NovelToon NovelToon
Sistem Kaisar Abadi

Sistem Kaisar Abadi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Sistem / Balas Dendam
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Tiga tahun jadi sampah!

Itulah yang dialami Arya Langit setelah meridiannya hancur. Dari jenius nomor satu Perguruan Langit Biru, dia jatuh jadi pecundang yang bahkan tidak bisa mengangkat pedang.

Di hari pertunangannya, tunangannya sendiri Kezia Adinegara membatalkan pernikahan di depan seluruh tetua demi pria lain dan memberinya 100 Batu Roh sebagai uang hinaan.

Tepat saat tamparan itu mendarat di wajahnya, Sistem Takdir Harem Kaisar Abadi bangkit!

Mata Takdir aktif. Arya bisa melihat masa depan tragis setiap wanita dengan Takdir Kaisar.

Sekar Embun, Bidadari Pedang nomor satu yang dingin seperti es, akan lumpuh total dalam 7 hari dan mati kedinginan di lembah terpencil.

Luna Maheswari, Ratu Iblis yang mempesona, akan menjadi kuali kultivasi dan meledak mati.

Kirana Lestari, Putri Kerajaan yang manja, akan diracun pada malam pernikahannya.

Satu-satunya cara menyelamatkan mereka adalah menjadikan mereka istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Tamparan Balik di Balai Disiplin

Pagi di Puncak Embun datang dengan cahaya matahari yang menembus kabut salju, memantulkan kilauan warna pelangi di atas kolam air panas.

Arya Langit membuka matanya perlahan. Semalam dia hampir tidak tidur. Setelah sesi penyembuhan pertama yang membuat Sekar Embun akhirnya bisa tertidur pulas untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan tanpa rasa sakit dingin yang menyiksa, Arya menghabiskan sepanjang malam untuk menstabilkan kultivasinya yang baru saja naik drastis.

Tubuh Meridian Naga Langit tingkat 1.

Itulah hadiah dari sistem setelah kepercayaan Sekar Embun mencapai 20%. Meridian di dalam tubuhnya kini bukan lagi meridian manusia biasa. Jika meridian orang normal adalah sungai kecil, maka meridian Arya sekarang adalah sungai besar yang terbuat dari emas cair. Aliran energi langit dan bumi masuk ke dalam tubuhnya dengan kecepatan sepuluh kali lipat lebih cepat dari orang normal.

Kultivasinya stabil di Alam Meridian tingkat sembilan puncak. Selangkah lagi, hanya selangkah lagi dia akan kembali menembus Alam Jiwa Kesatria, alam yang pernah dia capai tiga tahun lalu sebelum semuanya hancur.

Di depan matanya, layar sistem masih terpampang.

[Target: Sekar Embun]

[Kepercayaan: 25%]

[Takdir Tragis: Ditunda. 6 hari 12 jam lagi menuju serangan kedua yang lebih kuat. Butuh sesi kedua dalam 24 jam.]

[Poin Takdir: 50]

[Kultivasi: Alam Meridian tingkat 9 puncak]

Arya mengepalkan tangannya. Kekuatan yang mengalir di dalamnya membuatnya merasa bisa menghancurkan batu besar hanya dengan satu pukulan.

Pintu pondok bambu terbuka.

Sekar Embun berjalan keluar. Hari ini dia mengenakan gaun latihan berwarna biru muda yang sederhana, rambutnya yang hitam panjang hanya diikat dengan pita putih. Tanpa gaun mewahnya, dia terlihat lebih muda, lebih segar, dan pipinya yang biasanya pucat kini sedikit merona merah sehat.

Efek dari penyembuhan semalam masih sangat terasa.

"Guru, pagi," sapa Arya sambil berdiri dan tersenyum.

Sekar Embun menatap Arya. Tatapan dinginnya yang biasa kini sedikit mencair saat melihat pemuda itu. Dia masih ingat dengan jelas sentuhan hangat tangan Arya di punggungnya semalam. Rasa malu membuat telinganya sedikit memerah, tapi dia dengan cepat menyembunyikannya dengan wajah dinginnya.

"Kultivasimu naik lagi?" Sekar Embun bisa merasakan aura Arya yang jauh lebih padat dari kemarin sore. "Kecepatan kultivasimu... tidak normal."

Arya hanya tertawa kecil. "Semua berkat Guru yang mengajari dengan baik."

Sekar Embun sedikit mendengus, tapi tidak marah. "Jangan bermanis mulut. Hari ini adalah hari pemeriksaan bulanan untuk semua murid baru dan murid yang baru pindah puncak. Kamu sebagai murid baruku di Puncak Embun harus ikut. Tetua Disiplin yang akan menguji. Jangan membuatku malu."

Arya mengangguk. Dia tahu ini adalah aturan perguruan.

Tapi dia tidak tahu, bahwa pemeriksaan bulanan inilah yang sudah diatur oleh Rafa Adiputra sebagai perangkap untuknya.

Satu jam kemudian, di Balai Disiplin yang terletak di kaki gunung utama.

Balai Disiplin adalah tempat yang paling ditakuti oleh semua murid di Perguruan Langit Biru. Tempat ini dingin, gelap, dan dipenuhi oleh aura disiplin yang kaku. Di tengah balai terdapat sebuah arena batu hitam yang besar.

Saat Arya Langit tiba di sana dengan mengenakan jubah murid Puncak Embun yang baru, semua mata langsung tertuju padanya.

Bisik bisik langsung terdengar di mana.

"Itu dia sampah yang kemarin diterima oleh Kakak Senior Sekar!"

"Gila, dia benar benar berani datang ke pemeriksaan bulanan! Apa dia tidak tahu Tetua Disiplin paling benci murid yang cari muka?"

"Kasihan, pasti akan dihajar habis habisan hari ini."

Di sudut arena, Rafa Adiputra dan Kezia Adinegara sudah berdiri di sana dengan senyum mengejek. Di samping mereka berdiri seorang pria paruh baya dengan wajah kaku seperti patung batu dan jubah hitam Tetua Disiplin.

Dia adalah Tetua Batu, Tetua Disiplin yang terkenal kejam dan tidak pernah memberi ampun.

Tetua Batu menatap Arya yang baru masuk dengan tatapan dingin.

"Kamu Arya Langit? Murid baru Puncak Embun?" suara Tetua Batu berat seperti batu yang saling bertabrakan.

"Benar, Tetua," jawab Arya dengan tenang.

"Bagus. Aturan pemeriksaan bulanan sangat sederhana. Kamu harus bertahan selama sepuluh jurus dari boneka ujian Alam Jiwa Kesatria tingkat satu. Jika kamu bisa bertahan, kamu lulus dan resmi menjadi murid Puncak Embun. Jika tidak, kamu akan dikeluarkan dari perguruan karena dianggap tidak pantas. Mengerti?"

Semua murid yang ada di sana terkejut.

Boneka ujian Alam Jiwa Kesatria tingkat satu? Untuk murid baru yang bahkan banyak yang masih di Alam Meridian tingkat tujuh? Ini jelas bukan ujian, ini adalah hukuman mati. Biasanya ujian untuk murid baru hanya melawan boneka Alam Meridian tingkat delapan saja.

Rafa Adiputra tersenyum licik dari jauh. Dia sudah menyuap Tetua Batu dengan lima ratus Batu Roh kelas menengah untuk mengatur ini. Dia ingin melihat Arya cacat permanen di sini, di depan semua orang, agar Sekar Embun tahu bahwa murid yang dia pilih hanyalah sampah yang tidak berguna.

Kezia Adinegara menatap Arya dengan tatapan yang rumit. Ada sedikit rasa tidak tega, tapi lebih banyak rasa ingin melihat Arya hancur agar keputusannya membatalkan pertunangan kemarin terlihat benar.

Arya menatap boneka kayu setinggi tiga meter yang berdiri di tengah arena. Boneka itu terbuat dari kayu besi hitam yang keras, matanya menyala dengan cahaya merah, memancarkan aura Alam Jiwa Kesatria tingkat satu yang menekan.

Jika ini adalah Arya yang kemarin, dia pasti sudah mati.

Tapi ini adalah Arya yang sekarang, yang memiliki Tubuh Meridian Naga Langit.

"Arya Langit," Tetua Batu berteriak. "Masuk ke arena! Ujian dimulai sekarang!"

Arya menarik napas dalam dalam dan melangkah masuk ke dalam arena batu hitam itu.

BOOM!

Begitu kakinya menginjak arena, boneka ujian itu langsung bergerak. Kecepatannya sangat cepat, tidak seperti boneka kayu sama sekali. Tinju besarnya yang terbuat dari kayu besi menghantam langsung ke arah kepala Arya dengan kekuatan yang bisa menghancurkan batu besar.

Semua murid menutup mata, tidak tega melihat darah.

Tapi yang terjadi selanjutnya membuat semua orang membelalakkan mata hingga hampir keluar.

Arya tidak menghindar.

Dia mengangkat tangan kanannya, dengan telapak tangan terbuka, dan menangkap tinju raksasa boneka itu dengan mudah.

DUAK!

Suara benturan keras terdengar. Angin kencang berhembus dari titik benturan.

Boneka Alam Jiwa Kesatria tingkat satu itu berhenti total. Tinjunya tertahan di udara, tidak bisa maju sedikit pun, ditahan hanya dengan satu telapak tangan oleh seorang pemuda yang katanya meridiannya hancur.

"Apa!"

Tetua Batu yang tadinya duduk dengan santai langsung berdiri dengan kaget.

Rafa Adiputra wajahnya langsung pucat.

"Bagaimana mungkin! Dia hanya Alam Meridian tingkat sembilan! Bagaimana dia bisa menahan serangan Alam Jiwa Kesatria!"

Di atas arena, Arya tersenyum dingin. Cahaya keemasan samar mulai muncul di sepanjang lengannya. Itu adalah kekuatan dari Tubuh Meridian Naga Langit.

"Boneka kayu yang lambat," bisik Arya dengan suara yang hanya bisa didengar oleh boneka itu. "Giliranku."

Arya mengepalkan tinju kirinya. Energi naga emas berkumpul di tinjunya.

Jurus yang dia dapatkan dari lotre sistem kemarin, selain Seni Tangan Dewa Meridian, adalah sebuah jurus tinju kuno.

[Tinju Naga Langit Menghancurkan Gunung!]

"PECAAAH!"

Tinju Arya menghantam dada boneka kayu besi hitam itu dengan telak.

KRAAAK! BOOM!

Boneka ujian yang terkenal sangat keras dan bahkan bisa menahan serangan dari Tetua biasa, dalam sekejap mata retak dari dada hingga ke seluruh tubuhnya, lalu meledak menjadi serpihan kayu kecil yang beterbangan ke seluruh arena.

Arena yang tadi berisik dengan bisikan ejekan, kini hening total seperti kuburan.

Semua orang menatap pemuda yang berdiri di tengah hujan serpihan kayu itu dengan tatapan seperti melihat monster.

Satu pukulan. Hanya satu pukulan untuk menghancurkan boneka ujian Alam Jiwa Kesatria tingkat satu.

Arya perlahan lahan menurunkan tinjunya. Dia menatap Tetua Batu yang wajahnya sudah membiru karena malu dan kaget, lalu menatap Rafa Adiputra yang kakinya sudah gemetar.

"Tetua Batu," suara Arya tenang tapi menggema di seluruh balai yang hening. "Apakah saya lulus ujian sepuluh jurus ini? Atau Tetua ingin saya bertahan sepuluh jurus lagi dari boneka yang lebih kuat? Saya siap."

Tetua Batu tidak bisa berkata apa. Tenggorokannya seperti tercekat.

Pada saat itu, sebuah suara dingin yang indah seperti lonceng es tiba terdengar dari pintu masuk Balai Disiplin.

"Sepertinya pemeriksaan bulanan tahun ini sangat menarik ya. Sampai sampai boneka ujian Alam Jiwa Kesatria pun dihancurkan oleh murid baruku."

Semua orang menoleh.

Sekar Embun berdiri di pintu masuk, gaun biru mudanya berkibar lembut tertiup angin. Wajahnya dingin, tapi matanya menatap Arya dengan sedikit kebanggaan yang tidak bisa disembunyikan.

Dia datang.

Bidadari Pelindung itu datang untuk muridnya.

Rafa Adiputra wajahnya langsung seputih kertas saat melihat Sekar Embun muncul. Rencana penyuapannya pasti akan terbongkar.

Arya menatap gurunya yang datang, lalu tersenyum. Dia tahu, mulai hari ini, tidak ada lagi yang berani menyebutnya sampah di Perguruan Langit Biru.

Dan ini baru permulaan dari balas dendamnya.

Di dalam kepalanya, suara sistem berbunyi dengan meriah.

[DING! Face Slapping berhasil! Menghancurkan boneka ujian dan mempermalukan Rafa Adiputra di depan umum!]

[Hadiah: 100 Poin Takdir! Kepercayaan Sekar Embun +10%!]

[Kepercayaan Sekar Embun saat ini: 35%! Membuka hadiah: Teknik Pedang Embun Beku tingkat awal!]

1
Hadi Hadi
mantap😍😍
fareva: lanjut 🔥🔥🔥
total 1 replies
Hadi Hadi
bantai💪
Hadi Hadi
up up up💪
Hadi Hadi
iwik iwik😍😍
Hadi Hadi
mantap😍😍
Hadi Hadi
semangat💪💪
fareva: makasih bang
total 1 replies
Hadi Hadi
bantai💪
fareva: 🔥🔥🔥🔥🔥🔥
total 1 replies
Hadi Hadi
up up up😍😍
Hadi Hadi
lanjut
fareva: Siap. tolong bantu koreksi kalau ada yang kureng
total 1 replies
Hadi Hadi
bantai💪💪
Hadi Hadi
good💪💪
Hadi Hadi
mantap😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!