Di sebuah kerajaan yang megah dan disegani, hiduplah Celestia, putri bungsu Raja David. Sebagai anak ketiga sekaligus putri terakhir dari tiga bersaudara, Celestia selalu hidup dalam kemewahan dan aturan kerajaan yang ketat. Berbeda dengan kedua kakaknya yang telah terbiasa dengan kehidupan istana, Celestia diam-diam mendambakan kehidupan bebas tanpa harus selalu memikirkan statusnya sebagai seorang putri.
Di sisi lain kerajaan, hiduplah seorang pemuda yatim piatu bernama Zass. Sejak kecil ia hidup seorang diri dan bekerja sebagai anak penempa pedang. Walaupun berasal dari kalangan rakyat biasa dan hidup sederhana, Zass memiliki keahlian luar biasa dalam menempa pedang. Ia tidak memiliki keluarga ataupun gelar bangsawan, tetapi ia memiliki tekad untuk menjadi seorang penempa pedang terbaik.
Takdir memperte
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan yang Melintas dan Tawa Penuh Pura-Pura
Udara di alun-alun Desa Oakhaven mendadak terasa makin berat. Di tengah riaknya air kolam yang bergetar akibat aliran listrik statis Zass, Ryu melangkah maju. Sebagai ketua yang memimpin party petualang Tier SSS ini, Ryu menatap lurus ke dalam iris mata ungu Zass yang dipenuhi pergolakan emosi.
"Ryu," panggil Zass dengan suara rendah, berusaha menahan guncangan di dadanya. "Aku harus pergi ke Kerajaan Imperial sekarang. Aku butuh izinmu."
Ryu mengamati pemuda di hadapannya sejenak. Ia paham betul bahwa tidak ada satu rantai pun di dunia ini yang sanggup menahan Zass jika itu menyangkut keselamatan dan janji hatinya. Tanpa ragu, Ryu mengangguk pelan.
"Pergilah, Zass," ujar Ryu tegas. "Selesaikan apa yang mengganjal di hatimu. Kami akan menunggumu di sini."
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Zass memicu aliran Petir Ungu Legendaris di dalam pembuluh darahnya!
CRAAAZZZH!
Dalam satu kedipan mata, tubuh Zass meledak menjadi berkas kilatan cahaya ungu yang membelah angkasa. Kecepatannya melampaui batas batas alamiah—menembus padang rumput, melintasi perbukitan, hingga melesat ratusan kilometer hanya dalam hitungan detik.
Sesaat kemudian, kilatan petir itu mendarat tanpa suara di pinggiran ibu kota Kerajaan Imperial. Zass memilih mendarat di area pemukiman lama—wilayah gubuk kecil tempat ia dan almarhum ayahnya dulu hidup sederhana sebagai penempa besi. Namun, pemandangan yang menyambutnya di sana justru merobek hatinya.
Gubuk tua peninggalan ayahnya kini sedang dihancurkan secara brutal! Puluhan pengawal kerajaan berzirah lengkap meratakan bangunan kayu itu dengan kapak dan palu besar. Di tengah para pengawal, Raja David berdiri dengan jubah kebesarannya, menatap penghancuran itu dengan wajah kaku tanpa ampun, seolah ingin menghapus setiap jengkal jejak keberadaan Zass dari tanah Imperial.
Zass meremas gagang pedang hitamnya hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa panas membakar di dadanya, namun ia menahan diri untuk tidak melepas serangannya. Tujuannya ke sini bukan untuk memicu perang terbuka dengan Raja David, melainkan untuk memastikan keadaan Celestia.
Dengan ketenangan yang dipaksakan, Zass menyusup ke gang sempit. Ia melepas jubah karung goni usangnya, menggantinya dengan mantel kain tebal berwarna cokelat tua yang ia dapatkan dari perbekalan. Rambut acak-acakannya ia sisir ke belakang menggunakan jemarinya, dan ekspresi wajahnya dipaksa menjadi datar dan normal agar tak memancing kecurigaan para penjaga kota.
Zass melompat lincah ke atas atap bangunan. Menggunakan teknik pergerakan bayangan, ia berpindah dari satu atap ke atap lainnya dengan sangat halus, bergerak menyusuri kawasan pusat perbelanjaan paling mewah di ibu kota.
Hingga akhirnya, dari puncak atap sebuah menara jam kuno, mata Zass menangkap sosok yang ia cari.
Di pelataran jalan utama yang berhiaskan papan bunga pertunangan, Putri Celestia berjalan keluar dari sebuah toko pakaian ternama. Di sampingnya, Pangeran Helix berdiri dengan jubah mewahnya, sementara belasan pelayan berjalan di belakang mereka memanggul puluhan kotak barang belanjaan yang mahal.
Saat Helix membisikkan sesuatu sambil tersenyum, Celestia tertawa. Tawa renyah yang terdengar lepas membasahi udara siang itu. Wajah sang putri tampak berseri-seri, melambaikan tangan dengan anggun di samping calon suaminya.
Di atas atap menara yang dingin, Zass berdiri terpaku.
Tawa itu... senyuman itu... terasa bagaikan sembilu yang menghujam tepat di ulu hatinya. Zass menatap gadis yang selama bertahun-tahun menjadi pilar harapannya, kini tampak begitu bahagia berdiri di samping pria lain dari Kerajaan Aiteria. Rasa putus asa yang teramat sangat menyergap jiwanya secara mendadak.
Zass menundukkan kepalanya sekejap. Ia mengembunkan napas berat yang bergetar. Rasa bersalah, merasa terlambat, dan kepasrahan bercampur menjadi satu kekosongan yang hampa di dalam dadanya.
Zzzzt!
Tanpa mengucap sepatah kata pun, kilatan Petir Ungu kembali menyelimuti tubuh Zass. Ia Melesat pergi dari atas menara jam, meninggalkan ibu kota dengan kecepatan yang jauh lebih liar, kembali menuju Desa Oakhaven.
Di dekat air mancur alun-alun Desa Oakhaven, Ryu, Ken, Okta, dan Kayla masih berdiri menunggu. Belum sempat Okta menghabiskan apel di tangannya, sebuah getaran angin kencang bercampur aura hangat mendadak menyapu alun-alun.
Swoosh!
Zass muncul kembali di hadapan mereka.
Keempat anggota party itu terperanjat kaget melihat betapa cepatnya Zass kembali. Namun, kagetnya mereka seketika berganti menjadi keheningan yang kaku saat melihat ekspresi Zass. Wajah pemuda itu begitu muram, matanya kosong menatap tanah, dan seluruh tubuhnya memancarkan duka mendalam yang tak terucapkan.
"Zass...?" panggil Kayla pelan dengan nada cemas. "Kau... kau sudah kembali? Apa yang terjadi di sana?"
Zass tidak menjawab. Ia hanya diam terpaku, mengatupkan bibirnya rapat-rapat seolah suaranya telah terkunci di dasar hatinya.
Okta hendak maju dan bertanya lebih lanjut, namun Ryu dengan cepat merentangkan tangannya, menahan langkah Okta. Sebagai seseorang yang sangat peka, Ryu tahu betul bentuk rasa sakit yang sedang menggerogoti jiwa rekan mudanya itu. Ada hal-hal tertentu yang tidak bisa disembuhkan dengan pertanyaan, melainkan hanya dengan waktu dan ruang.
"Jangan bertanya lagi," bisik Ryu tegas pada rekan-rekannya, lalu menoleh ke arah Zass.
Ryu menepuk bahu Zass dengan mantap, memberikan tumpuan kekuatan tanpa perlu memaksanya bercerita. "Kembalikan perbekalan kalian ke dalam tas," perintah Ryu dengan suara tenang namun berbobot. "Kita lanjutkan perjalanan kita ke wilayah selatan sekarang juga."
Ken dan Okta mengangguk mengerti, mematuhi arahan sang ketua tanpa banyak bicara. Mereka mulai berjalan meninggalkan Desa Oakhaven, mengawal Zass yang melangkah dalam kesunyian yang dingin di tengah rombongan.
Sementara itu, di pusat kota Kerajaan Imperial.
Kereta kencana mewah Kerajaan Aiteria baru saja berhenti di halaman dalam istana. Pangeran Helix turun terlebih dahulu, lalu mengulurkan tangannya dengan gaya gentleman untuk membantu Celestia turun.
Celestia menyambut uluran tangan itu, mengumbar tawa kecil di hadapan para pengawal dan pelayan yang berbaris menyambut mereka.
Namun, begitu langkah kakinya melewati ambang pintu kamar pribadinya di menara istana dan pintu kayu tebal itu ditutup rapat oleh para pengawal dari luar, senyuman manis di wajah Celestia seketika runtuh tanpa sisa.
Wajah berseri itu berganti menjadi rona pucat penuh derita. Celestia menyandarkan punggungnya pada pintu kayu yang dingin, lalu tubuhnya perlahan meluncur jatuh berlutut di atas lantai marmer.
Gadis itu membenamkan wajahnya di antara kedua tangannya, membiarkan isak tangisnya yang tumpah secara histeris memecah kesunyian kamar.
Tawa bahagianya di pasar tadi... keramahannya di samping Helix... semuanya hanyalah topeng kepura-puraan yang terpaksa ia pakai. Ia terpaksa berpura-pura bahagia di depan publik dan penjahat politik demi melindungi keselamatan para pengawal dan rakyatnya yang diancam oleh ayahnya sendiri. Di balik tawa palsu itu, jiwanya merintih kesakitan, terhimpit oleh takdir pertunangan paksa yang menghancurkan hidupnya.
Celestia meremas belati kayu kecil peninggalan Zass yang ia sembunyikan di dalam gaun mewahnya. Air matanya menetes membasahi permukaan kayu kusam tersebut.
"Zass..." bisik Celestia serak di tengah isak tangisnya yang pilu. "Di mana kau...? Tolong aku... aku tidak sanggup berpura-pura lebih lama lagi..."
Tanpa menyadari bahwa pemuda yang ia harapkan baru saja berdiri puluhan meter di atasnya beberapa saat lalu, Celestia terus menangis dalam kegelapan kamarnya, memegang teguh sisa-sisa harapan bahwa sang penempa petir akan kembali untuk menyelamatkannya dari sangkar emas ini.