NovelToon NovelToon
Novel Mecha "GEAR TEARS"

Novel Mecha "GEAR TEARS"

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romansa Fantasi / Kehidupan Tentara
Popularitas:354
Nilai: 5
Nama Author: KIRA

GEAR TEARS
Novel Bertema Mecha Militer

Di dunia yang telah hancur oleh kemunculan makhluk misterius bernama Cataclysm, umat manusia hanya mampu bertahan hidup di dalam kubah raksasa yang disebut Station. Untuk melindungi peradaban yang tersisa, organisasi militer The Hawk membentuk pasukan elit Grey Wings, para pilot yang mengendalikan robot tempur raksasa bernama Neo Gear.

Shin, seorang pilot muda Grey Wings Station 05, menjalani hidupnya seperti pilot lainnya hingga bertemu dengan seorang wanita misterius bernama Belial. Dengan tanduk biru, ekor panjang, dan kekuatan yang melampaui manusia biasa, Belial menyimpan rahasia yang dapat mengubah segalanya: ia adalah seorang hybrid manusia dan Cataclysm.

Di tengah meningkatnya serangan Cataclysm dan konspirasi yang tersembunyi di balik organisasi The Hawk, Shin dan Belial perlahan membangun ikatan yang seharusnya tidak pernah ada. Namun, ketika masa lalu yang telah lama dikubur mulai bangkit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KIRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8 "Si Pelupa"

Chapter 8

Sirene internal berbunyi pelan, menandakan seluruh pilot Tim 05 harus segera berkumpul di Ruang Briefing Utama. Di koridor, langkah kaki terdengar tergesa-gesa. "Lei! Kau lambat sekali, cepat!" seru Sua dari barisan depan, memimpin tim dengan langkah tegapnya yang biasa.

Begitu tiba di depan pintu ruang briefing, Sua berbalik untuk memeriksa kelengkapan anggotanya. Matanya yang tajam langsung tertuju pada bagian dada seragam Lei. Kosong. Tidak ada pin perak berbentuk sayap di sana. "Lei..." suara Sua mendalam, menahan amarah. "Di mana *badge* Grey Wings milikmu? Kau tahu kan peraturan militer menyatakan pilot wajib mengenakan atribut lengkap saat briefing resmi?!"

Lei tertegun, meraba dadanya yang polos lalu tersenyum canggung sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ah... itu... sepertinya ketinggalan di meja makan? Atau di kamar mandi ya?" "Kau ini wakil kapten, tapi cerobohnya tidak ketulungan!" omel Sua, siap meledak.

"Ini yang kau cari, Lei?" sebuah suara datar memotong omelan Sua. Elas berjalan mendekat dari arah belakang, tangannya terulur menyerahkan sebuah badge perak yang berkilau. "Elas! Kau penyelamatku!" seru Lei girang. "Aku menemukannya tergeletak di atas meja perpustakaan tadi subuh saat aku sedang membaca jurnal biologi," ucap Elas sambil menghela napas panjang, menyesuaikan letak kacamatanya. "Biasakan untuk langsung memasangnya setelah dicuci, Lei." "Hehe, siap, Elas!" jawab Lei sambil buru-buru menyematkan badge tersebut sebelum Sua kembali mengamuk.

Dua hari kemudian, suasana *Home* kembali gempar. Skuadron 05 diwajibkan menghadiri upacara kedatangan petinggi militer dari Birdcage. Di kamar pria, Lei sedang mengobrak-abrik lemari bajunya hingga semua pakaiannya berserakan di lantai. "Aduh, di mana ya? Padahal seingatku aku menaruhnya di gantungan ini," gumam Lei panik, hanya mengenakan kaus oblong.

Zhou yang sudah rapi dengan seragam militernya bersandar di pintu kamar sambil mengunyah apel. "Oi, pelupa. Kau mencari seragammu lagi? Kecerobohanmu ini sudah masuk level kronis, tahu." Teiben yang sedang menyisir rambut di depan cermin ikut menyahut sambil tertawa mengejek, "Jangan-jangan kau pakai untuk mengelap oli Stork kemarin, Lei? Otakmu itu perlu di-upgrade sepertinya." "Diam kalian berdua! Bantu aku cari!" seru Lei frustrasi. Tok, tok.

Elas masuk ke dalam kamar sambil membawa selembar seragam militer yang masih terbungkus plastik rapi, lengkap dengan wangi matahari yang menyengat. "Ini bajumu," kata Elas pelan, menyerahkannya kepada Lei. "Kau meninggalkannya di jemuran belakang selama tiga hari sampai warnanya hampir pudar karena kepanasan. Untung aku tanggap sebelum hujan turun kemarin." Zhou dan Teiben langsung tertawa terbahak-bahak. "Tiga hari di jemuran?! Lu biasa, Lei!" ejek Zhou. Lei hanya bisa nyengir pasrah. "Ah... jadi aku menjemurnya ya? Terima kasih banyak, Elas. Kau memang malaikat pelindungku."

Kecerobohan Lei mencapai puncaknya setelah mereka kembali dari misi rutin melawan Cataclysm skala kecil di luar kubah. Begitu Stork—mecha milik Lei—mendarat di dalam garage, Lei yang kelelahan langsung melompat keluar dari kokpit melalui tali seluncur dan berjalan pergi begitu saja menuju ruang ganti. Ia lupa satu hal fatal, mematikan sistem utama mecha.

Beberapa menit kemudian, sistem protokol pengaman tanpa kemudi milik Stork aktif secara otomatis karena mendeteksi ketiadaan pilot dalam waktu lama sementara mesin masih menyala. Stork tiba-tiba melangkah maju sendiri. BRAAAAK!!!

Satu kaki baja besar Stork menghantam gerbang besi Garage hingga penyok dan terlepas dari engselnya. Alarm bahaya garage langsung berbunyi nyaring. Di ruang interogasi garage, Lei duduk tertunduk lesu. Di depannya, Ace dan Sua berdiri dengan berkacak pinggang, wajah mereka merah padam. "Kau tahu berapa biaya untuk memperbaiki gerbang hidrolik itu, Lei?!" bentak Ace sambil mengacungkan kunci inggris besarnya. "Itu gerbang berlapis baja, bukan pintu tripleks!"

Setelah satu jam diomeli habis-habisan, Lei akhirnya keluar dari ruangan dengan bahu merosot. Di luar koridor yang sepi, Elas sudah berdiri di sana. Tanpa berkata apa-apa, Elas menyodorkan segelas kopi hangat yang asapnya masih mengepul ke tangan Lei. Lei menerima gelas itu, menyesapnya perlahan, lalu duduk bersandar di dinding koridor. "Haaah... Elas, kenapa aku bisa seceroboh dan sepelupa ini ya?" curhat Lei dengan nada frustrasi pada dirinya sendiri. "Terkadang aku merasa otakku ini punya lubang besar. Aku selalu merepotkan semua orang, terutama kau."

Elas bersandar di dinding di sebelah Lei, menatap lurus ke depan lalu menghela napas panjang—helahan napas yang sudah sangat sering ia keluarkan khusus untuk Lei. "Kau terlalu banyak memikirkan taktik pertempuran saat di lapangan, Lei. Itu membuat fokusmu di kehidupan sehari-hari buyar," ucap Elas dengan nada menasihati namun tetap tenang. "Tapi ceroboh dan pelupa itu dua hal yang berbeda. Mulai sekarang, belajarlah untuk lebih teliti.periksa barangmu, dan lihat sekelilingmu sebelum melangkah. Aku tidak bisa terus-menerus ada di belakangmu untuk memungut barang yang kau jatuhkan." Lei menatap Elas, lalu tersenyum tulus. "Iya, kau benar. Aku akan berusaha."

Keesokan harinya, Tim 05 mendapatkan misi mendesak. Mereka meluncur ke lokasi reruntuhan pinggiran kota yang menjadi sarang Cataclysm kelas *Angel* tipe *Insect*. Pertempuran berjalan cepat dan taktis; tim berhasil membersihkan area tersebut dengan mudah menggunakan formasi standar mereka.

Setelah selesai beres-beres, seluruh mecha kembali ke garage Station 05. Namun, saat pemeriksaan unit pasca-misi, Lei mendadak pucat di dalam kokpitnya. "Uh... pisau Magmaku ketinggalan di sana," gumam Lei lewat radio tim. Sua, Zhou, Huah, dan yang lainnya hanya bisa geleng-geleng kepala secara serempak di ruang kendali. "Kau meninggalkan senjata utamamu di sarang monster?! Luar biasa!" seru Huah tak habis pikir.

Tanpa menunggu perintah, Lei langsung memutar balik Stork dan meluncur sendirian kembali ke lokasi sarang untuk mengambil pisaunya sebelum tertimbun reruntuhan. Tim 05 hanya bisa menghela napas pasrah, membiarkannya pergi sendirian karena areanya dianggap sudah aman.

Namun, begitu Stork milik Lei tiba di kedalaman sarang Insect dan memungut pisaunya yang tergeletak di tanah, sensor radar mecha miliknya tiba-tiba berbunyi merah pekat. Detektor energi biologisnya melonjak ke angka ekstrem.

Dari balik dinding gua terdalam yang runtuh, muncul sebuah siluet makhluk raksasa bersayap banyak dengan pelindung karapas yang berkilau mengerikan. "Ini... bukan sekadar sarang Angel biasa," bisik Lei, keringat dingin menetes di dahinya. "Mereka punya induk... Cataclysm kelas Archangel tipe Insect!"

Lei segera membuka saluran komunikasi darurat ke markas. "Markas! Tim 05! Ini Lei! Ada Archangel tersembunyi di koordinat sarang—" KRAAAAK!

Makhluk raksasa itu menyadari kehadiran Stork. Dengan kecepatan kilat, salah satu kaki tajamnya menebas antena komunikasi Stork hingga sinyalnya terputus secara brutal. "Sial, ketahuan!" Lei terpaksa menarik pisaunya dan mengaktifkan perisai energi Stork. "Aku harus menahan makhluk ini sendirian sampai yang lain datang!" Di Station 05, pesan singkat Lei yang terputus mendadak membuat ruang kendali tegang. Sinyal darurat merah menyala di layar Elas. "Sinyal Lei terputus, tapi data pemindai terakhir mengonfirmasi adanya tanda energi kelas *Archangel*!" seru Elas dengan nada yang jarang sekali terdengar panik. "Sialan si pelupa itu! Semua unit, kembali ke kokpit! Kita meluncur sekarang juga!" perintah Sua tegas.

Pertempuran di sarang berlangsung sengit. Stork milik Lei sudah mengalami beberapa kerusakan di bagian pundak akibat menahan gempuran sang induk sendirian. Tepat saat makhluk itu hendak menghujamkan serangan mematikan, Phoenix milik Huah dan mecha milik Zhou menerjang dari atas, mengalihkan perhatian sang Archangel.

"Bertahanlah, Pelupa!" teriak Zhou lewat radio.

Phoenix mengikat sayap Cataclysm itu namun Cataclysm itu mematahkan tali kawat Phoenix dengan menggigitnya, Induk Cataclysm itu kabur keluar sarang. saat diluar sarang Sei kesulitan membidik Cataclysm itu karena pergerakannya terlalu cepat. "bisa diam ga sih?!" keluh Sei. Raven melompat dan menerkam Cataclysm itu, merobek sayapnya, Cataclysm itu mengerang sakit lalu menyemburkan cairan hijau asam yang membuat Raven kaku karena kelistrikan rusak.

Cataclysm itu hendak menembakan meriam proyektil dari mulutnya tapi saat didetik terakhir Eagle menarik Raven menjauh dan tembakan mleset. Cataclysm itupun berubah jadi bola dan menggelinding hendak kabur tapi sebelum sempat kabur, Stork melompat menikam dengan tombaknya tepat di Core dan meledak. BOOM!

Kembali ke ruang briefing setelah misi besar yang tak terduga itu, suasana tampak jauh lebih santai meskipun semua orang kelelahan. Sua memberikan laporan akhir dengan wajah yang tampak lega. Zhou berjalan mendekati Lei, lalu menepuk pundaknya dengan keras hingga Lei hampir tersedak air minumnya. "Terima kasih, Lei. Berkat kecerobohanmu yang meninggalkan pisau itu, kita berhasil membasmi induk Archangel sebelum mereka menyerang Station. Benar-benar sulit dipercaya!" ucap Zhou sambil terkekeh geli.

"Meninggalkan barang bawaan ternyata bisa jadi strategi genius ya," canda Huah yang disambut tawa oleh anggota tim lainnya. Lei hanya bisa tersenyum kecut, merasa beruntung sekaligus malu.

Malam harinya di *Home*, suasana sudah sangat sepi. Lampu koridor utama telah diredupkan. Lei berjalan pelan dengan langkah gontai menuju kamarnya, berniat untuk segera tidur karena seluruh tubuhnya terasa remuk.

Dari arah berlawanan, Elas keluar dari ruang analisis, hendak menuju kamarnya juga. Mereka berpapasan di tengah lorong yang sunyi. "Elas, belum tidur?" tanya Lei ramah.

Elas tidak langsung menjawab. Ia merogoh saku jubah laboratoriumnya, lalu mengeluarkan sebuah benda persegi kecil dan menyodorkannya ke depan dada Lei. Benda itu adalah sebuah buku catatan saku bergaris dengan sampul kulit berwarna cokelat tua, lengkap dengan sebuah pena kecil yang terselip di pinggirnya. "Apa ini?" tanya Lei bingung.

"Buku catatan kecil," jawab Elas tenang, matanya menatap Lei dari balik kacamata beningnya. "Catat apa pun itu di dalam buku ini agar kau tidak lupa. Mulai dari jadwal upacara, letak seragam, hingga senjata mecha-mu sebelum pulang misi. Bawa ini ke mana pun kau pergi di dalam sakumu."

Lei menerima buku catatan itu. Ia merasakan tekstur sampulnya yang halus, lalu menatap Elas dengan senyuman paling tulus yang ia miliki malam itu. "Terima kasih banyak, Elas. Aku akan selalu membawanya," ucap Lei hangat. "Baguslah kalau kau mengerti. Selamat malam, Lei," kata Elas sambil berbalik dan melanjutkan langkahnya menuju kamar. "Selamat malam, Elas."

Lei memasukkan buku catatan kecil itu ke dalam saku celananya dengan hati-hati, tersenyum kecil, lalu melangkah masuk ke kamarnya untuk beristirahat, siap menghadapi hari esok dengan ingatan yang (semoga saja) lebih baik.

1
Noir
Gokill
KIRA: makasihh
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!