Membeli rumah tua di pinggiran kota dengan harga murah adalah impian yang jadi kenyataan bagi Ferdi dan Selfi. Di rumah inilah mereka berencana menyambut kelahiran anak pertama mereka yang kandungannya sudah menginjak usia sembilan bulan. Bersama Siska, adik ipar Selfi yang seorang mahasiswi, mereka mulai menata kehidupan baru.
Semua terasa sempurna, sampai suatu hari Selfi membersihkan sebuah lemari rias kuno yang ditinggalkan di kamar utama. Di dalam laci tersembunyi, dia menemukan sebuah cincin permata yang sangat indah. Terpikat oleh pesonanya, Selfi mencoba cincin itu. Namun anehnya, setelah terpasang di jari, cincin itu mendadak mencengkeram erat dan tidak bisa dilepas lagi.
Sejak hari itu, suasana rumah berubah drastis.
Pak Cahyo, tetangga sebelah yang misterius, sering menatap rumah mereka dengan cemas dan memberi peringatan aneh bahwa rumah itu menyimpan masa lalu yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 13
Malam jahanam itu terus bergulir tanpa peduli pada darah yang telah tumpah. Jarum jam dinding di ruang tengah yang berlumuran darah terus berdetak, memecah kesunyian yang mencekam setelah Siska ambruk tidak sadarkan diri di anak tangga. Di atas lantai, bayi Doni—atau makhluk yang kini sepenuhnya menguasai tubuh mungil itu—berhenti mengunyah.
Dengan wajah dan sekujur tubuh yang basah kuyup oleh darah merah pekat, makhluk itu mendongak. Dua titik merah menyala di matanya menatap tubuh Siska yang tergeletak pingsan di tangga. Makhluk itu mengeluarkan suara geraman rendah yang puas, lalu perlahan-lahan membalikkan tubuhnya. Dengan kaki-kaki kecilnya yang membengkok patah ke dalam, dia merangkak kembali ke kegelapan kolong ranjang kamar utama, meninggalkan tubuh kaku Mbak Selfi yang sudah hancur tanpa sisa di ruang tengah.
Srek... srek... srek... Suara seretan itu perlahan menghilang, digantikan oleh suara deru mesin sepeda motor dari kejauhan.
Pukul dua dini hari, Ferdi akhirnya sampai di depan rumah. Wajahnya tampak sangat lelah setelah menembus hujan deras dan angin kencang di jalanan kota. Sepanjang jalan, hatinya tidak tenang. Perasaannya terus merongrong, berbisik bahwa ada sesuatu yang buruk sedang terjadi di rumahnya. Apalagi, sejak sore tadi ponselnya sama sekali tidak bisa menghubungi nomor Siska maupun Selfi.
Ferdi mematikan mesin motornya. Suasana gang rumah mereka sangat gelap dan sepi. Rumah Pak Cahyo di sebelah pun tampak mati, tidak ada satu pun lampu yang menyala.
Namun, kegelisahan Ferdi berubah menjadi kepanikan saat dia melihat ke arah teras rumahnya sendiri. Pintu depan rumah mereka terbuka lebar, bergoyang-goyang pelan ditiup angin malam yang dingin.
"Astaga, Selfi... Siska... Kenapa pintunya dibiarkan terbuka jam segini?" gumam Ferdi dengan jantung yang mulai berdebar kencang.
Ferdi bergegas turun dari motornya tanpa melepas helm. Dia berlari kecil menaiki anak tangga teras. Langkah kakinya mendadak berhenti tepat di ambang pintu. Hidungnya langsung dihantam oleh sebuah aroma yang sangat menyengat dan memuakkan. Bau anyir darah segar bercampur bau busuk daging yang terbakar. Bau itu begitu pekat hingga membuat Ferdi harus menutup hidungnya dengan jaket.
"Selfi? Siska? Kalian di dalam?" panggil Ferdi, suaranya bergetar di tengah kegelapan ruang tengah yang hanya diterangi oleh lampu remang-remang dari arah dapur.
Tidak ada jawaban. Rumah itu terasa begitu mati.
Ferdi melangkah masuk. Begitu kakinya menginjak lantai ruang tengah, dia merasakan sesuatu yang basah dan licin di bawah sepatunya. Dia menunduk. Di bawah temaramnya cahaya, lantai semen rumahnya tertutup oleh cairan kental berwarna merah tua yang sangat banyak. Cairan itu mengalir membentuk genangan besar, merembes hingga ke sela-sela karpet tempat biasanya Doni diletakkan.
Ferdi gemetar hebat. Dia meraba dinding, mencari sakelar lampu ruang tengah dengan tangan yang dingin.
Cklek.
Lampu neon di langit-langit menyala, memancarkan cahaya putih yang terang benderang. Dan pada detik itulah, seluruh dunia Ferdi seolah-olah runtuh berkeping-keping.
"Ya Tuhan... Selfi!!!" Jeritan Ferdi pecah, menggema membelah keheningan malam yang pekat.
Di tengah ruangan, di atas kasur lantai yang sudah berubah warna menjadi merah darah, terbujur tubuh kaku istrinya. Kondisi Mbak Selfi sudah tidak berbentuk lagi. Bagian dada daster kuningnya robek tercakar, memperlihatkan rongga dada yang menganga lebar tanpa ada jantung di dalamnya. Daging di sekitarnya habis dikoyak, menyisakan pemandangan mengerikan yang tidak akan pernah bisa dilupakan oleh manusia mana pun yang melihatnya. Kulit seluruh tubuh Selfi berwarna abu-abu pucat, kering, dan kosong dari darah.
Ferdi menjatuhkan dirinya ke lantai, tidak peduli pakaian kerjanya kini basah oleh genangan darah istrinya sendiri. Dia memangku kepala Selfi yang sudah dingin, menangis histeris hingga suaranya serak. "Selfi! Bangun, Sel! Siapa yang melakukan ini sama kamu?! Siapa?!"
Di tengah tangisannya yang gila, mata Ferdi menangkap sosok lain di sudut ruangan. Di atas tangga kayu yang menuju ke lantai dua, Siska tergeletak pingsan dengan posisi tengkurap.
Ferdi meletakkan kembali kepala Selfi dengan hati-hati, lalu merangkak cepat menuju tangga. Dia mengguncang tubuh adiknya dengan panik. "Siska! Siska, bangun! Apa yang terjadi di sini, Sis?! Di mana Doni?!"
Mendengar suara guncangan dan teriakan kakaknya, Siska perlahan-lahan membuka matanya. Rasa pening yang luar biasa langsung menyerang kepalanya. Namun, begitu matanya menangkap wajah Ferdi yang berlumuran air mata, dan pemandangan tragis di ruang tengah, ingatan tentang kejadian sebelum dia pingsan langsung menghantam kesadarannya kembali.
Siska menjerit ketakutan, langsung memeluk leher kakaknya erat-erat sambil menangis histeris. "Mas Ferdi! Mas, Mbak Selfi... Mbak Selfi sudah nggak ada, Mas! Doni... Doni yang melakukannya!"
Ferdi tertegun, dia melepaskan pelukan adiknya dan menatap Siska dengan pandangan tidak percaya. "Kamu bicara apa, Sis?! Jangan gila! Doni itu masih bayi, dia anakku! Di mana anakku sekarang?!"
"Doni bukan bayi biasa, Mas! Dia iblis! Dia memakai cincin itu, dia memakan Mbak Selfi!" jerit Siska putus asa, menunjuk-nunjuk ke arah kamar utama dengan jari yang gemetar.
Ferdi yang sudah kalap dan kehilangan akal sehatnya tidak memedulikan ucapan Siska lagi. Pikirannya hanya tertuju pada anak laki-lakinya yang baru berusia seratus hari. Dengan langkah yang terhuyung-huyung, Ferdi berdiri dan berjalan menuju kamar utama, mengabaikan Siska yang berteriak-teriak melarangnya untuk masuk.
"Doni! Anakku! Kamu di mana, Nak?!" teriak Ferdi sambil mendobrak pintu kamar utama yang tidak terkunci.
Suasana di dalam kamar utama sangat gelap dan sedingin es. Bau anyir di dalam ruangan ini jauh lebih pekat daripada di ruang tengah. Ferdi menyalakan lampu kamar. Ranjang tempat tidur mereka kosong, namun sprei di atasnya tampak berantakan dan dipenuhi bercak tangan berdarah berukuran kecil.
Dari balik kegelapan di bawah kolong ranjang, terdengar sebuah suara halus yang sangat akrab.
Srek... srek... srek...
Ferdi menundukkan tubuhnya, berlutut di lantai semen untuk melihat ke bawah kolong ranjang. Di sudut paling gelap di bawah sana, dia melihat sesosok makhluk kecil sedang duduk telungkup. Tubuhnya dibalut oleh kain selimut bayi yang sudah basah oleh darah merah tua.
"Doni? Ini Ayah, Nak... Ayo keluar," bisik Ferdi dengan suara yang bergetar karena haru dan takut yang bercampur menjadi satu.
Makhluk kecil itu perlahan membalikkan badannya. Sinar lampu kamar menerangi wajahnya dengan jelas. Itu memang wajah Doni, keponakan Siska, anak kandung Ferdi. Wajahnya tampak sangat tampan dan suci. Namun, di sela-sela bibir mungilnya, masih ada sisa-sisa daging merah yang menempel.
Dan ketika makhluk itu membuka kelopak matanya, dua bola mata merah darah yang menyala terang langsung menatap lurus ke dalam bola mata Ferdi.
Doni tersenyum. Sebuah senyuman yang sangat lebar hingga merobek sudut bibir kecilnya sendiri, memperlihatkan deretan gigi tajam berlumuran darah hitam yang kental. Dia mengeluarkan suara geraman rendah yang sangat serak, suara yang tidak akan pernah mungkin keluar dari tenggorokan seorang bayi manusia suci.
Pada detik itu, Ferdi akhirnya menyadari kebenaran dari semua ucapan Siska. Anak yang selama seratus hari ini dia timang, dia cium, dan dia banggakan, ternyata bukanlah seorang manusia. Makhluk yang berada di bawah kolong ranjangnya adalah seekor bayi iblis yang lahir dari kutukan pesugihan cincin kuno yang kelam.