Kehidupan yang kujalani sudah sangat lah buruk. Menerima bantuan tapi ada hidupku yang dipertaruhkan. Mungkin inilah takdir hidupku, sudah seharusnya berterima kasih, karena pernah diangkat dari tumpukan sampah yang kotor
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sia Masya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8
"Akhirnya datang juga."
"Ihh, bau busuk apa ini?" Bu Lani menutup hidungnya, dengan sombong serta tatapan sinis pada Dian.
"Dian, sebaiknya kamu mandi dulu sana! Baumu sungguh tidak enak. Mengganggu waktu santai saja."
Dian tidak peduli. Dia hanya memperhatikan pak Edo.
"Apa yang ingin disampaikan ke saya tadi? Dimana adik saya? Saya tidak suka terlalu lama berbasa-basi."
Pak Edo melipat surat kabarnya. Pandangan nya kini hanya terfokus pada Dian. Bu Lani kesal karena merasa diabaikan Dian.
"Baiklah dengarkan baik-baik. Saya akan mengatakannya. Tapi semuanya tidak gratis."
"Heh, ternyata ada maunya lagi."
"Memang itu tujuan saya. Untuk apa saya memberikan informasi padamu secara gratis."
"Katakan apa permintaan kalian kali ini."
"Sebenarnya tidak ribet. Kamu hanya perlu melakukannya dengan patuh...."
"Mulai besok kamu akan ikut pak Joshua untuk bekerja menjadi asisten nya. Pak Joshua menelpon kami. Sepertinya pak Joshua ingin lebih dekat denganmu. Jadi kamu harus pergi, tidak boleh menolak! Permintaan kami cuman satu, jangan berbuat ulah!"
Pria itu, dia memberitahu orang rumah. Apa sih maunya. Tapi biar saja, seenggaknya mereka mau memberi informasi mengenai adik.
"Baiklah, aku setuju. Lalu bagaimana kabar mengenai adikku."
Pak Edo memberikan sebuah amplop kecil berwarna coklat pada Dian.
"Ambil ini! Ada di dalam informasi nya."
Dian tersenyum senang. Ia segera mengambil amplop nya dan merobek ujungnya. Dia segera memeriksa isinya. Tapi ekspresi nya berubah kecewa saat tahu isinya.
"Apa ini? Cuman segini?"
Dian membanting isi amplop yang ternyata hanya foto lokasi-lokasi cantik di Eropa. Bahkan tidak ada foto adiknya sama sekali, atau gambar manusia yang menunjukkan itu adiknya. Informasi apa yang ia dapat, setelah harus melajukan mobilnya dengan cepat, dan berlari ke dalam rumah.
"Kalian membohongi ku?"
"Tidak! Buktinya ada fotonya. Foto itu, dari satu negara yang sama. Dan adikmu ada di negara itu."
"Anak ini, sudah dicari tapi tidak tahu terima kasih."
"Saya bukannya tidak tahu berterima kasih. Tapi ini sudah sangat keterlaluan. Setelah semua yang sudah saya lakuin, dan kalian masih memeras saya. Perusahaan yang bahkan akan bangkrut, saya bantu handel. Kejadian-kejadian dulu yang bahkan bisa mengancam nyawa saya puluhan ribu kali, saya terima. Dan hanya untuk memberi tahu, dimana adik saya sesulit itu?"
Tidak tahu ekspresi apa yang harus ditunjukkan Dian saat ini. Mau marah, ketawa, kesal, menangis, ia lupa mengekspresikan nya bagaimana. Ia hanya ingin tahu informasi adiknya, tapi selalu dipersulit.
"Dia ada di Argentina. Kamu tidak perlu menanyakan hal lain lagi. Saya sedikit tidak percaya dengan mu. Setelah kamu tahu, mungkin kamu akan kabur. Tapi ingat ini, janji saya pada kamu, saya akan memberitahukan alamatnya di sana, tapi setelah 1 bulan kamu bekerja di sana. Dan informasi lainnya, akan saya beritahu setelah kamu menikah."
Pak Edo masuk ke ruangannya, diikuti istrinya yang mengekor dari belakang.
Dian berlari ke kamarnya, membanting pintu kamarnya dengan keras. Ia melempar tubuhnya di atas kasur, dan menangis sejadi-jadinya.
"Dek, kakak selalu berharap, kamu mendapat orang tua yang jauh lebih baik dari kakak. Yang selalu menyayangi kamu, seperti anak kandung mereka sendiri. Hiks, hikss, hiks......
Sekarang kamu pasti sudah besar, sudah berusia 18 tahun juga. Apakah kamu mengenal kakak? Tapi itu tidak mungkin. Bahkan foto keluarga untuk membuat mu tahu ada kakak saja, kita tidak mampu. Karena kita orang miskin. Tidak perlu khawatir, meskipun kamu tidak tahu kakak, kakak akan selalu mengingat wajah mu dek. Wajah mungil yang sempat buat kakak bertahan untuk terus hidup, sampai detik ini. Karena hanya kamulah keluarga kandung kakak satu-satunya."
Dian membenamkan wajahnya, kini kesedihan nya menuntun langkahnya ke alam mimpi. Sebagai pelepas lelah, atau kesedihan dan luka batin yang selama ini ia alami. Ia tertidur lelap, tanpa sadar.
Kini mimpi indah, menjadi kekuatan untuk sementara, seenggaknya ia masih bisa tersenyum lewat mimpinya. Karena di dalam mimpinya, ia bisa bertemu dengan orang-orang yang ia rindukan.
. ......
Dian berjalan malas memasuki gedung besar yang akan membuatnya bosan setiap saat itu. Bagaimana tidak, ia akan bertemu dengan pria itu selama satu bulan. Dian berjalan dengan santai disaat semua orang memperhatikan dan mulai membicarakan namanya.
Setiap tempat, selalu saja ada penggosip. Cih
Seorang pria yang dikenal Dian datang menghampiri nya.
"Nona, anda sudah ditunggu."
Dia adalah asisten Joshua yang sempat ia lihat di rumah Joshua kemarin.
Dian mengikuti saat dipandu menuju ruangan Joshua. Mereka harus naik lift. Dan ternyata, ruangan Joshua berada di lantai 32.
Dian merasa kesal, ia harus berdiri lama di lift tersebut. Apalagi pria disebelah nya ini, seperti robot saja. Senyum pun tak bisa. Atau mungkin memulai basa basi. Dari awal melihat wajahnya, Dian sedikit tidak suka.
Tingg....
Akhirnya lift berhenti di tujuan mereka. Dian berjalan lagi mengikuti pria tersebut. Ternyata di lantai 32, ruangan tersebut hanya dikhususkan untuk bos. Dian merasa ngeri jika harus berada di tempat itu sendiri.
Pria tersebut mulai mengetuk pintu, dan terdengar suara yang mengizinkan mereka masuk.
Joshua melihat Dian masuk.
"Kau baru datang. Padahal hari pertama bekerja, tapi sudah terlambat."
"Aku tidak bermaksud. Hanya ada sedikit masalah, jadi agak telat. Anggap saja ini penyesuaian hari pertama."
Emang aku sengaja. Kalau nggak dipaksa lakuin ini sih, aku juga ogah datang kemari. Mending tidur leha-leha di rumah.
"Baiklah. Saya akan kasih keringanan untuk kamu di hari pertama. Arya, kemari!"
Oh ternyata namanya Arya.
Arya keluar, setelah dibisikan sesuatu sama Joshua.
Sekarang tinggal mereka berdua.
"Dian karena kamu asisten saya sekarang, maka kamu harus berada terus dekat saya. Jadi saya sudah mengatur semuanya. Di pojok itu adalah tempat duduk mu."
Dian melihat ke arah pojok, masih di ruangan yang sama, dan ia harus berada dekat dengan Joshua.
"Kenapa tidak taruh di ruangan lain saja pak? Atau kalau tidak di depan kan?"
"Jika di ruangan lain, saya tidak akan lihat, apakah kamu benar-benar kerja, atau mungkin malas-malasan. Dan saya butuh kamu, entah kapan. Tapi saya tidak suka harus berteriak dari dalam."
"Anda tidak mengerti zaman ya. Sekarang kan mudah, sudah ada elektronik lengkap. Anda bisa memanggil saya lewat alat panggilan atau apapun, bisa. Atau mungkin pasang CCTV untuk memantau saya."
"Masalahnya kamu cuman sebulan kerjanya, kalau kamu mau lebih lama, saya bisa pastikan. Tapi kalau kamu merasa terganggu, saya akan menyuruh orang menyiapkan di depan."
"Baiklah pak, saya berharap bisa secepatnya."
"Sekarang apa yang mesti saya lakukan?"
"Tunggu saja di tempat mu. Akan saya beritahu."