NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Kesayangan Dan CEO Idiot

Ibu Tiri Kesayangan Dan CEO Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Ibu Tiri / Orang Disabilitas
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.

Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.

“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.

“Apa maksudmu butuh aku?”

Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“

Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.

Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 8.

Hujan masih turun deras di luar mansion. Butiran air menghantam kaca jendela tanpa henti, sementara sesekali kilatan petir menyala di langit yang gelap meski hari masih sore.

Dewangga masih berdiri dekat Liora, tangannya belum sepenuhnya melepaskan tubuh perempuan itu. Seakan-akan kalau ia melepaskannya, petir akan datang lebih dekat.

"Dewangga sudah tenang?" tanya Liora.

Pria itu mengangguk pelan. "Sedikit."

"Sedikit itu berapa persen?"

Dewangga berpikir cukup lama. "Lima puluh."

Liora hampir tertawa.

"Kamu tahu apa persen?"

"Tahu."

"Kei yang ngajarin?"

"Iya..."

Keivan yang berdiri tak jauh dari sana hanya menatap keduanya tanpa ekspresi, Liora mulai curiga setengah isi otak Dewangga sekarang memang diisi oleh hasil didikan Keivan.

Petir kembali menggelegar.

Grrraaaarr!

Dewangga refleks kembali merapatkan tubuhnya ke tubuh perempuan itu, Liora hanya mengusap wajahnya dengan pasrah.

"Aku nggak suka suara itu, aku takut." Dewangga kembali merengek kecil.

"Iya, aku tahu."

Dewangga terlihat sedikit malu setelah mengaku takut. Padahal tubuhnya tinggi besar, jauh lebih tinggi daripada Liora. Namun ekspresinya benar-benar seperti bocah lima tahun yang ketahuan takut gelap.

"Papa." Keivan akhirnya berjalan mendekat.

"Kei..."

"Petir nggak bisa masuk ke dalam rumah."

"Oh."

"Rumah ini... punya penangkal petir."

"Oh." Dewangga mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Jadi aman."

"Tapi kenapa suaranya masih ada?"

Keivan menghela nafas panjang. "Percuma menjelaskan."

"Memang." Timpal Liora dengan wajah geli.

Setelah hujan mulai mereda, suasana mansion kembali tenang. Keivan harus kembali mengurus pekerjaannya dari ruang kerja pribadi. Meski usianya baru enam tahun, kenyataannya sebagian besar keputusan perusahaan saat ini memang melewati tangannya. Hal yang menurut Liora sangat tidak normal, terlalu diluar nalar.

Saat Keivan pergi, Dewangga kembali menarik ujung baju perempuan itu.

"Liora."

"Apa?"

"Main."

"Kamu nggak capek?"

"Nggak."

"Katanya tadi mengantuk."

"Udah selesai tidurnya."

"Main apa?"

Mata Dewangga langsung berbinar. "Mau lihat kamar."

"Tadi aku sudah lihat."

"Tapi belum lihat semua."

Liora mulai curiga, kamar sebesar itu memang belum sempat ia lihat seluruhnya. Pada akhirnya ia mengalah. "Ya sudah, ayo."

Dewangga langsung tersenyum lebar, dan tanpa aba-aba pria itu menggenggam tangannya dengan erat.

Liora membelalak. "Heh!"

"Kenapa?" Dewangga menoleh bingung.

“Jangan pegang tanganku sembarangan. Tadi aku membiarkanmu memelukku, karena situasinya memang darurat.”

Dewangga tampak berpikir, lalu melepaskannya. Namun beberapa saat kemudian, dia kembali memegang ujung baju Liora.

"Nah, kalau ini boleh."

Liora langsung tidak punya energi untuk berdebat lagi. "Oke..."

Mereka mulai berkeliling di kamar Dewangga, kali ini Liora benar-benar memperhatikan ruangan itu dengan lebih detail.

Selain ada rak-rak penuh mainan, bahkan ada satu sudut khusus berisi mesin capit mini.

Langkah Liora berhenti. "Kamu punya mesin capit?"

"Iya."

"Kenapa?"

"Biar bisa dapat boneka banyak."

Liora menatap mesin capit itu, dia menatap ratusan boneka yang sudah memenuhi rak.

"Kan bonekanya sudah banyak, terus kenapa masih mau nyapit?"

"Aku bahagia..." Dewangga tersenyum kecil.

Liora mengangguk pelan, alasan yang masuk akal.

Dewangga kemudian berjalan ke sebuah lemari kaca besar, dengan penuh semangat ia membukanya. "Lihat ini!"

Di dalamnya terdapat puluhan benda kecil. Mobil-mobilan mini, jam tangan mainan. Gantungan kunci, medali plastik. Dan berbagai barang yang terlihat tidak terlalu mahal, tapi semuanya tersusun sangat rapi.

"Apa ini?"

"Kotak harta karun."

Liora mengangkat alis. "Harta karun?"

"Iya."

"Ini bukan mainan... ini hadiah dari Kei."

Pria itu mengambil sebuah gantungan kunci berbentuk beruang. "Ini... waktu Dewangga berani pergi ke dokter."

"Ini waktu Dewangga nggak nangis pas disuntik." Lanjutnya sambil mengambil medali plastik.

"Ini waktu Dewangga berhasil makan sayur." Dewangga memperlihatkan mobil kecil.

Perlahan Liora mulai memahami sesuatu, Keivan tidak memperlakukan ayahnya seperti pasien disabilitas intelektual. Keivan memperlakukan ayahnya seperti anak yang sedang tumbuh. Setiap ada kemajuan kecil Dewangga akan selalu diberi hadiah, dan pria itu menyimpan semuanya.

"Tidak ada yang boleh ambil harta karun.“ Dewangga menyimpan semuanya kembali dan menutup lemari kaca dengan hati-hati.

Liora tersenyum tipis, dadanya dipenuhi rasa haru.

Menjelang sore, hujan benar-benar berhenti. Cahaya matahari kembali muncul dari balik awan. Liora memutuskan turun ke taman belakang untuk mencari udara segar, sudah hampir seharian ia berada di dalam mansion. Tentu saja Dewangga ikut, dan seperti biasa sambil memegang ujung baju Liora.

"Lepas sebentar nggak bisa?"

"Nggak."

"Kenapa?"

"Nanti hilang."

Liora pun kembali menyerah.

Taman belakang mansion ternyata sangat luas. Ada kolam ikan, gazebo. Area bermain, dan juga kebun bunga yang tertata rapi.

"Lumayan juga."

"Liora suka?"

"Iya."

Dewangga tersenyum senang, seolah taman itu dia yang menanamnya sendiri. Padahal kemungkinan besar dia bahkan tidak pernah ikut mendesainnya. Saat mereka berjalan melewati kolam ikan, Dewangga tiba-tiba berhenti.

"Lihat."

"Apa?"

"Ikan!"

Liora menatap kolam. "Ya, itu memang ikan."

"Ikan besar."

"Iya."

"Ikannya lapar."

"Kamu tahu dari mana?"

Dewangga menunjuk, puluhan ikan koi langsung berkumpul di satu titik saat melihat manusia mendekat.

Liora tertawa. "Oke, kali ini kamu benar."

Tak jauh dari sana terdapat kotak makanan ikan, Dewangga langsung mengambilnya. "Boleh kasih makan?"

"Boleh."

Pria itu langsung terlihat sangat bahagia, Ia menaburkan makanan sedikit demi sedikit. Ikan-ikan langsung berebut, Dewangga tertawa keras. Benar-benar tertawa hanya karena melihat ikan makan, hal sederhana yang membuat Liora ikut tersenyum. Mungkin karena tidak ada kepalsuan sedikit pun di wajah pria itu, semuanya begitu murni.

Namun suasana damai itu tidak berlangsung lama, seorang pengawal tiba-tiba berlari mendekat.

"Tuan Dewangga, Tuan Besar baru saja tiba di mansion."

Senyum Dewangga perlahan memudar.

Liora langsung menangkap perubahan itu. "Ada apa?"

Dewangga tidak menjawab, ia justru bergerak mendekat dan bersembunyi di belakang Liora seperti anak kecil.

Pengawal itu kembali berkata, "Tuan Besar sedang menuju ke sini."

Liora mengernyit, reaksi Dewangga terlihat tidak biasa. Beberapa menit berlalu, dan dari kejauhan terdengar langkah beberapa orang mendekat melalui jalur batu yang menghubungkan bangunan utama dengan taman belakang.

Tak lama kemudian, seorang pria tua berusia sekitar tujuh puluh tahun muncul bersama beberapa pengawal dan asistennya. Tubuhnya masih tegap. Rambutnya yang telah memutih tersisir rapi, sementara tatapannya tajam dan penuh wibawa.

Aura kekuasaan terpancar kuat dari diri pria tua itu, Liora langsung bisa menebak siapa orang itu. Kakek Keivan, sekaligus ayah Dewangga. Tuan besar berjalan mendekat dengan langkah mantap. Begitu tiba, pandangannya langsung tertuju pada Dewangga yang masih berdiri di belakang Liora.

"Kamu masih bermain seperti anak kecil."

Suasana mendadak berubah dingin, Dewangga menunduk dan tidak menjawab. Liora mengernyit, ini pertama kalinya ia melihat Dewangga terlihat takut pada seseorang.

"Memalukan!" Pria tua itu kembali bicara.

Satu kata, tapi cukup membuat wajah Dewangga semakin pucat. Tangan pria itu tanpa sadar kembali memegang ujung baju Liora lebih erat.

Liora langsung tidak menyukai Tuan besar, mungkin karena selama seharian ini ia sudah melihat sendiri bagaimana kondisi Dewangga sebenarnya. Dewangga tidak berpura-pura, pria itu memang sakit. Dan seseorang baru saja menyebutnya memalukan.

"Tuan."

Semua orang langsung menoleh pada Liora, bahkan Codet terlihat terkejut.

Liora tersenyum tipis, tetapi tatapannya tampak tajam. “Tidak seharusnya Anda mengatakan hal seperti itu... kepada anak Anda yang sedang berjuang dengan kondisinya.”

Mata pria tua itu langsung menyipit. "Siapa kamu?"

"Liora."

"Kamu wanita yang dipilih Keivan?"

"Kalau diculik lalu dibawa ke sini termasuk dipilih, berarti iya."

Codet langsung menundukkan kepala, berusaha menahan batuknya. Ini pertama kalinya ia melihat seseorang berani berbicara setegas itu di hadapan Tuan Besar.

Sementara itu, pria tua tersebut menatap Liora lekat-lekat, seolah sedang menilai perempuan pemberani itu. Beberapa detik kemudian, sudut bibirnya terangkat. Tiba-tiba ia tertawa kecil, tampak benar-benar terhibur oleh keberanian perempuan itu.

"Mulutmu berani."

"Terima kasih."

"Itu bukan pujian."

"Kalau begitu, saya kembalikan pujiannya..."

Keheningan beberapa detik langsung berubah aneh, Dewangga yang tadi murung bahkan mulai berkedip-kedip.

"Tak heran Keivan memilihmu." Pria tua itu menggeleng pelan. "Besok malam... ada jamuan makan malam keluarga besar, kamu harus ikut."

"Aku?" Liora menunjuk dirinya sendiri.

"Ya."

"Lho?"

Namun, Tuan besar sudah berbalik pergi menuju ke dalam mansion tanpa memberi penjelasan tambahan. Meninggalkan kebingungan di wajah Liora.

"Liora hebat! Yey!" Dewangga berteriak senang.

"Kenapa?"

"Tadi bela Dewangga." Senyum pria dewasa itu begitu tulus hingga membuat Liora kehilangan kata-kata.

Dan Liora kembali menyadari sesuatu. Mungkin selama ini banyak orang, termasuk Tuan Besar, yang berbicara buruk tentang Dewangga tepat di depan wajah pria itu. Mungkin banyak yang menganggap pria itu beban, atau sekadar sosok yang pantas dikasihani.

Namun di balik kondisinya, Dewangga tetap mampu membedakan siapa yang tulus dan siapa yang tidak. Pria itu mengingat setiap kebaikan yang diterimanya, sekecil apa pun itu. Sebab dunia yang dimiliki Dewangga sekarang sangat kecil, hanya berisi orang-orang yang benar-benar dia percaya. Dan tanpa disadari, Liora perlahan mulai menjadi bagian dari dunia pria itu.

1
tinie
ooh rombongan pria berkaca mata
pasti bekerja sama dgn ibu tirinya Liora
untk menekan hati dan mental Liora yang paling salam adalah ibunya🤔🤔🤔
tinie
uuh kapan mulai perang ini
antara siapa yang melakukan kecelakaan
dan bagaimana sikap Liora jika tau dewangga sudah sadar sepenuhnya
tinie
keivan anak cerdas
tau jika ada perubahan dari ayahnya
tinie
ayook Liora kamu pasti bisaa
tinie
ooh jadi teriakan itu yang membuat kepalamu sakit
karna mengingat semuanyaa
tinie
jangan jangan saat dirumah sakit
sengaja akan dibunuh kembali
atau ada obat yang tukar🤔🤔
tinie
ahahhkeluarga gila
dihadapan tetua 🏃
tinie
dua kali di cium bocah tua🤣🤣
tinie
semoga dewangga bisa sembuh
Muft Smoker
waah ad udang di balik bakwan niih ,, 😒😒😒😒 ,,
kalo emnk si ibu tiri terlibat baik dg liora maupun dewangga ,, berarti masalah ny gx semudah yg di bayang kn ,,
Muft Smoker
loooo Blum sadar juga kah🤭🤭🤭😂😂😂😂😂😂
Muft Smoker
pov keeivan : tuk sementara dy bukan papa saya yx kak author ,,
malu ny sampe ke ubun2 ,, 😒😒😒😒😒😒😒
Muft Smoker
saya juga penasaran ,, ayoo laa duduk Manis ,, jgn lupa kopi sama popcorn ny ,, 🤭🤭🤭😂😂😂😂
tinie
dia terjebak karna kecelakaan
semoga kamu akan kembali pulih seperti sedia kala
Lovita BM
brati usia Liora masih 🤔😁 berapa kak, lupa usia dewangganya ???
Lovita BM: 23th 😁
total 2 replies
Rita
wah bikin penasaran dan makin tegang
Rita
curhat dan nyindir lgsg depan orang2nya🤣
Rita
😂😂😂😂😂lah mang bener
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣yg besar kyk anak kecil yg anak kecil dah mikir terlalu dewasa
Rita
dasar👍👍👍😂😂😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!