"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."
Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.
Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?
Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Nama Yang Terlintas
Arga keluar dari kantor menjelang ketika matahari akan tenggelam di ufuk barat. Setelah meminta Pak Joko pulang lebih dulu, ia memilih membawa mobilnya sendiri. Sudah menjadi kebiasaannya setiap kali pikirannya terlalu penuh. Menyetir tanpa tujuan selalu menjadi cara paling ampuh untuk menenangkan diri. Jalanan Jakarta yang dipenuhi kendaraan justru memberinya ruang untuk berpikir, meski malam ini isi kepalanya hanya dipenuhi satu hal, dua puluh sembilan hari.
Hujan yang turun sejak sore menyisakan jalanan basah. Arga menghentikan mobilnya di lampu merah ketika matanya menangkap seorang perempuan berhijab yang berdiri di samping motor matic berwarna putih. Perempuan itu beberapa kali mencoba menekan tombol starter, tetapi mesin motornya tetap tidak menyala. Sesekali ia menghela napas panjang sambil melihat jam tangan, jelas mulai panik karena hari semakin malam.
Entah mengapa Arga merasa wajah itu tidak asing. Dia menepikan mobil beberapa meter di depan perempuan tersebut, lalu turun menghampirinya.
"Permisi, motornya kenapa?"
Perempuan itu masih fokus pada motornya. "Nggak tahu. Tadi masih normal, tiba-tiba mati."
"Boleh saya lihat?"
Saat perempuan itu mendongak, keduanya sama-sama terdiam.
"Nadira?"
Mata perempuan itu membulat. "Arga?"
Keheningan beberapa detik berubah menjadi tawa kecil yang sama-sama canggung. Tidak ada yang menyangka pertemuan kembali mereka terjadi di pinggir jalan setelah hampir tujuh tahun tidak bertemu.
"Ya ampun," Nadira menggeleng pelan. "Kamu?"
"Aku juga mau nanya hal yang sama."
Arga berjongkok memeriksa motor itu sebentar. Ia memang tidak terlalu mengerti mesin, tetapi cukup tahu bahwa masalahnya bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dalam beberapa menit.
"Kamu sudah hubungi bengkel?"
Nadira menggeleng. "Belum kepikiran."
Arga mengeluarkan ponselnya. "Tunggu sebentar." Laki-laki itu membuka daftar kontak lalu menghubungi kepala divisi transportasi perusahaan yang selama ini mengurus seluruh kendaraan operasional.
"Halo, Pak Budi. Saya Arga. Ada motor mogok di Jalan Gatot Subroto. Bisa kirim montir sekarang?"
Di seberang telepon terdengar jawaban cepat. "Siap, Pak. Saya segera bersiap ke sana."
"Terima kasih." Arga menutup telepon.
Nadira menatapnya sedikit bingung. "Kamu nelepon siapa?"
"Montir perusahaan."
"Hah?"
"Mereka biasa ngurus kendaraan operasional kantor."
Nadira mengangguk pelan. Baru sekarang ia benar-benar menyadari bahwa orang di hadapannya kini memang memimpin perusahaan besar.
"Maaf ya, jadi ngerepotin."
"Justru aku yang senang bisa bantu." Kalimat itu keluar begitu saja.
Keduanya lalu berdiri di bawah halte kecil untuk menghindari gerimis yang mulai turun lagi. Obrolan yang awalnya canggung perlahan mengalir. Mereka saling bertanya tentang kehidupan masing-masing, pekerjaan, hingga teman-teman kampus yang kini sudah tersebar ke berbagai kota.
Sekitar lima belas menit kemudian, sebuah mobil service berlogo Wijaya Group berhenti di belakang mobil Arga. Seorang montir segera turun sambil membawa kotak peralatan.
"Selamat malam, Pak Arga."
"Malam, Pak. Tolong dicek motornya."
Montir itu langsung bekerja. Beberapa menit kemudian ia berdiri sambil mengusap tangannya dengan kain lap. "Sepertinya ada masalah di sistem pengapian, Pak. Motornya harus dibawa ke bengkel. Nggak bisa selesai malam ini."
Arga mengangguk pelan sebelum menoleh kepada Nadira. "Kalau begitu motornya biar mereka bawa. Biar aku antar kamu pulang"
"Nggak usah, nanti aku naik ojek aja."
"Udah malam. Ini juga kayak mau hujan."
"Nggak apa-apa, aku bisa sendiri."
"Aku antar dan aku temani."
Nadira hendak menolak lagi, tetapi Arga lebih dulu berkata sambil tersenyum tipis, "Anggap saja balas budi karena dulu kamu pernah nolongin aku nyari buku skripsi di perpustakaan."
Nadira tertawa kecil. "Kamu masih ingat."
"Aku nggak gampang lupa."
Kalimat itu membuat Nadira akhirnya mengangguk. "Baiklah."
Arga berjalan cepat menuju pintu mobil sebelah kiri, membukanya. “Silakan masuk.”
Nadira tertegun sesaat, mencoba menelan ludahnya yang susah payah. Cengkraman di helmnya mengerat. Belum pernah ia rasakan atmosfer seperti ini.
Melihat Nadira yang diam, Arga bertindak lagi. Dia meraih helm Nadira, menyimpannya di kursi belakang penumpang.
“Eh, aku ngerepotin banget.” Nadira berusaha menolak. “Aku nggak enak sama kamu.”
Arga terkekeh seraya tetap mempersilakan Nadira meski ditolak terang-terangan. Dengan gerakan kaku, Nadira masuk mobil. Tangan kiri Arga memegang kepala Nadira saat menunduk. Dalam hati, Nadira berteriak. Semua yang Arga lakukan hanyalah standar minimal laki-laki. Seharusnya Nadira bersiap biasa saja, tidak perlu terlalu kikuk begini.
Perjalanan baru lima menit tetapi sudah terasa seperti satu jam. Nadira menutup rapat mulutnya, kepalanya seolah di setting untuk melengok ke kiri, memandang jalanan yang hanya berisi lampu-lampu dan kendaraan.
“Sebelum pulang kita mampir ke suatu tempat, yuk!”
Perkataan Arga membuat Nadira kelabakan. “Langsung pulang aja, udah malam. Kasian kamu nanti capek.”
Arga terkekeh, “Kamu tuh nggak enakan banget, ya.” Pandangannya beralih dari jalanan ke Nadira. Kebetulan lampu lalu lintas menghentikan laju kendaraan. “Aku sudah menawari, berarti aku siap direpotkan.” Matanya memicing dan berkata lagi, “Atau … ada yang marah, ya, kamu pergi sama cowok?”
“Paling cuma ibuku yang tanya,” jawab Nadira.
“Ayah?”
Nadira terdiam. Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, Arga melanjutkan perjalanan.
“Ayahku di surga, Ga.”
Arga tertegun. “Maaf aku nggak tahu.”
“Its okay…” Senyum Nadira terukir jelas, raut wajahnya masih memancarkan keceriaan. “Aku masih merasa ayah ada di sekitarku. Dengan aku menjaga toko buku punya ayah, aku seolah masih melihat dia.”
“Kamu udah lama mengelola toko buku itu?” tanya Arga.
“Sekitar tiga tahunan, dibantu sama ayah dulu. Aku baru mengurus semua sendiri setelah ayah meninggal setahun lalu.”
“Ayah kamu pasti bangga.”
“Setiap orangtua akan selalu bangga dengan anaknya.” Nadira menoleh ke arah Arga. “Orangtua kamu juga pasti bangga melihatmu sekarang. Jadi orang keren.” Dia mengacungkan jempolnya, membuat Arga tertawa.
“Aku berharap mama bangga liat aku dari atas sana.”
Nadira kehilangan senyumnya dalam sekejap. “Maaf, ya … aku gak bermaksud…”
“Its okay …”
“Kok kamu jadi niru aku, sih!” Nadira mencebik. “Dasar peniru!”
Arga ikut tersenyum mendengar Nadira mengomelinya. Entah sejak kapan, perempuan itu begitu mudah membuat suasana menjadi ringan. Bahkan percakapan sederhana di dalam mobil terasa jauh lebih hangat dibanding jamuan makan malam bersama para klien yang sering ia hadiri.
Beberapa saat kemudian, suasana kembali hening. Hanya suara mesin mobil dan rintik hujan yang sesekali jatuh dari pepohonan di pinggir jalan.
“Habis dari sini, nanti sekitar beberapa meter lagi belok kanan, terus lurus aja sampe ketemu rumah pagarnya warna hijau. Ada pohon mangga di halamannya, itu rumahku. Catnya warna putih.” Nadira mengarahkan jalan.
Arga mengangguk singkat.
Selang beberapa detik, Nadira berucap dengan pelan, “Aku boleh nanya sesuatu?"
"Tanya aja."
"Tadi kamu bilang lagi banyak pikiran."
"Iya."
"Karena kerjaan?"
Arga tidak langsung menjawab. Tangannya tetap menggenggam kemudi, sementara pandangannya lurus ke depan. Lampu-lampu kendaraan memantul di kaca mobil, tetapi pikirannya seolah sedang berada di tempat lain.
"Salah satunya."
Nadira mengangguk. Ia tidak berniat memaksa. Entah mengapa, wajah Arga malam itu terlihat begitu lelah. Bukan lelah karena pekerjaan, melainkan seperti seseorang yang terlalu lama memikul sesuatu sendirian.
"Kalau nggak nyaman, nggak usah dijawab juga nggak apa-apa."
Arga tersenyum tipis. "Bukan nggak nyaman."
"Lalu?"
"Aku cuma bingung mulai ceritanya dari mana."
Kalimat itu membuat Nadira menoleh.
"Aku ... baru putus." Ucapan itu keluar secara terbata dan pelan.
Nadira sedikit terkejut, tetapi memilih diam.
"Hubungan kami hampir empat tahun."
"Kalian serius?"
"Sebenarnya aku mau mengajak dia nikah." Arga terkekeh hambar. "Semua itu tinggal rencana sekarang."
Nadira menatap Arga beberapa detik. Tidak ada kemarahan dalam suara laki-laki itu. Tidak ada kebencian. Yang tersisa hanya rasa lelah. "Aku turut sedih,” ujarnya.
"Orang bilang masih banyak perempuan lain,” ungkap Arga.
"Itu cuma kata-kata klise buat menghibur." Nadira nampak tidak sependapat “Kehilangan seseorang yang sudah kita rencanakan masa depannya nggak semudah mengganti rencana makan malam."
Arga spontan menoleh. "Kamu pernah ngalamin?"
Nadira menggeleng pelan. "Nggak,” jawabnya.
"Lalu kok bisa ngomong begitu?"
"Ayah pernah bilang sesuatu yang sampai sekarang masih aku ingat." Nadira tersenyum kecil, meski matanya mulai berkaca. "Katanya, yang paling menyakitkan dari kehilangan bukan karena orangnya pergi tetapi karena kita harus mengubur semua rencana yang sudah dibuat bersama."
Arga menggenggam kemudi sedikit lebih erat. Kalimat itu terasa sangat dekat dengan apa yang sedang ia rasakan.
Selama ini yang ia sesali bukan hanya berakhirnya hubungan dengan Bianca. Ia kehilangan sosok yang sudah ia bayangkan akan berdiri di sampingnya saat memimpin perusahaan, menemani makan malam keluarga, hingga membangun rumah tangga bersama.
"Ayahmu benar," gumam Arga pelan.
Nadira tersenyum. "Ayah juga selalu bilang bahwa Tuhan terkadang mengambil seseorang dari hidup kita karena Dia sedang menyiapkan orang yang lebih tepat."
Arga terdiam saat mendengar kalimat itu, pandangannya tanpa sadar beralih kepada Nadira yang sedang menatap hujan di balik jendela. Untuk sesaat hatinya terasa sedikit lebih tenang dibanding beberapa minggu terakhir.
“Sekarang aku lagi nyari orangnya.” Mobil Arga berhenti tepat di depan rumah Nadira.
“Siapa?” tanya Nadira spontan.
Tanpa disadari, kedua manik mata mereka saling beradu. Arga menyelam lebih dalam pada sepasang mata hazel itu. Ada sesuatu yang membuatnya seolah terpaku. Hal lain yang lebih dari sekadar sementara.
“Ibu ….” Nadira melihat ibunya sedang menunggu di teras rumah. Cepat-cepat dia merapikan barang bawaannya dan bersiap turun dari mobil. “Terima kasih banyak, Ga. Kamu mau mampir nggak?”
Bukannya menjawab, Arga malah tersenyum kaku. Ya Tuhan … apa yang baru saja dia pikirkan? Tidak mungkin Nadira.