Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.
Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.
Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.
Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.
Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.
Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.
Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.
Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#7
Mansion mewah keluarga Luther-Stone yang terletak di kawasan elite pinggiran kota Chicago berdiri dengan megah bak istana modern.
Dinding-dinding batu alam berpadu dengan kaca patri setinggi langit-langit mencerminkan kekayaan tak berseri dari dinasti keluarga yang menguasai sektor kesehatan dan bisnis multinasional tersebut.
Namun sore itu, keheningan di dalam ruang keluarga utama hancur berantakan oleh gema suara yang bernada tinggi dan sarat akan otoritas mutlak.
Aiden Luther Stone berdiri tegak di tengah ruangan dengan kepala yang sedikit ditundukkan.
Di hadapannya, sang Mommy, Nora Amelie Luther-Stone sedang berjalan bolak-balik dengan gaun formalnya yang anggun namun memancarkan aura kemarahan yang luar biasa.
"Aiden! Delapan belas tahun Mommy membesarkanmu, dan ini cara caramu menghargai hadiah ulang tahun dari orang tuamu?!" bentak Nora, suaranya meninggi, memecah kesunyian rumah.
Nafasnya memburu, matanya yang tajam menatap lurus ke arah putra tunggalnya.
"Mobil sport edisi terbatas itu... mobil yang Mommy cari setengah mati ke Eropa demi ulang tahunmu yang kedelapan belas, dan kau bilang kau sudah menjualnya secara sepihak?! Hanya karena kau bosan?!"
Aiden menelan ludah dengan berat.
Di dalam benaknya yang berkabut oleh rasa bersalah, dia tahu dia sedang berbohong demi kebaikan yang lebih besar.
Dia tidak mungkin mengatakan fakta yang sebenarnya terjadi di High School Chicago beberapa jam lalu.
Dia tidak mungkin bercerita bahwa segerombolan anak-anak kaya dari Akademi Barat telah datang ke sekolahnya untuk menyita mobil tersebut karena dia dianggap kalah taruhan semalam.
Taruhan konyol yang dipicu oleh jebakan obat perangsang yang hampir menghancurkan hidupnya jika saja dia tidak bertemu dengan 'Anne'.
Demi membuat sang Mommy tenang dan tidak menyelidiki lebih jauh soal kegilaan pesta malam itu—yang bisa berujung pada terbongkarnya skandal obat terlarang dan malam panasnya bersama seorang wanita asing—Aiden terpaksa menyusun skenario palsu.
Dia berdalih kepada ibunya bahwa dia merasa bosan dengan performa mobil tersebut, telah menjualnya ke seorang kolektor muda, dan berencana meminta sang Ayah untuk membelikan unit baru yang memiliki spesifikasi lebih tinggi.
"Aku hanya merasa mobil itu sudah tidak cocok dengan seleraku lagi, Mom. Aku ingin menggantinya dengan yang baru. Uang hasil penjualannya sudah masuk ke rekening mandiriku," dalih Aiden, suaranya diatur sedatar dan setenang mungkin, mencoba mempertahankan topeng kepercayaan dirinya di hadapan sang ibu yang terkenal jeli.
Nora mendengus keras, menghentikan langkah kakinya tepat dua jengkal di depan Aiden.
"Seleramu?! Sejak kapan seorang anak high school bisa menentukan selera berdasarkan kebosanan instan, Aiden? Kau tahu seberapa besar usaha Daddy-mu untuk mendapatkan lisensi mobil itu di Chicago? Kau benar-benar keterlaluan!"
Di sudut ruangan yang lain, duduk seorang pria dengan aura yang sangat tenang namun mengintimidasi.
Martin Luther, sang Daddy, sedang duduk bersandar di kursi lengan kulitnya sambil memegang secangkir kopi hangat.
Pria itu sejak tadi hanya menyimak perdebatan antara istri dan anaknya tanpa memotong satu kata pun.
Matanya yang tajam, yang telah melewati ratusan badai di dunia bisnis, menatap Aiden dengan pandangan yang sulit dibaca.
Martin tahu persis watak putranya; Aiden bukanlah tipe anak yang akan membuang barang berharga hanya karena bosan.
Ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh remaja itu, dan Martin bisa merasakannya.
Martin meletakkan cangkir kopinya di atas meja kaca dengan gerakan yang sangat lambat, menciptakan ketukan halus yang mendadak membungkam omelan Nora.
Pria itu menegakkan punggungnya, menatap Aiden lurus-lurus.
"Sebaiknya kamu fokus bisnis saja sekarang, Aiden. Tinggalkan hobi balapmu itu," ucap sang Daddy dengan nada suara yang sangat rendah, dalam, namun mengandung perintah mutlak yang tidak menerima bantahan dalam bentuk apa pun.
Deg.
Jantung Aiden seolah berhenti berdetak selama satu detik penuh.
Tubuhnya yang tegap mendadak kaku, mematung di tempatnya berdiri.
"Dad..." ucap Aiden, suaranya tercekat di tenggorokan.
Matanya melebar menatap sang ayah dengan pandangan tidak percaya.
Hobi balap mobil adalah setengah dari jiwanya selama masa remaja.
Melalui kecepatan di atas lintasan balap, Aiden selalu menemukan cara untuk melepaskan penat dari tekanan nama besar keluarga Luther-Stone.
Menghentikan hobi itu sama saja dengan merenggut kebebasannya yang paling berharga.
Namun, Aiden juga sadar, keputusan besar yang ia ambil tadi pagi untuk menikahi "Anne" setelah kelulusan memang menuntutnya untuk segera terjun ke dunia nyata, menjadi pria dewasa yang mandiri secara finansial tanpa terus bergantung pada uang saku orang tuanya.
Kata-kata sang Daddy seolah menjadi lonceng peringatan bahwa masa remajanya telah usai, dipercepat oleh takdir semalam.
Namun, sebelum Aiden sempat menyusun kalimat untuk membela diri atau menegosiasikan posisinya, Nora tiba-tiba melihat ke arah jam tangan Rolex emas yang melingkar di pergelangan tangannya.
Gurat kepanikan profesional langsung menggantikan wajah marahnya tadi.
"Astaga, sudah jam enam lewat lima belas," gumam Nora pelan.
Ia melirik ke arah Aiden dengan sisa-sisa kejengkelan yang masih menggantung.
"Ayo, antar Mommy ke rumah sakit sekarang juga. Sopir pribadi Mommy sedang mengambil cuti hari ini, dan Mommy tidak mau fokus menyetir dalam kondisi emosi seperti ini karena kau."
Sebagai seorang dokter spesialis kandungan senior dan bedah obstetri di Rumah Sakit Stone—pusat medis megah milik keluarga mereka sendiri—Nora selalu menempatkan keselamatan pasien di atas segalanya, termasuk di atas urusan mendidik anak laki-lakinya yang keras kepala.
Aiden menarik napas dalam-dalam, mencoba memanfaatkan celah ini untuk meredakan ketegangan.
"Mom... bisa beritahu Daddy, balapan adalah hobi yang—" Kalimat Aiden menghilang di udara begitu saja ketika ia melihat Nora sudah berbalik memunggunginya, berjalan cepat menuju meja rias di lobi depan untuk mengambil tas kerja dan mantel dokternya.
"Bahas nanti malam dengan Daddy-mu, Aiden. Mommy punya jadwal operasi besar hari ini, dan pasienku sudah menunggu," potong Nora tanpa menoleh lagi, suaranya kembali dipenuhi oleh ketegasan seorang dokter yang tidak bisa diganggu gugat.
Aiden hanya bisa menghela napas pasrah.
Ia melirik ke arah sang Daddy yang kini kembali meraih cangkir kopinya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Tanpa berkata-kata lagi, Aiden meraih kunci mobil cadangan di atas meja lobi, lalu melangkah lebar mengikuti langkah kaki sang Mommy keluar menuju garasi, bersiap membelah jalanan Chicago menuju rumah sakit, sementara otaknya masih berputar keras memikirkan bagaimana caranya menemukan kembali 'Anne' di tengah carut-marut masalah taruhannya yang belum selesai.
... * * *...
Perjalanan menuju Rumah Sakit Stone yang terletak di pusat kota Chicago berlangsung dalam keheningan yang cukup canggung.
Aiden fokus mengemudikan mobil sedan mewah milik ibunya, sementara Nora sibuk memeriksa beberapa berkas riwayat medis pasien di tablet digitalnya.
Meskipun suasana di dalam kabin mobil terasa dingin, pikiran Aiden tidak pernah benar-benar berada di jalanan.
Pikirannya melompat jauh kembali ke koridor penthouse tempat ia menemukan Anne semalam, dan kemudian beralih pada instruksi rahasia yang ia berikan kepada Marcus beberapa jam lalu.
"Apakah Marcus sudah menemukan identitasnya?" batin Aiden gelisah.
Tangannya mencengkeram kemudi lebih erat.
Setiap kali ia mengingat 'Anne', ada rasa hangat yang aneh sekaligus rasa bersalah yang menusuk-nusuk hatinya.
Dia bertekad, begitu Marcus memberikan alamat wanita itu, dia akan langsung mendatangi rumahnya setelah jam sekolah berakhir besok, tidak peduli apakah wanita itu akan menolaknya lagi atau tidak.
...oo0*~*0oo...
Begitu mobil memasuki lobi utama Rumah Sakit Stone yang megah dan berlapis kaca anti-peluru, beberapa petugas keamanan dan perawat langsung membungkuk hormat menyambut kedatangan sang nyonya besar pemilik rumah sakit.
Nora mematikan tabletnya, lalu menatap Aiden yang masih duduk di balik kemudi dengan pandangan mata yang melunak.
Bagaimanapun juga, Aiden adalah putra tunggal yang sangat ia cintai.
"Mommy masuk dulu. Pulanglah langsung ke rumah. Jangan pergi ke bengkel atau lintasan balap terlarang itu lagi, Aiden. Mommy memegang ucapanmu soal mobil itu," ucap Nora, memberikan peringatan terakhir sebelum membuka pintu mobil.
"Iya, Mom. Aku mengerti," jawab Aiden rendah, memberikan senyum tipis yang dipenuhi rasa hormat.
Nora turun dari mobil, melangkah anggun memasuki lobi rumah sakit dengan jubah dokternya yang berkibar ditiup angin pagi.
Aiden menatap punggung ibunya hingga menghilang di balik pintu kaca otomatis, sebelum akhirnya ia memutar kemudi untuk membawa mobil itu menuju area parkir khusus keluarga di lantai atas.
... *oo0~~0oo*...
Sementara itu, di dalam salah satu ruang rawat inap kelas VVIP di lantai tujuh rumah sakit yang sama, suasana justru terasa begitu sunyi dan sarat akan kepedihan.
Suzanne Daendels sedang duduk di kursi kayu di samping ranjang pasien, menggenggam erat tangan seorang pria paruh baya yang terbaring lemah dengan berbagai selang medis yang menempel di tubuhnya.
Pria itu adalah ayahnya, mantan kepala keluarga Klatten yang kini kondisinya kian kritis akibat komplikasi penyakit jantung setelah pukulan berat akibat kebangkrutan total bisnis keluarga mereka beberapa bulan lalu.
Air mata Suzanne menetes perlahan, membasahi punggung tangan ayahnya yang terasa dingin dan kurus.
Kata-kata kejam Willem pagi tadi di penthouse masih terngiang-ngiang dengan sangat jelas di telinganya, laksana sembilu yang terus mengiris harga dirinya tanpa ampun.
"Keluarga Klatten sudah bangkrut, dan kau hanya seonggok daging tidak berguna yang menumpang hidup di atas kemurahan hati nama Daendels... Jangan pernah berlagak sombong di depanku agar biaya pengobatan ayahmu tidak ditanggung lagi oleh keluargaku!"
Suzanne mengepalkan tangan kirinya yang bebas, membuat cincin pernikahan emas putih di jarinya terasa mencekik kulitnya sendiri.
Kemunafikan Willem dan ancaman konstan tentang penghentian dana rumah sakit ayahnya adalah rantai tak terlihat yang selama ini memenjarakannya dalam pernikahan neraka itu.
Namun, kalimat provokasi yang ia ucapkan pada Willem pagi tadi—tentang menghasilkan 500 juta semalam—bukanlah sekadar gertakan kosong untuk membalas dendam ego.
Itu adalah awal dari sebuah keputusan nekat yang mulai terbentuk di dalam benak Suzanne.
Dia harus mencari cara untuk menghasilkan uangnya sendiri.
Dia tidak boleh terus-menerus membiarkan nyawa ayahnya berada di bawah belas kasihan seorang pria bajingan seperti Willem Daendels yang dengan senang hati akan mencabut kehidupan ayahnya jika Suzanne berani membangkang lebih jauh demi Lydia Gonne.
"Ayah... kumohon bertahanlah," bisik Suzanne lirih, suaranya parau karena menahan tangis yang mendalam.
"Aku akan melakukan apa saja... apa saja untuk menyembuhkanmu. Aku tidak akan membiarkan mereka merendahkan kita lagi."
Suzanne menghapus air matanya dengan kasar begitu mendengar suara pintu ruang rawat inap yang terbuka perlahan dari belakang.
Ia mengira itu adalah perawat yang datang untuk memeriksa cairan infus ayahnya.
Namun, begitu ia berbalik, sosok yang melangkah masuk ke dalam ruangan justru membuat jantungnya berdegup kencang karena terkejut.
Dokter Nora Amelie masuk dengan membawa papan rekam medis, diikuti oleh dua orang asisten dokter muda di belakangnya.
Sebagai kepala departemen bedah dan dokter penanggung jawab utama untuk kasus-kasus khusus di lantai VVIP, Nora secara berkala memeriksa kondisi pasien-pasien penting, termasuk ayah Suzanne yang seluruh biayanya ditanggung oleh rekening korporasi Daendels Group.
Suzanne segera berdiri dari kursinya, membungkuk hormat dengan sopan.
"Selamat Sore, Dokter Nora," ucap Suzanne, berusaha keras mengatur nada suaranya agar tidak terdengar seperti habis menangis.
Nora memberikan senyum hangat yang profesional, sebuah senyuman yang selalu berhasil menenangkan hati para keluarga pasien di rumah sakit ini.
"Selamat Sore, Nyonya Daendels. Bagaimana kondisi Tuan Klatten pagi ini? Apakah ada perkembangan dari respons motoriknya sejak semalam?" tanya Nora lembut sambil melangkah mendekati ranjang dan memeriksa monitor tanda-tanda vital.
"Beliau sempat menggerakkan jemarinya sedikit Pagi tadi, Dok. Tapi setelah itu kembali tidak sadarkan diri," lapor Suzanne, matanya menatap cemas ke arah layar monitor yang menampilkan grafik detak jantung ayahnya yang lemah namun stabil.
Vexana mengangguk pelan, mencatat sesuatu di papan medisnya sebelum memberikan isyarat kepada kedua asistennya untuk memeriksa dosis obat pada mesin inkubator.
"Perkembangan kecil tetaplah sebuah perkembangan, Suzanne. Jangan patah semangat. Kami sedang melakukan penyesuaian pada terapi obat jantungnya untuk mengurangi tekanan pada paru-parunya. Kita hanya perlu menunggu hasil dari operasi kecil yang dijadwalkan akhir minggu ini."
"Terima kasih banyak, Dokter. Saya benar-benar menaruh seluruh harapan saya pada Anda," ucap Suzanne dengan ketulusan yang mendalam.
Di matanya, Dokter Nora adalah satu-satunya malaikat penolong yang benar-benar peduli pada kesembuhan ayahnya tanpa memandang status kebangkrutan keluarganya, sangat kontras dengan keluarga Daendels yang menganggap pengobatan ini sebagai beban finansial yang sia-sia.
Nora menatap Suzanne sejenak.
Sebagai seorang wanita dewasa dan seorang ibu, dia bisa melihat gurat kelelahan yang teramat sangat dan beban mental yang luar biasa besar di balik sepasang mata indah milik Suzanne.
Ia juga menyadari bahwa Suzanne mengenakan riasan yang sedikit lebih tebal di sekitar rahang dan lehernya pagi ini, seolah sedang menyembunyikan sesuatu, namun Nora memilih untuk bersikap profesional dan tidak mencampuri urusan pribadi keluarga Pasien.
"Kau juga harus menjaga kesehatanmu sendiri, Suzanne. Jangan sampai kau ikut jatuh sakit sebelum ayahmu sadar," nasihat Nora lembut, menepuk pelan pundak Suzanne sebelum melangkah keluar dari ruangan untuk melanjutkan kunjungan medisnya ke pasien lain.
Suzanne menatap kepergian Dokter Nora dengan perasaan campur aduk.
Dia sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa dokter wanita yang sangat ia hormati dan kagumi karena kebaikan serta kehebatannya itu adalah ibu kandung dari Aiden—bocah SMA yang semalam telah menghancurkan pertahanannya dan merenggut kesuciannya di atas ranjang apartemen mewah yang terletak hanya beberapa pintu dari tempat tinggalnya sendiri.
Takdir seolah sedang merajut sebuah jaring rahasia yang begitu rumit, siap menghubungkan mereka semua dalam sebuah badai hubungan terlarang yang tidak akan pernah bisa diduga oleh siapa pun.
😌
sukaaak thor sama tokoh pria yg begini👍