NovelToon NovelToon
Senyumku Untuk Anakku Dan Racun Ku Untuk Kamu

Senyumku Untuk Anakku Dan Racun Ku Untuk Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Selingkuh / Diam-Diam Cinta
Popularitas:13.1k
Nilai: 5
Nama Author: Queen_Fisya08

Fisya Alexander tak pernah menyangka rumah tangga yang ia jaga sepenuh hati justru menjadi awal kehancurannya.

Suaminya, Jason, berselingkuh dengan sahabat yang paling ia percaya namun pengkhianatan itu belum seberapa dibanding rencana keji yang mereka siapkan di ruang bersalin

Saat dua bayi perempuan lahir di hari yang sama, sebuah pertukaran terjadi, mereka yakin telah merebut segalanya dari Fisya.

Sayangnya, mereka tidak pernah sadar bahwa Fisya melihat semuanya

Sejak malam itu, senyum Fisya hanya untuk putrinya, sementara racunnya disiapkan untuk mereka yang telah menghancurkan hidupnya.

Ketika rahasia mulai terungkap, siapa yang sebenarnya sedang menjebak siapa ?

Jangan lupa tekan love sebelum melanjutkan membaca dan tinggalkan komentar dan Vote juga ya besty!🫰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen_Fisya08, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tina Sudah Siap Pulang

Tubuh Agnes masih terasa lemah karena demamnya belum benar-benar turun.

Wajahnya masih terlihat pucat, bibirnya kering, dan langkahnya terasa berat setiap kali berjalan.

Meski begitu, ia tetap memaksakan diri menaiki tangga menuju lantai dua.

Di belakangnya, Nisa membawa ember berisi pakaian Kasandra, lap, dan beberapa botol cairan pembersih.

Sesampainya di depan kamar Kasandra, Agnes menghela napas pelan.

Tangannya yang masih gemetar perlahan membuka pintu.

Ruangan itu begitu luas, dipenuhi barang-barang mewah dan ada beberapa pakaian bermerek yang berserakan di mana-mana.

Agnes menundukkan kepala.

"Mama pasti marah kalau kamarnya belum rapi..."

Baru saja ia hendak mengambil sapu, Nisa segera menahan tangannya.

"Non..."

Agnes menoleh.

"Istirahatlah di sini, biar Bibi yang mengerjakan semuanya. Mama mu Kasandra tidak akan tahu." Ucap Nisa

Agnes langsung menggeleng.

"Tapi, Bik... Aku tidak mau Bibi dimarahi lagi sama Mama dan aku juga tidak mau kehilangan Bibi."

Air mata mulai memenuhi mata Agnes.

"Hanya Bibi yang sayang sama Agnes sejak kecil."

"Kalau Bibi pergi... Agnes benar-benar sendirian."

Mendengar ucapan itu, dada Nisa terasa sesak, ia mengusap lembut rambut Agnes.

"Percaya sama Bibi, tidak akan ketahuan nanti kalau Mama pulang, beliau akan mengira semua ini kamu yang kerjakan."

Agnes masih tampak ragu.

"Tapi..."

"Sudah gak usah tapi-tapian, kamu minum obat dulu setelah itu istirahat di sana jangan membantah Bibi." Tegas bik Nisa

Agnes akhirnya mengangguk pelan, ia meminum obat yang tadi diberikan Nisa, lalu duduk bersandar di sudut kamar.

Sementara itu, Nisa mulai bekerja.

Ia merapikan tempat tidur Kasandra dengan sangat hati-hati, tidak ada satu lipatan pun yang boleh salah dan tidak ada satu bantal pun yang boleh bergeser.

Setelah itu ia mengelap seluruh meja, lemari, kaca, hingga lantai marmer yang mengilap.

Sesekali ia melihat ke arah Agnes, gadis itu berusaha tetap membuka mata namun obat yang diminumnya mulai bereaksi, kelopak matanya terasa semakin berat.

Tak lama kemudian...

Tubuh mungil Agnes perlahan tergelincir hingga bersandar di sisi ranjang.

Kepalanya miring, ia tertidur di atas lantai yang dingin napasnya masih terdengar berat karena demam.

Nisa menghentikan pekerjaannya dan air matanya langsung jatuh.

"Ya Allah... Kenapa anak sebaik ini harus menerima kehidupan seperti ini?"

Ia mendekati Agnes, perlahan mengusap rambut gadis itu, tangannya terasa sangat panas.

"Demamnya masih tinggi..." ucap Nisa pelan

Nisa sempat ingin membangunkannya namun melihat wajah Agnes yang akhirnya bisa tidur dengan tenang setelah menahan sakit seharian lalu ia mengurungkan niatnya.

"Tidurlah, Sayang, semoga saat bangun nanti badanmu sudah lebih enak dan bibi akan selesaikan semuanya." Ucap Nisa

Dengan penuh kasih sayang, Nisa mengambil selimut tipis dan menyelimutkan tubuh Agnes setelah itu ia kembali bekerja.

Ia membawa seluruh pakaian mahal milik Kasandra ke kamar mandi.

Satu per satu pakaian itu dicuci menggunakan tangan.

Air sabun membuat telapak tangannya memerah beberapa jarinya bahkan mulai lecet.

Namun ia tetap mengucek pakaian-pakaian itu dengan hati-hati.

"Baju ini sangat mahal kalau rusak sedikit saja bu Kasandra pasti akan melampiaskan semuanya kepada Agnes."

Karena itulah Nisa memilih menanggung semua rasa lelah seorang diri.

Hampir dua jam berlalu, seluruh pakaian telah bersih dan seluruh kamar telah mengkilap tidak ada satu sudut pun yang terlewat.

Nisa menghela napas lega, ia melihat jam dinding.

"Semoga bu Kasandra tidak cepat pulang dan pulangnya malam..."

"Kalau sampai bu Kasandra pulang sekarang dan melihat Non Agnes tertidur... Entah hukuman apa lagi yang akan diterima gadis malang ini" ucap Nisa sambil memandangi Agnes

Lalu Nisa kembali mendekati Agnes, ia berjongkok di sampingnya dengan lembut ia mengusap pipi gadis itu.

"Non... Bangun, Sayang..."

Pelan-pelan tubuh Agnes menggeliat kecil dan kelopak matanya terbuka perlahan, pandangan gadis itu masih sedikit kabur.

"Bik..." ucapnya

"Iya, Sayang." Jawab bik Nisa

Agnes duduk perlahan.

Saat melihat seluruh kamar sudah bersih dan pakaian Kasandra yang sudah bersih

Air matanya langsung mengalir.

"Bik... Semua sudah selesai?"

Nisa tersenyum hangat.

"Iya."

Tanpa berkata apa pun lagi... Agnes langsung memeluk tubuh Nisa erat-erat.

"Terima kasih, Bik..."

"Terima kasih sudah selalu menjaga Agnes."

Nisa membalas pelukan itu.

"Selama Bibi masih hidup... Bibi akan selalu menjaga Non."

Agnes menangis di pelukan wanita yang selama ini menjadi satu-satunya keluarga yang benar-benar mencintainya.

"Sudah... Sekarang cuci muka dulu biar wajahmu kelihatan segar, kalau Mama mu melihat kamu baru bangun tidur... Nanti beliau marah lagi." Ucap bik Nisa dengan lembut

"Dan bibi mau lanjut menjemur sebelum Mama Non pulang"

Agnes mengangguk pelan.

"Baik, Bik."

***

Sementara itu...

Sebuah pesawat internasional akhirnya mendarat dengan mulus di Bandara Internasional Zurich, Swiss.

Fisya tersenyum tipis saat langkahnya keluar dari pintu kedatangan.

Tatapannya langsung mencari satu sosok yang sangat ia rindukan.

Tidak jauh dari sana... Seorang gadis cantik melambaikan tangan dengan senyum cerah.

"Mama!" Teriak Tina

"Tina..." Fisya langsung mempercepat langkahnya.

Mereka saling berpelukan erat, sudah cukup lama sekitar enam bulan Fisya tidak datang ke Swiss karena kesibukannya jadi mereka tidak bertemu secara langsung.

"Mama sehat?" Tanya Tina dengan lembut

"Sehat, Sayang." Jawab Fisya dengan senangnya

"Kalau kabar kamu bagaimana sayang, selama Mama tidak datang kesini?" Fisya balik bertanya

"Aku baik-baik saja Mah" Jawab Tina

Lalu Tina tersenyum manis, wajahnya begitu cantik, sorot matanya teduh dan auranya tenang.

Ia memiliki kecantikan yang anggun, tetapi sama sekali tidak terlihat sombong.

Fisya menatap putrinya penuh kebanggaan.

"Anakku sudah benar-benar dewasa..."

Di parkiran telah terparkir sebuah mobil mewah.

"Ayo, Mah. Aku yang nyetir."

Fisya sedikit terkejut.

"Kamu menyetir sendiri?"

Tina mengangguk.

"Ya Mah, mama masih ragu dengan kemampuan anakmu ini"

"Tidak sayang, Mama percaya kok" ucap Fisya sambil tersenyum bahagia

"Kalau begitu ayo kita berangkat, Omah dan nenek Lili sudah menunggu kita" ucap Tina bersemangat

Sepanjang perjalanan menuju rumah... Tina tampak begitu bersemangat.

"Mama... Aku sudah tidak sabar ikut Mama pulang ke Indonesia."

"Aku ingin melihat rumah Mama."

"Aku juga ingin melihat perusahaan kita."

"Aku ingin tahu bagaimana keadaan di sana."

Fisya hanya tersenyum, ia sengaja belum menceritakan seluruh kenyataan.

"Sebentar lagi kamu akan tahu semuanya."

Tak lama kemudian... Mobil memasuki halaman rumah megah milik Isabel.

Begitu turun dari mobil... Aroma masakan langsung menyeruak memenuhi udara.

Isabel tersenyum lebar dari depan pintu.

"Akhirnya kalian sampai."

"Bibi Lili... Cepat langsung suruh mereka makan."

Bik Lili keluar dari dapur sambil tersenyum.

"Bu Fisya ayo kita makan dulu, semua makanan kesukaan Bu Fisya sudah siap."

Ternyata sejak pagi Isabel memasak sendiri.

Meski dibantu Bik Lili, hampir semua menu dibuat dengan tangannya sendiri sebagai bentuk rasa sayang kepada keponakannya.

Mereka pun duduk di meja makan berbagai hidangan khas Indonesia dan Swiss tersaji dengan cantik.

Namun Tina hanya mengambil segelas jus.

"Mama... Aku ke atas dulu ya, aku mau memastikan semua barang sudah siap."

Fisya mengangguk.

"Baik."

Setelah Tina naik ke lantai dua...

Isabel memandang Fisya dengan serius.

"Fisya... Apakah kamu benar-benar yakin akan membawa Tina kembali ke Indonesia?"

Fisya mengangguk mantap.

"Ya, Tan, ini sudah saatnya."

"Sudah saatnya aku membalas semua perbuatan mereka."

Tatapan Fisya berubah tajam.

"Mereka pasti sedang menunggu saat aku mengumumkan Tina sebagai pewaris seluruh asetku."

"Tapi... Mereka tidak tahu karena pada hari itu juga... Kehancuran mereka akan dimulai."

Isabel menggenggam tangan Fisya.

"Tante hanya bisa berdoa semoga semua rencanamu berjalan lancar."

"Semoga Jason dan Kasandra menerima hukuman yang setimpal dan semoga mereka dipenjara."

Fisya tersenyum tipis.

"Kalau hanya dipenjara saja itu belum cukup, Tan."

"Mereka telah merampas kehidupan ku, mereka menghancurkan masa depanku dan ternyata karena mereka lah Papa meninggal"

"Mereka harus merasakan penderitaan ku selama ini"

Isabel mengangguk pelan.

"Tante percaya padamu."

Tepat saat itu... Suara langkah kaki terdengar dari lantai atas.

Tina turun sambil membawa sebuah map dan beberapa dokumen.

Isabel langsung menghentikan pembicaraan, ia tidak ingin Tina mengetahui semuanya sebelum waktunya.

"Mama..." panggil Tina

"Mama sudah selesai makan? Ayo ikut aku sebentar." Ucap Tina

Fisya tersenyum.

"Iya."

Ia bangkit mengikuti putrinya menuju kamar.

Isabel dan Bik Lili saling berpandangan tanpa sadar mereka ikut berjalan pelan hingga berhenti di depan pintu kamar Tina yang sedikit terbuka.

Dari balik celah pintu... Mereka melihat Tina sedang menunjukkan daftar rencana perjalanan kepada Fisya.

Sesekali keduanya tertawa kecil, Fisya mengusap lembut kepala putrinya.

Tatapan seorang ibu yang penuh kasih sayang itu membuat Isabel tersenyum haru.

"Bik...! Tina sudah semakin dewasa."

Bik Lili ikut tersenyum.

"Iya, Nyonya. Semakin hari semakin mirip Bu Fisya, cantik, cerdas, dan berwibawa."

"Bedanya... Sifat Non Tina jauh lebih tenang dan tidak mudah percaya kepada orang lain"

Isabel mengangguk bangga.

"Itu memang sengaja diajarkan Fisya."

Sejak kecil...Tina tidak hanya dibesarkan dengan kemewahan, ia dididik menjadi perempuan yang kuat.

Ia juga menguasai tiga bahasa asing, belajar etika bisnis, belajar bela diri, belajar menghadapi tekanan, belajar mengendalikan emosi dan belajar membaca karakter manusia.

Fisya tidak ingin putrinya hanya mewarisi harta, ia ingin Tina mampu mempertahankan semua yang menjadi haknya.

Karena jauh di lubuk hatinya...

Fisya tahu... Saat mereka kembali ke Indonesia bukan hanya perebutan warisan yang menanti.

Melainkan perang panjang melawan orang-orang yang telah menghancurkan hidup mereka.

1
Ma Em
Arman awas jgn lalai jaga Sebastian ada orang datang untuk mencelakai Sebastian lagi , Arman hrs waspada .
Ma Em
Semua ga Sebastian cepat sadar jgn sampai Baron bisa celaka lagi untuk kedua kalinya , Jason kamu terlalu ambisi untuk menguasai harta orang sehingga Jason melalukan segala cara agar TDK ada orang yg menghalangi niat busuknya , semoga kejahatan Jason dan Kasandra segera terungkap dan membusuk dipenjara .
Ma Em
Semoga Sebastian selamat dan cepat sehat kembali , dan Baron cs segera tertangkap agar terbongkar siapa yg membayar Baron untuk membunuh Sebastian .
Yeni Astriani: udah jelas yg Jason yg menyuruh Baron untuk mencelakai Sebastian, semoga orang kepercayaan Sebastian bertindak.
nanti pas ultah Tina seret Jason dan Kasandra ke dalam penjara apalagi hukuman Jason berlapis.
total 1 replies
sunaryati jarum
Jangan.lupa dikunci , ruangan Fisya dan pengawasan terhadap Jason dan Kasandra.Kamu.telpon dulu Tina , jangan buru-buru
Ma Em
Sebastian kena jebakan Jason dan Kasandra , hati2 Sebastian kamu hrs waspada kalau kamu celaka Jason akan senang karena TDK ada lagi penghalang untuk melakukan apapun pada Fisya dan Tina .
sunaryati jarum
Nah sudah ada sedikit jalan untuk mengetahui ayah Tina, sebenarnya Kasandra tahu,dia kan dalangnya.Delspsn belas tahun tersimpan rapat ,maka sekarang sesuai rencana Fisya akan dibongkar.Untuk memastikan Tina itu putri kamu Sebastian ,segera tes DNA.Emak sudah tidak kali ini usul ,Nak Bastian.😄😄😄
sunaryati jarum
Emak tidak sabar melihat Jason dan Kasandra hancur dikuliti karena kejahatannya dibongkar Fisya di depan umum.Ada ya ibu yang hanya demi harta bukan haknya tega menyuruh seseorang untuk membunuhnya.Agnes sekarang tidak bisa kau sentuh Kasandra , karena orang - orang Fisya dan Sebastian selalu melindunginya.Kamu tidak tahu jika telepon kamu telah diretas oleh orang - orang Fisya dan gerak - gerikmu juga tak lepas dari pengawasan mereka.Jadi makin kau banyak melakukan rencana kejahatan pada Agnes dan Fisya maka makin banyak bukti kejahatan kamu di tangan Fisya
Ma Em
Semoga Sebastian segera bisa membuktikan bahwa wanita yg tidur dgn Sebastian adalah Fisya dan Tina adalah anak kandung Sebastian .
Ma Em
Sudah tdk sabar nunggu waktu terbongkarnya kejahatan Jason dan Kasandra , Kasandra skrg suruh orang untuk menculik Agnes bahkan Agnes untuk dibunuh , Kasandra setelah tau kebenaran nya bahwa Agnes anak kandung nya pasti Kasandra dan Jason akan menyesal sampai mati .
Queen_Fisya08: sebentar lagi kak akan ketahuan
total 1 replies
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up thor
sunaryati jarum
Selain Agnes yang mendengar omongan Kasandra,tidak tahu kebenarannya.Karena yang tahu kebenarannya antara Agnes da Tina,hanya Fisya,Bi Lili,dan Bi Nisa .Masa Kasandra tidak curiga pada Tina yang wajahnya mirip Fisya,dasar bodoh karena hanya terobsesi memiliki harta Fisya,sampai mengabaikan kenyataan.
Ma Em
Thor jgn sampai Agnes bertemu Kasandra takut dicelakai .
sunaryati jarum
Jangan sampai Agnes ketangkap Kasandra
sunaryati jarum
Bagus Fisya itu juga cara mempermalukan Jason dan Kasandra.
sunaryati jarum
Segera tes DNA Bastian dengan Tina,emak sudah usul dua kali ini Lho, jangan sampai Angel mengaku putri kamu
sunaryati jarum
Baik Sebastian dan Fisya tahu siapa pasangan yang membuat hadirnya Tina
sunaryati jarum
Ternyata Fisya sudah tes DNA sungguh cerdas,dan rencana yang bagus
Datu Zahra
wes dah nongol masalah Angel. Kalau sampe Sebastian bisa masuk jebakan Angel, bodoh sih berarti. percuma kaya dan berkuasa
sunaryati jarum
Jangan sampai sampai Angel berbuat buruk untuk menipu Sebastian yang ada dia malah masuk penjara.Tidak mudah membohongi Sebastian.Semoga Sebastian segera melihat tana lahir kupu kupu di paha Fisya,atau segera tes DNA dengan Tina
Anonim: ANGEL HARUS DIBUNUH
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!