NovelToon NovelToon
Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!

Nyonya, Tuan Tidak Mau Bercerai!

Status: tamat
Genre:Pengantin Pengganti Konglomerat / Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Tamat
Popularitas:51.8k
Nilai: 5
Nama Author: Zhao_Xena

Hezlin terjebak dalam pernikahan bisnis dengan Garra Xaverius Kingston, menggantikan Felicia, wanita yang meninggalkannya demi karier. Selama empat tahun, Hezlin perlahan jatuh cinta, meski tahu dirinya hanya pengganti.
Saat Felicia kembali, Hezlin memilih pergi. Ia meminta cerai, yakin Garra akan kembali pada cinta lamanya. Namun keputusan itu justru mengguncang Garra, yang baru menyadari bahwa kehilangan Hezlin lebih menyakitkan dari yang ia kira.
Di antara masa lalu dan perasaan yang tak terucap, keduanya dihadapkan pada satu pilihan: berpisah… atau memperjuangkan cinta yang terlambat disadari.

"Aku ingin kita bercerai," -Hezlin Rayla Iyzebelle.

"Apa yang selama ini tidak cukup membuatmu tetap berada di sisiku?" -Garra Xaverius Kingston.

"Nyonya, Tuan tidak mau bercerai!" -Ervan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 ~ Firasat Buruk

Felicia menatap Rachel tanpa berkedip. Tatapannya tajam, seolah berusaha membaca setiap perubahan ekspresi di wajah gadis itu.

Rachel tampak ragu. Ia mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya membuka suara.

"Hezlin hamil."

Kalimat singkat itu seketika membuat raut wajah Felicia membeku.

"Sekarang mereka juga sudah kembali bersama," lanjut Rachel lirih. "Bahkan Garra sudah menarik kembali surat gugatan perceraian mereka." jelas Rachel.

Deg. Jantung Felicia seolah berhenti berdetak sesaat.

"Tidak mungkin..." gumamnya nyaris tak terdengar. Kedua tangannya perlahan mengepal di atas pangkuan. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya berubah dingin.

"Sialan! Ternyata dia wanita yang cukup licik! Menggunakan cara ini demi mendapatkan simpati Garra kembali!"

Rachel menoleh menatap Felicia.

"Lalu... Apa rencanamu selanjutnya?"

Suasana di dalam mobil mendadak sunyi. Beberapa detik kemudian, Felicia menyandarkan punggungnya ke kursi sambil memejamkan mata. Sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis, tetapi sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.

"Aku tidak akan membiarkan semuanya berjalan semudah itu."

Rachel langsung menoleh.

"Felicia, aku harap kamu tidak bertindak gegabah."

Felicia membuka matanya perlahan. Tatapannya kini dipenuhi tekad.

"Sudah terlalu lama aku menunggu Garra. Aku tidak akan menyerah hanya karena Hezlin kembali mengandung anaknya."

"Felicia..." Rachel menatap wanita itu dengan sorot mata memohon. "Aku mohon, jangan sakiti Hezlin. Kita sudah terlalu jauh ikut campur dalam hubungan mereka."

Felicia tetap menatap lurus ke depan. "Diam!" bentaknya membuat Rachel langsung menurut.

Felicia menoleh perlahan. Tatapannya begitu dingin hingga Rachel tak berani menatap balik.

"Apa kamu lupa siapa yang selama ini membayar biaya pengobatan ibumu?!" hardik Felicia tajam.

Rachel menggigit bibirnya. Ia benar-benar tidak mampu berbuat apapun selama masih ada dibawah permainan Felicia.

"Sekali saja kamu ikut campur atau berani membocorkan sesuatu kepada Hezlin, aku akan menghentikan seluruh biaya pengobatan ibumu." ancam Felicia. Ia tak pernah main-main jika semua ini menyangkut tentang keinginannya.

Wajah Rachel seketika memucat.

"Felicia..."

"Bukan hanya itu...!" Suara Felicia tetap terdengar tenang, tetapi setiap katanya terasa seperti ancaman. "Kalau aku menghentikan bantuanku, menurutmu siapa yang akan membayar biaya sekolah adikmu dan kebutuhan hidup keluargamu?!"

Rachel membeku. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Rachel.

"Aku..."

"Jadi dengarkan aku baik-baik." Felicia menatapnya tajam. "Tetap lakukan apapun yang aku perintahkan. Jangan mencoba mengkhianatiku."

Rachel menundukkan kepalanya. Jemarinya mengepal kuat di atas pangkuan.

"...Baik."

"Bagus.." senyum tipis terukir di bibir Felicia. "Tunggu kembali perintah dariku. Baru kamu bergerak.."

Setelah mengucapkan hal itu, Felicia langsung turun dari mobil berjalan tenang menuju mobilnya sendiri.

Rachel memejamkan mata. Hatinya dipenuhi rasa bersalah. Ia ingin melindungi Hezlin, tetapi ia juga tidak sanggup mempertaruhkan keselamatan ibu serta masa depan adiknya.

••

••

Sesampainya di rumah, Hezlin langsung membersihkan diri. Setelah selesai mandi dan berganti pakaian yang lebih nyaman, ia meraih ponselnya.

Tanpa berpikir panjang, ia mengirimkan sebuah pesan kepada Garra, memberi tahu bahwa dirinya telah sampai di rumah.

Tak lama kemudian, layar ponselnya kembali menyala.

["Baik. Aku selesaikan urusanku sebentar. Kamu istirahat dulu."]

Hezlin menatap balasan singkat itu beberapa saat.

Entah mengapa, Garra sekarang jauh lebih sering menghubunginya. Dulu, pria itu hampir tidak pernah mengirim pesan kecuali ada urusan yang benar-benar penting. Bahkan, terkadang mereka bisa menjalani satu hari penuh tanpa saling bertukar kabar.

Namun sekarang, perubahan itu terasa begitu jelas.

Setiap kali Hezlin pergi, Garra selalu ingin tahu ke mana ia pergi. Setiap kali mereka berpisah, pria itu selalu memastikan Hezlin sudah sampai di tujuan dengan selamat.

Perhatian-perhatian kecil yang dulu tak pernah ada kini justru datang bertubi-tubi.

Bukannya merasa senang, Hezlin malah semakin bingung.

Ia tidak tahu apakah semua ini lahir dari ketulusan hati Garra... atau semata-mata karena pria itu merasa bertanggung jawab setelah mengetahui dirinya sedang mengandung.

Dengan pikiran yang masih dipenuhi berbagai pertanyaan, Hezlin meletakkan ponselnya di atas nakas, lalu menyandarkan tubuh di kepala ranjang. Tanpa disadari, rasa lelah setelah seharian bekerja perlahan membuat kedua matanya terpejam.

••

••

Malam ini, Garra baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Setelah memastikan seluruh berkas di atas mejanya telah selesai ditandatangani, ia lalu keluar dari ruangannya berjalan menuju area parkir bawah tanah.

Suasana gedung perusahaan sudah jauh lebih lengang dibandingkan beberapa jam sebelumnya.

Sesampainya di depan mobil, Garra merogoh saku celananya untuk mengambil kunci.

Namun, baru saja jarinya menyentuh gagang pintu, ponselnya berdering.

Nama Felicia muncul di layar.

Garra mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya menerima panggilan itu.

"Ada apa?"

Suara Felicia terdengar bergetar dari seberang sana.

"Garra... apartemenku mati lampu. Aku takut sendirian... bisakah kamu kemari?"

Garra memejamkan mata sejenak.

"Bukankah sudah pernah kubilang? Jangan terus bergantung padaku, Felicia."

"Tapi..."

"Kalau kamu takut, hubungi petugas apartemen atau yang lainnya. Aku masih ada urusan."

"Tapi, Garra... aku..."

Prang! Suara benda pecah terdengar begitu keras dari seberang telepon disusul dengan suara jeritan Felicia yang memekakkan telinga.

"Aaargh!"

Tatapan Garra langsung melebar begitu mendengar suara jeritan tersebut.

"Felicia?"

Tidak ada jawaban.

"Felicia!"

Yang terdengar hanya suara napas memburu, disusul bunyi sesuatu bergeser di lantai.

"Felicia, jawab aku!"

Sambungan telepon belum terputus, tetapi keheningan di seberang sana justru membuat firasat Garra berubah tidak tenang.

"Garra... tolong..." suara Felicia terdengar semakin lemah.

"Awh... sakit..."

Sambungan telepon kemudian terputus.

Tut...

Tut...

Tut...

Garra menatap layar ponselnya beberapa detik. Rahangnya mengeras.

"Sial!"

Tanpa membuang waktu, ia langsung menyalakan mesin mobil. Kendaraan itu melesat keluar dari area parkir menuju apartemen Felicia.

••

Sekitar dua puluh menit kemudian, Garra tiba di depan gedung apartemen.

Ia segera keluar dari mobil dan bergegas menuju lift. Begitu sampai di depan unit Felicia, pria itu menekan bel berkali-kali.

Ting tong...

Ting tong...

Tidak ada jawaban.

"Felicia!"

Garra kembali mengetuk pintu dengan lebih keras.

"Felicia, buka pintunya!"

Masih hening. Kening Garra berkerut. Ia mencoba memutar gagang pintu.

Klik. Pintu itu ternyata tidak terkunci.

Dengan langkah cepat, Garra langsung masuk ke dalam apartemen yang gelap gulita. Hanya cahaya remang dari luar jendela yang menerangi ruangan.

"Felicia!"

Tatapannya menyapu seluruh ruangan hingga akhirnya berhenti pada sosok wanita yang terduduk lemas di lantai ruang tamu.

Di sekitarnya berserakan pecahan vas bunga.

Salah satu telapak tangan Felicia tampak terluka akibat pecahan kaca, sementara darah perlahan menetes membasahi lantai.

Mendengar langkah kaki mendekat, Felicia mengangkat wajahnya perlahan.

"Garra..."

Air mata mengalir di pipinya.

"Aku tahu... kamu pasti akan datang."

Garra menghela napas pelan. Ia berjongkok di hadapan Felicia, lalu meraih tangan wanita itu untuk memastikan lukanya tidak terlalu dalam.

"Kamu terluka."

Felicia hanya menatap Garra tanpa berkedip. Di balik wajahnya yang tampak rapuh, sudut bibirnya nyaris tak terlihat terangkat sesaat.

❤️

1
Siti Maulidah
ceritanya menarik
🥀
terimakasih KK Thor 😍
Zhao_Xena: sepertinya tidak kakak.. yukk kepoin aja novel baru akuuh..🤗🤗
total 3 replies
Zhao_Xena
Luar Biasa
You `ka
semoga Garra mau membantu, kasihan Rachel
You `ka
masih nggak sadar juga Kamu Felicia. Jangan takut Rachel
ayo lawan..💪
You `ka
mampus kau Felicia 🤣🤣
Rian Moontero
mampiiirr👍🤣
Zhao_Xena: silahkan... 🤗🤗
total 1 replies
Red Blossom
Bikin Hezlin bantu pengobatan mamanya Rachel serta biaya adiknya Rachel thor
Zhao_Xena: asyaaappp....👍
total 1 replies
Alya Bau
up yang banyak lagii thorr 😍
Zhao_Xena: ditunggu besok yakk....🤗🤗
total 1 replies
aku
gara lembek
Gita ayu Puspitasari
ayo hempaskan pelakor hezlin🤭
Zhao_Xena: /Determined//Determined//Hammer//Hammer//Hammer/
total 1 replies
🥀
lgi Thor jgn ngantung kyk jemuran 😄
Zhao_Xena: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/ ditunggu ya kak...
total 1 replies
You `ka
Cerita yang sangat bagus .. Berawal dari sebuah kesalahpahaman yang perlahan tumbuh menjadi tembok tinggi di antara mereka, kisah ini mengajarkan kita betapa mahalnya sebuah kepercayaan.

Kita disuguhi pergulatan batin yang nyata di mana cinta yang seharusnya menjadi pelindung, justru sempat menjadi sumber luka karena ketidaksabaran untuk saling mendengar. Namun di balik semua pertengkaran, diam, dan rasa sakit, terlihat jelas bahwa ikatan mereka tak pernah benar-benar putus.
Zhao_Xena: waahh... terimakasih banyak untuk bintang sempurna serta ulasan terbaiknya kakak...🥰🥰
total 1 replies
You `ka
next..
You `ka
akhirnya ketauan juga... ayo Ervan, buat Rachel mengaku..
Alya Bau
di tunggu bab selanjutnya Thor, up yang banyak
Zhao_Xena: asyiiiaaappp...🫡
total 1 replies
Gita ayu Puspitasari
semangat garra😄
Zhao_Xena: /Smirk//Smirk//Smirk/
total 1 replies
You `ka
lanjut
You `ka
gercep Garra.. jangan biarin Felicia berhasil membohongi Hezlin
You `ka
jangan mudah percaya ucapan Felicia Hezlin,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!