Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.
Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:
"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."
Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?
Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8 - Satu Atap
Sebelum benar-benar mengemas sisa hidupnya di kos Tebet, Nami menyempatkan diri melangkah ke ruang ICU rumah sakit.
Di balik dinding kaca, sosok wanita paruh baya yang biasanya tampil elegan itu kini tampak begitu rapuh. Nyonya Sofia Tanuwijaya—nama yang tertera di papan informasi pasien VIP perlahan membuka matanya saat menyadari kehadiran Nami.
Nami masuk setelah mensterilkan tangan dan mengenakan masker medis baru, lalu mendekat ke sisi tempat tidur. Senyum lemah terukir di wajah Sofia di balik masker oksigennya. Tangan wanita tua itu bergerak perlahan, meraih dan menggenggam jemari Nami dengan sisa kekuatan yang ia miliki.
"Nami... terima kasih, Sayang," bisik Sofia, suaranya teramat lirih namun sarat akan rasa syukur yang mendalam. "Terima kasih karena mau... membahagiakan sisa hidup Ibu bersama Max."
Nami merasakan dadanya berdenyut perih. Sebagai seorang dokter, logikanya tahu persis seberapa kritis kondisi kardiologi Nyonya Sofia saat ini.
Ego Nami runtuh seketika. Keputusan nekatnya menandatangani kontrak ini setidaknya memberikan harapan nyata bagi seorang ibu yang sedang berjuang melawan waktu.
"Ibu fokus saja pada pemulihan, ya. Jangan memikirkan hal lain," ucap Nami lembut, membalas genggaman tangan itu hangat.
Tepat saat itu, pintu ICU bergeser terbuka. Max melangkah masuk dengan setelan jas baru yang tetap rapi, meski gurat lelah tidak bisa sepenuhnya ia sembunyikan.
Pria itu berdiri di sisi lain tempat tidur pasien, menatap ibunya dengan tatapan yang melembut, sangat kontras dengan pembawaan dinginnya sehari-hari.
Max mengusap punggung tangan Sofia, lalu matanya beralih menatap Nami dengan kilat ketegasan yang mutlak. "Ibu tidak perlu cemas. Segala persiapan sudah beres. Pernikahan kami akan dipercepat hari Jumat ini."
Nami sempat tersentak, namun ia memilih diam di depan Sofia yang langsung mengangguk lemah dengan mata berkaca-kaca bahagia. Max benar-benar memangkas waktu tanpa ampun. Jumat ini. Tersisa tiga hari lagi sebelum ia resmi menyandang status sebagai istri seorang CEO.
Tepat jam sembilan pagi berikutnya, asisten pribadi Max benar-benar datang membawa mobil boks ke gang kos Nami. Proses pindahan berjalan sangat kilat karena barang milik Nami memang sangat sedikit, hanya beberapa potong baju, buku-buku kedokteran tebal, dan satu kardus perlengkapan sehari-hari.
Ketika mobil mewah yang menjemputnya berhenti di pelataran parkir penthouse eksklusif di kawasan Jakarta Selatan, Nami sempat menahan napas.
Begitu melangkah masuk ke dalam unit apartemen yang berada di lantai paling atas, Nami mendadak merasa seperti konglomerat dadakan.
Tempat ini luar biasa luas. Lantainya menggunakan marmer Italia hitam yang berkilau, dinding kaca besar memperlihatkan pemandangan gedung pencakar langit Jakarta secara 360 derajat, dan seluruh furniturnya berdesain minimalis modern yang sangat maskulin.
Nami bahkan merasa lantai kos Tebetnya dulu luasnya tidak sampai seperempat dari area ruang tamu apartemen ini.
Sore harinya, Nami baru saja selesai menata beberapa helai pakaian murahnya di dalam walk-in closet kamar utama yang super megah saat mendengar suara pintu depan terbuka.
Max melangkah masuk, melepaskan jam tangan mahalnya lalu meletakkannya di atas meja konter dapur bersih. Melihat kedatangan pria itu, Nami langsung keluar dari kamar dan melipat tangan di dada, bersiap memasang mode perang.
"Max, kita perlu bicara," tegur Nami tanpa basa-basi.
Max menoleh datar, melonggarkan sedikit dasinya. "Tentang?"
"Di mana kamarku?" tanya Nami sinis. "Aku tidak melihat ada tanda-tanda kamar tamu yang disiapkan di sini."
Max dengan santai menunjuk ke arah pintu kamar utama yang baru saja Nami tinggali untuk beres-beres. "Itu kamarmu. Dan itu juga kamarku."
Nami membelalakkan matanya, emosinya langsung tersulut. "Kau gila? Di kontrak tertulis kita cuma tinggal satu atap, bukan satu ranjang!"
Max berjalan mendekat, berhenti tepat dua langkah di depan Nami. Jarak yang terlalu dekat itu membuat Nami bisa menghirup aroma tubuhnya—wangi woody yang mahal dan mengintimidasi. Tinggi badan Max yang menjulang mau tak mau memaksa Nami untuk sedikit mendongak, merasa terkurung oleh aura dominan pria itu.
Tatapannya sedingin es, mengunci total pergerakan Nami dengan logika bisnisnya yang menjengkelkan.
"Pasal satu memang tertulis satu atap, Dokter Namira," ucap Max. Suaranya merendah, sengaja memangkas jarak udara di antara mereka hingga hembusan napasnya yang hangat terasa di kening Nami.
"Tapi Pasal tujuh menuntut kehamilan secepatnya demi menyenangkan Ibu saya. Bagaimana kau bisa hamil jika kita tidak tidur satu ranjang?"
Nami langsung membeku di tempatnya. Jantungnya berdentum begitu keras sampai ia takut Max bisa mendengarnya. Ia melotot syok setengah mati dengan mulut yang sedikit terbuka, sementara jemarinya diam-diam meremas ujung bajunya sendiri. Otaknya mendadak macet total mendengar kalimat yang keluar dari bibir tipis pria perfeksionis itu.
Max tidak memedulikan wajah pias Nami. Sudut bibirnya terangkat tipis, hampir tak kentara, menikmati kepanikan yang berhasil ia ciptakan pada dokter keras kepala di depannya. Ia mengambil kembali jam tangannya, lalu berjalan melewati Nami begitu saja, sengaja menyapukan bahunya ke bahu Nami hingga wanita itu sedikit terhuyung.
"Bersiaplah. Malam ini kita tidur di kamar yang sama," bisik Max tepat di samping telinga Nami sebelum melangkah menuju kamar mandi.