Demi membiayai operasi ayahnya, Natalie nekat menjual keperawanannya pada seorang pria yang tidak ia kenal. Namun pria yang datang ternyata seorang dokter berhati baik yang justru ingin menyelamatkannya dari jalan buntu itu.
Setelah melewati malam yang penuh gairah, Drake malah kecanduan dengan tubuh Natalie, padahal dia tahu kalau wanita itu hanya mengejar uang.
Saat rahasia tergelap mereka terbongkar, mampukah hubungan rapuh dan terlarang ini tetap bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mak Comblang Cilik
Keysa adalah gadis kecil berusia tiga tahun dengan mata yang tajam dan penuh keberanian meski hatinya sering terluka oleh ejekan teman-temannya. Sejak kecil, Keysa hidup tanpa sosok ibu, sebuah kenyataan yang sering menjadi bahan olok-olokan di sekolahnya. Namun, ia tidak pernah membiarkan kata-kata itu melemahkan semangatnya.
Dengan suara tegas dan wajah yang berani, Keysa selalu membela dirinya, "Memang macalah kalau Key nda punya mama? Olang Key macih punya oma kok."
Meski demikian, di balik ketegaran itu, tersimpan kerinduan yang dalam akan sosok seorang ibu. Keysa tumbuh besar di bawah asuhan neneknya yang penuh kasih, sosok yang selalu berusaha mengisi kekosongan hatinya.
Namun, ejekan teman-temannya, terkadang membuatnya sedih. "Macalah, coalnya becok adanya hali ibu bukan hali oma," ucap Nita.
"Gampang lah nanti di ganti cama papa Key, jadi hali oma" jawabnya santai.
Keysa tidak mudah menyerah, ia memilih untuk memperkuat dirinya dengan keberanian dan kebanggaan atas keluarganya yang unik, berharap suatu hari nanti bisa menunjukkan bahwa kasih sayang tidak harus selalu datang dari seorang ibu.
"Mana bica begitu" seru Nita tidak terima.
"Bica lah, celagi punya uang banya mah bica cemua. Citu yang kele diam aja nda ucah ejek-ejek Key" balas Keysa dan memilih pergi meninggalkan teman-temannya yang mengejeknya.
Tak lama waktu belajar pun selesai. Keysa tidak menunggu sopir yang menjemputnya, dia berdiri di pinggir jalan, napasnya masih terengah-usai belajar seharian.
Tanpa menunggu lama, ia mengangkat tangan dengan penuh semangat dan memanggil sopir taksi yang melintas.
"CTOP, Bang! CTOP!" Suaranya lantang, memecah keramaian.
Taksi berwarna kuning itu segera melambat dan berhenti tepat di depannya. Sopir membuka kaca mobil dengan raut wajah sedikit jengkel, matanya yang lelah menatap Keysa.
"Ada apa, dek? Saya lagi kerja, nggak ada waktu buat bercanda," katanya dengan nada agak kasar.
Keysa tersenyum kecil, matanya yang berbinar tetap penuh harap. Ia mengeluarkan uang lima ribuan dari genggam tangannya dan mengacungkannya. "Key nda cedang belcanda, Bang Copil. Key mau ke kantol papa. Pak Copil antal Key mau nda?" ucapnya dengan logat manja, berharap sopir itu mengerti maksudnya.
Sopir itu mengerutkan dahi, matanya menyipit saat melihat uang yang diberikan Keysa.
"Nanti kalau kulang Kay bayal lagi di kantol papa, ya" ucapnya dengan tatapan memohon.
Pak sopir menghela nafas panjang, dia perpikir sejenak hingga mengizinkan anak itu masuk kedalam taksi. "Masuklah. Nanti beritahu aja alamatnya" ucapnya. Dia keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk gadis kecil itu.
Keysa mengangguk, dan masuk kedalam taksi. "Makacih pak copil" ucapnya setelah duduk di bangku penumpang.
Bugh....
Sopir menutup pintu mobil, setelah itu dia memutari mobil dan masuk kedalam. Dia duduk di bangku kemudi. Perlahan taksi mulai melaju meninggalkan sekolah.
"Dimana alamat kantornya?" Tanya sopir.
"Pelucahaan Mahaldika" jawabnya dengan suara cadel.
Sopir mengangguk paham. Hampir semua orang yang tinggal di ibu kota mengetahui perusahaan Mahardika.
Sepanjang perjalanan Keysa menempelkan wajahnya ke kaca mobil. Dia menatap ke arah luar jendela.
"Nanti minta mama balu cama papa. Bial nda di ejek-ejek lagi diliku ini cama meleka" gumamnya lirih.
******
Arya Mahardika, CEO tampan yang kaya raya, dikenal sebagai pria dingin yang nyaris tak tersentuh. Namun, kehadiran Keysa, putri kecilnya, telah mewarnai hidupnya yang selama ini kaku dan sunyi.
Tawa riang yang lepas dari bibir Keysa selalu mampu mengusik keseriusan Arya, membuatnya sekaligus gemas dan terpesona oleh tingkah laku polos sang anak.
Kini Arya duduk tegak di balik meja kerjanya, matanya menusuk layar laptop penuh angka dan tulisan panjang yang mengaburkan pikirannya. Dunia bisnis yang keras baginya adalah medan perang tanpa ampun, namun hatinya sejenak terbelah saat teringat senyum Keysa.
Ceklek....
Tiba-tiba pintu kantor terbuka mendadak, tanpa ketukan, dan Tony, asistennya, masuk dengan langkah tergesa-gesa. "Tuan, ini darurat!" suara Tony bergetar penuh kecemasan.
Arya menoleh, alisnya bertaut erat, tatapannya berubah menjadi tajam menyerupai pedang dingin yang siap memotong kabar buruk. Wajahnya tetap terjaga rapi, tak berubah sedikit pun dari wibawa seorang pria sukses, tapi aura serius dan beban berat terpancar jelas dari segenap tubuhnya.
Meja kerja yang rapi dan teratur jadi saksi bisu perjuangan seorang lelaki yang tengah menghadapi badai kehidupan. Namun, suara nafas Tony yang terburu-buru dan wajahnya yang terlihat cemas membuat suasana mendadak berubah.
Tony melangkah cepat, napasnya tercekat dan tubuhnya gemetar tanpa bisa ia tahan. “Tuan... ini tentang Nona Keysa,” suaranya pecah, berat seperti memanggul beban yang tak terlihat.
Arya seketika duduk tegak, matanya melebar seperti menatap jurang yang menganga. “Apa yang terjadi dengan Keysa?” suaranya terdengar dalam, tertahan tapi penuh ketegangan, getar takutnya hampir menembus dinding.
Tony menghela napas panjang, berjuang menenangkan jiwanya yang gelisah. “Sopirnya... baru saja bilang Nona Keysa sudah tidak ada di sekolahnya”
“Bagaimana bisa?!” suara Arya berubah jadi kepanikan yang menusuk, jantungnya berdetak seperti mendengar tanda bahaya.
“Saya tidak tahu, Tuan...” Tony jawab, suara yang kalah melawan kepedihan di dalam dada.
Arya langsung berdiri, tatapannya membara penuh tekad. “Siapkan mobil. Kita cari dia. Sekarang juga!” Dunia seakan runtuh di depan matanya, waktu berjalan pelan tapi berat di setiap detik yang hilang tanpa Keysa di sisinya.
"Baik tuan" jawab Tony dan pergi meninggalkan ruangan Arya.
Arya meraih jasnya dan menggenggamnya erat, napasnya tercekat saat menyalip Tony yang sudah menjauh dari ruangan.
Dengan langkah tergesa, dia menekan tombol lift yang membawanya turun ke lantai bawah.
Ting.
Pintu lift terbuka perlahan, dan pandangannya langsung terkunci pada sosok Tony yang menunggu di dalam mobil.
Baru saja Arya melangkah keluar, tiba-tiba dentuman klakson taksi menggema, menusuk telinganya bak petir di malam gelap.
Tin
Tin
Tin!
Ia berhenti seketika, mata menyipit tajam, memburu asal suara gaduh itu. “Siapa dia? Berani sekali mengganggu ketenangan perusahaanku!” suaranya penuh kemarahan, getar di setiap katanya tidak bisa disembunyikan.
Di dalam taksi, Keysa memerah muka sambil menekan tombol klakson tanpa henti, wajahnya penuh tekad.
“Itu Papa, cepat campelin dia, pak copil!” suaranya tergesa, seperti memaksa agar dunia berputar sesuai kehendaknya.
Siang itu di perusahaan Mahardika mendadak berubah menjadi panggung drama penuh ketegangan yang siap meledak kapan saja.
Taksi berhenti tepat di depan Arya.
"Cebental jangan pelgi dulu pak copil. Key minta uang dulu cebental ya" ucapnya sebelum akhirnya keluar dari taksi.
"Papa, bayal takcinya. Key belum bayal taksi, macih bayal lima libu doang" ucapnya sambil berkacak pinggang menatap papanya.