"Tinggalkan putraku, maka aku akan membantu biaya pengobatannya."
Di malam hujan itu, Alina akhirnya memilih pergi. Pergi sejauh mungkin tanpa tau jika saat itu ia tengah mengandung.
Empat tahun berlalu. Takdir kembali mempertemukan keduanya.
Kebencian itu terlihat jelas dari manik mata itu. Sakit. Tapi demi biaya pengobatan sang buah hati, ia pun rela menurunkan harga dirinya.
"Tidak apa-apa. Sakiti hatiku sesukamu sampai kamu puas. Ini semua kesalahanku. Aku sadar akan itu. Hingga saatnya tiba, aku berharap kamu akan tau, jika aku sangat mencintaimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinata Ramadani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daddy?
Pagi itu, udara membawa rasa yang berbeda. Tak ada lagi dingin yang menusuk tulang, yang ada hanya derit kipas angin yang sedari malam masih berputar tanpa lelah.
Disini, di rumah yang tak lebih besar dari 4 x 5 meter itu, Alina tinggal. Tidak besar memang. Tapi bagaimana lagi, ia harus menghemat demi pengobatan sang putri tercinta.
"Kita mau ke wallung lashasha itu, myh?" Gadis kecil itu berseru dengan penuh antusias sesaat setelah Alina mengutarakan niatnya.
"Iya, sayang. Kita naik bus kesana ya... ."
"Yeay, ashik ashik... ."
Sebuah bus kota kini membawa mereka menyisir jalanan kota Jakarta. Langit tampak cerah. Lalu lintas pun tak sepadat biasanya.
Dulu, Alina sering berperang dengan macet dan debu jalanan. Pergi pagi pulang larut adalah satu kebiasaan rutin yang ia jalani sehari-hari sebelum akhirnya bertemu dengan mantan suaminya.
Leonardo Alexis De Luca.
Laki-laki itu begitu meratukannya. Leon sama sekali tak membiarkan dirinya kelelahan sedikit saja. Cintanya begitu nyata. Namun kenyataannya, Alina malah pergi meninggalkannya.
Mengingatnya, hanya membuat hati itu terasa sesak.
Hingga tanpa terasa, mereka akhirnya sampai di sebuah Mall terbesar di pusat kota, Mall De Luca.
"Woww, wallung na beshal shekali ya myh." Gadis kecil itu menatap takjub pada bangunan super megah itu. Pilar pilar besar yang berdiri kokoh itu terlihat begitu gagah menopang bangunan yang hampir tak terjangkau mata gadis kecil itu.
"Iya, kita masuk yuk, sayang. Kita beli susu kesukaan Marsha... ."
"Yeay... Ashik... Macha mau shushu ulta mimi lasha bili bili, ahahahaha... ."
Alina membawa gadis kecil itu masuk lebih dalam. Banyak brand brand ternama yang di pajang disana, namun ia memilih melipir ke tempat Dairy Section, tempat dimana ia bisa memilih produk susu kesukaan Marsha.
"Itu ulta mimi na myh... ." Tunjuk Marsha pada salah satu etalase.
Alina melangkah mendekat, ia segera memenuhi keranjang belanjaan itu dengan susu kotak kesukaan putrinya.
"Woww, banak shekali mommy. Ini buat Macha shemua-mua?."
Alina menatap gadis kecil itu dengan perasaan tak karuan. Ia sadar, baru kali ini ia bisa membelikan begitu banyak susu kotak tanpa perhitungan. Dan itupun untuk berjaga jika nanti gadis kecil itu rewel di tengah proses pengobatannya. "Iya, semuanya untuk Marsha."
Tak dapat menahan godaan, Marsha segera meminumnya tepat setelah Alina membayar seluruhnya.
"Emmmm, enak shekali mommy. Shuka shuka shukaaa... ."
Selesai membelikan susu untuk sang putri, Alina pun berniat kembali. Namun, baru saja melangkah beberapa langkah, ia merasakan tak nyaman di perutnya.
"Sayang, Marsha di sini sebentar ya? Tidak apa-apa? Mommy mau ke kamar mandi sebentar." Ia merasakan mual itu semakin menyiksa, memaksa ia meninggalkan sang putri disini agar tak melihatnya merasakan kesakitannya.
"Iya mommy." Angguk nya, selama ada susu kesukaannya, semua aman, hehe.
"Janji jangan kemana-mana ya?"
"Shiap gelak mommy... ."
Alina segera berlari ke kamar mandi, meninggalkan Marsha yang kini duduk di kursi dengan susu kotak di tangannya. Manik matanya yang bulat itu tampak berkedip-kedip, menatap orang-orang yang kini hilir mudik.
Hingga sosok itu berhasil mengalihkan perhatiannya.
Gadis kecil itu bangkit dari kursinya. Kaki kecilnya kini berlari mengejar sosok berjas hitam yang perlahan-lahan pergi meninggalkannya.
"Daddy... Daddy... ."
Gadis kecil itu berteriak lantang, memaksa sosok itu akhirnya menghentikan langkahnya.
"Daddy..." Gadis kecil itu berseru dengan nafas tersengal. Tangan kecilnya kini bahkan merengkuh kaki jenjang itu tanpa permisi, membuat beberapa orang yang setia mengikuti laki-laki itu pun membeliak tak percaya.
"Hai, cantik. Dimana ibumu?"
Seorang laki-laki dibelakang sosok jenjang itu berseru dengan hangat.
Gadis kecil itu menggeleng. "Macha mau daddy."
Tangis itu akhirnya pecah. Ia percaya sepenuhnya jika laki-laki yang kini ia rengkuh itu adalah daddy nya. Wajah itu terlihat begitu mirip, bahkan sangat mirip dengan sosok di bingkai foto yang semalam tak sengaja ia lihat, saat sang ibunya sedang sibuk membereskan barang-barang mereka.
"Ck, merepotkan sekali." Laki-laki itu tampak berdecak kesal.
"Bagaimana jika terjadi hal-hal seperti ini?" Ia kemudian berseru pada orang-orang yang memiliki jabatan tinggi di pusat perbelanjaan itu.
"Jika ada hal-hal seperti ini, akan kami infokan ke pelanggan yang merasa kehilangan anak mereka. Dan kami akan mengecek cctv untuk mempercepat pencarian."
Laki-laki itu mengangguk puas mendengar jawaban itu. Ia kemudian menunduk, menatap pada gadis kecil yang masih sesenggukan memeluk kakinya yang tiba-tiba kaku.
"Kamu tidak lelah menangis?"
Suara dingin itu memaksa Marsha mendongak, menatap pada sosok yang kini menatap tajam dirinya.
"Daddy, ayo kita pulang shama shama."
Wajah yang dipenuhi isak itu nyatanya mampu melunakan wajah dingin penuh intimidasi. Membuat ia kemudian menurunkan tubuhnya, menyamakan tinggi badan gadis kecil itu.
"Dimana daddy mu, little girl?"
"Ini." Tunjuk Marsha pada laki-laki itu dengan polosnya. Membuat laki-laki itu seketika menghela nafas jengah, bukan jawaban itu yang mau ia dengar.
"Kalau mommy?"
"Mommy toilet, Daddy. Srukkk." Serunya, sembari menarik dalam ingusnya.
"Ayok pulang shama Macha Daddy." Ajaknya kemudian.
"Tapi aku bukan daddy mu."
Membuat isak itu kembali luruh. "Hwaaa, ndak. Daddy, Daddy na Macha." Gadis kecil itu merengkuh sosok itu erat. Membuat laki-laki itu terdiam sesaat.
"Segera umumkan berita kehilangan." Serunya pada bawahannya. Sedang Marsha, gadis kecil itu masih setia merengkuhnya erat dengan tangis yang belum mereda.
"Mau ice crem?"
"Ndak mau. Macha mau daddy shaja. Hiks... ."
Isaknya terdengar semakin menyayat, memaksa laki-laki itu mengusap-usap punggung kecil itu menenangkan.
Hingga akhirnya gadis kecil itu tak sadarkan diri dengan darah merah segar luruh dari hidungnya. Membuat laki-laki itu seketika panik dibuatnya.
"Max, what happen with the girl." Serunya, panik.
"Saya akan membawanya ke rumah sakit, Tuan." Max berseru hendak mengambil alih gadis kecil itu, namun laki-laki itu segera berseru.
"Siapkan mobil."
☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Annyeong chingu
Happy reading ya
Saranghaja 💕💕💕
tapi tunggu up nya harus bersabar