NovelToon NovelToon
Takdir Baru di Malam Lamaran

Takdir Baru di Malam Lamaran

Status: tamat
Genre:Reinkarnasi / Cinta setelah menikah / Wanita perkasa / Pengantin Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Chicklit / Tamat
Popularitas:67.8k
Nilai: 5
Nama Author: Chandria

Nadia terbangun kembali di malam lamarannya, tepat saat Bella, adik tirinya, ketahuan bersama Arman, calon suaminya. Semua orang memintanya mengalah demi nama baik keluarga. Namun kali ini Nadia tidak mau menjadi korban lagi.
Ia tahu masa depan Arman: pengkhianatan, kekerasan, dan rahasia kelam yang akan menghancurkan siapa pun yang menikah dengannya. Maka saat Bella merebut Arman, Nadia justru tersenyum dan memilih Raka, paman Arman yang sakit-sakitan tapi berhati teguh.
Bella mengira ia mencuri takdir terbaik. Ia tidak tahu, yang ia rebut adalah awal dari neraka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 08 - Kamar yang Tidak Lagi Menahan

Siang itu, Nadia kembali ke kamar lamanya untuk mengambil barang.

Sari ikut, berdiri di depan pintu seperti penjaga. Bukan karena Nadia takut, tapi karena Sari takut keluarganya berbuat macam-macam ketika Nadia sendirian.

Kamar itu terasa lebih kecil dari semalam.

Mungkin karena Nadia sudah memutuskan keluar.

Ia membuka lemari, memasukkan pakaian ke tas besar. Tidak banyak yang ia punya. Beberapa gamis, jilbab, buku sekolah, ijazah, dan kotak kecil berisi foto ibunya. Foto itu sudah pudar. Ibu kandung Nadia meninggal saat Nadia masih kecil, sebelum Bu Ratna masuk ke rumah ini membawa senyum lembut dan rahasia busuk.

Nadia memasukkan foto itu hati-hati.

Sari duduk di tepi kasur.

"Kamu mau tinggal di rumahku sampai akad?"

"Kalau Mbak tidak keberatan."

"Rumahku kecil."

"Lebih lapang daripada rumah ini."

Sari tersenyum sedih.

"Suamiku mungkin bertanya."

"Kalau Mas Joko keberatan, aku bisa cari kos."

Sari langsung menggeleng.

"Tidak. Dia tidak akan keberatan. Dia cuma... kadang terlalu diam. Tapi dia bukan orang jahat."

Nadia menatap kakaknya.

Di kehidupan lalu, Sari bertahan lama dalam pernikahan yang mengurasnya. Joko bukan seburuk Arman, tapi keluarganya menekan Sari tanpa henti. Sari bekerja, mengurus anak, mengurus mertua, lalu tetap dianggap kurang. Nanti ada hari ketika Sari datang dengan lebam di lengan, berkata ia jatuh di kamar mandi.

Nadia tidak akan membiarkan itu terulang.

"Mbak," katanya pelan, "kalau suatu hari rumahmu terasa seperti kandang, bilang padaku."

Sari tertawa bingung.

"Kenapa tiba-tiba?"

"Janji saja."

Sari melihat wajah Nadia, lalu mengangguk.

"Iya. Aku janji."

Dari luar, suara Bu Ratna terdengar mendekat.

"Nadia, Ibu masuk."

Tanpa menunggu jawaban, ia membuka pintu.

Sari langsung berdiri.

Bu Ratna melihat tas besar di lantai.

"Kamu benar-benar mau membawa semua barang?"

"Barangku memang sebaiknya ikut aku."

"Rumah ini tetap rumahmu."

Nadia menatapnya.

"Rumah yang selalu memintaku mengalah bukan rumah. Itu tempat penitipan luka."

Wajah Bu Ratna berubah.

Sari memegang lengan Nadia, mungkin takut adiknya terlalu tajam.

Bu Ratna menarik napas, lalu masuk dengan wajah sedih.

"Nadia, Ibu tahu kamu membenci Ibu."

"Bagus kalau Ibu tahu."

Bu Ratna tersentak. Biasanya orang akan berkata tidak, bukan begitu, jangan salah paham. Nadia tidak memberi bantalan.

"Ibu tidak pernah berniat jahat."

"Orang jahat memang jarang mengumumkan niatnya."

"Nadia..."

"Bu Ratna, kalau Ibu datang untuk meminta maaf, silakan. Kalau datang untuk meminta uang, keluar."

Sari membelalakkan mata.

Bu Ratna memucat.

"Ibu tidak serendah itu."

Nadia tersenyum.

"Syukurlah. Berarti Ibu datang untuk minta maaf."

Bu Ratna terjebak oleh kalimatnya sendiri. Ia menggenggam ujung kerudung.

"Ibu minta maaf kalau selama ini kamu merasa dibedakan."

"Bukan merasa. Memang dibedakan."

"Baik. Kalau kamu merasa begitu..."

"Bukan kalau."

Bu Ratna menahan napas.

Sari melihat keduanya seperti menonton pertandingan yang tidak ia pahami.

"Baik," Bu Ratna memaksa suara lembut. "Ibu minta maaf karena mungkin pernah membedakan kamu dan Bella."

"Mungkin?"

"Nadia, jangan mempermainkan kata."

"Aku belajar dari Ibu."

Untuk sesaat, wajah Bu Ratna kehilangan kelembutan. Mata itu menajam, memperlihatkan perempuan asli di balik topeng ibu sabar.

Nadia puas.

Topeng yang retak tidak bisa mulus lagi.

Bu Ratna mendekat, merendahkan suara.

"Kamu pikir setelah menikah dengan Raka, hidupmu akan mudah? Keluarga Wiratmaja tidak sesederhana yang kamu lihat. Bu Lilis tidak menyukaimu. Arman akan membencimu. Bella akan menjadi bagian dari keluarga itu juga."

"Aku tahu."

"Lalu kenapa masih masuk ke sana?"

Nadia melipat jilbab terakhir.

"Karena kali ini aku masuk dengan mata terbuka."

Bu Ratna mengerutkan kening.

"Kamu bicara seolah pernah masuk sebelumnya."

Nadia berhenti sejenak, lalu menoleh.

"Aku pernah masuk banyak rumah buruk, Bu. Salah satunya rumah ini."

Bu Ratna tidak puas, tapi tidak bisa mengejar.

Ia mengganti arah.

"Bella masih muda. Dia melakukan kesalahan karena cinta. Jangan terus memojokkannya. Kalau nanti kalian sama-sama masuk keluarga Wiratmaja, kamu harus ingat dia adikmu."

Nadia tertawa kecil.

"Kalau Bella mengingat aku kakaknya sebelum masuk kamar, mungkin aku akan mengingat dia adikku setelah menikah."

"Nadia!"

"Kenapa? Terlalu adil?"

Bu Ratna memejamkan mata. "Kamu berubah jadi kasar."

"Tidak. Aku hanya berhenti menyaring kebenaran agar nyaman di telinga Ibu."

Sari mengangkat tas kecil Nadia.

"Ayo, Nad. Kita pergi."

Bu Ratna menghalangi lagi.

"Tunggu. Eyang ingin bicara."

"Aku tidak ingin."

"Dia nenekmu."

"Dia juga orang yang setuju aku dikirim ke panti."

"Kamu akan menyesal kalau terus melawan orang tua."

Nadia menatap Bu Ratna lama.

"Aku lebih menyesal karena terlalu lama menurut."

Ia mengangkat tas besar. Sari ingin membantu, tapi Nadia menolak.

"Aku bisa."

Mereka keluar kamar. Di ruang tengah, Eyang Marni sudah menunggu seperti ratu yang tahtanya diguncang. Pak Darto duduk di dekat jendela. Bella tidak terlihat. Mungkin sedang bersama Arman, atau sedang menangis di kamar untuk mengumpulkan dukungan baru.

Eyang Marni menatap tas Nadia.

"Letakkan."

Nadia tidak berhenti.

"Aku pamit."

"Aku bilang letakkan tasmu."

"Dan aku bilang aku pamit."

Tongkat menghantam lantai.

"Anak perempuan keluar dari rumah sebelum akad itu tidak pantas!"

"Aku tinggal di rumah kakakku."

"Tetap tidak pantas. Orang akan bicara."

"Orang juga bicara kalau aku tetap di sini dan satu rumah dengan Bella yang merebut calon suamiku."

Pak Darto menunduk.

Eyang Marni menunjuk Sari.

"Kamu yang mengajari adikmu melawan?"

Sari mengangkat dagu.

"Kalau membela diri disebut melawan, iya."

Eyang Marni terkejut. Sari biasanya tidak seberani itu.

Nadia menggenggam tangan kakaknya sekilas. Keberanian menular. Ia ingin Sari merasakannya lebih sering.

Pak Darto akhirnya berkata, "Biarkan Nadia pergi dulu, Bu."

"Kamu diam! Semua ini karena kamu terlalu lembek pada anak perempuan."

Nadia menatap bapaknya.

Pak Darto tampak malu, tapi tidak membalas ibunya.

Masih sama.

Namun hari ini Nadia tidak membutuhkan keberaniannya untuk selamat.

"Pak," kata Nadia, "aku pergi."

Pak Darto mengangkat wajah.

"Nanti... kalau ada apa-apa, kabari Bapak."

Bu Ratna menoleh cepat, tidak suka kalimat itu.

Nadia menjawab, "Kalau Bapak benar-benar ingin tahu kabarku, Bapak bisa datang tanpa membawa permintaan uang."

Pak Darto seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi Nadia sudah berjalan keluar.

Di halaman, beberapa kotak seserahan masih tertata. Pak Hendra sudah memerintahkan sebagian dibawa ke rumah Sari setelah dihitung. Eyang Marni tidak bisa menyentuhnya karena ada Pak Mahmud sebagai saksi.

Nadia melewati kotak-kotak itu.

Di dekat pagar, Bella berdiri.

Ia tampak sudah mengganti baju. Wajahnya kembali lembut, tapi matanya merah.

"Kak."

Nadia berhenti.

Sari berdiri di sampingnya, waspada.

Bella berkata pelan, "Aku tidak ingin kita jadi musuh."

Nadia memandangnya.

"Kita tidak harus jadi musuh."

Bella tampak lega.

Nadia melanjutkan, "Kamu cukup jangan menghalangi jalanku. Aku juga akan membiarkanmu menikmati jalanmu."

Bella menggigit bibir.

"Mas Arman tidak seburuk yang kamu pikirkan."

"Bagus."

"Dia hanya bingung semalam. Sebenarnya dia bertanggung jawab."

"Lebih bagus."

"Kamu tidak percaya?"

Nadia tersenyum.

"Aku percaya kamu akan mencari tahu sendiri."

Bella tidak mengerti kenapa kalimat itu terdengar seperti pintu penjara ditutup.

Dari ujung jalan, mobil Raka terlihat berhenti. Ia turun, mungkin datang untuk memastikan barang Nadia aman dipindah. Bu Lilis tidak ikut. Hanya Raka dan sopir keluarga, seorang laki-laki tua bernama Pak Harun.

Raka melihat tas di tangan Nadia.

"Sudah selesai?"

"Sudah."

"Ada yang tertinggal?"

Nadia menoleh ke rumah itu.

Ada.

Masa kecilnya.

Ketakutannya.

Harapan bodohnya bahwa suatu hari keluarga ini akan mencintainya dengan adil.

Tapi semua itu tidak perlu dibawa.

"Tidak ada," jawabnya.

Raka mengangguk, lalu mengambil tas besar dari tangan Nadia tanpa banyak kata.

Eyang Marni berteriak dari dalam rumah, "Raka! Jangan terlalu memanjakan dia. Nanti dia naik kepala!"

Raka berhenti. Ia menatap Eyang Marni dari halaman.

"Kalau selama ini dia diinjak, berdiri tegak sedikit bukan naik kepala, Bu."

Sari menutup mulut.

Nadia menatap Raka.

Laki-laki itu memasukkan tas ke mobil seolah tidak baru saja melempar kalimat yang membuat Eyang Marni kehilangan suara.

Nadia masuk mobil.

Saat mobil bergerak meninggalkan rumah, ia melihat Bella berdiri di halaman, wajahnya sulit dibaca.

Nadia tidak melambai.

Kamar itu, rumah itu, dan semua tali yang menahannya mulai tertinggal di belakang.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa dibuang.

Ia pergi karena memilih.

1
Murni Sumiarti
Bingung
🤣🤣🤣
Endang Sulistia
di bab atas anak sari namanya Rani...trus mereka buka warung ..🤔🤔kok makin bingung ya thor🤦🤦
Endang Sulistia
bingung mbak Lilis apa Bu Lilis 🤦🤦
Endang Sulistia
Arman cucu pak Hendra,trus ortunya siapa ya..🤔🤔
Endang Sulistia
🤭🤣🤣🤣 biar hemat ya
Endang Sulistia
setajam silet ya nad
Endang Sulistia
oke Tante..🤪🤪🤪
Endang Sulistia
🤪🤪🤪🤪
ria sopingi
gw bingung cerita ini, raka adik Hendra tp manggil lilis ibu sementara si Arman manggil ibu katanya keponakan raka hadohhhh
Yan Wui
Kok anaknya sari mana ya kak
chataleya
sakit jiwa nih Arman 🤭
Ari Peny
d sini rada bingung kok sari panggil kak k nadia dan aq penasaran raka kerjanya apa kok uangnya d pakai buat arman
chataleya
dasar Bella.... andalannya cuma tangisan...
chataleya
semestinya keluarga adalah tempat yang teraman bukan membuat rasa terancam. gimana sih pak Darto??!!!
chataleya
sebenarnya Nadia kehilangan. tapi kehilangan kesempatan masuk neraka rumah tangga bersamamu Arman. 🤣 dan kesempatan itu diambil Bella 🤭
chataleya
untung ada mbak sari....👍
chataleya
bagaimana Arman, apa kamu seperti merasa kehilangan sesuatu??? 🤭
chataleya
duar..duar..duar... Shok kan kaliannnn... 🤣🤣🤣 jantung aman kan Arman... Bella... 🙈
chataleya
detik-detik kemerdekaan Nadia 😍
chataleya
aku bacanya seperti sedang menonton film India 🤭 jadi agak greget gitu dengan kelakuan keluarga Nadia 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!