Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.
Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 – Water Ball
Sinar matahari pagi menyinari permukaan danau dengan hangat, memecah cahaya menjadi ribuan kilauan emas di sela-sela riak halus. Udara pagi terasa segar dan menenangkan, namun tak ada yang mampu meredam semangat yang meluap-luap di dada Haruto. Setelah berhasil menaklukkan ujian pengendalian mana yang berat, wajahnya berseri-seri tak mampu ia sembunyikan.
"Akhirnya!" serunya sambil mengepalkan kedua tangannya erat di sisi tubuh. Matanya berbinar terang menatap Mizuna. "Hari ini aku benar-benar akan belajar sihir pertamaku sendiri!"
Pochi yang melompat-lompat di rumput basah langsung meloncat tinggi setinggi dua kali tubuhnya sendiri seolah ikut merayakan momen itu.
"Pyoo! Pyoo!"
Daichi yang sedang menyapu teras rumah tertawa renyah melihat tingkah mereka. Ia menyandarkan sapu ke dinding lalu melipat tangan di dada.
"Lihat saja, semangatmu sudah kembali seperti biasa. Bahkan lebih bersemangat dari kemarin pagi," ucapnya sambil tersenyum lebar.
Mizuna mengangkat tongkat kristal biru yang terselip di pinggangnya, lalu berjalan perlahan menuju tepian danau yang datar. Angin sepoi-sepoi mengibaskan ujung jubahnya yang berwarna biru langit. Ia berbalik menghadap Haruto, tatapannya tenang namun serius.
"Haruto."
"Siap, Guru!" jawab Haruto sigap.
"Hari ini kau akan mempelajari mantra paling dasar bagi setiap penyihir elemen air," katanya pelan namun tegas. "Namanya terdengar sederhana, namun jangan pernah meremehkannya."
Mizuna mengangkat telapak tangan kanannya menghadap ke permukaan danau. Ujung tongkat kristal di tangan kirinya berkilau samar biru muda.
Perlahan, setetes air bening terbang naik dari danau. Kemudian dua tetes, sepuluh, hingga ratusan tetesan air berkilauan memenuhi udara di hadapannya. Dalam hitungan detik, semua tetesan itu bergerak serentak menyatu, memadat, dan membentuk sebuah bola air sebening kristal sebesar kepala manusia. Bola itu melayang diam di atas telapak tangannya tanpa satu pun tetesan yang tumpah, permukaannya halus sempurna seolah dipahat dengan tangan ahli.
"Inilah Water Ball," ucap Mizuna lembut.
Haruto terpaku memandangnya, mulutnya sedikit terbuka takjub.
"Luar biasa... keren sekali," bisiknya tak sadar.
"Jangan tertipu oleh namanya yang sederhana," lanjut Mizuna sambil memutar bola itu perlahan di udara. "Semua sihir air tingkat tinggi—baik itu ombak besar, pelindung es, maupun tombak air—berakar dari bentuk dasar ini. Jika kau mampu membentuk dan menjaga kestabilan Water Ball dengan sempurna, maka mengembangkan sihir lain di masa depan akan terasa jauh lebih mudah bagimu."
Haruto mengangguk mantap, menyimpan setiap kata gurunya di dalam hati.
"Aku mengerti. Aku tidak akan melompat ke hal lain sebelum menguasainya sepenuhnya."
"Yang harus kau lakukan hanya satu hal," jelas Mizuna sambil membiarkan bola air perlahan lenyap kembali menjadi uap halus. "Kumpulkan manamu dengan tenang, lalu biarkan alirannya menarik air di sekitarmu. Jangan dipaksa, jangan dikejar. Biarkan air itu bergerak mengikuti irama manamu, bukan sebaliknya."
Haruto menarik napas panjang, memejamkan mata sejenak untuk menenangkan hati, lalu mengembuskannya perlahan. Ia kembali membuka mata dan mengangkat telapak tangannya sejajar dengan dada.
"Baik, aku mulai sekarang."
Ia memejamkan mata kembali, memusatkan kesadarannya ke aliran mana di dalam tubuh. Cahaya biru samar perlahan memancar dari kulitnya, menyebar ke udara. Permukaan danau di depannya mulai beriak pelan seolah menanggapi panggilan itu.
Setetes air melayang naik. Lalu dua, sepuluh, hingga puluhan tetesan mengelilinginya. Haruto tersenyum bangga dalam hati—ia bisa merasakan air itu bergerak sesuai kehendaknya.
"Aku berhasil menariknya..." gumamnya pelan. "Sekarang tinggal menyatukan..."
Namun saat ia mencoba memadatkan tetesan-tetesan itu menjadi satu bentuk bulat, rasa berat tiba-tiba menyerang pikirannya. Ia tergesa, menambah aliran mana terlalu cepat. Tetesan air yang tadinya teratur seketika menjadi liar.
Byur!
Seluruh air itu tumpah seketika, tepat membasahi kepala hingga kakinya.
"Bleugh!" Haruto terbatuk, air menetes dari rambutnya membasahi matanya.
Daichi tertawa terbahak-bahak hingga perutnya sakit. "Hahaha! Itu bukan Water Ball, Haruto! Itu namanya Water Bath—mandi gratis pagi-pagi!"
Bahkan Mizuna yang biasanya dingin pun tersenyum kecil menahan tawa. Pochi berguling-guling di rumput sambil memukul-mukul tanah dengan tubuhnya yang kenyal, suaranya terdengar sangat gembira.
"Pyoo! Pyo-pyoo!"
Haruto mengusap air di wajahnya dengan kasar, pipinya memerah menahan malu.
"Jangan ketawa dulu!" protesnya. "Aku serius sedang berusaha!"
Ia mengibaskan sisa air di lengan bajunya, lalu menarik napas dalam-dalam lagi. Kali ini ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak terburu-buru. Ia kembali memusatkan pikiran, membiarkan mana mengalir perlahan tanpa dorongan berlebihan.
Satu per satu tetesan air kembali naik, bergerak lebih pelan dan hati-hati. Ia membimbingnya berkumpul di atas telapak tangannya, menambah sedikit demi sedikit hingga terbentuk bola kecil sebesar kepalan tangan. Namun bola itu bergetar hebat, permukaannya bergelombang tak menentu seolah bisa pecah sewaktu-waktu.
Keringat dingin mulai menetes di pelipisnya. Ia tidak berani bergerak sedikit pun.
"Ayo... tenanglah... sedikit lagi saja..." bisiknya pelan.
Beberapa detik yang terasa seperti berjam-jam berlalu. Getaran itu perlahan mereda. Permukaan bola air menjadi halus dan tenang. Meskipun ukurannya masih jauh lebih kecil daripada buatan Mizuna, bentuknya sudah bulat sempurna dan tidak meneteskan setetes pun air.
Mizuna mengangguk perlahan, matanya menampakkan kepuasan yang tulus.
"Bagus sekali. Itulah Water Ball pertamamu," puji pelannya.
Haruto membuka matanya perlahan. Melihat bola kecil yang diam tenang di atas tangannya, ia melompat kegirangan.
"Aku berhasil! Benar-benar berhasil!"
Gerakannya yang tiba-tiba hampir membuat bola itu pecah, namun ia segera menstabilkannya kembali dengan senyum lebar. Pochi melompat ke bahunya dan menempel di sana seolah memberi selamat.
"Pyoo!"
"Terima kasih ya, Pochi," ucap Haruto sambil menepuk pelan kepala makhluk kecil itu dengan punggung jarinya.
Daichi berjalan mendekat sambil menggeleng-gelengkan kepala takjub.
"Dalam waktu sesingkat ini sudah bisa membentuknya dengan stabil... kemajuanmu sungguh cukup mengejutkan," katanya.
Haruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, tersenyum malu.
"Hehe... ternyata kalau latihan dengan tenang dan sungguh-sungguh, usaha keras memang pasti ada hasilnya."
Mizuna melambaikan tangannya pelan, membuat bola air di tangan Haruto perlahan menguap menghilang.
"Latihan untuk hari ini sudah cukup," katanya tegas. "Cadangan energimu belum pulih sepenuhnya setelah ujian kemarin. Jangan memaksakan tubuhmu melampaui batasnya."
"Baik," jawab Haruto patuh. Ia melangkah hendak berjalan kembali ke arah rumah.
Namun baru dua langkah diambil, pandangannya tiba-tiba berkunang-kunang. Bayangan di depannya menjadi gelap dan samar.
"Hm...?" keningnya berkerut bingung.
Tubuhnya terasa sangat ringan seolah melayang, sementara kakinya kehilangan tenaga untuk menopang badan. Suara angin dan percikan air di telinganya terdengar makin menjauh, makin samar.
Daichi yang melihat perubahan drastis pada wajah Haruto langsung melangkah cepat ke arahnya.
"Haruto? Ada apa?"
Haruto mencoba tersenyum meyakinkan, namun bibirnya terasa kaku.
"Aneh sekali... kakiku rasanya..."
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, lututnya lemas seketika.
Bruk!
Tubuh Haruto jatuh tergolek ke atas rumput basah tanpa sadarkan diri.
"Haruto!" seru Daichi cemas. Ia berlari dan berlutut di samping tubuh remaja itu.
Mizuna segera ikut mendekat, menekan jari ke leher Haruto untuk merasakan denyut nadinya. Pochi melompat turun dari bahu, memantul panik berputar-putar di sekitar wajah tuannya.
"Pyoo! Pyoo! Pyoo!" suaranya kini terdengar cemas dan takut, tidak ceria seperti biasanya.
Mizuna menghela napas lega setelah beberapa saat memeriksanya.
"Denyut nadinya masih ada, napasnya juga teratur. Dia hanya pingsan," katanya tenang namun nada suaranya menyiratkan penyesalan.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Daichi sambil membantu membetulkan posisi tubuh Haruto agar lebih nyaman.
"Dia memaksakan pengendalian mana selama hampir dua puluh empat jam penuh kemarin tanpa istirahat yang cukup," jelas Mizuna sambil menatap wajah pucat muridnya. "Lalu hari ini langsung menghabiskan sisa tenaganya untuk menarik dan membentuk air. Cadangan mana serta stamina fisiknya terkuras habis secara tiba-tiba."
Daichi mengangguk pelan sambil menepuk pelan lengan Haruto.
"Jadi ini sekadar efek kelelahan hebat ya? Bukan luka atau gangguan sihir?"
"Benar. Tubuhnya hanya butuh waktu lama untuk memulihkan diri," jawab Mizuna. Ia memberi isyarat pada Daichi untuk mengangkat tubuh itu bersama-sama. "Mari kita bawa dia masuk ke dalam rumah dan letakkan di tempat tidur."
Pochi terus berjalan mengikuti di belakang mereka, matanya bulat menatap tak lepas pada wajah Haruto yang tertidur lemah. Tubuh kecilnya tampak layu, tidak ada lagi lompatan ceria yang biasa ia tunjukkan.
Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, di dalam hati kecil slime itu muncul perasaan asing yang membuatnya sesak: ketakutan kehilangan teman pertama sekaligus satu-satunya yang ia miliki di dunia ini.