NovelToon NovelToon
Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Bad Boy X Good Girl (Musuh Jadi Cinta)

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Bagi Aura, mahasiswa tingkat akhir penerima beasiswa penuh, hidup ini sederhana: belajar keras, lulus cepat, dan dapat kerja bagus demi menyembuhkan ibunya yang sakit. Dunia Aura diatur oleh jadwal kuliah yang ketat dan nilai IPK yang sempurna. Ia menjauhi segala bentuk masalah, termasuk Devan, mahasiswa jurusan hukum yang terkenal arogan, kerap bolos, dan selalu dikelilingi aura berbahaya. Devan adalah definisi nyata dari bad boy kampus yang harus dihindari.

Permusuhan mereka dimulai dari hal sepele—rebutan buku referensi langka di perpustakaan dan insiden kopi tumpah yang membuat Devan bersumpah akan membuat hidup Aura di kampus seperti neraka. Aura menganggap Devan tak lebih dari berandalan kaya yang manja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Suasana di dalam paviliun rumah aman Distrik Selatan terasa begitu hening, kontras dengan gemuruh perang dingin yang sedang berkecamuk di pusat kota. Aura duduk di depan komputer layar ganda yang disediakan oleh Kenzo. Lembar demi lembar draf digital yang berisi skema alokasi aset sekunder klan Bratadikara terpampang di hadapannya. Jari-jarinya bergerak lincah di atas papan ketik, menganalisis setiap jengkal kalimat hukum untuk memastikan tidak ada celah sekecil apa pun yang bisa dieksploitasi oleh klan Mahendra.

Meskipun tubuhnya berada di tempat terisolasi ini, pikiran Aura terus melayang ke koridor Universitas Ganesha. Ia terus memandangi ponsel khusus pemberian Devan yang tergeletak di samping papan ketik, berharap ada pesan masuk yang mengabarkan situasi di kampus.

Bzzzt.

Ponsel itu tiba-tiba bergetar. Aura dengan cepat menyambarnya. Sebuah pesan teks dari nomor '01' muncul di layar.

01:

Kenzo mendeteksi ada pergerakan aneh di sekitar rumah sakit ibumu. Gue dan Bram sedang meluncur ke sana sekarang untuk memperkuat pertahanan. Tetap di dalam paviliun, jangan buka pintu untuk siapa pun kecuali dengan kode sandi kita.

Jantung Aura mencelos. Rasa cemas yang sempat mereda seketika bangkit kembali, menyergap dada hingga membuatnya sulit bernapas. Ibunya adalah garis merah dalam hidupnya. Jika Gavin Mahendra sampai berhasil menyentuh rumah sakit itu, Aura tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri karena telah terlibat dalam urusan ini.

Aura berdiri dari kursi belajar, berjalan mondar-mandir di dalam ruangan paviliun yang sempit. Rintik hujan di luar jendela tampak semakin lebat, mengaburkan pemandangan kompleks gudang tua di sekelilingnya menjadi siluet abu-abu yang suram.

Sementara itu, di koridor utama Rumah Sakit Privat Medika Pusat—fasilitas kesehatan eksklusif milik keluarga Bratadikara yang terletak di pinggiran kota—suasana mendadak tegang. Dua mobil jip hitam tanpa pelat nomor baru saja berhenti di area parkir darurat. Beberapa pria dengan setelan jas rapi namun berwajah dingin turun dengan langkah taktis, menyembunyikan senjata di balik mantel mereka.

Di dalam lobi lantai empat, tempat ibu Aura dirawat di bawah nama samaran 'Nyonya Rahma', Devan berjalan dengan langkah terburu-buru bersama Bram. Jaket kulit hitamnya basah oleh rintik hujan, dan ekspresi wajahnya tampak begitu mengerikan hingga perawat yang berpapasan dengannya langsung menepi ketakutan.

"Bram, kunci semua akses lift ke lantai ini. Perintahkan tim inti untuk bersiap di tangga darurat," perintah Devan, suaranya rendah namun sarat akan otoritas yang mematikan.

"Siap, Dev. Orang-orang Gavin tampaknya menggunakan ambulans palsu untuk menyusup ke area basemen," jawab Bram sambil menekan tombol interkom pada jam tangannya.

Devan melangkah masuk ke dalam kamar rawat nomor 402. Di sana, seorang wanita paruh baya berwajah pucat sedang terbaring lemah dengan selang infus yang menempel di tangannya. Di samping tempat tidur, seorang perawat wanita—yang sebenarnya adalah agen medis terlatih klan Bratadikara—sedang memeriksa monitor jantung.

"Gimana kondisinya?" tanya Devan pendek.

"Stabil, Tuan Muda. Tapi kami mendeteksi ada dua orang mencurigakan yang mencoba menanyakan data pasien di meja administrasi bawah lima menit lalu," lapor agen medis tersebut.

Devan mendekati tempat tidur, menatap wajah ibu Aura yang sedang tertidur pulas akibat efek obat penenang. Ada rasa tanggung jawab yang besar yang mendadak menindih pundak cowok itu. Ia telah berjanji kepada Aura untuk menjaga ibunya sebagai area netral. Jika ia gagal di sini, ia bukan saja kehilangan sekutu hukum terbaiknya, tapi ia juga akan menghancurkan kepercayaan satu-satunya gadis yang berhasil menyentuh sisi kemanusiaannya yang telah lama mati.

"Bram, bawa Nyonya Rahma keluar lewat jalur evakuasi helipad di atap. Helikopter privat bokap gue harusnya sudah mendarat sekarang," kata Devan tegas, matanya beralih ke jendela yang menampilkan kabut tebal.

"Lalu gimana dengan lo, Dev?"

Devan menarik pistol semi-otomatisnya dari balik jaket kulit, memeriksa magasinnya dengan bunyi klik yang dingin. "Gue bakal tinggal di sini buat menyambut orang-orang Gavin. Mereka pikir mereka sedang memburu kelemahan gue, jadi gue akan tunjukkan apa yang terjadi kalau mereka mencoba menyentuh milik seorang Bratadikara."

Di saat yang sama, di rumah aman Distrik Selatan, keheningan di dalam paviliun Aura mendadak pecah oleh suara gemeretak halus dari arah gerbang besi luar kompleks gudang.

Aura langsung membeku di tengah ruangan. Ia mematikan layar komputer dengan cepat, membuat ruangan jatuh ke dalam keremangan cahaya sore yang mendung. Ia berjalan mengendap-endap menuju jendela kecil yang menghadap ke arah halaman tengah gudang.

Melalui celah tirai yang sempit, mata Aura membelalak karena terkejut. Sebuah mobil sedan hitam mewah baru saja masuk ke dalam kompleks gudang tua itu. Dua orang anak buah klan Bratadikara yang berjaga di pos depan tampak sudah tergeletak tidak berdaya di atas lantai beton, dijaga oleh dua pria bertopeng dengan senapan laras pendek.

Pintu belakang mobil sedan itu terbuka. Seorang pria muda dengan setelan jas biru tua yang sangat rapi keluar dengan langkah angkuh, memegang sebuah payung hitam untuk menghalau rintik hujan.

Pria itu adalah Gavin Mahendra.

Aura merasakan seluruh darahnya seolah berhenti mengalir. Jebakan di rumah sakit tadi ternyata hanyalah sebuah diversi taktis. Gavin sengaja memancing Devan dan pasukan intinya pergi ke rumah sakit privat untuk mengevakuasi ibunya, sementara Gavin sendiri memimpin tim kecil untuk menyerang lokasi rumah aman yang sebenarnya. Seseorang di dalam lingkaran dalam klan Bratadikara atau dinas perhubungan kota telah membocorkan lokasi tempat isolasi ini.

"Gisela Aura," suara Gavin menggema melalui pengeras suara kecil dari halaman gudang, terdengar begitu licik dan penuh kemenangan menembus bising rintik hujan. "Gue tahu lo ada di dalam paviliun kecil itu. Gak usah bersembunyi di balik layar komputer lagi, Good Girl. Pacar lo yang arogan itu sedang sibuk bermain umpan di rumah sakit pusat, dan dia gak akan sempat datang buat menyelamatkan lo kali ini."

Aura mundur beberapa langkah dari jendela, napasnya memburu. Otaknya yang cerdas langsung berputar dengan kecepatan maksimal, mencoba mencari jalan keluar hukum atau taktis dari situasi yang tampaknya mustahil ini. Paviliun ini tidak memiliki pintu belakang, hanya ada satu pintu masuk utama yang kini sedang dituju oleh langkah kaki Gavin dan anak buahnya.

Aura melirik ke arah meja kerja. Di bawah tumpukan dokumen kertas, ada sebuah tombol darurat berwarna merah yang tersambung langsung ke sistem alarm Kenzo. Tanpa membuang waktu, Aura berlari kecil, menekan tombol itu kuat-kuat, lalu menyambar ponsel khusus pemberian Devan.

Ia mengetik pesan dengan tangan yang gemetar hebat.

To: 01

Gavin ada di sini. Distrik Selatan diserang. Ini jebakan.

Baru saja pesan itu terkirim, suara benturan keras menghantam pintu kayu paviliun. Pintu itu berderit hebat sebelum akhirnya engselnya jebol, menampilkan sosok Gavin Mahendra yang melangkah masuk dengan senyuman kemenangan yang mengerikan. Dua anak buahnya langsung menodongkan senjata ke arah Aura, mengunci seluruh ruang gerak mahasiswi teladan itu di sudut ruangan yang sempit.

1
Ical Habib
lnjut thor
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa sosweet nyaa, ihh salting Mulu bacanya nihh aaa baguss kali ceritanya tapi kok gak rame ya.. padahal seru gini loh/Scowl/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
owhhh ternyata udahh nikahh, kukira pacaran loh tapi bagus lah langsung nikahh, ahhh bagusss dan seruu tauu ceritanya.. semangat!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa akhirnya jadii pasangan benerann, ihhh salting Mulu Weh liatnyaa.. lanjut terus Ampe tamat ya thorr, semangatt!/Determined/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
awww lucuu mereka berduuaa, sosweet ihh akhirnyaaa Devan sadar sama perasaan nyaa /Grin/
🌷🌸 Clarissa 🌸🌷
aaaa seruu banget ceritanya/Scream/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!