seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Rara mencairkan suasana dan menawarkan cemilan dan bertanya pada Alden tujuanya. Fino juga mengambil biskuit itu agar Alden ikut menikmatinya. suasana sedikit mencair tpi dalam hati Alden, "ia akan diam-diam mencari tahu siapa pria itu sebenarnya. Ia ingat dengan roy pasti dia tahu. Rara yg merasa situasi sudah bisa di kendalikan tiba-tiba saja atur yang ingin mengambil cemilan dg sengaja dia menjatuhkan korek yg memang selly dia baya dan Alden jg pernah melihat itu
Melihat situasi yang semakin kritis, Rara buru-buru melangkah maju untuk memotong tatapan intens antara Athur dan Alden. Ia menggeser piring cemilan biskuit seadanya ke arah Alden.
"Sudah, jangan bahas itu lagi. Diminum dulu airnya, Alden, Tika," ucap Rara dengan senyum yang dipaksakan, mencoba mengalihkan pembicaraan. "Oh iya, Den, sebenarnya ada tujuan apa kamu sore-sore datang ke sini? Ada tugas kelompok yang ketinggalan ya?"
Fino yang sangat peka langsung mendukung pergerakan kakaknya. Dengan gerakan cepat dan gaya tengilnya yang khas, ia mencomot satu biskuit lalu menyodorkannya tepat di depan wajah Alden. "Nah, benar kata bos Rara! Nih, makan dulu biskuit spek premium kontrakan kita. Jangan tegang-tegang amat, muka lu udah kayak mau nagih utang sewa rumah tahu nggak!" canda Dino sambil terkekeh garing.
Alden menghela napas berat. Demi menghargai Rara, ia akhirnya menerima biskuit itu dan meminum air putih yang disuguhkan. Suasana di ruang tamu yang sempit itu perlahan sedikit mencair, meskipun kecurigaan di dalam dada Alden tidak berkurang sedikit pun.
Dalam hatinya, Alden bersumpah akan mencari tahu sendiri siapa pria bermasker ini secara diam-diam. Ia menolak percaya begitu saja pada bualan Fino soal "Abang sepupu jauh yang sedang batuk". Alden langsung teringat pada Roy, sahabat sekaligus tetangga sebelah kontrakan Rara. “Roy pasti tahu sesuatu. Rumahnya kan nempel sama kontrakan Rara, dia pasti sempat lihat siapa aja yang keluar masuk rumah ini kemarin malam,” batin Alden merencanakan penyelidikan rahasianya.
Rara mulai bisa bernapas lega. Ia merasa badai besar sore ini akhirnya bisa dikendalikan dan dilewati dengan aman. Namun, ketenangan itu hanya bertahan beberapa detik.
Athur, yang sejak tadi berdiri diam mengamati dengan penuh kepuasan, tiba-tiba mengulurkan tangan kekarnya ke arah meja. Ia berpura-pura ingin mengambil salah satu biskuit di dalam piring. Saat tangannya bergerak di atas meja, dengan sengaja dan penuh perhitungan khas seorang mafia, Athur menyenggol korek api gas logam miliknya yang berada di kantong jaket hingga terjatuh.
Klantang!
Korek api logam bermotif ukiran elang perak yang sangat langka dan mewah itu jatuh tepat di atas meja kayu, berputar beberapa kali sebelum berhenti tepat di depan mata Alden.
Deg.
Jantung Alden seketika berhenti berdetak sesaat. Matanya membelalak sempurna menatap benda logam yang berkilat di bawah lampu neon kontrakan yang temaram.
Alden mengenali betul benda itu. Itu bukan korek api sembarangan yang bisa dibeli di warung kelontong gang. Itu adalah korek api kustom milik kakak kandungnya, Athur, yang hilang dari rumah mewah mereka sejak beberapa hari lalu! Alden ingat betul pernah melihat kakaknya menyalakan cerutu menggunakan korek bermotif elang perak yang sama persis dengan benda yang ada di depannya saat ini.
Napas Alden mendadak memburu, matanya beralih perlahan dari korek api itu, naik menatap lurus ke arah sepasang mata tajam di balik topi hitam Athur yang kini sedang menatapnya dengan binar mengejek yang sangat tipis.
Tika dan Nina melangkah keluar dari kamar tepat saat bunyi dentingan logam korek api itu mereda. Suara canda tawa mereka berdua seketika memecah keheningan yang sempat mencekam di ruang tamu.
"Nih, Tik, catatannya. Awas ya kalau sampai lecek atau ketumpahan kuah bakso!" seloroh Nina sengaja mengeraskan suara untuk tetap menjaga alibi pengalihan situasi.
Suara heboh kedua gadis itu refleks mengalihkan pandangan Alden selama beberapa detik. Di saat Alden lengah dan konsentrasinya terpecah, Rara yang berdiri paling dekat dengan meja langsung bergerak cepat. Mengikuti insting alaminya sebagai orang yang rapi, Rara segera memungut korek api logam bermotif elang perak itu dari atas meja.
Rara sama sekali tidak tahu jika benda mewah itu adalah kunci identitas Athur, ia hanya berpikir untuk mengembalikan barang milik suaminya yang terjatuh. "Ini, Kak... eh, Mas, koreknya jatuh," bisik Rara sambil mengulurkan benda itu kembali ke tangan kekar Athur.
Tepat saat jemari Rara menyentuh telapak tangan Athur untuk menyerahkan korek tersebut, ponsel di balik saku jaket Athur bergetar hebat diiringi nada dering pendek khusus. Athur menerima korek itu, namun alih-alih langsung berbalik, ia justru condong ke depan. Di bawah halangan topi hitamnya yang rendah, Athur mendekatkan wajahnya ke arah telinga Rara.
"Terima kasih, Istriku. Pintar sekali menjaga barang milik suamimu," bisik Athur dengan suara berat buatannya yang terdengar sedikit menggoda namun sarat akan ketegasan mutlak, sukses membuat bulu kuduk Rara meremang dan pipinya seketika merona merah padam di balik keremangan ruang tamu.
Sebelum Rara sempat mencerna rasa terkejutnya, Athur sudah menegakkan tubuhnya kembali. Ia berbalik dengan langkah tegap, berjalan santai menuju ke arah dapur belakang yang lebih sepi untuk mengangkat panggilan teleponnya. Athur tahu, panggilan berkode khusus ini pasti datang dari anak buah mafianya yang membawa informasi penting tentang dalang penembakan perutnya.
Di ruang tamu, Alden kembali menatap ke arah meja, namun korek api elang perak itu sudah lenyap dari pandangannya. Rahangnya mengeras rapat, sementara Fino yang menyadari perubahan raut wajah temannya langsung kembali beraksi.
"Woy, Den! Malah bengong melukin biskuit. Jadi diminum nggak nih tehnya? Kalau nggak, gue abisin ya!" celetuk Fino dengan cengiran tengilnya yang tak berkesudahan, mencoba menyapu bersih sisa-sisa kecurigaan yang menggantung di kepala Alden.
Tika, yang memiliki kepekaan tinggi sebagai seorang sahabat, ternyata sempat menangkap interaksi bisik-bisik antara Athur dan Rara. Ia melihat dengan jelas bagaimana perubahan wajah Rara yang seketika merona merah padam setelah pria bertopi itu menjauh.
Di dalam lubuk hatinya, Tika mulai menaruh curiga. “Nggak mungkin cuma abang sepupu. Tatapan dan gerak-gerik mereka terlalu... berbeda,” batin Tika menebak-nebak. Namun, ia buru-buru menahan lidahnya.
Tika memilih untuk tidak bertanya sekarang, karena ia tahu persis watak sahabatnya—jika didesak, Rara pasti akan memberikan jawaban aman yang sama persis dengan karangan Dino tadi. Sebagai sahabat sejati, Tika memilih menunggu sampai Rara sendiri yang siap bercerita tulus kepadanya.
Sementara itu, di sudut dapur belakang yang temaram, Athur menempelkan ponselnya ke telinga. Suara asisten kepercayaannya terdengar di seberang sana dengan nada mendesak.
"Bos, kami sudah menemukan titik persembunyian orang yang menembak Anda. Tim malam ini siap bergerak untuk mengeksekusi pengkhianat itu," lapor sang asisten.
Mendengar hal itu, sepasang mata Athur menyipit tajam. Sebagai seorang bos mafia yang sudah kenyang asam garam dunia bawah tanah, instingnya tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang janggal. Ketenangan laporannya terasa terlalu mudah untuk ukuran musuh yang sanggup menjebaknya hingga terluka parah tempo hari.
"Tunggu, batalkan pergerakan tim," perintah Athur dengan suara rendah yang sangat tegas.
"Ini terlalu rapi. Dalang utamanya sengaja mengorbankan anak buah kecil untuk mengecoh kita. Mereka ingin memancing kita keluar dari persembunyian."
Athur mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dugaannya tepat. Sang dalang penembakan ternyata jauh lebih cerdik. Mereka sengaja menyebar umpan palsu agar Athur dan asisten pribadinya lengah, sementara sosok asli sang pengkhianat masih bebas berkeliaran dan menyusun rencana baru di luar sana. Athur harus tetap bertahan di kontrakan ini sedikit lebih lama demi memulihkan luka di perutnya dan menyusun strategi serangan balik yang mematikan.
Kembali ke ruang tamu, jarum jam dinding tua sudah menunjukkan waktu yang semakin larut. Langit di luar jendela kontrakan tripleks itu pun sudah mulai gelap gulita.