NovelToon NovelToon
RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

RASI BINTANG DI LANGIT ARKAIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Idola sekolah
Popularitas:61
Nilai: 5
Nama Author: Sang Alifas Yang Merumput

Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 : LANGKAH DI TANAH ASING

BAB 7 – LANGKAH DI TANAH ASING

Keesokan paginya, bahkan sebelum semburat jingga benar-benar memecah ufuk timur, Rangga telah berdiri di halaman rumahnya. Udara Desa Samudra masih terasa dingin, embun masih menggantung di ujung dedaunan, sementara kokok ayam bersahut-sahutan dari kejauhan. Pagi itu begitu tenang, tetapi hati Rangga dipenuhi gejolak yang sulit dijelaskan. Di hadapannya terbentang jalan panjang menuju kehidupan yang sama sekali baru.

Di punggungnya hanya tergantung sebuah tas anyaman lusuh berisi beberapa potong pakaian, selembar sarung, buku catatan kecil, dan bekal nasi bungkus yang disiapkan Emak sejak tengah malam. Tidak ada koper besar ataupun barang mewah. Semua yang ia bawa hanyalah kebutuhan seperlunya dan tekad yang sudah bulat.

Emak berdiri di ambang pintu dengan mata yang tampak sembap. Sejak tadi ia berusaha tersenyum agar putranya tidak semakin berat melangkah, tetapi seorang ibu tetaplah seorang ibu. Sulit baginya menyembunyikan kesedihan ketika harus melepas anak laki-laki satu-satunya merantau jauh.

"Jangan lupa makan tepat waktu, Nak," ucap Emak lirih sambil membenarkan kerah baju Rangga. "Kalau capek, istirahat. Jangan memaksakan diri."

Rangga mengangguk pelan.

"Iya, Mak."

Bapak yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya maju menghampiri. Lelaki tua itu menepuk bahu Rangga beberapa kali.

"Di mana pun kamu bekerja nanti, pegang kejujuran. Orang miskin boleh, tapi jangan sampai kehilangan harga diri."

Kalimat itu sederhana, tetapi tertanam kuat di hati Rangga.

"Iya, Pak. Saya akan ingat."

Rangga kemudian mencium tangan kedua orang tuanya bergantian. Emak tak kuasa lagi membendung air mata. Jemarinya mengusap kepala putranya perlahan, seolah mengirimkan doa melalui sentuhan itu.

"Semoga Gusti Allah selalu menjagamu."

"Aamiin."

Tak lama kemudian, Rangga melangkah meninggalkan halaman rumah. Ia sempat berhenti beberapa langkah, menoleh ke belakang. Rumah kayu sederhana itu tampak begitu kecil dibandingkan impian yang hendak ia kejar, tetapi justru dari tempat sederhana itulah seluruh kekuatannya berasal.

Ia kembali melangkah.

Setiap langkah terasa berat, seakan tanah Desa Samudra sendiri enggan melepaskannya pergi.

...

Perjalanan menuju kota memakan waktu berjam-jam. Dari kendaraan pedesaan yang berguncang melewati jalan berbatu, kemudian berganti bus antarkota yang sesak oleh penumpang. Rangga lebih banyak diam di dekat jendela, memperhatikan pemandangan yang perlahan berubah.

Sawah-sawah hijau berganti deretan rumah.

Perkampungan berubah menjadi kota-kota kecil.

Lalu sedikit demi sedikit, bangunan tinggi mulai memenuhi pandangan.

Saat bus akhirnya memasuki Jakarta, Rangga hanya mampu menarik napas panjang.

"Besarnya..."

Gedung-gedung menjulang seolah berlomba menyentuh langit. Kendaraan memenuhi jalan tanpa henti. Klakson bersahutan dari berbagai arah. Orang-orang berjalan cepat dengan wajah serius, seakan setiap detik begitu berharga.

Semua terasa asing.

Berbeda jauh dengan Desa Samudra yang dipenuhi suara burung, desir angin, dan sapaan hangat antarwarga.

Sesaat, Rangga benar-benar merasa kecil.

Namun ia segera mengingat sesuatu.

"Aku akan kembali setelah menjadi orang yang pantas."

Janji itu kembali menguatkan langkahnya.

Ia mengepalkan tangan.

"Aku tidak boleh menyerah."

...

Hari-hari pertama di Jakarta tidak pernah mudah.

Rangga harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain hanya untuk mencari pekerjaan. Berkali-kali ia ditolak karena tidak memiliki pengalaman maupun pendidikan tinggi.

"Maaf, kami sudah penuh."

"Lowongannya sudah ditutup."

"Kami mencari yang lebih berpengalaman."

Kalimat-kalimat itu berulang kali ia dengar.

Meski begitu, Rangga tidak pernah membalas dengan keluhan. Ia hanya mengucapkan terima kasih lalu mencoba tempat berikutnya.

Hingga akhirnya seorang pedagang di pasar memberi kesempatan.

"Kalau kuat angkat karung, besok pagi datang sebelum subuh."

Kesempatan sekecil apa pun terasa seperti anugerah.

Keesokan harinya Rangga datang paling awal.

Saat para pekerja lain baru berdatangan sambil menguap, ia sudah lebih dulu membantu menurunkan barang dari truk.

Karung berisi beras.

Peti sayuran.

Keranjang buah.

Semuanya ia angkat tanpa banyak mengeluh.

Peluh membasahi seluruh tubuhnya bahkan sebelum matahari naik tinggi.

Tangannya mulai melepuh. Bahunya terasa nyeri. Pinggangnya seperti dipukul berkali-kali.

Namun setiap kali rasa lelah datang, bayangan wajah Emak, Bapak, dan Denia selalu muncul dalam pikirannya.

"Aku harus kuat."

...

Hari berganti minggu.

Rangga mulai terbiasa dengan kerasnya kehidupan kota.

Pagi bekerja di pasar.

Siang membantu warung makan membersihkan meja dan mencuci piring.

Kadang malam masih mengambil pekerjaan tambahan mengangkut barang.

Tidurnya hanya beberapa jam setiap hari.

Meski tubuhnya sering terasa remuk, ia tidak pernah menggunakan hasil jerih payahnya untuk berfoya-foya.

Begitu menerima upah, ia langsung menghitung dengan teliti.

Sebagian dimasukkan ke amplop untuk dikirim pulang kepada Emak dan Bapak.

Sisanya disimpan dalam kaleng bekas biskuit yang ia sembunyikan di bawah tempat tidur kontrakan.

"Sedikit demi sedikit juga akan menjadi banyak," gumamnya setiap kali memasukkan lembaran uang ke dalam kaleng itu.

...

Suatu malam, setelah seluruh pekerjaan selesai, Rangga duduk sendirian di depan kontrakan sempit yang disewanya bersama beberapa perantau lain.

Langit Jakarta tidak secerah langit Desa Samudra.

Cahaya lampu kota membuat bintang-bintang tampak samar.

Namun setelah cukup lama memandang ke atas, ia berhasil menemukan satu gugusan bintang yang terasa begitu akrab.

Rasi Arkais.

Senyum kecil menghiasi wajahnya.

"Denia..."

Entah sedang apa gadis itu sekarang.

Apakah masih sering melihat langit malam?

Apakah masih mengingat janji mereka?

Pertanyaan-pertanyaan itu datang begitu saja.

Namun Rangga memilih tidak larut terlalu lama.

Ia mengeluarkan buku catatan kecil dari dalam tas, lalu menulis beberapa kalimat sederhana.

"Hari ini aku masih sehat. Pekerjaan memang berat, tetapi aku akan bertahan. Aku ingin pulang sebagai seseorang yang bisa membuat kedua orang tuaku bangga."

Ia menutup buku itu perlahan.

Tidak ada satu kalimat pun yang berisi keluhan.

Yang ada hanyalah harapan.

Harapan yang terus ia pelihara setiap hari agar tidak padam di tengah kerasnya kehidupan kota.

...

Bulan demi bulan berlalu.

Kerja keras Rangga mulai dikenal banyak orang.

Ia bukan pekerja yang paling kuat, tetapi termasuk yang paling jujur dan paling rajin.

Jika diberi tugas, ia menyelesaikannya tanpa banyak alasan.

Jika diberi kepercayaan, ia menjaganya sepenuh hati.

Karena itulah perlahan beberapa mandor mulai mengenalnya.

"Anak desa itu memang pendiam, tapi kerjanya bagus."

"Kalau Rangga yang pegang, saya tenang."

Pujian-pujian kecil itu tidak pernah membuatnya besar kepala.

Baginya, semua itu hanyalah langkah awal.

Perjalanannya masih sangat panjang.

Ia masih harus bekerja lebih keras lagi.

Sampai suatu sore yang diguyur hujan rintik-rintik, ketika Rangga baru saja selesai membersihkan tubuh setelah seharian bekerja, terdengar suara ketukan di pintu kontrakannya.

Tok...

Tok...

Tok...

Saat pintu dibuka, ia terkejut melihat seorang sahabat lamanya dari Desa Samudra berdiri di depan dengan wajah yang tampak begitu murung.

"Masuk dulu..." kata Rangga sambil tersenyum.

Namun entah mengapa, melihat sorot mata sahabatnya itu, hati Rangga mendadak diliputi firasat yang sulit dijelaskan.

Seolah-olah, tamu yang datang sore itu tidak hanya membawa kabar dari kampung halaman...

...melainkan juga sesuatu yang akan mengubah jalan hidupnya untuk selamanya.

Rangga segera mempersilakan sahabat lamanya masuk ke dalam kontrakan sederhana yang selama beberapa tahun terakhir menjadi tempatnya berteduh. Ruangan itu tidak lebih luas dari kamar tidur di rumahnya di Desa Samudra. Sebuah dipan kayu, meja kecil penuh buku-buku bekas, lemari sederhana, dan kipas angin tua yang berputar pelan menjadi saksi kehidupan perantau yang dijalaninya.

"Ayo duduk dulu," ujar Rangga sambil menuangkan air putih ke dalam dua gelas enamel.

Sahabatnya menerima gelas itu, tetapi sejak tadi jemarinya tampak gelisah. Pandangannya beberapa kali menghindari tatapan Rangga, seolah ada sesuatu yang sangat sulit diucapkan.

"Bagaimana kabar Emak dan Bapak?" tanya Rangga lebih dulu untuk mencairkan suasana.

"Alhamdulillah... sehat."

"Desa juga baik-baik saja?"

"Iya..."

Jawaban singkat itu justru membuat hati Rangga semakin tidak tenang.

"Ada apa sebenarnya?" tanyanya perlahan.

Sahabatnya menarik napas panjang. Ia menundukkan kepala beberapa saat sebelum akhirnya memberanikan diri membuka suara.

"Rangga... maafkan aku harus menyampaikan kabar ini."

Rangga terdiam.

"Kabar dari kampung... Denia sudah menikah minggu lalu."

...

Kalimat itu meluncur begitu pelan.

Namun bagi Rangga, rasanya seperti petir yang menyambar tepat di tengah langit cerah.

Ia tidak langsung bereaksi.

Tatapannya kosong.

Tangan yang sedang menggenggam gelas perlahan melemah hingga gelas itu terlepas dan jatuh ke lantai.

Prang!

Suara pecahan kaca memenuhi ruangan.

Namun Rangga seolah tidak mendengarnya.

Yang memenuhi kepalanya hanyalah satu kalimat.

"Denia sudah menikah..."

Sahabatnya menelan ludah.

"Suaminya seorang manajer perusahaan besar di Jakarta. Orangnya berpendidikan tinggi... keluarganya juga terpandang."

Ruangan kembali sunyi.

Hanya suara kipas tua yang masih berputar pelan.

Beberapa saat kemudian, Rangga menarik napas panjang.

Sangat panjang.

Lalu perlahan ia menganggukkan kepala.

"Kalau begitu..."

Ia berhenti sejenak, seolah sedang mengumpulkan seluruh kekuatan yang tersisa.

"...semoga dia bahagia."

Senyumnya memang terukir.

Namun senyum itu begitu tipis.

Begitu getir.

Sahabatnya tahu benar, senyum itu lahir bukan karena bahagia, melainkan karena seseorang sedang berusaha menyembunyikan luka yang terlalu dalam untuk diperlihatkan.

"Aku benar-benar minta maaf, Ngga."

Rangga menggeleng pelan.

"Bukan salahmu."

Ia membungkuk mengambil pecahan gelas satu per satu.

Anehnya, jemarinya terluka oleh serpihan kaca pun seolah tak lagi terasa sakit.

Karena ada luka lain yang jauh lebih dalam.

Luka yang tidak mengeluarkan darah.

Tetapi menghancurkan seluruh harapan yang selama bertahun-tahun ia jaga.

Malam itu, setelah sahabatnya kembali ke kampung, Rangga memilih berjalan sendirian menyusuri jalanan Jakarta.

Lampu-lampu kota berpendar terang.

Kendaraan masih lalu lalang tanpa henti.

Orang-orang tetap tertawa, bercengkerama, dan sibuk dengan urusan masing-masing.

Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa di antara keramaian itu, ada seorang pemuda desa yang baru saja kehilangan mimpi terbesarnya.

Langkah Rangga berhenti di sebuah taman kecil.

Ia duduk di bangku kayu yang mulai lapuk.

Perlahan wajahnya mendongak ke langit.

Awan mendung menutupi hampir seluruh bintang.

Rasi Arkais pun tidak terlihat.

Rangga tersenyum kecil.

"Ternyata... malam ini bahkan langit pun ikut menyembunyikannya."

Ia memejamkan mata.

Ingatannya kembali melayang.

Wayang Wong.

Pohon jambu.

Padang bulan.

Kalung akar bahar.

Janji untuk saling menunggu.

Semua kenangan itu datang silih berganti.

Tidak ada satu pun yang ia sesali.

Karena sejak awal ia mencintai Denia bukan untuk memiliki, melainkan karena ketulusan yang tumbuh begitu saja sejak mereka masih anak-anak.

"Kalau memang ini jalan hidupmu..."

Rangga menarik napas panjang.

"...aku doakan semoga kau benar-benar bahagia."

Kalimat itu terdengar lirih.

Tetapi sejak mengucapkannya, ada sesuatu yang perlahan lepas dari dadanya.

Bukan rasa sayang.

Melainkan keinginan untuk terus menggenggam masa lalu.

Sejak malam itu, hidup Rangga berubah.

Ia masih bekerja sekeras sebelumnya.

Namun alasannya berbeda.

Dulu ia bekerja demi sebuah janji.

Kini ia bekerja demi dirinya sendiri.

Demi Emak.

Demi Bapak.

Demi membuktikan bahwa seorang anak desa juga mampu berdiri tegak tanpa bergantung pada siapa pun.

Semangatnya justru semakin besar.

Ia mulai mengikuti pelatihan kerja gratis setiap malam.

Belajar menghitung pembukuan.

Belajar melayani pelanggan.

Belajar mengelola usaha.

Buku-buku bekas yang dulu hanya menjadi teman pengisi waktu kini berubah menjadi guru yang membimbingnya memahami dunia.

Para mandor mulai melihat perubahan itu.

"Rangga, kamu cepat sekali belajar."

"Terima kasih, Pak."

"Kamu tidak tertarik jadi pengawas?"

Rangga tersenyum.

"Kalau memang saya dipercaya, saya akan berusaha."

Kepercayaan demi kepercayaan mulai berdatangan.

Penghasilannya perlahan meningkat.

Tabungannya pun semakin banyak.

Namun gaya hidupnya tetap sama.

Ia masih tinggal di kontrakan sederhana.

Masih makan di warung yang sama.

Masih mengirim sebagian besar penghasilannya untuk kedua orang tuanya di kampung.

Baginya, keberhasilan bukan alasan untuk hidup berlebihan.

Beberapa tahun kemudian, keberanian yang selama ini ia kumpulkan akhirnya membuahkan hasil.

Dengan tabungan yang berhasil ia sisihkan sedikit demi sedikit, Rangga memberanikan diri membuka sebuah usaha kecil.

Awalnya hanya sebuah kios sederhana yang melayani fotokopi dan pengetikan.

Mesinnya bekas.

Mejanya pun hasil membeli dari toko loak.

Namun semuanya dirawat dengan penuh kesungguhan.

Hari pertama membuka usaha, hanya tiga orang pelanggan yang datang.

Hari kedua bertambah menjadi lima.

Minggu demi minggu berlalu.

Karena pelayanannya ramah dan hasil kerjanya rapi, pelanggan mulai berdatangan lebih banyak.

Usaha kecil itu perlahan berkembang.

Rangga yang dulu mengangkat karung di pasar kini mulai mengenakan kemeja sederhana setiap hari.

Tetapi satu hal tidak pernah berubah.

Kerendahan hatinya.

Setiap pegawai baru selalu ia perlakukan seperti keluarga.

"Kalau ada yang belum bisa, kita belajar sama-sama."

Kalimat itu sering terdengar dari mulutnya.

Tidak ada bentakan.

Tidak ada kesombongan.

Karena ia masih mengingat betul bagaimana rasanya menjadi orang kecil yang diberi kesempatan.

Suatu sore, ketika matahari mulai condong ke barat, Rangga sedang memeriksa laporan keuangan di meja kantornya.

Tiba-tiba terdengar suara benda-benda jatuh dari depan pagar.

Bruk!

Disusul suara perempuan yang terdengar panik.

"Aduh..."

Rangga segera bangkit.

Saat keluar, ia melihat setumpuk dokumen berserakan tertiup angin di halaman depan.

Seorang perempuan muda tampak kebingungan mengejar lembaran-lembaran kertas yang beterbangan.

Tanpa berpikir panjang, Rangga ikut membantu memungut semuanya.

Beberapa lembar bahkan hampir masuk ke selokan sebelum berhasil ia raih.

Perempuan itu mengembuskan napas lega.

"Syukurlah... terima kasih banyak."

Rangga menyerahkan seluruh dokumen yang sudah dirapikan.

"Tidak apa-apa. Untung belum jauh terbawa angin."

Perempuan itu tersenyum hangat.

Senyum yang sederhana.

Namun entah mengapa menghadirkan ketenangan yang sudah lama tidak dirasakan Rangga.

"Aku Sari," katanya sambil mengulurkan tangan.

"Aku bekerja di kantor sebelah."

Rangga membalas uluran tangan itu dengan sopan.

"Rangga."

Untuk sesaat, keduanya saling tersenyum.

Mereka belum tahu...

Bahwa pertemuan sederhana akibat dokumen yang berhamburan tertiup angin sore itu, perlahan akan membuka lembaran baru dalam kehidupan mereka masing-masing.

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, namun entah mengapa, langkah Sari semakin sering singgah ke percetakan kecil milik Rangga. Kadang ia datang membawa setumpuk berkas yang harus segera digandakan, kadang hanya mencetak beberapa lembar laporan kantor. Alasannya selalu pekerjaan, meski lambat laun para pegawai di sekitar mulai hafal bahwa staf administrasi dari kantor sebelah itu hampir setiap hari menyempatkan diri mampir.

Rangga sendiri tidak pernah menganggap kedatangan Sari sebagai beban. Sebaliknya, kehadiran perempuan itu justru membuat suasana tempat usahanya terasa lebih hidup. Sari selalu datang dengan senyum ramah, menyapa seluruh karyawan tanpa membeda-bedakan, lalu mengucapkan terima kasih sekecil apa pun bantuan yang diterimanya.

"Mas Rangga, mesin laminasinya kosong, ya?" tanya Sari suatu pagi.

"Iya, silakan dipakai dulu. Berkasnya banyak?" sahut Rangga sambil tetap merapikan tumpukan pesanan pelanggan.

"Lumayan. Bos mendadak minta semuanya selesai hari ini."

"Kalau begitu, biar anak-anak yang bantu. Biar cepat."

"Terima kasih, Mas."

Ucapan sederhana itu selalu diakhiri dengan senyum yang hangat. Tidak berlebihan, tetapi cukup untuk membuat siapa pun merasa dihargai.

Beberapa minggu berlalu.

Tanpa disadari, mereka mulai mengenal kebiasaan satu sama lain.

Sari tahu bahwa Rangga selalu datang paling pagi untuk membuka toko sebelum para pegawai datang. Sebaliknya, Rangga hafal bahwa setiap hari Senin Sari pasti membawa map biru tebal berisi laporan bulanan.

Sesekali mereka mengobrol ketika antrean pelanggan sedang lengang.

"Mas Rangga asli Jakarta?"

Rangga tersenyum kecil sambil menggeleng.

"Bukan. Aku dari Desa Samudra."

"Wah... pasti suasananya enak."

"Tenang. Kalau malam masih bisa dengar suara jangkrik."

Sari terkekeh pelan.

"Berarti kebalikan sekali sama sini. Di kosku, yang terdengar malah suara klakson."

Rangga ikut tertawa. Percakapan mereka ringan, tetapi selalu mampu mengusir penat setelah seharian bekerja.

Suatu siang, listrik di kawasan pertokoan sempat padam hampir satu jam.

Karena semua mesin berhenti beroperasi, para pegawai memilih beristirahat di teras sambil menikmati teh hangat. Sari yang kebetulan sedang menunggu pekerjaannya selesai ikut duduk di bangku kayu depan toko.

"Mas, capek nggak sih mengurus usaha sebesar ini?" tanyanya.

Rangga memandang deretan ruko di seberang jalan sebelum menjawab.

"Capek."

"Lho, kok jujur sekali?"

"Soalnya memang capek. Tapi capeknya terasa ringan kalau tahu usaha ini bisa menghidupi banyak orang."

Sari mengangguk pelan.

"Berarti mereka beruntung punya atasan seperti Mas."

Rangga menggeleng sambil tersenyum malu.

"Bukan mereka yang beruntung. Justru aku yang bersyukur masih diberi kesempatan bekerja."

Jawaban itu membuat Sari terdiam beberapa saat. Ia mulai memahami mengapa para pegawai begitu menghormati Rangga. Lelaki itu tidak pernah meninggikan diri meski usahanya terus berkembang.

Sejak hari itu, perhatian Sari datang secara perlahan tanpa terasa dipaksakan.

Jika melewati warung langganannya, ia sesekali membelikan es teh untuk seluruh pegawai percetakan.

Kalau melihat Rangga belum sempat makan siang, ia akan mengingatkan dengan nada bercanda.

"Mas, pelanggan memang penting. Tapi perut juga punya hak untuk diisi."

Rangga hanya bisa tertawa kecil.

"Iya, Bu Guru."

"Ealah... malah ngeledek."

Suasana yang semula hanya dipenuhi hubungan kerja perlahan berubah menjadi persahabatan yang hangat. Tidak ada kata-kata manis ataupun rayuan berlebihan. Yang tumbuh justru rasa nyaman karena keduanya saling menghargai.

Suatu sore, hujan turun cukup deras hingga jalanan depan pertokoan tergenang.

Sari berdiri di bawah teras sambil memandangi air yang belum juga surut.

"Sepertinya aku harus menunggu agak lama."

"Kebetulan aku juga belum pulang," ujar Rangga. "Sekalian saja menunggu hujan reda."

Mereka duduk berdampingan di bangku kayu depan toko, menikmati aroma tanah basah yang terbawa angin.

Entah mengapa, keheningan sore itu terasa sangat menenangkan.

Tidak banyak percakapan yang keluar. Kadang-kadang justru diam mampu menghadirkan kenyamanan yang sulit dijelaskan.

Bagi Rangga, sudah lama ia tidak merasakan ketenangan seperti itu. Kehadiran Sari sama sekali tidak berusaha menghapus masa lalunya. Perempuan itu hanya hadir, menemani tanpa bertanya terlalu jauh tentang luka yang pernah ia simpan.

Dan justru karena itulah, hati Rangga mulai membuka ruang sedikit demi sedikit.

Hari demi hari terus berlalu.

Tanpa mereka sadari, kebiasaan saling menyapa telah berubah menjadi kebiasaan saling menunggu. Jika Sari belum datang ke percetakan, Rangga sesekali melirik jam dinding. Sebaliknya, jika suatu hari Rangga sedang keluar mengurus pekerjaan, Sari akan bertanya kepada pegawai lain kapan pemilik percetakan itu kembali.

Hubungan mereka tumbuh begitu pelan, setenang aliran sungai yang mengikis batu sedikit demi sedikit.

Sore itu, setelah memastikan seluruh pegawainya pulang, Rangga menurunkan pintu rolling door percetakan hingga menyisakan celah kecil. Ia mengunci gembok, lalu menoleh ke arah Sari yang masih menunggu di bawah rindangnya pohon ketapang di tepi trotoar.

"Mas, jalan sebentar yuk. Udara habis hujan enak."

Rangga tersenyum kecil lalu mengangguk. Keduanya berjalan santai menuju taman kota yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari pertokoan. Lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu, sementara embusan angin malam membawa aroma tanah yang masih basah.

Mereka duduk di sebuah bangku kayu, menikmati suasana tanpa banyak kata. Sesekali Sari bercerita tentang pekerjaannya, sesekali Rangga menanggapi dengan senyum tipis. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hati Rangga terasa benar-benar ringan.

Tanpa sadar, jemari Sari perlahan menyentuh punggung tangan Rangga.

Rangga tidak menarik tangannya.

Justru ia membalas genggaman itu pelan.

Di saat yang sama, dari jalan raya di depan taman, sebuah mobil sedan hitam mewah melambat sebelum akhirnya berhenti di tepi jalan.

Jendela belakangnya turun perlahan.

Tatapan mereka bertemu hanya beberapa detik, tetapi bagi Rangga, waktu seolah berhenti berputar.

Di balik kaca mobil yang mengilap, Denia tampak jauh berbeda dari gadis desa yang pernah menemaninya bermain di bawah pohon jambu. Pakaiannya anggun, rambutnya tertata rapi, dan wajahnya memancarkan kedewasaan. Namun, ada sesuatu di dalam sorot matanya yang masih sangat dikenalnya.

Tatapan itu masih menyimpan kelembutan yang sama seperti bertahun-tahun lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!