu malah salah langkah.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!