NovelToon NovelToon
Dari Sampah Jadi Dewa: Sistem Daur Ulang Multiverse

Dari Sampah Jadi Dewa: Sistem Daur Ulang Multiverse

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Bara Pratama hanyalah seorang pemulung yang dihina dan dibuang oleh kekasihnya demi pria kaya. Namun, nasibnya berbalik total saat darah dari luka pukulannya tanpa sengaja mengaktifkan sebuah tungku berkarat yang terhubung dengan Sistem Daur Ulang Multiverse. Melalui sistem ini, Bara bisa memproses rongsokan tidak berharga menjadi pil kultivasi, material langka, dan barang pusaka bernilai tinggi dari dimensi Sekte Harmoni. Berbekal kekuatan dan kekayaan baru yang terus mengalir dari tumpukan sampah, Bara siap menghancurkan kesombongan orang-orang yang dulu menginjaknya dan memulai hidup baru sebagai sosok yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Pintu lift VIP berdenting halus saat terbuka di lantai paling atas gedung balai lelang.

Pak Herman langsung memandu Bara menuju sebuah ruangan besar yang desain interiornya lebih mirip seperti ruang tamu kerajaan daripada kantor.

Di sana, seorang pria beruban dengan setelan jas rapi sudah berdiri menunggu dengan wajah yang terlihat sedikit tegang.

"Selamat datang, Tuan. Saya adalah direktur utama di sini. Pak Herman baru saja mengirimkan foto barang Anda dan saya harus mengakui, jantung saya hampir copot melihatnya," sambut direktur itu sambil mengulurkan tangannya.

Bara menjabat tangan pria itu dengan santai. "Namaku Bara. Dan seperti yang kalian lihat, barang itu asli."

Direktur itu mempersilakan Bara duduk di sofa kulit yang sangat empuk dan segera memerintahkan Pak Herman untuk meletakkan stempel giok itu di atas meja kaca yang diberi pencahayaan khusus.

Mereka berdua lalu meneliti stempel itu secara langsung dengan peralatan yang lebih canggih, sementara Bara hanya bersandar di sofa sambil menikmati teh hangat yang disajikan oleh sekretaris.

Setelah lima belas menit berlalu, direktur itu akhirnya mengangkat kepalanya, wajahnya bersimbah keringat dingin karena kegembiraan.

"Tuan Bara, ini... ini adalah penemuan abad ini. Nilai sejarah dan kemurnian gioknya sama sekali tidak bisa diremehkan," ucap direktur itu dengan suara bergetar.

"Saya akan bicara langsung pada intinya. Jika barang ini dilelang secara terbuka, harganya mungkin bisa mencapai angka yang tidak masuk akal, tapi prosesnya akan memakan waktu berbulan-bulan."

"Tapi jika Anda bersedia menjualnya langsung kepada kami secara pribadi hari ini, balai lelang kami berani membeli stempel ini seharga tiga miliar rupiah secara tunai."

Bara sudah memperkirakan angka ini, karena Kacamata Identifikasinya menilai barang itu di angka dua setengah miliar. Penawaran tiga miliar ini adalah keuntungan ekstra karena mereka tidak ingin kehilangan harta karun ini ke tangan balai lelang saingan.

"Tiga miliar adalah angka yang wajar," jawab Bara dengan nada santai seolah sedang menyetujui harga sepotong gorengan di pinggir jalan.

"Transfer uangnya ke rekeningku sekarang, potong semua biaya administrasi yang diperlukan, aku ingin uang bersihnya masuk hari ini juga."

Direktur itu tidak membuang waktu sedetik pun. Dia langsung memanggil bagian keuangannya dan dalam waktu kurang dari sepuluh menit, transaksi itu selesai.

Ting!

Bara melirik layar ponselnya yang menyala di atas meja. Rentetan angka nol yang sangat panjang kini menghiasi saldo di aplikasi perbankannya.

Tiga miliar dua puluh sembilan juta empat ratus ribu rupiah.

"Senang berbisnis dengan Anda, Direktur. Jika suatu saat saya menemukan 'warisan keluarga' lainnya, saya pasti akan menghubungi tempat ini lagi," ucap Bara sambil berdiri.

Direktur dan Pak Herman mengantar kepergian Bara sampai ke lobi utama dengan sikap menunduk hormat yang berlebihan, sangat berbeda dengan cara mereka menyambutnya saat dia baru pertama kali datang.

Bara melangkah keluar dari gedung balai lelang dan menghirup udara segar pusat kota dengan paru-paru yang terasa sangat lega.

"Uang sebanyak ini terlalu lama kalau cuma dibiarkan menganggur di rekening," gumam Bara sambil menatap deretan toko mewah di seberang jalan.

"Sudah saatnya aku membeli sebuah kendaraan pribadi agar tidak perlu berdesakan naik taksi terus-menerus."

Bara langsung memesan taksi online dan mengarahkan sopir itu menuju sebuah dealer mobil sport impor terbesar di kota ini.

Setengah jam kemudian, Bara sudah berdiri di dalam showroom mobil yang sangat luas dan dipenuhi oleh deretan mobil-mobil bertenaga kuda tinggi yang harganya tidak main-main.

Bara berjalan santai mengitari showroom itu, mengabaikan beberapa pelayan toko yang menatapnya dengan pandangan meremehkan. Pakaian Bara memang mahal, tapi wajah asingnya membuat mereka berpikir dia hanya pemuda halu yang sedang numpang foto-foto.

Bara menghentikan langkahnya di depan sebuah mobil sport keluaran terbaru berwarna hitam pekat yang memiliki desain sangat agresif dan elegan.

"Mobil ini, berapa harga tunainya?" tanya Bara pada seorang pramuniaga yang kebetulan sedang mengelap kaca mobil di sebelahnya.

Pramuniaga itu mendongak dan tersenyum kaku. "Maaf Tuan, itu adalah edisi terbatas. Harganya sekitar satu koma dua miliar rupiah sebelum pajak dan biaya pengurusan surat-surat."

"Sempurna. Aku ambil yang warna hitam ini. Siapkan semua suratnya hari ini, aku akan membawanya pulang sekarang juga," ucap Bara tanpa ragu sedikit pun.

Pramuniaga itu mematung, mengira Bara sedang bercanda. Tapi saat Bara langsung menyerahkan ponselnya yang menampilkan saldo miliaran rupiah, wajah pramuniaga itu langsung berubah pucat pasi bercampur kegirangan.

Proses pembelian mobil itu berlangsung sangat cepat berkat uang tunai yang Bara bayarkan tanpa menawar sepeser pun.

Satu jam kemudian, Bara sudah duduk di belakang kemudi mobil sport hitam barunya. Aroma kulit jok baru dan raungan mesin saat dia menginjak pedal gas benar-benar terasa sangat memabukkan.

Bara mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota.

Saat sedang berhenti di sebuah lampu merah dekat area perbelanjaan elit, mata Bara menangkap sebuah pemandangan yang sangat menarik.

Di salah satu restoran mewah yang dindingnya terbuat dari kaca bening, Dela sedang duduk mengelilingi meja bundar bersama beberapa temannya, termasuk Siska yang kemarin dia permalukan di butik.

Dela terlihat sedang tertawa pamer sambil memamerkan sebuah tas tangan baru berlogo merek terkenal.

Senyum dingin langsung mengembang di wajah Bara. "Kebetulan yang sangat sempurna, mari kita beri mereka kejutan kecil yang tidak akan pernah mereka lupakan."

Lampu merah berubah menjadi hijau, dan Bara langsung membelokkan mobil sport mewahnya, mengarahkannya tepat ke pelataran parkir valet di depan restoran tersebut.

Raungan mesin mobil Bara yang sangat nyaring langsung menarik perhatian semua orang yang sedang duduk di dekat jendela, termasuk kelompok Dela.

Bara memarkirkan mobilnya dengan sempurna, turun dari mobil dengan gaya yang sangat santai, lalu menyerahkan kunci pada petugas valet dengan selembar uang seratus ribu.

Dia melangkah masuk ke dalam restoran itu dengan dada membusung, tatapan matanya langsung mengunci meja tempat Dela berada.

Saat Siska melihat siapa yang baru saja turun dari mobil sport bernilai miliaran itu, matanya melebar sempurna seolah melihat hantu. Dia menyikut lengan Dela dengan kasar.

"D-Dela... l-lihat siapa yang baru masuk..." Siska menunjuk dengan jari gemetar ke arah pintu masuk.

Dela menoleh dengan kesal karena obrolannya dipotong, tapi seketika wajahnya berubah pias saat melihat sosok pria tampan berjaket kulit yang sedang berjalan ke arah mereka.

Itu adalah Bara.

Pemulung miskin yang kemarin siang dia tendang dari hidupnya.

Tapi kenapa penampilannya sangat rapi, dan... mobil sport siapa yang baru saja dia kendarai?

Bara berhenti tepat di samping meja mereka dan menatap Dela dengan tatapan merendahkan yang sangat menusuk.

"Sedang menikmati makan siang dari sisa uang recehan si Aris, Dela?" sapa Bara dengan nada suara yang sangat tenang dan elegan, namun kata-katanya penuh dengan bisa.

Dela tidak bisa berkata-kata.

Dia menatap Bara dari atas ke bawah, mencoba mencari celah untuk menghinanya, tapi dia tidak menemukan satu pun.

Pakaian Bara, jam tangan barunya, dan aura yang memancar dari pria itu murni adalah aura orang yang sangat kaya.

"Bara... kamu... dari mana kamu mencuri mobil itu?!" tuduh Dela akhirnya, suaranya sedikit bergetar menahan kepanikan.

Bara tertawa pelan, tawa yang sangat merendahkan. "Mencuri? Jangan samakan semua orang dengan kekasih barumu yang suka merampok kebahagiaan orang lain."

Bara mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lurus ke mata Dela yang membesar ketakutan.

"Kalian membuangku karena kalian pikir aku cuma sampah, kan? Tapi sayangnya, Dela... sekarang aku bisa membeli seluruh hidupmu dan si Aris hanya dengan uang jajanku hari ini."

Bara kemudian menarik tubuhnya mundur, memasukkan kedua tangannya ke saku, dan berjalan pergi meninggalkan meja mereka menuju area VIP restoran, seolah gerombolan Dela hanyalah debu kotor yang baru saja dia lewati.

1
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
Was pray
pengusaha yg punya produk yg sama jadikan kompetitor bersaing secara sehat dengan kualitas, menang tanpa menjatuhkan lawan, untung tanpa menimbulkan musuh
Was pray
sembuhkan Gideon dan dijadikan anak buah yg setia aja bara dia bisa dijadikan mata mata didunia bawah tanah
kiyoe: heheh tunggu update selanjutnya yaa kak 🤣
total 1 replies
Was pray
emang bisa langsung beroperasi tuh pabrik? kan butuh penyesuaian peralatan dan tenaga ahli? kayak sulap dong ... bim salabim langsung muncul... tuh krim kosmetiknya 🤭🤭🤣
Was pray
betul.... tembak kepala bara dia pasti mati Krn perlindungan kaos oblong yg dipakai hanya melindungi tubuhnya doang
Was pray
ntar Nadhira posisi berubah dari teman jadii pacar, terus dari rekamn bisnis menjadi rekan ranjang nih..... terus Nadhira jad adik iparnya Adit Pratama.... 🤣🤣
Was pray
beli rumah dulu bara, ntar jadi lelucon naik mobil sultan tapi rumah kontrakan... masih mending mobil sewaan tapi rumah idaman
Was pray: biar bisa pamer dan nunjukin ke orang2 Nuh gue kaya.... tapi rumah masih nyewa.... mobil kredit... 🤣🤣
total 5 replies
Was pray
utang nyawa Nadhira pada bara dibayar dengan secangkir kopi, amat sepadan buat bara.... 🤣
Was pray
untung yg kram bukan gigi nya.... 🤣🤣
Was pray
mau main sepakbola dong .. sis....
Was pray
daging panggang mewah. daging pasti daging hewan langka nih ... bisa daging rusa bertanduk gading atau sapi berbulu emas... 🤭🤭
Was pray
yg tadi nya rata seperti kayu sekarang kotak kotak kayak papan catur .... 🤭🤣
Was pray: kwk. ... kwk... kwk.. gak biliard aja... kan lebih menantang.... 🤣🤣
total 4 replies
Was pray
kalau sama dadanya mbak -mbak tebal nih dadanya bara? 🤭🤭
kiyoe: heheh
total 1 replies
Was pray
waduh bahaya nih.... ntar bisa terbang tertiup angin.... dan tersangkut di ranting pohon.... gak bisa turun... kan seringan kapas... 🤭🤭🤭🤣
Was pray
bara ini saudaranya Adit ya Thor? karena sama2 memakai nama pratama
kiyoe: Bara gelap gulita 🤣
total 3 replies
Was pray
moga aja alur cerita per bab nyambung dan sistem gak berubah fungsi kayak sistem peternak dan berkebun berubah arah jadi sistem kultivator
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!