"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."
Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.
Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.
Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 — Sumpah Cinta di Ujung Maut
Tangan Mo Han mencengkeram leher Jiang Chen semakin erat hingga wajah pria itu berubah merah padam, napasnya tersendat-sendat dan kakinya menendang-nendang udara tanpa daya. Matanya melotot menatap Mo Han dengan tatapan penuh ketakutan yang luar biasa — baru kali ini ia melihat seseorang yang matanya begitu dingin, begitu kejam, dan begitu tak kenal ampun seakan ia bukan lagi manusia, melainkan maut itu sendiri yang menjelma menjadi sosok pria.
"Lepaskan... lepaskan aku..." Jiang Chen merintih parau, suaranya hampir tak terdengar karena cengkeraman yang mencekik napasnya. "Ayah... tolong aku..."
Tuan Jiang berdiri gemetar hebat di tempatnya, wajahnya pucat pasi dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia melirik ke arah Su Yi yang masih terikat di tiang besi, lalu kembali menatap Mo Han yang seketika itu tampak begitu mengerikan hingga membuat seluruh tubuhnya lemas tak bertenaga. Namun di tengah kepanikan itu, sifat liciknya belum sepenuhnya hilang. Ia segera melangkah mendekat ke arah Su Yi, menarik sebilah pisau tajam dari balik jubahnya dan menempelkan ujung tajamnya tepat di leher gadis itu.
"Berhenti!" Tuan Jiang berteriak sekuat tenaga, suaranya pecah namun penuh ancaman. "Lepaskan anakku sekarang juga! Atau aku akan mengiris leher wanita ini di depan matamu! Hitung sampai tiga... satu... dua..."
Mo Han menegang seketika. Cengkeraman di leher Jiang Chen melonggar sedikit namun tak sepenuhnya dilepaskan. Ia menoleh perlahan menatap Tuan Jiang, dan sepasang mata yang tadi menyala merah padam kini perlahan berubah menjadi tenang — ketenangan yang jauh lebih mengerikan daripada amarah yang meledak-ledak. Tatapannya begitu tajam seakan mampu menembus ke dalam jiwa pria tua itu, membuatnya ikut menahan napas karena merinding.
"Kau berani mengancamku dengan nyawanya?" Suara Mo Han terdengar rendah dan berat, namun setiap kata yang terucap begitu jelas dan bergema di seluruh ruangan hingga membuat lantai yang berdebu seakan ikut bergetar. "Kau pikir dengan menodongkan pisau di lehernya... kau bisa mengendalikanku? Kau salah besar. Dengarkan baik-baik... jika sehelai rambut pun jatuh dari kepalanya... aku tidak akan membiarkan kalian mati dengan mudah. Aku akan membuat kalian merasakan penderitaan yang jauh lebih buruk daripada kematian itu sendiri. Aku bersumpah atas nyawaku sendiri."
Tuan Jiang menelan ludah dengan susah payah. Tangannya gemetar hebat namun ia tetap berusaha menegakkan sikapnya. "Jangan mencoba mengancamku! Aku tidak takut! Lepaskan anakku sekarang... atau aku benar-benar melakukannya!"
Su Yi yang sejak tadi diam menatap Mo Han dengan air mata mengalir deras, tiba-tiba menggelengkan kepalanya dengan kuat. Ia berusaha melepaskan ikatan di mulutnya, berusaha berteriak agar Mo Han tidak peduli padanya, agar ia menyelamatkan dirinya sendiri. Namun kain penutup mulut itu terlalu kuat, dan yang keluar hanyalah suara rintihan yang tertahan penuh kepedihan.
Mo Han melihat tatapan itu. Ia melihat ketakutan di mata gadis itu — bukan ketakutan akan kematiannya sendiri, melainkan ketakutan akan keselamatan pria yang dicintainya. Hatinya terasa tercabik-cabik melihatnya terluka dan terancam karena dirinya. Perlahan, perlahan sekali, cengkeraman tangannya di leher Jiang Chen terlepas sepenuhnya. Ia mendorong tubuh pria itu hingga jatuh terjerembap ke lantai yang berdebu, lalu berdiri tegak di tempatnya dengan kedua tangan terangkat perlahan ke udara.
"Baiklah." Mo Han berkata pelan, suaranya terdengar parau namun tegas. "Aku melepaskannya. Sekarang... lepaskan dia. Biarkan dia pergi."
Tuan Jiang tersenyum penuh kemenangan. "Tentu saja. Setelah kau menyerahkan semua hak milikmu dan pergi meninggalkan kota ini selamanya... mungkin aku akan mempertimbangkannya."
"Aku akan menyerahkan semuanya." Mo Han menjawab tanpa ragu sedikit pun, matanya tak sedetik pun beralih dari wajah Su Yi yang menangis menatapnya dengan tatapan tak percaya. "Harta, tanah, kekuasaan... ambil semuanya. Aku tidak peduli. Yang kuinginkan hanya satu... biarkan dia pergi dengan selamat. Itu saja."
Su Yi menggelengkan kepalanya semakin kuat, air mata mengalir semakin deras. Ia ingin berteriak mengatakan bahwa ia tidak layak ditukar dengan seluruh hidup dan kekayaan pria itu. Ia ingin berteriak agar Mo Han tidak melakukannya, agar ia menyelamatkan dirinya sendiri. Namun kata-katanya terperangkap di dalam tenggorokan, tak mampu terucap keluar.
Tuan Jiang tertawa keras mendengar pengakuan itu. "Luar biasa! Sungguh luar biasa! Demi seorang wanita... kau rela menyerahkan segalanya? Baiklah... tulis semua pernyataan penyerahan hak milikmu sekarang juga di atas kertas yang kuberikan. Tanda tangani dengan tinta namamu sendiri. Setelah itu... mungkin aku akan membiarkan kalian berdua hidup. Tapi ingat... kalian harus pergi meninggalkan kota ini dan tidak boleh kembali selamanya."
Mo Han melangkah maju perlahan mendekati meja kayu tua yang diletakkan di tengah ruangan. Ia mengambil pena dan kertas yang dilemparkan Tuan Jiang ke arahnya, lalu menunduk diam-diam menatap wajah Su Yi yang masih menatapnya penuh air mata dan kepedihan. Di dalam hatinya, ia berbicara tanpa suara kepada gadis itu — Jangan menangis, Yi. Harta bisa dicari kembali. Kekuasaan bisa dibangun kembali. Tapi kau... kau hanya satu di dunia ini. Jika kehilanganmu... apa gunanya semua yang kumiliki?
Saat ia mulai menulis namanya di atas kertas itu, tiba-tiba Su Yi bergerak dengan sekuat tenaga. Ia menghentakkan tubuhnya ke belakang dengan kekuatan yang tak disangka-sangka, membuat pisau yang menempel di lehernya tergelincir dan melukai bahunya sedikit. Darah segar seketika mengucur dan membasahi gaun putihnya, namun Su Yi tak merasakan sakit itu. Ia justru memanfaatkan peluang singkat itu untuk melepaskan ikatan di mulutnya dengan cara menggosokkan wajahnya ke bahu.
"Jangan tanda tangani, Mo Han!" Su Yi berteriak sekuat tenaga, suaranya serak namun begitu jernih membelah keheningan ruangan itu. "Jangan lakukan itu! Mereka tidak akan membiarkan kita hidup! Mereka akan membunuh kita berdua setelah kau menyerahkan semuanya! Lari! Selamatkan dirimu!"
Mo Han tersentak mendengar suara itu. Pena di tangannya berhenti bergerak seketika. Ia menoleh menatap Su Yi yang berdarah namun menatapnya dengan tatapan penuh keberanian dan cinta yang tak tergoyahkan. Hatinya terasa bergetar hebat melihat kekuatan yang ada pada wanita yang dicintainya — wanita yang siap berkorban apa pun demi keselamatan prianya, bahkan jika itu berarti harus berhadapan langsung dengan maut.
"Kau..." Tuan Jiang melotot marah, kembali menempelkan pisau tajam itu ke leher Su Yi. "Diam kau! Sekali kau berteriak lagi... aku tidak akan segan-segan melukaimu!"
"Jangan takut padanya!" Su Yi berteriak lagi, menatap Mo Han dengan mata yang berapi-api. "Ingat janjimu, Mo Han! Kau berjanji akan melindungiku! Tapi kau juga berjanji tidak akan pernah menyerah pada kejahatan apa pun! Jangan biarkan pengorbananku sia-sia! Lawanlah! Untuk masa depan kita! Untuk cinta kita!"
Kata-kata itu bagaikan petir yang menyambar kesadaran Mo Han seketika. Tatapan matanya yang tadi lemah dan penuh kepasrahan perlahan berubah kembali menjadi tajam dan berkilat. Ia menatap Su Yi yang tersenyum tipis di balik air mata — senyum yang memberikan kekuatan kepadanya, senyum yang mengingatkannya pada janji sepuluh tahun yang lalu di bawah pohon bunga matahari itu.
Aku akan selalu melindungimu. Aku tidak akan pernah membiarkan siapa pun menyakitimu. Kita akan menghadapi apa pun bersama-sama. Selamanya.
Mo Han perlahan meletakkan pena di atas meja. Ia berdiri tegak, menatap Tuan Jiang dan Jiang Chen dengan tatapan yang begitu tenang namun begitu mengerikan hingga membuat mereka mundur selangkah tanpa sadar.
"Kalian benar." Mo Han berkata pelan namun tegas, suaranya bergema penuh kekuatan yang tak terlihat. "Aku tidak akan pernah menyerah pada kejahatan. Dan aku tidak akan pernah menukar cinta kita dengan apa pun yang kalian miliki. Karena cinta kita jauh lebih kuat daripada kejahatan kalian. Dan cinta kita... tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh siapa pun."
Ia melangkah maju selangkah. "Lepaskan dia sekarang. Dan serahkan dirimu. Atau bersiaplah menghadapi konsekuensinya."
Tuan Jiang meraung marah. "Kau menantangku? Baiklah! Kalau begitu... matilah kalian berdua!"
Ia mengangkat pisau tajamnya tinggi-tinggi hendak menghunjam ke dada Su Yi, namun tepat pada saat itu... suara deru mesin dan pekikan ban mobil terdengar dari luar gudang disusul suara langkah kaki yang berlarian mendekat. Pintu besar gudang itu terbuka lebar seketika, dan puluhan orang berpakaian rapi melesat masuk bagaikan angin, mengepung seluruh ruangan dalam sekejap mata.
"Tangkap mereka semua!" Mo Han memberi perintah singkat dan tegas sambil melesat secepat kilat menuju arah Su Yi sebelum pisau itu sempat turun.
Dalam sekejap mata, keadaan berbalik sepenuhnya. Anak buah keluarga Jiang yang tadi bersembunyi segera ditangkap dan dilumpuhkan. Jiang Chen berusaha melarikan diri namun segera ditangkap di ambang pintu. Dan Tuan Jiang yang kaget sempat melambungkan pisau ke arah Su Yi namun Mo Han sudah berada di sana lebih dulu. Dengan satu pelukan erat, ia memeluk tubuh Su Yi dan memutar tubuhnya hingga pisau itu melukai bahunya sendiri, tepat di tempat yang sebelumnya Su Yi terluka.
"Mo Han!" Su Yi berteriak histeris melihat darah segar mengalir dari bahu pria itu, namun Mo Han tak peduli pada lukanya. Ia segera melepaskan ikatan di tubuh Su Yi dengan tangan yang gemetar, lalu menariknya masuk ke dalam pelukan erat yang tak akan pernah ia lepaskan lagi.
"Aku di sini... aku di sini, Yi..." Mo Han berbisik berulang kali sambil mencium kening, pipi, dan ubun-ubun gadis itu dengan penuh kasih sayang dan rasa syukur yang tak terhingga. "Aku datang... aku datang menyelamatkanmu. Dan maafkan aku... maafkan aku karena membuatmu takut. Mulai detik ini... tidak ada siapa pun yang boleh menyentuhmu. Tidak ada siapa pun yang boleh mengancammu. Aku bersumpah... atas nyawaku sendiri... aku akan menjagamu hingga napas terakhirku."
Su Yi menangis tersedu-sedu di pelukan pria itu, melingkarkan kedua tangannya erat di leher Mo Han seakan takut jika ia melepaskannya sesaat saja, pria itu akan hilang kembali. Ia memeluknya begitu erat, menyandarkan kepalanya di dada pria itu dan mendengarkan detak jantungnya yang berdetak kencang namun penuh kehangatan dan kekuatan.
"Aku tahu... aku tahu kau pasti datang..." Su Yi berbisik di sela isak tangisnya. "Aku selalu tahu... kau tidak akan pernah meninggalkanku. Tidak peduli apa pun yang terjadi."
Di tengah ruangan itu, di hadapan semua orang yang kini tertunduk diam penuh hormat dan kekaguman, dua hati yang telah terpisah selama sepuluh tahun itu kembali bersatu dalam pelukan yang tak terpisahkan. Di luar gudang, matahari mulai terbenam sepenuhnya dan langit berubah menjadi ungu kemerahan yang indah — seakan langit sendiri sedang menyaksikan sumpah cinta yang diucapkan dua orang itu di ujung maut, sumpah yang tak akan pernah bisa dipisahkan oleh apa pun, bahkan oleh maut sekalipun.
Dan jauh di dalam hati mereka berdua, mereka tahu satu hal dengan pasti — perjuangan mereka belum berakhir. Namun selama mereka bersama, selama cinta mereka tetap menyala dan tak pernah padam... tidak ada bahaya yang terlalu besar, tidak ada musuh yang terlalu kuat. Karena cinta mereka adalah kekuatan yang akan selalu melindungi mereka, selamanya.
salam interaksi thor😉