NovelToon NovelToon
SANG PEMBURU KEGELAPAN

SANG PEMBURU KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:424
Nilai: 5
Nama Author: AL

Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!

Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!

Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPK 3

Empat lelaki itu menggeram marah. Mereka berdecak kesal setelah serangan mereka tidak sekalipun mengenai sasaran. Mereka berempat juga heran, karena ranting yang dipegang pemuda tersebut bahkan tidak lecet, meski sudah berbenturan dengan senjata mereka.

Tanpa mereka tahu, Arya sudah mengalirkan tenaga dalamnya untuk menambah kekerasannya agar sama seperti logam.

"Cepat bunuh dia!" Lelaki berikat kepala hijau yang merupakan pimpinan dari ketiga lelaki lainnya kembali berteriak keras.

Arya tidak ingin berlama-lama menghadapi mereka. Dia kembali memperkuat kuda-kudanya sebelum melesat menyerang. Kali ini dia menambahkan kecepatannya untuk secepatnya menghabisi keempat lawannya.

Sebenarnya bukan hal sulit bagi pemuda berambut kemerahan itu untuk menghabisi mereka berempat, selain sudah mengukur sejauh mana kemampuan yang mereka miliki, dia tadi hanya ingin menguji seberapa kuat ranting yang sudah dialirinya tenaga dalam.

Pembunuhan untuk yang pertama kalinya pun dilakukan Arya selama dia belajar kanuragan. Keempat lelaki itu tidak mampu membendung serangan yang dilepaskan putra sang legenda tersebut. Mereka berempat harus meregang nyawa, setelah kepala mereka pecah tersambar ranting yang digunakan Arya sebagai senjata.

"Huuuuft!" Arya menghembuskan nafas panjangnya. Dia tidak pernah menyangka jika akhirnya akan menjadi seorang pembunuh. Namun sisi lain di dalam pikirannya berkata, jika mereka tidak kau bunuh, maka kau yang akan dibunuh mereka.

Arya  berjalan mendekati gadis cantik yang masih tergerak pingsan. Dia melepas pakaiannya untuk menutup bagian dada gadis cantik tersebut.

Dengan sedikit sentuhan lembut yang dialiri tenaga dalam, gadis itupun perlahan siuman.

Melihat Arya tidak memakai pakaian, gadis cantik tersebut berburuk sangka jika pemuda itu hendak berbuat buruk kepadanya. Dia berteriak ketakutan sambil menutupi bagian dadanya dengan pakaian kotor Arya.

"Pergi kau ... Pergi!"

Arya menggaruk kepalanya. Dia bingung dengan reaksi yang dilakukan gadis cantik tersebut. Namun begitu sadar dia sudah tidak memakai baju, senyumnya pun terkembang lebar.

"Tenang ... Aku tidak berniat buruk kepadamu, dan justru sudah menyelamatkanmu!" ucapnya sembari menunjuk jasad empat lelaki yang sudah dibunuhnya.

Gadis cantik itu melihat ke arah yang ditunjuk Arya. Dia akhirnya bisa bernafas lega kembali. "Terima kasih kau sudah menyelamatkan aku."

Arya tersenyum hangat, lalu membalas ucapan gadis tersebut. "Kenapa kau bisa sampai di sini?"

"Aku tadi berburu dengan mereka berdua. Namun keempat lelaki itu berniat buruk kepadaku dan kemudian membunuh kedua pengawalku. Kalau bersedia, bisakah aku minta tolong kau mengantarku ke tenda ayahku? Beliau pasti sudah kebingungan mencariku."

"Baiklah, aku akan mengantarmu. Tapi aku tidak bisa mampir karena harus kembali mencari kayu bakar."

Setelah berjalan beberapa saat lamanya, akhirnya mereka berdua tiba tidak jauh di deretan tenda yang berdiri di dalam hutan. Arya sendiri tidak bisa berlama di tempat itu dan langsung pergi meninggalkan gadis tersebut.

Keesokan harinya, perguruan Elang Putih dihebohkan dengan kedatangan rombongan dari kerajaan Kanjuruhan.

Ki Sambernyawa terang saja terkejut selepas mendapat informasi dari salah satu muridnya. Tergopoh-gopoh lelaki sepuh itu mengayunkan kaki senjanya untuk menyambut kedatangan Raja Gajayana bersama rombongannya.

Kulit muka keriput Ki Sambernyawa dipenuhi keringat dingin yang mengucur deras dari pori-porinya. Lelaki sepuh tersebut bingung dan juga ketakutan, jika kedatangan Raja Gajayana ada hubungannya dengan tidak hadirnya dia memenuhi undangan penguasa kerajaan Kanjuruhan itu tempo hari.

Sementara itu, Arya tampak begitu berjalan keluar dari hutan dengan memanggul kayu bakar di pundak kanannya. Seperti halnya ayahnya yang tidak pandai melantunkan irama melalui siulan, pemuda bermata sipit dan berambut kemerahan itu juga sama. Siulan yang keluar dari bibirnya terkesan seperti dipaksakan hanya untuk menemani kesendiriannya.

Tidak jauh dari kompleks perguruan Elang Putih, Arya menghentikan ayunan langkahnya. Dia berhenti dan menatap ke arah pintu gerbang perguruan yang terlihat ramai. Dahinya mengernyit tebal dan benaknya mulai dihampiri pertanyaan, ada apa gerangan yang sedang terjadi di perguruan?

Arya mengenyampingkan pertanyaan yang muncul dalam pikiranya, dia kembali melanjutkan ayunan kedua kakinya menuju pintu gerbang perguruan Elang Putih.

Tanpa menoleh dan bertanya kepada murid yang lain, pemuda tersebut terus berjalan memasuki perguruan. Pandangannya yang tertutupi ikatan besar kayu bakar yang terpanggul di bahu, membuatnya tidak bisa melihat saat lewat di samping Ki Sambernyawa yang sedang menyambut kedatangan Raja Gajayana dan putrinya.

Mengetahui Arya tidak menunjukkan rasa sopannya, Teja bergegas mengejarnya dan kemudian melepaskan tendangan yang tepat mengenai punggung Arya. Pemuda itupun terdorong maju lalu terjatuh, dan kayu bakar yang dipanggulnya berserakan tidak karuan.

"Mana sopan santunmu, Manusia lemah!?" Teja menghardik keras. Kedua tangannya berkacak pinggang, dan matanya melotot lebar terarah kepada Arya yang masih terkelungkup di tanah.

Raja Gajayana dan putrinya seketika mengalihkan pandangannya. Mereka berdua melihat seorang pemuda berambut merah sedang tergeletak di tanah.

Ki Sambernyawa tidak bisa menahan rasa terkejutnya. Selain itu, rasa takut pun seketika muncul di pikirannya atas kelakuan anaknya. Dia takut bukan karena Raja Gajayana berada di depannya dan melihat kejadian itu, tapi takut jika Arya membalas kelakuan anaknya. Belum lagi jika kedua orang tua Arya tahu, dalam satu gebrakan saja perguruannya bisa rata dengan tanah.

Putri Raja Gajayana menatap tajam terarah kepada sosok pemuda berambut kemerahan yang sangat dikenalnya. Tapi yang membuatnya heran, kenapa pemuda itu tidak melawan dan menunjukkan kemampuan seperti saat menyelamatkannya kemarin?

"Mereka berdua siapa dan kenapa, Ki?" tanya Raja Gajayana.

"Hamba tidak tahu apa masalah mereka berdua, Paduka. Yang berdiri itu putra hamba, dan yang satunya itu salah satu murid perguruan hamba."

Teja berusaha menarik perhatian putri Raja Gajayana dengan menunjukkan kemampuannya. Dia berjalan mendekati Arya dengan tangan kanan terkepal kuat.

"Bangun kau!" Teja mencengkeram kerah leher Arya dan mengangkatnya berdiri. Belum sempat pukulannya mengenai perut Arya, teriakan Ki Sambernyawa membuatnya menarik serangannya.

"Hentikan, Teja!" Ki Sambernyawa berlari meninggalkan Raja Gajayana dan putrinya mendekati mereka berdua. "Apa yang kau lakukan kepada Arya?" bentak Ki Sambernyawa.

Teja sedikit terkejut mendengar ayahnya membentaknya. Padahal selama ini tidak sekalipun orang tua satu-satunya itu membentaknya, berbicara sedikit keras kepadanya pun tidak.

"Manusia lemah ini tidak tahu sopan santun, Ayah. Apa dia tidak bisa melihat jika ada paduka raja ada di sini?" balas Teja membela diri.

Ki Sambernyawa memandang Arya. Sekilas dia melihat jika pemuda itu memberinya kode untuk tidak melanjutkan kemarahannya.

Di saat yang sama, putri Raja Gajayana semakin yakin jika pemuda berambut kemerahan itu yang telah menyelamatkannya kemarin. Dia tentu tidak akan lupa dengan sosok yang sudah menjadi pahlawan di hatinya.

"Dia yang kemarin menyelamatkanku, Ayah," ucapnya pelan.

"Putra Ki Sambernyawa maksudmu, Citra?" Raja Gajayana bertanya balik.

"Bukan, Ayah. Tapi pemuda berambut merah itu."

Raja Gajayana mengernyitkan dahinya tidak percaya, "Apa kau yakin?"

"Aku tidak mungkin salah melihat, Ayah. Ayo kita ke sana!" ajak Putri Citra.

1
anggita
like👍, 2x☝☝iklan. untuk dukung novel laga nusantara
anggita
bocah kuckuk🤔🤭😅
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
🚬🗿☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!