Ayu Lestari tidak pernah bermimpi menjadi miliarder. Sebagai chef muda di hotel bintang lima Jakarta, hidupnya sudah cukup sibuk — memasak rendang untuk tamu-tamu kaya sambil merindukan kampung halaman di Sumatera Barat yang sudah lama ia tinggalkan.
Tapi takdir punya rencana lain. Undian berhadiah dari sebuah bank nasional menghadiahkannya 50 miliar rupiah. Jumlah yang bisa membeli apartemen mewah, mobil sport, dan kehidupan glamor seumur hidup.
Ayu memilih pulang kampung.
Di Nagari Sungai Tanang, ia merenovasi rumah gadang peninggalan keluarga, membuka Restoran Padang dengan resep warisan ibunya, dan memulai channel TikTok yang tak disangka-sangka viral. Nenek Sari yang gila belanja online dan Datuk Harun yang pendiam menyambutnya dengan tangan terbuka — bersama seekor Golden Retriever, dua anjing lain, dan tujuh ekor kucing.
Lalu datanglah Raka Pratama.
Pria Jawa berkacamata ini memesan homestay Ayu untuk "mencari inspirasi menulis." Kenyataannya? Ia sedang melarikan diri dari keluarga yang berantakan — ayah yang menikah lagi, ibu tiri yang manipulatif, dan luka masa kecil yang tak pernah sembuh. Di NovelMe, ia dikenal sebagai KentangGila, penulis novel romantis dengan jutaan pembaca. Di dunia nyata, ia bahkan tidak berani memesan makanan sendiri.
Ayu yang blak-blakan bertemu Raka yang pemalu. Chef yang jago masak bertemu pria yang bisa membakar air. Pewaris tradisi Minangkabau bertemu anak Jakarta yang tidak tahu cara makan dengan tangan.
Tapi di balik perbedaan mereka, ada kesamaan yang lebih dalam: dua orang yang kehilangan orang tua terlalu cepat, dan sedang belajar bahwa "rumah" bukan soal alamat — tapi soal siapa yang menunggumu di depan pintu.
Antara sawah hijau, aroma rendang, dan pertengkaran soal siapa yang cuci piring malam ini — cinta tumbuh pelan-pelan. Dan kali ini, Ayu tidak perlu undian untuk tahu bahwa ia sudah menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Bab 8
Tamu Istimewa
"Besok?" Dian merebut ponsel Ayu tanpa benar-benar merebut, hanya mencondongkan badan sampai bahunya menempel. "Dia booking sebulan dan datang besok? Orang Jakarta ini spontan atau kabur dari utang?"
"Di," Ayu menahan tawa. "Jangan menuduh tamu sebelum check-in."
"Aku manajer kehormatan. Tugasku curiga dulu."
Nenek Sari ikut duduk lebih dekat, kacamata masih bertengger di hidung. "Laki-laki atau perempuan?"
Ayu membuka detail reservasi. "Laki-laki."
Tiga pasang mata langsung menatap layar.
Nama tamu: Raka Pratama.
Usia: 25.
Asal: Jakarta.
Durasi: 30 malam.
Catatan tamu: `Saya mencari tempat yang tenang untuk menulis. Kalau memungkinkan, kamar yang tidak terlalu dekat area ramai. Terima kasih.`
Dian membaca catatan itu dua kali. "Menulis? Dia penulis?"
Ayu menggulir profil tamu. Di kolom pekerjaan, tertulis satu kata: penulis.
Nenek Sari mengerutkan kening. "Penulis apa?"
"Tidak tahu, Nek. Bisa penulis buku, artikel, skenario, atau... novel online."
"Novel yang orang baca di ponsel itu?"
"Bisa jadi."
Nenek tampak berpikir serius. "Kalau begitu dia butuh makan. Orang menulis pasti lupa makan."
Dian langsung menunjuk Nenek. "Nah, itu insight hospitality terbaik malam ini."
Ayu membuka riwayat pesan dari platform. Raka sudah mengirim satu pesan setelah reservasi dikonfirmasi.
`Selamat malam, Mbak. Maaf reservasinya mendadak. Saya melihat video rumah gadang dan restorannya di TikTok. Kalau tidak merepotkan, saya ingin menginap cukup lama untuk menyelesaikan naskah. Saya tidak merokok, tidak membawa kendaraan, dan lebih banyak bekerja di kamar. Untuk transportasi dari bandara, apakah homestay menyediakan penjemputan?`
Pesannya rapi. Tidak terlalu akrab. Tidak menyebalkan. Tidak seperti sebagian calon tamu yang membuka chat dengan tawar-menawar setengah harga.
"Sopan," komentar Dian.
"Terlalu sopan," kata Ayu.
"Itu masalah?"
"Bukan. Aku cuma belum biasa."
Nenek menepuk meja. "Balas. Jangan buat tamu menunggu."
Ayu mengetik dengan hati-hati.
`Selamat malam, Kak Raka. Terima kasih sudah reservasi. Kami bisa bantu penjemputan dari bandara dengan biaya tambahan, atau saya bisa atur travel langganan keluarga. Untuk kamar, saya siapkan kamar belakang yang paling tenang, menghadap sawah. Sarapan termasuk. Kalau ada pantangan makanan, silakan kabari.`
Ia berhenti sebentar di kata `Kak Raka`. Rasanya wajar untuk tamu laki-laki yang sedikit lebih tua. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu dingin.
"Kirim," kata Dian.
"Aku tahu."
"Dari tadi jarimu gemetar."
"Karena kamu menatap seperti polisi."
Dian menyeringai. "Aku cuma memastikan calon tamu sebulanmu bukan masalah."
Balasan Raka datang kurang dari satu menit.
`Terima kasih, Mbak Ayu. Kalau boleh, saya minta dijemput saja. Saya baru pertama kali ke Sumatera Barat. Pesawat saya tiba pukul 13.20. Untuk makanan, saya tidak punya pantangan, tapi saya tidak terlalu kuat pedas.`
Ayu membaca bagian terakhir, lalu tersenyum.
"Tidak kuat pedas," katanya.
Nenek Sari langsung menggeleng prihatin. "Kasihan."
"Nek, orang tidak kuat pedas bukan penyakit."
"Tetap kasihan."
Dian tertawa keras.
Ayu membalas bahwa ia akan menjemput langsung karena ada keperluan membeli bahan di Padang. Sebenarnya bahan bisa dipesan dari pemasok biasa, tapi ia belum tega menyerahkan tamu sebulan pertama kepada sopir travel. Kalau pengalaman pertama buruk, ulasan pertama juga bisa buruk.
Selain itu, ada rasa penasaran kecil yang tidak bisa ia bantah.
Orang Jakarta, penulis, umur dua puluh lima, datang sendirian ke nagari hanya karena melihat video rumah gadang di TikTok. Tinggal sebulan. Tidak kuat pedas. Sopan sampai tanda bacanya rapi.
Menarik.
Malam itu, Ayu menyiapkan kamar nomor tiga sendiri.
Kamar itu memang paling tenang. Jendelanya menghadap sawah, jauh dari area restoran. Di pagi hari, cahaya masuk lembut dari sisi timur. Ayu mengganti seprai, menepuk bantal sampai mengembang, mengecek selimut, mengisi ulang teh, kopi, dan gula. Ia menambahkan termos kecil, sandal kamar, obat nyamuk elektrik, serta meja lipat dekat jendela.
"Kalau dia menulis, meja ini penting," gumamnya.
Sofia masuk tanpa izin dan melompat ke kursi.
"Tidak. Ini kamar tamu."
Sofia menatap Ayu.
"Jangan mulai."
Kucing itu akhirnya turun setelah Ayu mengangkatnya dengan dua tangan. Di luar kamar, Luna menunggu sambil menggoyang ekor. Raja berbaring di teras belakang, sementara Angin sibuk mengawasi ayam seperti petugas keamanan.
Ayu mengambil video singkat kamar itu, tapi tidak mengunggahnya. Untuk pertama kalinya sejak homestay dibuka, ia merasa ada sesuatu yang lebih pribadi dari sekadar konten.
Pukul sepuluh malam, ketika rumah sudah lebih tenang, pesan baru masuk.
`Mbak Ayu, maaf kalau bertanya malam-malam. Di sekitar homestay apakah sinyal internet cukup stabil? Saya perlu mengirim naskah setiap beberapa hari.`
Ayu duduk di tepi ranjang kamar tamu dan membalas.
`Stabil. Saya juga siapkan Wi-Fi tambahan di dekat kamar Kak Raka. Kalau ada masalah, kabari saja.`
`Terima kasih. Sampai bertemu besok.`
Ayu membaca kalimat itu sekali.
Lalu sekali lagi.
Sampai bertemu besok.
Kalimat biasa, tapi entah kenapa membuat kamar nomor tiga terasa menunggu seseorang.
Keesokan siangnya, Ayu memilih kemeja linen putih, celana kain cokelat, dan hijab warna krem. Ia tidak berdandan berlebihan, hanya memakai sedikit bedak dan lip tint. Dian yang melihatnya dari pintu kamar langsung menyipit.
"Mau jemput tamu atau wawancara kerja?"
"Tamu pertama yang menginap sebulan. Aku harus rapi."
"Rapi, iya. Tapi ini rapi yang ada niat."
Ayu melempar bantal kecil ke arah Dian, tapi pipinya sudah panas.
Pukul sebelas, ia membawa kunci mobil dan daftar belanja dari Nenek. Sebelum masuk mobil, ia menoleh ke kamar nomor tiga yang pintunya sudah tertutup rapi.
Besok sudah menjadi hari ini.
Dan di Bandara Internasional Minangkabau, seorang penulis bernama Raka Pratama sedang dalam perjalanan menuju hidupnya.