NovelToon NovelToon
IBU MAFIA

IBU MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Single Mom
Popularitas:741
Nilai: 5
Nama Author: Princess Catalunya

Amara pernah memiliki keluarga yang ia cintai. Namun setelah bertahun-tahun mendukung suaminya dari nol, ia justru dikhianati.

Sebagai ibu tunggal dengan tiga anak, Amara berusaha bangkit dari luka dan kehancuran. Takdir kemudian mempertemukannya dengan seorang pria mafia yang memberinya sebuah kerajaan.

Kini, di mata dunia, Amara hanyalah seorang ibu sederhana yang bekerja sebagai careworker.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik sosok pendiam itu, tersembunyi seorang penguasa dunia bawah tanah.

Amara membangun kerajaan demi ketiga anaknya. Ia ingin mereka memiliki masa depan, tetapi tidak pernah ingin mereka tumbuh menjadi manusia yang bergantung pada kekayaan.

Karena seorang ibu akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anaknya.

Bahkan jika ia harus menjadi seorang mafia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princess Catalunya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu Biasa

Waktu terus berjalan. Dan nama keluarga Amara kini berdiri di puncak dunia bisnis internasional.

Hotel mewah, media nasional, teknologi global, rumah sakit internasional dan jaringan logistik dunia, semuanya berada di bawah bayang-bayang Madam A.

Namun anehnya, Amara tetap hidup sederhana. Ia masih suka menyiram tanaman sendiri. Membuat teh di pagi hari, dan masih memarahi anak-anaknya jika terlambat makan.

Hanya saja sekarang dunia menundukkan kepala padanya. Pernikahan demi pernikahan anak-anak Amara menjadi sorotan besar.

Pernikahan Arsen dan Elena disebut sebagai penyatuan dua kekuatan bisnis besar. Pernikahan Raka dan Hana dipenuhi tokoh hukum internasional dan pejabat elit.

Dan kini, Resepsi pertunangan Nayla dan Kael bahkan dijaga keamanan setingkat konferensi dunia. Karena semua orang tahu, Kael bukan lagi sekadar bodyguard. Ia kini pemilik sah Adrian Group.

Di tengah kemewahan ballroom hotel bintang tujuh milik keluarga Amara, Reza berdiri diam memakai jas sederhana.

Di sampingnya Clara mengenakan gaun elegan namun tetap kalah jauh dibanding para tamu sosialita internasional di ruangan itu.

Lampu kristal berkilauan di atas kepala mereka, dan musik orkestra mengalun lembut.

Para petinggi negara, konglomerat dunia, dan tokoh berbahaya dunia bawah tanah hadir malam itu.

Namun Reza dan Clara, Hanya datang sebagai tamu biasa. Lebih tepatnya sebagai karyawan perusahaan keluarga Amara.

Clara menggenggam tas kecilnya pelan.

“Aku masih tidak percaya…”

Reza tersenyum pahit.

“Aku juga.”

Tatapan mereka sama-sama tertuju pada panggung utama.

Di sana Amara berdiri anggun dalam gaun hitam elegan dan tidak berlebihan. Namun auranya membuat seluruh ruangan terasa tunduk.

Para petinggi perusahaan bergantian menyapanya dengan hormat. Bahkan beberapa menteri terlihat sangat segan ketika berbicara dengannya. Dan yang paling menyakitkan bagi Reza adalah ketiga anaknya kini berdiri di samping Amara dengan penuh kebanggaan.

Reza memandang ketiga anaknya satu per satu.

Arsen berdiri di sisi kanan Amara dengan jas hitam yang membuatnya terlihat semakin mirip seorang pemimpin. Wajahnya tenang dan dingin. Beberapa pengusaha besar bahkan terlihat mendekatinya untuk membicarakan kerja sama.

Dulu Reza pernah membayangkan Arsen akan tumbuh menjadi anak yang membutuhkan bimbingannya. Namun malam itu, ia sadar bahwa putranya telah menjadi pria dewasa tanpa dirinya.

Di sisi lain, Raka sedang berbicara dengan beberapa tamu sambil sesekali tertawa. Sikapnya lebih santai dibanding Arsen. Namun cara orang-orang mendengarkan setiap ucapannya menunjukkan bahwa Raka juga memiliki tempat penting di dunia keluarganya.

Lalu ada Nayla. Putri kecil yang dulu pernah ia tinggalkan bersama Amara. Kini Nayla berdiri anggun dalam gaun putih. Wajahnya dipenuhi kebahagiaan. Tidak ada lagi kesedihan seorang anak yang menunggu ayahnya pulang. Ia telah tumbuh.

Dan Reza tidak ikut menyaksikan sebagian besar perjalanan itu. Dadanya terasa semakin sesak.

Bukan karena anak-anaknya membencinya. Justru karena mereka mampu hidup bahagia tanpa dirinya.

Clara yang menyadari perubahan wajah Reza hanya menunduk. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa iri pada gaun Nayla, kemewahan ballroom, atau kekayaan keluarga Amara. Ia justru iri pada sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang, yaitu kebersamaan.

Di atas panggung, Amara tertawa ketika Raka mengatakan sesuatu. Arsen menggeleng pelan. Nayla kemudian memeluk ibunya sebelum kembali berdiri di samping Kael. Mereka terlihat begitu dekat. Seolah semua luka yang pernah mereka alami telah berubah menjadi alasan untuk saling menjaga.

Clara menggenggam tangannya sendiri. Dulu ia mengira mengambil Reza dari Amara berarti memenangkan sebuah persaingan. Namun sekarang ia mengerti. Amara tidak kehilangan apa pun. Wanita itu justru membangun kehidupan baru. Membesarkan anak-anaknya dan membangun kerajaan, serta menemukan orang-orang yang benar-benar menghargainya.

Sementara dirinya hanya berdiri di antara kerumunan, menyaksikan kehidupan yang tidak pernah menjadi miliknya.

Di atas panggung, mereka terlihat seperti keluarga sempurna. Sementara dirinya hanya orang asing di kerumunan banyak orang.

“Pak Reza?”

Suara seorang staf membuat Reza tersadar.

“Silakan duduk di area tamu perusahaan.”

Bukan area keluarga, bukan juga area khusus. Hanya meja untuk para staf dan karyawan. Dan ironisnya, itu memang posisi mereka sekarang.

Clara duduk perlahan sambil menahan rasa sesak di dada. Dulu ia pernah berpikir telah memenangkan segalanya saat berhasil mendapatkan Reza dari Amara. Namun malam itu, ia sadar. Ia tidak pernah benar-benar menjadi pemenang.

Di atas panggung, pembawa acara mulai berbicara tentang perjalanan hidup keluarga Amara.

Tentang bagaimana seorang single mother membangun kerajaan bisnis dari nol. Tentang bagaimana ia membesarkan tiga anak hebat sendirian. Seluruh ballroom memberikan tepuk tangan meriah. Namun mereka tidak menyadari, pria yang dulu tega membuang keluarganya, juga hadir di pesta itu.

Reza hanya menunduk pelan. Karena ia tahu, pada bagian tersulit hidup Amara dulu ia tidak ada di sana.

Tak lama kemudian Nayla turun dari panggung menghampiri beberapa tamu. Wajahnya terlihat cantik dan hangat malam itu. Ketika matanya bertemu Reza, langkahnya sedikit terhenti.

Sunyi beberapa detik.

“Selamat malam,” ujar Nayla sopan.

Reza tersenyum canggung.

“Malam… Nayla.”

Tidak ada pelukan. Tidak ada kehangatan seperti ayah dan anak. Hanya formalitas yang dingin. Namun Nayla tetap tersenyum lembut.

“Terima kasih sudah datang.”

Clara yang duduk di samping langsung merasa matanya panas. Ia sadar Nayla tetap tumbuh menjadi anak baik meski pernah disakiti. Dan itu semua karena didikan Amara.

Tak lama kemudian Kael menghampiri Nayla. Pria itu langsung berdiri sedikit di depan Nayla secara refleks protektif. Tatapannya tajam namun sopan kepada Reza dan Clara. Dan saat itu Reza langsung memahami mengapa Amara memilih Kael. Pria itu menjaga putrinya seperti menjaga hidupnya sendiri.

Reza memperhatikan Nayla berjalan kembali ke arah Kael. Untuk sesaat, ia ingin memanggil putrinya. Namun tidak ada kata yang keluar dari bibirnya. Ia sadar, malam itu dirinya bukan seorang ayah yang sedang menghadiri pertunangan anaknya. Ia hanya seorang tamu biasa yang diberi kesempatan menyaksikan kebahagiaan mereka.

Reza kembali memandang ke arah Amara. Baru saat itu ia menyadari bahwa sejak awal acara, Leon hampir tidak pernah berada jauh darinya. Pria itu tidak selalu berbicara, tidak juga berusaha menarik perhatian. Namun setiap kali Amara berpindah tempat, Leon selalu berada beberapa langkah di dekatnya.

Ketika seorang tamu menghampiri Amara, Leon memperhatikan keadaan di sekeliling mereka. Saat Amara menerima segelas wine dari pelayan, Leon lebih dulu memastikan gelas itu aman. Dan ketika Amara tersenyum kepada para tamu, tatapan Leon tetap tertuju padanya, seolah memastikan wanita itu tidak perlu menghadapi apa pun sendirian.

Reza menunduk pelan.

Dulu, ketika Amara masih menjadi istrinya, ia sering membiarkan wanita itu menghadapi banyak hal seorang diri. Ia tidak ada saat Amara lelah, tidak ada ketika anak-anak membutuhkan perlindungan, dan tidak ada ketika keluarganya sedang berada dalam masa sulit.

Namun kini, ada seseorang yang selalu berdiri di dekat Amara. Bukan untuk mengambil alih hidupnya, melainkan untuk memastikan Amara tidak harus menanggung semuanya sendirian.

Reza tidak merasa iri pada kekayaan atau kekuasaan yang dimiliki Amara. Ia justru menyadari bahwa wanita itu telah menemukan seseorang yang mampu menghargai dan menjaganya.

Dan mungkin, pikir Reza, itulah hal yang paling tidak akan pernah bisa ia berikan kepadanya.

Dari kejauhan, Amara memperhatikan semuanya diam-diam. Leon yang berdiri di sampingnya berbisik kecil,

“Kau tidak mengusir mereka.”

Amara menyesap wine pelan.

“Mereka tetap bagian masa lalu anak-anakku.”

“Kau terlalu baik.”

Amara tersenyum tipis.

“Tidak.”

Tatapannya kembali pada Reza dan Clara yang duduk di meja tamu biasa.

“Aku hanya tidak lagi marah.”

Sunyi. Namun dalam hati, Amara merasa bahwa ini adalah balas dendam terbaik. Biarkan Reza hidup untuk menyaksikan kesuksesan ketiga anaknya.

Dan itulah bentuk kemenangan paling besar.

Bukan ketika berhasil membuat orang lain menyesal. Tapi ketika luka lama akhirnya tidak lagi mampu menyakitimu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!