Tiga tahun menjalani pernikahan, Rindu dan suaminya masih menanti kehadiran buah hati. Di tengah cinta yang mereka bangun, harapan itu perlahan berubah menjadi beban ketika sang mertua terus menyalahkan Rindu dan mendesaknya untuk segera memberikan cucu.
Tekanan yang tak kunjung reda membuat hubungan mereka mulai retak. Di saat kepercayaan dan komunikasi memudar, hadir sosok perempuan lain yang menawarkan perhatian dan kenyamanan kepada suami Rindu. Kehadiran orang ketiga itu menjadi ujian terbesar dalam pernikahan mereka. Kini, Rindu harus memilih terus bertahan memperjuangkan rumah tangganya atau melepaskan cinta yang perlahan berubah menjadi luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mandul!
"Kamu kan cuma di rumah, kerjamu cuma mengurus rumah tangga. Masa hal sepele seperti baju Dinda saja tidak bisa kamu perhatikan dengan benar? Harusnya kamu tahu mana baju yang mendesak untuk dicuci!" Kata Bu Ratna marah pada Rindu.
Suara Bu Ratna bergaung keras di ruang tengah. Kalimat itu bukan sekadar teguran, melainkan sebuah hantaman telak yang merendahkan seluruh keberadaan Rindu di rumah itu.
Rindu menunduk dalam, menatap ujung jemari kakinya yang mendadak terasa dingin.
Kedua tangannya meremas ujung celemek dengan erat, berusaha meredam getaran hebat yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Maaf, bu... tapi Dinda baru menaruh g--"
"Halah! Jangan pintar mencari alasan!" potong Bu Ratna cepat, sama sekali tidak memberikan ruang bagi Rindu untuk membela diri.
Wanita paruh baya itu melangkah mendekat, menatap menantunya dengan pandangan mata yang menghunjam tajam.
"Ibu itu sudah sengaja tidak menyewa asisten rumah tangga lagi karena mengira kamu bisa diandalkan untuk mengurus rumah ini. Ternyata apa? Menghandle baju satu potong saja kamu teledor! Kamu tahu tidak, Dinda itu mau menghadiri acara penting siang ini? Kalau penampilannya berantakan karena bajunya belum siap, apa kamu mau bertanggung jawab?!" cecar Bu Ratna habis-habisan.
Dinda yang berdiri di samping mamanya melipat tangan di dada, memasang wajah kemenangan sambil mendengus sinis.
"Makanya, Ma. Kak Rindu itu kalau kerja setengah-setengah. Nggak pernah pakai otak."
"Dinda, jaga bicaramu," Ucap Rindu, matanya mulai berkaca-kaca karena ucapan adik iparnya sudah terlewat batas.
"Kenapa? Memang benar kan apa yang dibilang Dinda?!" bentak Bu Ratna lagi, membela anak bungsunya tanpa celah.
"Kamu nggak usah balik mengajari anak saya! Berkaca dulu pada dirimu sendiri, Rindu. Menjadi istri itu harusnya cekatan, serba tahu, dan bisa melayani keluarga dengan baik. Menantu di luar sana, biar kerja kantoran pun rumahnya tetap beres. Sedangkan kamu? Waktumu 24 jam di rumah ini, tapi mengurus keperluan adik iparmu saja tidak becus!"
Kata-kata Bu Ratna semakin tajam, menguliti harga diri Rindu hingga tak bersisa.
Setiap kalimat yang keluar dari mulut ibu mertuanya seolah mengonfirmasi posisi Rindu di rumah itu, dia tidak lebih dari seorang pelayan yang menumpang hidup, yang kesalahannya akan selalu dibesar-besarkan, sementara pengorbanannya tidak pernah dianggap ada.
Rindu merasakan dadanya begitu sesak, seolah pasokan oksigen di sekitarnya mendadak hilang.
Mengingat bagaimana ia merawat Arsen, mencuci pakaian seluruh isi rumah, dan menyiapkan makan siang dan malam, semua itu seketika terasa sia-sia.
"Dengar ya, Rindu," Bu Ratna menunjuk wajah Rindu dengan jari telunjuknya, memberikan ancaman terakhir yang begitu dingin.
"Ibu tidak mau tahu. Bagaimana pun caranya, baju Dinda harus kering dan siap dipakai malam ini. Kalau sampai Dinda terlambat ke acaranya gara-gara kamu, jangan harap kamu bisa tenang di rumah ini!"
Rindu mengangguk pasrah dalam tunduknya, Alih-alih menyudahi amarahnya, wanita paruh baya itu justru mendengus sinis, menatap Rindu dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan yang kian merendahkan.
"Lagian, dipikir-pikir, apa sih yang bisa kamu lakukan dengan becus di rumah ini?" suara Bu Ratna mendadak bergeser, nadanya tidak lagi meninggi, melainkan melambat dan sarat akan racun yang jauh lebih mematikan.
Rindu seketika menahan napas. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Ia tahu ke mana arah pembicaraan ini jika mertuanya sudah merendahkan suaranya seperti itu.
"Mengurus rumah tangga yang cuma begini saja kamu keteteran. Lalu, tugas utamamu sebagai istri apa, Rindu?" cecar Bu Ratna, melangkah satu petak lebih dekat hingga bayangannya mengurung tubuh Rindu yang bergetar.
"Sudah tiga tahun kamu menikah dengan Arsen. Tiga tahun! Tapi sampai detik ini, rahimmu itu masih saja kosong!"
Deg.
Hantaman itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada makian soal baju Dinda tadi, membuatnya nyaris tidak bisa berdiri tegak.
"Ibu ini sudah lama bersabar ya sama kamu. Setiap kali teman-teman Ibu pamer cucu, Ibu cuma bisa tersenyum menahan malu! Ibu selalu berdoa supaya Arsen segera punya keturunan, tapi apa? Kamu tidak bisa memberikan Arsen anak! Kamu gagal memberikan Ibu seorang cucu!" kalimat Bu Ratna meluncur tanpa rem, menguliti luka paling dalam yang selama ini mati-matian Rindu sembuhkan.
"Maaf, Ibu..." Ucap Rindu pelan. Suaranya tenggelam oleh rasa sesak yang luar biasa. Masalah momongan bukanlah hal yang bisa ia tentukan sendiri, dan dituduh mandul serta tidak berguna seperti ini sungguh meremukkan harga dirinya sebagai seorang wanita.
"Berusaha apa?! Jangan-jangan memang kamu yang bermasalah!" potong Bu Ratna kejam.
"Kasihan Arsen. Dia kerja banting tulang, lembur sampai pagi, pulang-pulang cuma disambut rumah yang berantakan dan istri yang tidak bisa memberikan keturunan. Kalau begini terus, jangan salahkan Ibu ya kalau suatu saat Ibu carikan Arsen wanita lain yang lebih subur dan bisa diandalkan daripada kamu!"
Dinda yang berdiri di belakang mamanya hanya tersenyum puas, sama sekali tidak berniat melerai kalimat keji yang keluar dari mulut ibunya.
Setelah menumpahkan seluruh racunnya dan meninggalkan luka yang menganga di hati menantunya, Bu Ratna membalikkan badan.
"Ayo, Dinda, pusing Mama lama-lama melihat mukanya," ajak Bu Ratna sambil menarik tangan putrinya, melenggang pergi meninggalkan ruang tengah.
Barulah saat langkah kaki Bu Ratna dan Dinda benar-benar menghilang di balik lorong, pertahanan Rindu runtuh seutuhnya. Air mata yang sejak tadi mati-matian ia bendung kini luruh deras membasahi pipinya.
Rindu meremas dadanya yang terasa sangat sesak. Pertanyaan demi pertanyaan yang menyakitkan mulai berputar di benaknya.
Apakah salahnya jika setelah tiga tahun pernikahan, dia belum juga hamil? Kenapa seluruh beban dan kesalahan dari rahim yang masih kosong ini harus ditimpakan ke pundaknya seorang diri?
Mengingat kata-kata kejam ibu mertuanya yang secara tidak langsung mengatainya mandul dan tidak berguna, hati Rindu serasa diiris sembilu.
Tuduhan itu sungguh tidak adil. Padahal, jelas-jelas dokter spesialis kandungan yang mereka datangi beberapa menyatakan dengan medis bahwa Rindu dan Arsen sama-sama sehat.
Tidak ada masalah kesuburan apa pun pada diri mereka berdua. Hasil lab bersih, organ reproduksinya pun dinyatakan prima.
Dokter bahkan menepuk bahu mereka dengan ramah seraya berkata bahwa secara medis mereka hanya perlu melepas stres.
Mungkin, memang belum waktunya saja Tuhan menitipkan malaikat kecil di rahimnya. Ini semua murni masalah takdir dan waktu yang belum tepat, bukan karena dirinya yang cacat atau bermasalah.
Rindu menghapus air matanya dengan kasar, mencoba menguatkan hatinya yang rapuh. Namun, sekuat apa pun ia meyakinkan diri dengan fakta medis tersebut, stigma dari mertuanya tetap terasa seperti racun yang menggerogoti jiwanya.
buatlah rindu bercerai dari Arsen & keluar dari keluarga toxic itu. aku ga rela rindu menderita lebih lama lagi 🥺🥹
btw jangan lama² bongkar kebusukannya si Arsen & Nia dong,Thor. kasihan banget di rindu...
tolong buat dia pisah dari Arsen & keluarga toxic nya itu lalu buat dia bahagia ya, Thor....🙏🫵🫰