Kaelus Danurwenda terkejut ketika mendapati dirinya di pagi hari tanpa mengenakan pakaian. Dia mengumpat marah ketika mengingat kejadian tadi malam.
Kaelus mencari jejak si wanita namun nihil. Pencarian Kael berlangsung selama 4 tahun lamanya, tapi tak menghasilkan apapun.
Ketika harapannya pupus, dan hendak menerima perjodohan yang diatur orang tuanya, tiba-tiba seorang bocah dengan mata coklat kekuningan menabrak tubuhnya.
"Maap Om, Al nda senaja."
Debaran aneh memenuhi hati Kaelus Wajah bocah itu sangat tidak asing di matanya.
"Kamu ... ."
"Maaf Tuan, anak saya berlari tanpa arah. Permisi."
Melihat ibu dari anak itu, Kaelus samar-samar mengingat tentang wanita di malam yang salah itu.
Apa yang akan dilakukan Kaelus? Apa dia akan melanjutkan perjodohan yang diatur, atau malah mencari ibu dan anak tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ATSP 29
Tanpa Kael dan Rowan ketahui, setiap hari Iras mendatangi perusahaan. Dia menjaga jarak untuk mengintai kedatangan Kael. Iras menunggu Kael di sebuah tempat aman, dimana tempat itu selalu dilewati Kael setiap pergi ke perusahaan.
Iras hampir menyerah menunggu Kael sebenarnya. Tapi hari ini membuat bibir wanita itu tersenyum. Dia sangat senang karena melihat mobil Kael. Dan untuk meyakinkan apa yang dilihatnya, Iras mengikuti Kael hingga ke perusahaan.
Dengan membuka pintu secara keras dan tanpa permisi, Iras masuk meneriakkan nama Kael.
"Kak, akhirnya aku bisa nemuin kamu."
Wajahnya tampak sumringah, bibirnya tersenyum lebar bahkan sampai terlihat deretan giginya yang rapi itu.
"Dasar ulet bulu, gatel."
Rowan langsung bereaksi. Dia mengarahkan tatapan tajam kepada Iras. Tangannya juga sangat gatal ingin mendorong wanita tu pergi dari ruangan ini.
"Mau apa kamu?" Kael bertanya dengan nada suara yang sangat dingin. Wajahnya datar dan bola matanya memutar enggan.
"Nemuin kamu lah, Kak. Aku kangen tahu," jawab Iras riang. Senyumnya tak sirna dari bibirnya.
Semangat wanita itu sungguh luar biasa, atau mungkin malah sebaliknya yakni tidak tahu malu. Kael dengan jelas berkata bahwa ada wanita yang dicintainya tempo hari, tapi bukannya mundur, Iras malah semakin terang-terangan mengejar Kael.
"Kamu ini bodoh atau budek sih. Kan aku udah bilang kalau aku udah punya wanita yang aku cintai. Jadi stop datang ke sini. Ini perusahaan, bukan tempat wisata yang dengan bebas bisa kamu masukin."
Ucapan Kael tenang namun tegas. Namun Iras hanya diam sambil tetap tersenyum. Wanita itu sungguh tidak memedulikan ucapan dari Kael.
"Bodo amat. Aku belum lihat wanita itu, jadi bagiku itu hanya fiktif. Jadi nggak ada alasan buat aku mundur. Aku suka sama kamu, Kak. Aku bahkan cinta sama kamu. Aku beneran ingin jadi istri kamu."
Hahahaha
Tawa Kael lepas tanpa permisi. Ia memegangi perutnya yang terasa keras sambil menundukkan kepala.
"Cinta kau bilang? Yakin cinta sama aku, bukan cinta sama harta ku?"
Mata Iras membulat sempurna. Tubuhnya mundur satu langkah lalu tangannya mengepal.
Ucapan Kael terasa menodai harga dirinya.
"K-kenapa Kak Kael ngomong begitu? Bisa-bisanya Kak Kael bilang aku cinta harta? Ini bener-bener membuat aku tersinggung kak."
Kael kembali lagi tertawa mendengar sanggahan Iras. Bibirnya menyeringai Dan kedua tangannya ditautkan untuk menopang dagunya.
"Lantas, apa bener cinta mu itu tulus? Kalau aku bukan orang kaya, apa kamu akan tetap cinta sama aku? Ah itu jelas perumpamaan yang nggak mungkin ya karena faktanya aku jelas kaya raya. Gini aja, kalau aku punya penyakit menular, apa kamu masih tetep cinta sama aku? Apa kamu masih mau jadi istriku yang kemungkinan besar juga ikut tertular oleh penyakitku."
Mulut Iras seketka menganga. Matanya berkedip beberapa kali. Tubuhnya yang tadi berdiri tegap kini sedikit terhuyung dan sudah mundur beberapa langkah hingga tertahan oleh pintu.
"P-penyakit menular? pasti itu bohong kan?"
Hahahah
Kael kembali tertawa, ia mengamati wajah Iras. Lalu seringai itu kembali terbit.
"Lihatlah, kamu ketakutan. Itu berarti cintamu sama sekali nggak tulus. Cintamu hanya ada di lapisan luar saja tak sampai ke dalam hati. Pergilah Iras, carilah pria yang sesuai, dan itu bukan aku. Ah ya, asal kamu tahu ya, aku udah punya istri dan anak. Itu lah kenapa selama ini aku sama sekali nggak pernah memerhatikan mu. Pergilah."
Seperti disambar petir, tubuh Iras membeku. Istri dan anak Kael, sungguh itu baru didengar olehnya.
Itu jelas tidak mungkin. Semua orang tahu bahwa Kael adalah seorang single, jadi tidak mungkin dia sudah punya anak. Kalau punya istri saja mungkin masih bisa diterima, tapi sudah punya anak, itu adalah hal yang berbeda.
"Bohong, ini pasti bohong kan!"
Iras menggelengkan kepalanya. Dia berjalan mendekat ke arah Kael untuk melihat sorot mata pria itu.
Tapi ketika Iras melihat dan memerhatikan dengan seksama, tak ada kebohongan pada mata Kael. Mata Kael seolah berbicara sebuah kebenaran yang tak terbantahkan.
"Nggak Kak, jangan beginikan aku," ucap Iras dengan nada memelas. Matanya mulai berkaca-kaca dan tanpa sadar air mata itu tumpah.
"Pergilah, kamu pasti bisa mendapatkan jodoh yang lebih baik dari pada aku. Aku sungguh sudah punya anak dan istri. Aku sangat mencintai mereka. Aku sungguh sangat menyayangi mereka, sehingga tak ada lagi tempat buat wanita lain. Sebagai wanita, kamu pasti ingin pasangan mu setia kan? Nah aku pun demikian, aku ingin setia terhadap istri dan anakku."
Kata-kata Kael kali ini tidak menusuk, dia berkata lembut dan tenang. Bahkan Rowan saja merasa sedikit aneh terhadap nada bicara Kael.
Tapi siapa sangka Iras akan pergi begitu saja tanpa bicara apa-apa lagi. Iras juga menutup pintu ruangan itu dengan perlahan.
"Sebagai wanita, pasti ingin pasangannya setia."
Kata-kata Kael yang itu sangat membekas di relung hati Iras. Dia wanita, dan dia juga ingin dicintai serta pasangannya setia. Dia ingn dicinta oleh pasangannya nanti hingga selamanya.
"Apa aku harus mundur? Apa aku harus melepaskan Kael. Istri dan anak, apa itu bener? Tapi matanya sama sekali nggak bohong. Mata itu menunjukkan kesungguhan. Dan saat dia berkata istri dan anak, matanya berubah penuh dengan cinta."
Iras belum pernah melihat Kael memberikan tatapan itu sebelumnya. Dan meski belum melihat sosok wanita yang dikatakan Kael, Iras yakin bahwa wanita itu sudah memiliki hati Kael sepenuhnya.
"Mau sekuat apapun aku berusaha, sama sekali nggak ada celah lagi buat ku. Haaah, sudahlah Ras, nggak perlu maksain hal yang memang nggak bisa kamu raih."
Iras menghela nafasnya panjang. Ia lalu masuk ke mobil dan melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah. Hari ini akan jadi hari terakhir dia mengintai Kael sekaligus hari terakhir mengharapkan cinta pria itu.
TBC
n faham
semangat n sehat sehat author🩷🩷
teman nya si kael gk d kasih pelajaran,,karna dia mereka jd sengsara