"Kapan kamu nikah? Temen temen kamu bahkan udah ada yang punya dua anak. Ibu udah pengen gendong cucu."
Kata kata itu terdengar sederhana tapi selalu terngiang di otak Aurel. Dia hanya ingin mencari yang terbaik untuk hidupnya, karena baginya seorang suami adalah partner seumur hidupnya.
Seperti kisahnya lima tahun yang lalu, yang sudah terlalu yakin dengan pilihan hatinya. Tapi nyatanya hanya pengkhianatan yang ia dapat. Pria itu lebih memilih wanita yang lebih seksi dan bisa dibanggakan untuk di bawa.
Aurel hanya masih mencari, apa itu salah? Tapi bagaimana jika pemujanya sekarang adalah CEO kaya raya yang umurnya jauh lebih muda darinya? Apa itu akan menjadi cinta sejatinya? Atau hanya angin lalu yang akan lewat begitu saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lindra Ifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Luka Terindah
Walau semua badannya sakit tapi Adrian pulang dengan hati bahagia, akan ada lagi alasan untuk bertemu wanita pujaannya. Sakit luka ini tak sebanding dengan kebahagiannya.
Suara gerbang besi berderit pelan. Setelah memarkir mobilnya Adrian perlahan berjalan berjalan ke pintu samping rumah. Sesekali ia meringis menahan perih. Satu tangan memegangi perut dan tangan lainnya yang terkilir tergantung lemah. Kaos hitamnya robek di bagian lengan, noda darah kering menghitam di sudut bibir.
Pria itu mengangkat satu tangan ketika dua satpam panik berlari ingin melihat keadaannya. Dia tak ingin membuat gaduh, mungkin ibunya sudah beristirahat.
"Tuan Adrian, anda terluka..."
"Udah kalian ke depan aja, aku nggak apa apa."
Walau tampak khawatir tapi dua satpam itu akhirnya pergi.
KLEKKK...
Sengaja ia membuka dan menutup pintu sepelan mungkin, ibunya akan histeris melihat keadaannya seperti ini. Lagipula bertubi tubi pertanyaan dari ibunya akan membuat kepalanya pusing.
Adrian menghela nafas, aksi diam diamnya ternyata sia sia.
Lampu ruang tamu langsung menyala.
"Astaghfirullah Adrian!"
Ratna berlari dari dapur, wajahnya pucat. Syal rajutan yang tadi ia pegang jatuh ke lantai. Tadi ia sengaja menunggu putranya pulang karena tiba tiba firasatnya tidak baik. Dan benar saja, ia melihat semua lebam di tubuh putranya.
Ratna langsung memapah Adrian ke sofa, tangannya gemetar saat menyentuh pipi anaknya yang bengkak. Air matanya jatuh berderai.
"Siapa yang berani? Preman mana? Ibu laporin polisi sekarang juga!" suaranya bergetar, antara marah dan panik.
Adrian mencoba tersenyum, meski sakit. "Ibu, tenang. Cuma... salah paham kecil. Dua preman malak."
"Salah paham kecil?!" Ratna mengambil kotak P3K, tangannya masih gemetar. Ia mengusap darah di bibir Adrian dengan kapas. "Ibu kenal kamu sejak kecil. Kamu juara karate DKI. Dua preman kampung nggak mungkin bisa bikin kamu kayak gini kalau kamu serius ngelawan."
Adrian menunduk, menghindari tatapan Ibu. "Mereka bawa rantai, Bu."
Ratna berhenti mengusap luka. Ia menatap mata anaknya lekat-lekat. Mata itu bukan mata Adrian yang biasa: tegas, angkuh dan ingin selalu menang. Mata itu... mata pria yang ikhlas mengalah.
Ratna mencubit pipi putranya di bagian yang tidak bonyok. "Jujur sama Ibu. Kamu sengaja, ya? Kamu biarin diri kamu dipukul?"
Adrian terdiam. Tidak mengangguk. Tidak menggeleng. Dia merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
Ratna menarik napas panjang. Air matanya menetes, tapi bukan karena luka anaknya. Ia seorang ibu. Ia tahu. "Kamu jatuh cinta, ya? Bener-bener jatuh cinta sampai rela bonyok begini."
Adrian baru mendongak. "Bu..."
"Jangan bohong. Kamu bonyok karena dia kan?" Ratna mengusap rambut Adrian.
Adrian akhirnya mengangguk pelan. Dia hanya diam ketika Ratna perlahan menggunting kaosnya yang sudah robek. Ibunya terpaksa merobek bajunya karena tangan kanannya sakit sekali untuk digerakkan.
Tadi ia menangkis serangan rantai dengan tangannya, kemudian tak sengaja jatuh dengan posisi tangan kanan menahan tubuhnya.
Ratna memeluk kepala anaknya. "Dasar anak bodoh. Kalau cinta kan bisa ngomong baik baik. Nggak usah pake bonyok bonyokan."
"Tapi aku tetap tampan kan Bu?"
Ratna mencubit lengan putranya gemas, tapi panik ketika Adrian mengaduh kesakitan. "Siapa namanya?"
"Aurel, Bu," jawab Adrian, suaranya serak. "Kerja di Sudirman. Umurnya dua puluh sembilan. Galak banget..."
"Tapi bikin kamu mau nunggu 2 jam dan bonyok bonyokan," timpal Ratna. Ia mengoles obat ke luka Adrian. "Besok Ibu bikinin sup ayam. O iya dia mau datang jenguk kamu?"
"Adrian belum tahu."
"Kamu udah kabarin dia kan?" sambung Ratna menyodorkan ibuprofen agar malam ini Adrian bisa beristirahat dengan baik.
"Ehhmm belum, aku ngabarin temen dia Bu," jawab Adrian menggaruk tengkuknya.
Adrian meminum obat yang diberikan ibunya, dia ingin tidur dan hari segera berganti. Daripada semua luka ditubuhnya, rindu ini lebih menyiksanya.
****
TOKK...TOKKKK
"Rel...Aurel ada tamu tuh di depan!"
Aurel bangun ketika mendengar suara teman kosnya berteriak di depan pintu kamarnya.
Aurel bangun dengan yang rambut masih berantakan. Dia buka pintu kamarnya.
"Siapa sih yang pagi pagi begini bertamu, kurang kerjaan." Dengan malas ia melangkah menuju ruang depan.
Dahi Aurel mengernyit.ketika melihat Bayu sudah duduk di teras rumah kosnya. "Mas Bayu? Kok pagi-pagi?"
"Selamat pagi, Mbak Aurel," sapa Bayu, membungkuk sedikit. "Ibu bilang Mbak setuju ikut kondangan hari ini. Saya jemput jam 7 biar nggak telat."
Aurel mengernyit. "Saya nggak bilang setuju. Kan semalem saya bilang 'pikirin dulu'."
Bayu tertawa kecil, suaranya halus. "Saya kurang tahu Mbak, tapi Ibu Sarwina tidak bilang kalau Mbak nolak. Temen-temen kantor saya udah nunggu kenalan sama Mbak."
Bayu melangkah maju setengah, seolah tidak peduli penolakannya.
Bayu adalah pria nekad tapi main halus, sama sekali bukan tipenya.
"Mas," Aurel memperingatkan dengan nada yang tegas tapi tetap sopan. Ia sengaja berdiri di ambang pintu, tubuhnya memblokir jalan. "Saya menghargai Mas sudah jauh-jauh ke sini. Tapi saya belum siap. Saya butuh waktu untuk kenal Mas lebih dulu. Bukan langsung dibawa ke kondangan ketemu keluarga besar ataupun teman teman Mas."
Bayu menghela napas. Senyumnya tetap ada, tapi matanya sedikit berubah. "Mbak, memang apa kurangnya saya? Saya sudah mapan dan siap berumah tangga. Saya akan bertanggung jawab sepenuhnya jika Mbak mau serius dengan saya."
"Mas Bayu tidak ada kurangnya, tapi maaf...Mas bukan tipe saya. Dan lbu ataupun Mas Bayu tidak bisa memaksa saya."
Suasana hening beberapa detik. Bayu merapikan kemejanya, ekspresi halusnya retak sedikit. "Jadi Mbak nolak ajakan saya?"
"Ya saya menolak, saya tidak bisa menjalin hubungan lebih dekat dengan Mas. Tapi bukan berarti saya tidak mau menjalin silaturahmi dengan Mas."
Bayu menatapnya lama. Lalu senyum sopannya kembali, tapi kali ini kaku. "Baik, Mbak. Saya hargai keputusan Mbak. Saya pamit dulu. Titip salam ke Ibu ya."
Bayu pergi, langkahnya lebih cepat dari saat dia datang. Motor bebek hitam dinyalakan, knalpotnya meraung pelan sebelum melaju pergi.
Aurel menutup pintu kemudian punggungnya bersandar ke daun pintu. Dadanya sesak. Menolak Bayu sama dengan mengecewakan Ibunya, satu hal yang paling ia takuti.
Tiba tiba ponselnya bergetar. Pesan dari Dita:
Rel, Adrian katanya demam tinggi semaleman. Dia bilang kalau kamu mau nengok, sekarang. Dia di Cipaku No. 17.
"Demam?"
Dan sekali lagi notif pesan dari Dita berbunyi, kali ini sebuah gambar terkirim padanya. Matanya terbelalak melihat tangan yang bersimbah darah. Dia tahu benar tangan siapa itu.
"Adrian...."
Aurel segera berlari masuk ke dalam kamar, setelah selesai membersihkan diri dia segera menyambar tas bahunya.Tangannya gemetar saat mengunci pintu kos.
Sesuatu terjadi tanpa sepengetahuannya. Adrian tidak sedang baik baik saja.
Weekend ini, Aurel harus pilih: jalan yang "aman" menurut Ibu... atau jalan yang "sakit" tapi membuat jantungnya berdetak kencang.
Dan tanpa sadar ia sudah membawa mobilnya ke arah Kebayoran.