"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAHAYA DI BALIK BADAI
Fajar di langit Jakarta menyingsing dengan warna jingga keemasan yang menembus sisa-sisa awan mendung.
Pukul lima pagi, setelah menunaikan sholat Subuh berjamaah di kamar, Zaid tampak sibuk memeriksa kembali setelan jas hitamnya di depan cermin.
Hari ini adalah hari keberangkatan mereka ke Polda Metro Jaya untuk menyerahkan file dari Mushaf hijau tua itu secara resmi.
Namun, pergerakan Zaid terhenti saat melihat refleks Khadijah di cermin.
Istrinya masih terduduk di atas sajadah, mukena putihnya terurai, namun kedua tangannya mencengkeram tepi karpet dengan sangat erat.
Wajah di balik kain putih itu tampak luar biasa pucat, dengan titik-titik keringat dingin yang membasahi keningnya.
"Khadijah?"
Zaid berbalik cepat, berlutut di samping istrinya dengan raut cemas yang mendadak membuncah.
"Kamu kenapa?
Ada yang sakit?"
Khadijah mencoba mengukir senyum, namun rasa mual yang hebat mendadak meremas perutnya.
Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan, matanya terpejam menahan gejolak hebat dari dalam dadanya.
Tanpa membuang waktu, Zaid membopong tubuh ringan istrinya menuju kamar mandi.
Dengan telaten, Zaid memegangi kening Khadijah yang memijit lehernya pelan saat wanita itu memuntahkan cairan bening ke wastafel.
Rasa cemas di dada Zaid kian menjadi-jadi.
"Kita ke rumah sakit sekarang,"
tegas Zaid, suaranya mengandung panik yang tak bisa disembunyikan.
"Acara ke Polda bisa ditunda satu jam.
Aku tidak akan membiarkanmu lemah begini."
"Mas... tidak apa-apa,"
bisik Khadijah parau sambil menyeka bibirnya dengan tisu yang diserahkan Zaid.
"Hanya... perut saya terasa sangat mual sejak kemarin malam.
Mungkin saya hanya masuk angin karena tegang memikirkan hari ini."
Bukannya menuju Polda, mobil SUV Zaid justru meluncur deras menuju rumah sakit terdekat.
Di sepanjang jalan, tangan kiri Zaid tak pernah melepaskan genggamannya pada jemari Khadijah yang terasa dingin.
Pikirannya bercabang; antara ancaman Handoko yang membayang dan kondisi kesehatan istrinya yang mendadak menurun.
Di ruang pemeriksaan yang serba putih, dokter spesialis penyakit dalam merangkap kandungan seorang wanita paruh baya berwajah ramah bernama dr. Hani—memeriksa kondisi Khadijah dengan cermat.
Zaid berdiri kaku di samping ranjang periksa, melipat tangannya di dada dengan rahang yang menegang kencang.
"Dok, istri saya kena racun?
Atau stres berat karena masalah belakangan ini?"
cecar Zaid, tuduhan impulsif khas mantan ketua gengnya mendadak keluar.
dr. Hani terkekeh pelan, melepaskan stetoskopnya lalu menatap Zaid dan Khadijah bergantian.
"Bapak Zaid, tenang dulu.
Istri Anda tidak keracunan, dan mualnya bukan karena penyakit berbahaya."
Khadijah membetulkan posisi duduknya, menatap dokter dengan pandangan bertanya.
"Lalu kenapa, Dokter?"
dr. Hani mengambil sebuah alat tes dan menunjukkan hasil USG awal yang baru saja diambil.
Di layar monitor kecil, tampak sebuah titik mungil yang dikelilingi kantung rahim.
"Selamat, Pak Zaid, Ibu Khadijah,"
dr. Hani tersenyum hangat.
"Ibu Khadijah sedang mengandung.
Usia kehamilannya baru memasuki minggu kelima.
Gejala mual dan lemas tadi adalah morning sickness yang sangat wajar di trimester pertama."
_Brak!_
Zaid hampir saja menyenggol kursi di sebelahnya.
Pria tegap itu terpaku kaku di tempatnya berdiri.
Katanya tersumbat di tenggorokan, matanya yang biasa memancarkan kilat tajam kini membelalak tak percaya.
"Hamil...?"
bisik Zaid, suaranya bergetar hebat.
Khadijah menutupi mukanya dengan kedua telapak tangan, air mata kebahagiaan seketika luruh membasahi pipinya.
Di tengah ancaman kematian dan pertempuran melawan kejahatan yang sedang mengintai mereka, Allah menitipkan sebuah benih kehidupan di dalam rahimnya.
Sebuah muara cinta dari hubungan mereka yang bermula dari takdir yang tertukar.
Zaid melangkah mendekati ranjang, berlutut di samping Khadijah tanpa peduli kehadiran dokter.
Ia meraih kedua tangan Khadijah, menciumnya bertubi-tubi dengan air mata yang akhirnya lolos mengalir di pipinya sendiri.
"Terima kasih, Khadijah...
Demi Allah, terima kasih..."
bisik Zaid parau, dadanya bergemuruh oleh rasa syukur yang tak terhingga.
Kabar bahagia itu merebak cepat saat mereka kembali ke rumah sebelum berangkat ke Polda.
Umi Syarifah menangis terharu sambil memeluk Khadijah erat-erat, sementara Habib Umar menepuk-nepuk pundak Zaid dengan tatapan mata yang berkaca-kaca penuh kebanggaan.
Namun, bagi Zaid, berita kehamilan ini tidak hanya membawa kebahagiaan, melainkan membakar tekad baru yang jauh lebih dahsyat.
Jika sebelumnya ia bertarung untuk melindungi istrinya, kini ia bertarung untuk melindungi calon buah hatinya.
Di dalam kamar, Zaid berlutut di depan Khadijah yang sedang duduk di tepi ranjang.
Ia meletakkan telapak tangannya yang hangat di atas perut datar istrinya, memejamkan mata sambil merapalkan doa perlindungan.
"Khadijah,"
Zaid mendongak, menatap mata bening istrinya.
"Hari ini, kamu tidak boleh ikut ke Polda."
"Tapi, Mas—"
"Tidak ada bantahan, Istriku,"
potong Zaid dengan nada lembut namun sangat mutlak.
"Di dalam dirimu sekarang ada anak kita.
Kamu dan bayi kita adalah segalanya bagiku.
Biar aku, Haikal, dan tim pengawas yang menyelesaikan Handoko hari ini."
Khadijah menatap kedalaman mata suaminya.
Ia melihat sosok Zaid yang kini bukan lagi bertarung demi melampiaskan amarah, melainkan seorang ayah yang sedang membangun perisai tak tertembus untuk keluarganya.
Khadijah mengangguk pelan, meraih tangan Zaid dari perutnya lalu membawanya ke pipi.
"Janji pada saya, Mas.
Mas akan pulang tanpa luka sedikit pun.
Untuk saya... dan untuk calon anak kita."
"Aku berjanji,"
bisik Zaid, mendaratkan kecupan hangat di kening Khadijah.
Pukul sebelas siang, suasana di Markas Polda Metro Jaya berlangsung cepat.
Zaid, didampingi oleh Haikal dan dua pengacara senior dari rekanan Habib Umar, resmi menyerahkan _flashdisk_ berisi bukti pencucian uang dan keterlibatan Handoko Pratama kepada Tim Penyidik Tindak Pidana Khusus.
Bukti-bukti itu terlalu otentik dan solid untuk disanggah.
Dalam hitungan jam, Surat Perintah Penangkapan resmi diterbitkan oleh pihak kepolisian.
"Zaid,"
ujar Ipda Bagas sambil mengokang senjatanya dan mengikatkan rompi anti-peluru.
"Tim Buser akan langsung merangsek ke kantor pusat Konsorsium di kawasan Sudirman.
Kamu ikut dalam mobil pengawas di belakang."
"Saya ikut masuk ke dalam,"
tegas Zaid, matanya memancarkan ketajaman dingin.
"Saya ingin melihat sendiri saat tangan pria yang membunuh kakak saya dikunci borgol besi."
Tiga mobil taktikal kepolisian melaju cepat membelah jalur protokol Jakarta.
Sirene mengaung keras, menghentikan lalu lintas demi memburu sang serigala berjas rapi.
Gedung pencakar langit milik Handoko Pratama mengepung langit Sudirman.
Puluhan petugas kepolisian berpakaian lengkap merangsek masuk melalui lobi utama, membuat para karyawan dan penjaga keamanan gedung histeris dan kocar-kacir.
Zaid berjalan di samping Ipda Bagas, melangkah lebar menuju lantai teratas ruangan penthouse pribadi Handoko.
_Brak!_
Pintu jati berukir di lantai paling atas didobrak paksa oleh petugas.
Di dalam ruangan yang sangat luas bernuansa mewah itu, Handoko Pratama sedang berdiri di balik meja kerjanya.
Pria tua itu tampak sedang terburu-buru memasukkan tumpukan uang tunai dan paspor ke dalam sebuah koper hitam.
Di sampingnya, dua orang pria berbadan tegap memegang senjata api rakitan.
"Jangan bergerak!
Polisi!"
teriak Ipda Bagas menunjuk senjata ke arah mereka.
Kedua pengawal Handoko mencoba mengangkat senjata, namun dengan kesigapan penuh, tim Buser melepaskan dua tembakan terukur yang menembus lengan kedua pengawal tersebut hingga senjata mereka jatuh bergemerincing di lantai.
Handoko terkejut setengah mati.
Kopernya terjatuh ke lantai.
Wajah klimisnya mendadak pucat pasi saat matanya beradu dengan Zaid yang melangkah maju dari balik barisan polisi.
"Zaid... kamu..."
bisik Handoko dengan suara gemetar, menyadari bahwa seluruh kejayaannya telah runtuh.
Zaid berhenti tepat di depan meja Handoko.
Ia tidak memukul, tidak pula berteriak.
Zaid hanya menatap pria tua itu dengan pandangan hina.
"Eksperimenmu selesai, Handoko,"
suara Zaid terdengar dingin menembus tulang.
"Kertas-kertas milik Bang Farhan hari ini mengirimmu ke jeruji besi.
Dan dari sana, kamu tidak akan pernah bisa melihat matahari lagi."
Dua petugas polisi maju dengan cepat, memiting kedua tangan Handoko ke belakang dan menguncinya dengan borgol besi yang dingin.
"Lepaskan saya!
Kamu tidak tahu dengan siapa kamu berhadapan, Zaid!"
teriak Handoko histeris saat diseret keluar dari ruang kerjanya yang megah.
Zaid menatap koper yang terbuka di lantai, lalu melirik foto almarhum Kakaknya yang tersimpan di dalam ponselnya.
_Selesai, Bang.
Utang keadilanmu sudah aku bayar tuntas,_
batin Zaid penuh keheningan.
Sore hari, matahari Jakarta tenggelam dengan warna kemerahan yang menawan.
Di halaman rumah kediaman Al-Idrus, angin sepoi-sepoi berembus membawa kehangatan.
Zaid yang baru saja tiba dari Polda langsung berlari kecil menuju teras belakang rumah.
Di sana, Khadijah sedang duduk di kursi kayu sambil membaca buku tentang panduan kehamilan.
Mendengar langkah kaki suaminya, Khadijah menoleh.
Wajah cantiknya seketika berbinar begitu melihat Zaid berdiri utuh di depannya tanpa ada segores luka pun.
Khadijah berdiri, namun Zaid dengan cepat melangkah maju dan merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukan yang teramat posesif namun lembut.
Ia menyembunyikan wajahnya di leher Khadijah, menghirup aroma melati yang selalu menjadi candu baginya.
"Handoko sudah ditangkap, Khadijah,"
bisik Zaid di telinga istrinya, nadanya sarat akan kelegaan yang luar biasa.
"Semuanya sudah selesai.
Badai kita benar-benar telah usai."
Khadijah memejamkan mata, meneteskan air mata haru yang membasahi kemeja Zaid.
Ia membalas pelukan suaminya dengan erat, meresapi detik-detik kedamaian yang akhirnya menyelimuti hidup mereka.
"Terima kasih, Mas Zaid..."
bisik Khadijah tulus.
"Terima kasih karena telah menjadi perisai yang gagah untuk saya... dan untuk calon anak kita."
Zaid melepaskan pelukannya sedikit, lalu berlutut di atas rumput halaman belakang.
Ia sejajarkan wajahnya dengan perut Khadijah, menempelkan telinganya di sana sambil mengusap lembut kain gamis istrinya.
"Dengar ya, Anak Ayah..."
ucap Zaid dengan suara bergetar namun penuh cinta.
"Ayahmu ini dulu adalah berandalan paling liar di jalanan.
Tapi Bundamu... Bundamu mengajari Ayah bagaimana caranya bersujud.
Jadi jangan pernah takut pada apa pun di luar sana, karena Ayah akan selalu menjaga kalian berdua sampai nafas terakhir Ayah."
Khadijah tertawa kecil di balik tangis harunya, jemarinya bergerak lembut mengusap rambut tebal Zaid yang masih berlutut di depannya.
Di bawah langit Jakarta yang berganti menjadi malam yang damai, kisah pertarungan, ancaman, dan ketakutan telah berganti menjadi lembaran baru.
Zaid Al-Idrus sang mantan penguasa jalanan kini telah menemukan takdir terindahnya bukan lagi di atas motor sport atau di tengah kegelapan malam, melainkan di dalam pelukan hangat seorang Hafizah dan calon buah hati mereka yang akan segera menyapa dunia.