NovelToon NovelToon
Talak Setelah Akad

Talak Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: YePeEs

Hari pernikahan yang harusnya menjadi hari paling bahagia bagi Zara sketika menjadi mimpi buruk, ia di talak oleh suaminya satu jam setelah akad pernikahan.
zara mendapatkan fitnah dari seseorang yang mistrius, hingga menhancurkan hidupnya. Zara mulai membangun hidupnya dengan menjauh dari keluarganya yang mengusir dirinya.
bagaimana perjuangan Zara setelah Di talak dihari pernikahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YePeEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

BUGH!!!!

​Bantingan pintu mobil mewah itu terdengar sangat keras di halaman pesantren, membuat beberapa santri yang lewat spontan menengok kaget. Pak Rahmad masuk ke kursi penumpang depan dengan wajah merah padam, napasnya memburu menahan amarah yang sudah sampai ke ubun-ubun.

​Reza menyusul masuk ke kursi pengemudi. Ia mengembuskan napas panjang, merapikan kemeja batiknya yang agak kusut, lalu menyalakan mesin mobil. Dengan perlahan, ia memutar kemudi, membawa mobil tersebut keluar dari area pesantren menuju jalan raya Cisayong.

​"Sialan! Benar-benar anak tidak tahu diuntung!" umpat Pak Rahmad, memukul dasbor mobil dengan keras.

"Bisa-bisanya dia mempermalukan saya di depan kyai kampung itu! Mau ditaruh di mana muka saya, Za?!"

​"Sabar, Om. Tenang dulu. Kalau Om jantungan di sini, malah makin repot urusannya," sahut Reza kalem, matanya fokus menatap jalanan berbatu yang membuat mobil mereka bergoyang.

​"Bagaimana bisa tenang, Reza?! Kamu lihat sendiri kan tadi? Dia menolak mentah-mentah! Padahal ini satu-satunya cara buat menyelamatkan nama baik dan saham perusahaan kita yang makin merosot. Kalau pernikahan ini batal permanen, habis kita!" Pak Rahmad melonggarkan dasinya dengan kasar. "Terus... siapa itu tadi? Santri tengil yang sok jagoan itu? Kurang ajar sekali mulutnya!"

​Reza terkekeh sinis, jemarinya mengetuk-ngetuk setir mobil.

 "Oh, si Fahri-fahri itu? Halah, Om... gak usah dipikirin. Cuma modal peci miring sama banyolan kampung aja bangga. Yang bikin saya heran itu Zara. Kok bisa-bisanya dia betah di tempat terpencil begini, terus malah dengerin omongan orang asing dibanding omongan Om?"

​"Itulah yang bikin saya heran! Zara itu biasanya penurut. Ini pasti gara-gara dia kelamaan gaul sama orang-orang kampung di sini, makanya otaknya jadi ikutan geser!" Pak Rahmad bersandar ke kursi, memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri.

"Terus sekarang gimana? Kita pulang ke Jakarta dengan tangan kosong? Mau bilang apa sama istri om?!"

​Reza melirik Pak Rahmad dari kaca spion tengah, lalu senyum licik mulai mengembang di sudut bibirnya.

"Ya nggaklah, Om. Masak seorang Reza menyerah gitu aja. Kita emang balik ke Jakarta sekarang, tapi bukan berarti kita kalah."

​"Maksud kamu apa? Kamu punya ide?" Pak Rahmad menoleh cepat, menatap Reza penuh harap.

​"Punya dong. Malah ide bagus banget," ucap Reza santai sambil menginjak pedal gas lebih dalam begitu mobil memasuki jalan raya aspal.

"Zara itu keras kepala karena dia merasa punya tempat berlindung di pesantren itu. Dia merasa aman karena ada Abah Mukhlas dan si santri sok pahlawan tadi."

​"Ya terus? Kita mau seret dia pakai polisi? Gak bisa, Za. Dia sudah dewasa, polisi gak bakal mau ikut campur urusan anak kabur dari rumah kalau gak ada unsur pidana."

​"Lah? Siapa juga yang mau main polisi, Om? Kuno ah," celetuk Reza sambil tertawa kecil. "Kita main halus aja. Zara itu hatinya lembek, gampang kasihan, apalagi kalau menyangkut orang tuanya. Terutama... Tante."

​Pak Rahmad mengernyitkan dahi. "Maksud kamu... Ibunya Zara?"

​"Tepat sekali! Om pintar banget," Reza menjentikkan jarinya di atas setir.

"Gini, Om... nanti begitu kita sampai Jakarta, Om langsung suruh Tante buat pura-pura sakit keras. Bikin skenario seolah-olah Tante kritis di rumah sakit gara-gara kepikiran Zara yang kabur dan menolak menikah."

​"Hah? Pura-pura sakit keras? Serius kamu, Za?" Pak Rahmad tampak ragu. "Ibunya Zara itu payah kalau disuruh akting, nanti kalau ketahuan gimana?"

​"Duh, Om! Zaman sekarang kan canggih. Gak usah akting heboh. Tinggal sewa satu kamar VIP di rumah sakit relasi kita, pasang selang infus kosong, terus suruh Tante merem aja sambil pasang muka pucat. Beres, kan?" Reza meyakinkan dengan nada menggebu-gebu.

​"Terus setelah itu?"

​"Setelah itu, kita telepon pihak pesantren. Atau kalau perlu, Om sendiri yang telepon Zara pakai nomor baru. Bilang kalau Ibunya sekarat dan permintaan terakhirnya sebelum... ya, mohon maaf, sebelum lewat, adalah melihat Zara bersanding sama aku di pelaminan." Reza tersenyum puas, membayangkan rencananya berhasil. "Gimana? Jenius kan ide aku?"

​Pak Rahmad terdiam sejenak, menimbang-nimbang ide dari calon menantunya itu. Perlahan, gurat kemarahan di wajahnya digantikan oleh senyuman licik yang sama.

​"Ya ampun, Reza kamu benar-benar cerdik," puji Pak Rahmad sambil terkekeh bangga. "Zara itu paling tidak bisa melihat Ibunya menderita. Kalau dia dengar Ibunya kritis, dia pasti langsung nangis-nangis dan minta pulang ke Jakarta hari itu juga!"

​"Nah, kan! Aku bilang juga apa," sahut Reza, wajahnya mendadak berubah penuh dendam saat mengingat wajah Fahri.

 "Begitu Zara sampai Jakarta, kita langsung kunci dia di rumah. Jangan kasih pegang ponsel. Kita percepat pernikahan dalam minggu itu juga. Biar tahu rasa dia! Dan si santri sok jagoan di kampung tadi... kita lihat, apa dia bisa menolong Zara dari jarak ratusan kilometer?"

​"Bagus! Bagus sekali!" Pak Rahmad mengangguk-angguk puas, rasa pening di kepalanya mendadak hilang. "Biarkan anak itu menikmati waktu-waktu terakhirnya di kampung itu. Besok permainan kita yang sebenarnya dimulai."

​"Siap, Om. Pegangan yang erat, kita ngebut biar cepat sampai Jakarta dan langsung atur rencana sama Tante," ucap Reza sambil mengulas senyum kemenangan, menekan pedal gas dalam-dalam membawa mobil mewah itu melesat membelah jalanan menuju ibu kota.

***

​Sore hari di pesantren, suasana berangsur tenang setelah badai kecil tadi siang. Angin pegunungan bertiup sepoi-sepoi, menggoyang dedaunan pohon bambu di samping aula madrasah. Di teras samping rumah Abah Mukhlas, Fahri sedang duduk bersila di atas tikar pandan, memandangi segelas kopi hitam yang asapnya masih mengepul tipis.

​"Nih, kopi hitam tanpa gula. Sesuai pesanan jagoan kampung," celetuk sebuah suara dari arah belakang.

​Fahri menoleh, mendapati Zara berjalan pelan sambil membawa sepiring pisang goreng hangat. Mata gadis itu masih agak sembap, hidungnya sedikit merah, tapi raut ketakutan yang hebat tadi siang sudah mulai memudar.

​"Eh? Serius ini dibuatin?" Fahri menaikkan kedua alisnya, wajah tengilnya langsung kembali beraksi. "Wah, jangan-jangan dikasih pelet ya? Biar saya kessemsem sama Teteh-teteh Jakarta?"

​"Ya ampun, Fahri! Baru juga tenang lima menit, udah kumat lagi rese-nya!" Zara mendengus kencang, lalu duduk di ujung tikar, agak jauh dari Fahri.

"Lagian, itu kan sebagai tanda terima kasih karena tadi... ya, karena kamu udah bantuin saya dari mereka."

​Fahri meraih gelas kopi, menyeruputnya pelan, lalu mendesah puas. "Ah... mantap. Tapi ini kopinya kurang manis, Zar."

​"Lah? Yadi kata Umil, kamu biasa kopi tanpa gula? Gimana sih?"

​"Iya, makanya kamu duduknya agak deketan sini, biar manisnya pindah ke kopi," sahut Fahri santai sambil mengedipkan sebelah mata.

​"Duh! Gombalan kamu garing banget tahu gak! Kayak kerupuk masuk angin!" Zara spontan melempar tisu bekas ke arah Fahri, wajahnya mendadak merona merah. "Lagian... kok kamu bisa senekat itu sih tadi siang? Itu Ayah aku loh, terus si Reza itu badannya lebih gede dari kamu. Kamu gak takut apa dikeroyok sama bodyguard mereka?"

​"Hah? Takut?" Fahri tertawa lepas, meletakkan gelas kopinya kembali ke lantai semen. "Zar, denger ya. Di sini, di tanah suci pesantren ini, gak ada yang boleh sembarangan menindas orang, apalagi perempuan. Jangankan Mas Batik yang modal necis doang, macan turun dari gunung pun kalau bikin rusuh di sini bakal saya ajak duel pencak silat!"

​"Serius? Kamu bisa pencak silat?" Zara menatap Fahri dengan mata berbinar curiga. "Jangan-jangan cuma pencak silat lidah lagi?"

​"Astagfirullah...! Meragukan kemampuan saya?" Fahri memegang dadanya, pura-pura terluka.

"Tanya tuh sama anak-anak remaja di desa. Siapa pelatih paling killer tapi paling tampan se-Kecamatan Cisayong? Ya Fahri Ahmad ini!"

​Zara terkekeh kecil, rasa hangat perlahan menjalar di hatinya. Interaksi konyol dengan Fahri selalu berhasil mengikis kesedihan dalam dirinya dengan cepat. Namun, senyum itu perlahan memudar saat bayangan wajah ayahnya tadi siang kembali melintas.

​"Fahri..." panggil Zara lirih, pandangannya beralih menatap ujung sepatunya.

​"Hmm? Kenapa? Mau minta maaf karena terpesona sama ketampanan saya?"

​"Bukan, ih!" Zara mengembukan napas panjang. "Menurut kamu... aku berdosa banget gak sih? Melawan omongan Ayah kandung sendiri? Tadi Ayah marah banget, terus bilang aku anak durhaka karena gak mau mikirin nasib perusahaan..."

​Fahri terdiam. Ia memandangi profil samping wajah Zara yang tampak begitu rapuh di bawah temaram sinar sore. Perlahan, gurat jenaka di wajah cowok berpeci miring itu menghilang.

​"Zar, kamu tahu gak kenapa Abah tadi belain kamu?" tanya Fahri dengan nada suara yang melembut, sangat berbeda dari biasanya.

​"Kenapa?"

​"Karena dalam Islam, perempuan itu punya hak penuh buat memilih teman hidupnya. Gak boleh ada paksaan, apalagi kalau cuma dijadikan alat buat bisnis atau saham," jelas Fahri mantap.

"Kamu bukan melawan Ayah kamu karena membenci beliau, tapi kamu lagi mempertahankan kehormatan kamu sebagai seorang wanita. Kamu terluka, Zar. Dan menyembuhkan luka itu butuh waktu, bukan dipaksa nikah kilat demi nama baik."

​Zara tertegun. Ia menoleh, menatap mata hitam Fahri yang memancarkan ketulusan luar biasa. Air mata Zara kembali menggenang, tapi kali ini bukan karena takut, melainkan karena merasa sangat dipahami.

​"Makasih ya, Fahri. Kamu kalau lagi gak rese ternyata bisa bijak juga ya," bisik Zara sambil tersenyum tipis di sela air matanya.

​"Lah? Saya kan emang aslinya bijaksana, dhohir dan batin. Cuma kamunya aja yang sering salah paham," sahut Fahri, kembali memasang cengiran khasnya. "Lagian ya, kalau kamu pulang ke Jakarta, nanti yang nemenin saya berantem di pasar siapa? Gak seru ah."

​"Cie... bilang aja takut kehilangan aku, kan?" canda Zara, mencoba membalikkan keadaan.

​"Eh? Lah? Kok jadi kepedean gini?" Fahri mendadak salah tingkah, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Astagfirullah, bahaya ini. Efek kopi hitamnya mulai bekerja, bikin Teteh Jakarta jadi agresif."

​"Hahaha! Sukses kan bikin kamu salting!" Zara tertawa puas melihat wajah Fahri yang merona tipis.

​Namun, tawa mereka terhenti saat Lilis tiba-tiba berlari kencang dari arah gerbang pesantren sambil membawa sebuah ponsel di tangannya. Wajah Lilis tampak sangat panik, napasnya memburu tidak teratur.

​"Teh Zara! A Fahri! Astagfirullah, ini gawat!" seru Lilis dengan suara melengking.

​Fahri langsung berdiri tegak. "Aya naon, Lis? Jangan teriak-teriak, pamali!"

​"Ini, A... Teh Zara..." Lilis menyodorkan ponselnya ke hadapan Zara dengan tangan gemetar. "Tadi ada nomor baru telepon ke nomor pesantren, tapi mati lagi. Pas Lilis cek pesan masuk... ada SMS dari nomor Jakarta, katanya darurat!"

​Zara mengerutkan kening, perasaannya mendadak tidak enak. Ia meraih ponsel Lilis dan membaca sebaris kalimat pendek yang tertera di layar:

​“Zara, Ibu kritis di rumah sakit pusat Jakarta. Kena serangan jantung karena mikirin kamu. Ibu terus manggil nama kamu sebelum dipasang ventilator. Pulang, Zara, kalau kamu masih mau lihat Ibu hidup.”

​Ponsel di tangan Zara seketika merosot, jatuh ke atas tikar pandan. Wajah gadis itu mendadak seputih kertas, seluruh sendi tubuhnya terasa lepas dalam sekejap.

​"Zar? Zara? Ada apa?" Fahri langsung panik melihat perubahan drastis pada wajah Zara. Ia buru-buru memungut ponsel tersebut dan membaca pesannya. Kening Fahri langsung berkerut dalam, matanya menajam.

​Ibunya kritis? Kenapa pas banget setelah suaminya pulang dari sini? batin Fahri, mencium ada sesuatu yang sangat janggal di balik pesan darurat tersebut. Di sebelahnya, Zara sudah mulai terisak histeris, terjebak dalam dilema besar yang siap menghancurkan ketenangannya kembali.

1
Anonim
❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!