Judul: My alter ego
Kehilangan orang tua, pengkhianatan suami, dan terjebak di kantor yang toksik membuat hidup Hira Lione hancur dalam semalam. Namun, saat keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara misterius muncul di dalam kepalanya.
Demi membalas dendam, Hira membuat kesepakatan berbahaya: menyerahkan kendali tubuhnya pada sosok alter ego yang dingin dan kejam. Hira yang rapuh kini telah tiada, digantikan oleh predator yang siap meruntuhkan hidup siapa pun yang pernah menginjak-injak harga dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Tangan Tak Terlihat
Hira tidak ragu sedikit pun.
Ia mendorong kursinya ke belakang dengan gerakan elegan. Berdiri tegak, ia membalas tatapan Teran Honigan tanpa berkedip. Di sudut ruangan, Anita menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Reza menundukkan kepala dalam-dalam, bahu pria itu terlihat gemetar hebat.
Tidak ada satu pun karyawan yang berani mengeluarkan suara.
"Tentu, Pak Teran," jawab Hira pelan. Suaranya jernih dan stabil.
Teran membalikkan badannya. Ia melangkah lebih dulu menuju ruang rapat di ujung lorong divisi.
Hira berjalan mengekor di belakangnya. Sepatu hak tinggi merah marunnya mengetuk lantai berirama konstan. Saat ia melewati deretan kubikel, Hira bisa melihat ekor mata rekan-rekan kerjanya yang melirik dengan raut wajah pucat pasi.
Leo, asisten Teran, sudah berdiri di depan pintu kaca ruang rapat. Pria berkacamata itu membuka pintu lebar-lebar.
"Silakan, Pak Teran. Bu Hira," ucap Leo sopan.
Begitu Hira melangkah masuk, Leo langsung menutup pintu rapat-rapat. Bunyi klik dari kunci yang diputar terdengar jelas di ruangan kedap suara itu. Leo memilih berjaga di luar.
Hanya tersisa mereka berdua.
Teran tidak langsung duduk. Pria tinggi tegap itu berjalan menuju dinding kaca yang menampilkan pemandangan jalan raya kota. Tangannya masuk ke dalam saku celana.
Hira berdiri dengan santai di dekat meja rapat.
{Pria ini sedang mencoba mengintimidasi kita dengan keheningan. Dia ingin kita merasa canggung dan akhirnya bicara duluan.}
Suara alter ego itu bergema pelan di dalam kepala Hira.
{Sayang sekali, aku tidak akan terpancing permainan receh seperti ini.}
Teran akhirnya memutar tubuhnya. Mata elang pria itu kembali menatap Hira dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Duduk," perintah Teran singkat.
Hira menarik kursi terdekat dan duduk. Ia menyilangkan kakinya. Tangannya diletakkan di atas paha dengan postur sempurna. Sama sekali tidak ada tanda-tanda gugup.
"Kamu tidak gemetar, Hira Lione," ucap Teran. Ia menarik kursi di seberang meja dan duduk berhadapan langsung dengan Hira. "Atasanmu, Siska, nyaris pingsan saat tim saya menjemputnya tadi pagi. Direkturmu, Anita, sekarang sedang berkeringat dingin di luar sana."
Hira memiringkan kepalanya sedikit.
"Saya tidak punya alasan untuk takut, Pak Teran. Bukankah saya berada di pihak perusahaan? Saya hanya melaporkan tikus yang menggerogoti kas Anda."
Teran mendengus. Sebuah tawa kecil yang terdengar sangat sinis.
Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan. Ia menumpukan kedua lengannya di atas meja. Jarak wajah mereka kini semakin dekat.
"Jangan membual di depan saya, Hira. Kamu tidak peduli pada perusahaan. Kamu tidak peduli pada kebenaran angka-angka itu."
Teran menatap tepat ke dalam manik mata Hira, seolah sedang menguliti jiwa wanita itu.
"Sampai dua hari yang lalu, data HRD menunjukkan bahwa kamu hanya staf pemasaran penakut. Kamu selalu datang paling awal, pulang paling akhir, membiarkan laporannya dicuri oleh manajermu, dan diam saja saat rekan kerjamu melecehkanmu."
Di dalam sana, jiwa Hira yang asli meringkuk.
{Dia... dia tahu semuanya. Dia tahu betapa menyedihkannya aku selama ini.}
Namun di luar, wajah Hira sama sekali tidak berubah. Sudut bibirnya perlahan tertarik ke atas, membentuk senyuman miring. Alter egonya mengambil alih kendali dengan sempurna, menekan rasa malu itu dalam-dalam.
"Orang bisa berubah, Pak Teran. Terkadang, butuh dorongan kecil untuk membuat seseorang sadar bahwa mereka telah membuang-buang waktu menjadi orang baik."
Teran menaikkan sebelah alisnya. Ketertarikan di matanya semakin terlihat jelas.
"Dorongan kecil?" ulang Teran pelan.
Pria itu mengeluarkan sebuah ponsel tipis dari saku jas dalamnya. Ia meletakkan ponsel itu di atas meja kaca dan menggesernya perlahan ke arah Hira.
Ponsel itu berhenti tepat di depan Hira. Layarnya menyala.
Hira menurunkan pandangannya. Di layar itu, terpampang sebuah riwayat pesan singkat.
[Pengirim: Leo (Nomor Pribadi)]
[Pesan Keluar: Mengirim sebuah gambar.]
[Penerima: Hira Lione]
Di bawah riwayat pengiriman itu, terdapat foto yang sama persis dengan yang Hira terima semalam. Foto Reza yang sedang memangku Anita di atas sofa remang-remang.
Napas Hira tertahan selama satu detik.
{Pria ini... dia yang mengirimkannya?}
Hira mendongak. Matanya menatap Teran dengan intensitas yang baru.
"Jadi... nomor tidak dikenal semalam. Itu asisten Anda?" tanya Hira pelan.
"Anita sudah lama menjadi target audit pusat," Teran memulai penjelasannya dengan nada datar. "Dia sangat licik. Dia selalu berhasil menutupi jejak manipulasi keuangannya dengan rapi. Tapi dia punya satu kelemahan fatal."
Teran menunjuk layar ponsel itu dengan dagunya.
"Dia suka bermain-main dengan suami bawahannya. Saya butuh pemantik. Saya butuh kekacauan internal agar Anita panik dan melakukan kesalahan fatal yang bisa dilacak oleh auditor saya."
Hira mengusap tepi layar ponsel itu dengan ujung telunjuknya.
"Dan Anda memilih saya sebagai pion Anda," tebak Hira.
"Tepat," jawab Teran tanpa sedikit pun rasa bersalah. "Mengirimkan bukti perselingkuhan itu kepada istri yang sedih, rapuh, dan baru saja kehilangan orang tuanya... saya asumsikan paling buruk kamu hanya akan menangis histeris. Mungkin kamu akan melabrak mereka berdua di kantor dan menciptakan skandal kecil yang cukup untuk menahan pergerakan Anita hari ini."
Teran menyandarkan punggungnya ke kursi. Matanya tidak lepas dari setiap inci perubahan ekspresi di wajah Hira.
"Seorang istri normal akan hancur melihat foto itu. Tapi saat melihat rekaman CCTV dari lantai direksi tadi pagi... kamu tidak terlihat seperti istri yang tersakiti, Hira. Kamu terlihat seperti predator yang sedang merencanakan pembantaian."
Hira tertawa pelan. Tawa yang sangat renyah, kontras dengan ketegangan di ruangan itu.
Di dalam kepalanya, jiwa aslinya mungkin merintih karena diperalat. Tapi sang alter ego justru merasa sangat terhibur. Bertemu dengan monster lain yang tidak memedulikan perasaan manusia adalah sebuah kesegaran baginya.
Hira mendorong ponsel itu kembali ke arah Teran.
"Kalau begitu, saya harus berterima kasih kepada Anda, Pak Teran." Hira menatap lurus ke dalam mata pria itu. "Karena foto dari Anda, saya akhirnya bisa bangun dari tidur panjang yang menyiksa."
Teran terdiam sejenak. Ia terbiasa melihat orang memohon ampun, marah, atau menangis saat ia membeberkan manipulasinya. Tapi wanita di depannya ini justru tersenyum dan berterima kasih.
Rahasia tentang alter ego itu sama sekali tidak terendus oleh Teran. Pria itu murni mengira Hira telah berubah menjadi sosok yang kejam karena rentetan tragedi.
"Lalu, apa rencanamu sekarang, Hira Lione?" tanya Teran. "Setelah membalas dendam pada manajermu? Apakah kamu akan berhenti dan kembali menjadi staf biasa?"
Hira berdiri perlahan. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di atas meja, mencondongkan tubuhnya ke arah Teran.
"Berhenti?" bisik Hira. Seringai mematikan itu kini melebar sempurna. "Pesta ini baru saja dimulai. Anita masih duduk nyaman dengan jabatannya, dan suami saya masih berpikir dia bisa memohon ampun."
Teran ikut tersenyum. Sebuah senyum tipis yang jarang sekali ia perlihatkan.
"Bagus," ucap Teran pelan. "Karena saya punya penawaran untukmu. Penawaran yang akan memastikan suami dan direkturmu tidak akan pernah bisa bangkit lagi."
Teran menatap tajam bibir Hira yang dipulas merah gelap.
"Bagaimana kalau saya menawarkan kursi Direktur Cabang ini padamu?"
lg seru nih
jm 9 ketemu dar, trus ketemu her & si botak, trus ketemu taren(lupa) trus ketemu victor, ini ketemu kael🤔 hrs'a sdh sore x thor
kodammu luar biasa!
🤝
ampe qu ulang baca part 1 hlo
biasa'a dirasuki jiwa lain, ini malah dr diri sendiri, mgkin ini kodam yg memberontak🤭
semangat thor💪