NovelToon NovelToon
Ceo'S Plus Size Wife

Ceo'S Plus Size Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kematian istrinya, Darren, seorang CEO kaya raya, hidup dalam kesepian. Bukannya mendapat dukungan, ia justru dimanfaatkan oleh ketiga anaknya yang hanya peduli pada harta warisan. Saat mencari ketenangan di taman, hidupnya berubah ketika bertemu Jihan, gadis baik hati yang baru saja dihina dan ditinggalkan kekasihnya karena penampilannya.
Ketika Darren tiba-tiba terkena serangan jantung, Jihan tanpa ragu menolongnya dan bahkan menghabiskan tabungan terakhirnya untuk biaya rumah sakit. Ketulusan Jihan menyentuh hati Darren hingga ia melamar gadis itu sebagai bentuk rasa terima kasih dan kekaguman.
Akankah Jihan menerima lamaran pria kaya yang jauh lebih tua darinya? Dan mampukah mereka menghadapi amarah anak-anak Darren yang merasa posisi mereka terancam oleh kehadiran calon ibu tiri yang tak pernah mereka bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Suasana ruang makan pagi itu masih terasa dingin saat Andre, Riko, dan Angela duduk di kursi mereka masing-masing dengan wajah yang masih ditekuk masam pasca mandi.

Jihan mengabaikan tatapan sinis mereka dan dengan telaten meletakkan semangkuk bubur ayam yang lembut dan harum di hadapan Darren.

"Ini dimakan dulu, Mas. Masih hangat," ucap Jihan lembut. Darren tersenyum hangat, merasa sangat diperhatikan.

Melihat menu di atas meja, Angela langsung mengernyitkan keningnya dengan ekspresi jijik.

"Bubur? Makanan apa ini, sih? Lembek begitu!" protesnya keras.

"Iya! Kita ini biasanya sarapan omelet atau roti panggang premium! Kenapa menunya jadi makanan orang sakit begini?" timpal Riko tak kalah ketus, melirik mangkuknya dengan enggan.

Jihan menghentikan aktivitasnya sejenak, lalu melirik tajam ke arah ketiga anak tirinya secara bergantian.

Aura keibuannya yang tegas langsung membuat ruangan itu mendadak hening.

"Bersyukur kalian masih bisa makan enak di dalam rumah semegah ini," sahut Jihan, suaranya tenang namun menusuk.

"Buka mata kalian, lihat orang-orang di luar sana yang bahkan harus bertaruh nyawa hanya untuk mendapatkan sesuap nasi hari ini. Sekarang cepat makan, jangan banyak protes!"

Plak! Plak! Plak!

Jihan meletakkan tiga kotak bekal berwarna-warni di hadapan mereka dengan ketukan tegas. "Dan ini bekal siang untuk kalian. Semuanya harus dihabiskan, tidak boleh ada yang bersisa."

Andre tidak memedulikan kotak bekal itu. Pandangannya langsung beralih menusuk ke arah Darren yang sedang menikmati buburnya dengan tenang.

"Pa! Sudahlah, lekas berikan warisan milik almarhumah Mama kepada kami! Papa jangan egois dan menyembunyikannya terus!" desak Andre dengan nada menuntut.

Mendengar suaminya dituduh egois oleh anak kandungnya sendiri, Jihan menarik napas panjang untuk meredam emosinya.

Sebelum Darren sempat berbicara, Jihan sudah lebih dulu menyela dengan ketegasan mutlak.

"Tidak akan ada warisan dari mama kalian yang dicairkan," putus Jihan tegas, membuat ketiga anak itu melotot syok.

"Tidak akan pernah ada sepeser pun yang turun sampai kalian bertiga bisa belajar cara menghargai orang tua dan bersyukur atas hidup kalian!"

Sebelum mereka sempat mengamuk, Jihan merogoh kantong apronnya dan mengeluarkan dua buah kunci kendaraan yang sudah terlihat agak usang, lalu melemparkannya ke atas meja tepat di depan Andre dan Riko.

Klenting!

"Ini kunci motor kalian. Mulai hari ini, mobil kalian disita Papa. Kalian berangkat kerja pakai motor itu," ucap Jihan tanpa beban.

"APA?! MOTOR?!" teriak Riko dan Andre kompak, menatap kunci itu seolah-olah melihat bom waktu.

Sebagai anak konglomerat, mengendarai motor ke tempat kerja adalah sebuah penghinaan besar bagi harga diri mereka.

Jihan tidak memedulikan wajah pias kedua anak laki-laki itu.

Ia beralih menatap Angela yang sedang membeku di kursinya.

"Angela, lekas habiskan sarapanmu. Setelah itu, Mama yang akan mengantarmu langsung ke depan gerbang kampus."

Angela menelan salivanya dengan susah payah, menyadari bahwa hari ini akan menjadi hari paling menjatuhkan harga diri dalam sejarah hidupnya sebagai mahasiswa sosialita.

Mendengar keputusan Jihan yang menahan warisan mereka, Andre langsung menatap ayahnya dengan pandangan menuntut.

"Pa! Jangan diam saja! Bela kami, Pa! Papa tega melihat kami dihancurkan seperti ini oleh perempuan ini?!"

Darren meletakkan sendok buburnya dengan tenang.

Ia menyeka bibirnya dengan tisu, lalu menatap ketiga anaknya dengan sorot mata yang dingin tanpa ekspresi.

"Turuti apa kata mama kalian," jawab Darren pendek, suaranya sarat akan otoritas mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.

Mendengar jawaban sang ayah, runtuh sudah harapan Andre, Riko, dan Angela.

Mereka menyadari bahwa posisi Jihan di hati ayahnya benar-benar tidak bisa digoyahkan.

Darren kemudian berdiri dari kursinya dan merapikan jas kerjanya yang elegan.

Ia menoleh ke arah Jihan, dan seketika itu juga tatapan dinginnya berubah menjadi sangat lembut dan penuh cinta.

"Sayang, terima kasih atas sarapan paginya. Rasanya sangat enak," ucap Darren tulus.

Sebelum melangkah pergi, Darren membungkukkan badannya sedikit.

Chup!

Ia mendaratkan sebuah kecupan hangat di pipi Jihan dengan santai, tepat di hadapan ketiga anak mereka yang sedang menonton dengan mata melotot.

"Aku berangkat kerja dulu, ya," bisik Darren lembut sembari mengusap kepala istrinya.

"Iya, Mas. Hati-hati di jalan," balas Jihan dengan senyuman termanisnya.

Melihat kemesraan pagi hari dari pasangan paruh baya dan gadis subur itu, Angela langsung memasang ekspresi mual.

"Isshh... menjijikkan sekali! Ingat umur, Pa!" cibir Angela dengan suara berbisik yang ketus.

Begitu Darren melangkah keluar dari ruang makan, Jihan langsung melirik tajam ke arah mereka bertiga.

Tatapan mata Jihan seketika berubah mendung dan penuh ancaman.

"Ayo, segera habiskan sarapan kalian! Jangan sampai ada yang tersisa di mangkuk, atau Mama kurangi lagi uang saku harian kalian!"

Ancaman potong uang saku itu terbukti sangat ampuh.

Tanpa banyak bacot lagi, Andre, Riko, dan Angela langsung menyendok bubur ayam mereka dengan terburu-buru, menelannya bulat-bulat dengan wajah cemberut menahan kesal.

Sementara ketiga anak tirinya sedang menderita menghabiskan sarapan, Jihan justru kembali bersikap santai.

Ia melangkah ke konter dapur dan mengambil sepiring kecil berisi sisa brownies panggang yang ia temukan kemarin sore.

Jihan kembali duduk di kursinya, lalu menggigit brownies cokelat yang padat dan manis itu dengan ekspresi sangat bahagia.

Perpaduan rasa manis cokelat di mulutnya seolah menjadi pelipur lara setelah lelah menghadapi ketiganya sejak subuh.

Jihan mengunyah brownies-nya dengan nikmat sembari terus mengawasi Angela.

"Angela, cepat kunyahnya. Sepuluh menit lagi kita berangkat ke kampusmu," ucap Jihan santai, membuat Angela hampir tersedak buburnya sendiri.

Andre dan Riko buru-buru menenggak air putih mereka sampai tandas.

Sadar bahwa mata elang Jihan terus mengawasi, kedua pria muda itu dengan langkah gontai membawa mangkuk dan gelas kotor mereka ke bak cuci piring dapur.

Di bawah tatapan pasrah Bibi Diana, Andre dan Riko terpaksa menggosok sendiri piring mereka sampai bersih.

Setelah mengeringkan tangan dengan lap, Andre dan Riko kembali ke ruang makan dengan wajah menuntut, disusul Angela yang sudah menyampirkan tas branded-nya.

"Ma, mana uang saku kami?" tagih Andre dengan nada malas, mengulurkan tangannya.

Jihan meletakkan sisa potongan terakhir brownies-nya, lalu merogoh tasnya.

Ia mengeluarkan tiga buah amplop yang sudah ia siapkan sejak subuh tadi, lalu membagikannya kepada Andre, Riko, dan Angela satu per satu.

"Ini dua juta untuk satu bulan," ucap Jihan tenang, mengulangi keputusannya semalam tanpa ada niat untuk menawar.

"Gunakan dengan bijak. Kalau habis sebelum akhir bulan, silakan kalian cari cara sendiri untuk bertahan hidup."

Riko menatap amplop tipis di tangannya dengan pandangan tidak percaya.

"Dua juta sebulan? Ma, ongkos bensin motor saja sudah makan berapa? Belum lagi makan siang—"

"Kan sudah Mama buatkan bekal sandwich tadi. Jadi kalian tidak perlu jajan," potong Jihan cepat dengan senyuman mautnya.

"Angela, ini uang sakumu, dan ayo sekarang kita berangkat. Jangan sampai kamu terlambat masuk kelas."

Angela mendesah berat. Ia menerima amplopnya dengan terpaksa, membayangkan bagaimana caranya ia harus berhemat dengan uang seminim itu di kalangan pergaulan mahasiswanya yang serba mewah.

Baru saja Jihan hendak menyambar kunci kendaraan di atas meja, tiba-tiba dari arah lorong kamar, Bibi Diana berlari kecil dengan wajah panik sambil membawa sebuah benda berbahan kulit premium.

"Nyonya! Nyonya Jihan!" panggil Bibi Diana agak terengah-engah.

Jihan menghentikan langkahnya dan berbalik. "Ada apa, Bi?"

"Ini, Nyonya... dompet Tuan Darren tertinggal di atas meja rias kamar," ucap Bibi Diana sambil menyodorkan dompet hitam tebal milik sang CEO.

"Tadi saya masuk untuk merapikan tempat tidur dan melihat dompet ini tergeletak di sana. Isinya dokumen penting dan semua kartu berharga milik Tuan."

Jihan menerima dompet tersebut dan membukanya sedikit.

Benar saja, berbagai kartu kredit eksklusif, kartu identitas, dan beberapa dokumen penting Darren masih aman di dalamnya.

Tanpa dompet ini, Darren pasti akan kesulitan di kantor hari ini.

Jihan memasukkan dompet suaminya dengan aman ke dalam tasnya sendiri, lalu menoleh ke arah Angela yang sudah menunggunya di dekat pintu depan dengan wajah cemberut.

"Kebetulan sekali," gumam Jihan sambil tersenyum tipis.

"Angela, ayo cepat. Setelah Mama menurunkanmu di kampus, Mama akan langsung pergi ke kantor Papa untuk mengantarkan dompetnya yang tertinggal ini."

Mendengar bahwa ibu tiri mereka akan mendatangi kantor pusat perusahaan Bramantyo, Andre dan Riko saling berpandangan dengan cemas, sementara Angela hanya bisa pasrah melangkah keluar rumah mengekor di belakang Jihan.

1
sri hastuti
punya anak2 laki2 biadab semuanya thor, jangan dikasih harta, biar tau rasa ,pengrn tak bikin mati aja 2 anak itu 😡😡😡
my name is pho: iya kak
total 1 replies
falea sezi
gugat cerai aja deh laki bego
falea sezi
laki goblok😒 g tau diri
sri hastuti
jd anak kok durhaka spt itu thor, pengen tak lenyap o aja 2 anak gak tau diri itu, atau semua hartanya jangan dikasih, kasih ke panti aja,biar tau rasa 😡😡😡😡
Vie
hadir kak.... 👍👍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!