NovelToon NovelToon
The Alpha'S Secret Girl

The Alpha'S Secret Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:612
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Bab 14: Nyala Api di Pelabuhan Tua

Langit malam di atas kota perlahan menelan sisa-sisa cahaya senja, menyisakan gulita pekat yang diselimuti oleh kabut dingin pelabuhan. Di kawasan dermaga tua yang sudah lama terbengkalai, suasana tampak jauh lebih mencekam dibanding biasanya. Bangunan-bangunan gudang berkarat dengan kaca-kaca jendela pecah berdiri membisu di bawah temaram lampu jalan yang berkedip-kedip redup, menciptakan bayangan panjang yang menyerupai monster raksasa di tengah kegelapan.

Di dalam salah satu gudang penyimpanan barang yang luas dan berdebu, Sintia—sahabat karib Keisha—terikat pada sebuah kursi kayu tua di tengah ruangan. Tangan gadis itu diikat ke belakang dengan tali tambang kasar, dan mulutnya disumpal menggunakan kain hitam untuk meredam isak tangis ketakutannya. Di sekelilingnya, belasan anggota geng Viper berjaket hitam tampak berdiri santai sambil memegang tongkat besi dan rantai motor, dipimpin langsung oleh Reno yang berdiri menyeringai di dekat sebuah meja peti kemas usang.

"Tenang saja, Neng manis," ucap Reno dengan nada suara mengejek, berjalan mendekati Sintia lalu berjongkok tepat di hadapan gadis yang tengah ketakutan setengah mati itu. "Teman baik lo si Keisha sama pacar berandalannya itu pasti bakal segera datang nyusul ke sini. Gua cuma pengen kasih pelajaran kecil buat si Rangga supaya dia tahu diri dan nggak sembarangan injak wilayah kekuasaan Viper."

Sintia menggelengkan kepalanya panik, air mata terus mengalir deras membasahi pipinya. Ia sama sekali tidak mengerti mengapa ia harus terseret ke dalam lingkaran setan permusuhan antar geng motor ini.

Bum!

Suara deru puluhan mesin motor sport berkapasitas besar tiba-tiba memecah keheningan malam di luar pelabuhan, menderu kencang mendekati area gudang utama. Suara knalpot racing itu menggema memantul di dinding-dinding beton tua, menandakan kedatangan kelompok Black Raven yang memimpin penyerbuan malam ini.

Reno berdiri tegak, menyeringai lebar penuh kemenangan. Ia menoleh ke arah anak buahnya. "Mereka sudah datang! Bersiaplah!"

Tepat di depan pintu gerbang utama gudang pelabuhan, tiga motor sport berhenti mendadak. Rangga melompat turun dari jok motornya bahkan sebelum ban sepenuhnya berhenti berputar. Wajah pemuda itu tampak sangat gelap, dipenuhi oleh amarah membabi buta yang siap meledak kapan saja. Di belakangnya, Satria dan Bara turun bersama belasan anggota inti Black Raven lainnya, membawa aura dominasi yang luar biasa mengerikan.

Keisha, yang dibonceng oleh salah satu anggota Black Raven atas desakan keras Rangga agar ia tidak ditinggal seorang diri di tempat lain, segera turun dengan kaki gemetar. Gadis itu melepas helmnya dengan tangan kaku, lalu berlari kecil menghampiri Rangga.

"Kak Rangga... jangan gegabah," ucap Keisha dengan suara bergetar panik, mencengkeram ujung jaket kulit Rangga. "Sintia ada di dalam... tapi aku takut ini jebakan buat nyelakain Kakak."

Rangga menoleh ke belakang. Ia menatap lekat-lekat wajah pucat Keisha, lalu mengangkat tangan kanannya untuk mengusap puncak kepala gadis itu dengan lembut—sebuah kontras yang luar biasa di tengah situasi perang yang akan segera pecah.

"Tetap di sini di belakang Satria dan Bara," titah Rangga dengan suara baritonnya yang tegas dan mutlak. "Jangan pernah melangkah maju ke dalam gudang apapun yang terjadi. Biar urusan sampah-sampah itu jadi tanggungan gua."

Sebelum Keisha sempat membantah, Rangga langsung berbalik. Ia melangkah maju seorang diri mendahului pasukannya, menendang pintu besi gudang yang setengah terbuka hingga mengaum keras dan membentur dinding dengan bunyi dentuman yang memekakkan telinga.

Bruk!

Semua pasang mata di dalam gudang langsung tertuju ke arah pintu masuk. Di ambang pintu yang gelap, siluet tubuh tegap Rangga berdiri dengan sorot mata membunuh, memindai seluruh penjuru ruangan hingga pandangannya jatuh pada sosok Sintia yang terikat di tengah.

Reno melangkah maju dari kerumunan anak buah Viper, membawa sebatang pipa besi di tangan kanannya yang diseret di atas lantai semen hingga memercikan bunga api kecil.

"Wah, wah... lihat siapa yang datang," ejek Reno dengan tawa tertahan. "Hebat juga nyali lo, Rangga. Datang sendirian menyerahkan diri cuma buat nyelamatin teman dari cewek cengeng lo itu?"

Rangga tidak langsung menjawab. Ia terus melangkah masuk dengan tenang namun mematikan, setiap langkah kakinya terdengar bagaikan ketukan vonis mati bagi orang-orang di hadapannya. "Lepaskan anak itu, Reno," suara rendah Rangga menggema di seluruh ruangan gudang, dingin dan penuh tekanan kematian. "Kalau lo masih pengen nyawa lo selamat keluar dari pelabuhan ini."

Reno mendengus remeh. "Lepasin? Gampang banget bicara lo, Aldebaran! Setelah apa yang lo lakuin ke anak buah gua di sekolah kemarin, dan harga diri Viper yang lo injak-injak di depan umum... lo pikir urusan bakal selesai semudah itu?" Reno mengangkat pipa besinya, menunjuk tepat ke arah wajah Rangga. "Hari ini, di tempat ini, gua bakal hancurkan reputasi lo, Black Raven!"

"Serang!" teriak Reno lantang memberi komando.

Belasan anggota Viper langsung berlari menyerbu ke depan secara bersamaan, membawa berbagai senjata tumpul dan rantai.

Namun, sebelum mereka sempat mendekati Rangga, Satria, Bara, dan seluruh pasukan inti Black Raven langsung berhambsung masuk dari belakang pimpinan mereka, menyambut serangan tersebut dalam sebuah pertempuran brutal yang langsung meledak di dalam gudang.

Suara hantaman benda tumpul, teriakan kesakitan, dan deru napas memburu bergemuruh memenuhi ruangan yang dipenuhi debu malam. Rangga bergerak seperti badai pembalasan. Setiap pukulan dan tendangan yang dilayangkan pemuda itu tepat mengenai sasaran dengan kekuatan penuh, merobohkan satu demi satu anggota Viper yang mencoba menghalangi jalannya menuju arah Sintia.

Di luar lingkaran pertempuran utama, Keisha berdiri mematung sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan, menyaksikan betapa brutalnya perkelahian malam itu. Air matanya terus menetes, berdoa dalam hati agar Rangga tidak terluka parah di tengah lautan musuh yang mengelilinginya.

Rangga terus menerobos maju, mengabaikan hantaman pukulan yang sempat mengenai sisi bahunya. Fokusnya hanya satu: menyelamatkan sahabat Keisha agar gadis yang dicintainya tidak lagi dirundung rasa bersalah.

Dalam beberapa menit saja, separuh dari anggota Viper sudah tersungkur tak berdaya di atas lantai semen berdebu. Melihat dominasi mutlak dari Black Raven, nyali anak buah Viper mulai ciut.

Reno, yang melihat situasi berbalik drastis, menjadi murka. Ia meninggalkan posisinya, berjalan cepat ke arah kursi tempat Sintia diikat, lalu menarik kerah baju gadis itu dan menempelkan sebilah pisau lipat kecil tepat di leher Sintia.

"Berhenti atau cewek ini mati sekarang juga di tangan gua!" teriak Reno histeris, wajahnya dipenuhi keringat dingin dan kepanikan luar biasa.

Langkah kaki Rangga yang hendak maju seketika terhenti. Ia berdiri beberapa meter di hadapan Reno, mengatur napasnya yang memburu. Sorot mata kelam Rangga menatap tajam ke arah pisau yang menempel di kulit leher Sintia.

"Jangan pernah libatkan orang yang nggak punya urusan sama kita, Reno," ucap Rangga dengan nada suara rendah yang paling berbahaya, mengisyaratkan bahwa batas kesabarannya telah benar-benar habis.

"Lepasin gua! Cabut semua pasukan lo dari wilayah ini sekarang!" ancam Reno penuh tekanan.

Keisha, yang melihat sahabatnya berada di ambang bahaya maut, tidak bisa tinggal diam lagi. Melanggar seluruh peringatan Rangga, gadis itu nekat menerobos maju dari kerumunan, berlari masuk ke dalam area tengah gudang.

"Jangan, Reno! Lepasin Sintia!" teriak Keisha histeris.

Kehadiran Keisha yang tiba-tiba membuat situasi menjadi kacau dalam sepersekian detik. Reno, yang merasa terancam dan panik melihat Keisha mendekat, kehilangan akal sehatnya. Ia mengalihkan perhatian pisaunya, bersiap menyerang siapa saja yang mendekat.

Melihat bahaya besar mengancam Keisha, insting pelindung Rangga bergerak jauh lebih cepat dari kilat. Tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri, Rangga melompat menerjang ke depan, mendorong tubuh Keisha agar terjatuh aman menjauh dari jangkauan pisau Reno.

Jleb!

Suara hantaman tajam terdengar pelan di antara hiruk-pikuk suara gudang.

Keisha terjatuh berguling di atas lantai semen, namun saat ia mendongakkan kepalanya, napasnya seketika berhenti total. Dunia di sekelilingnya mendadak sunyi senyap.

Rangga berdiri tegak dengan napas tertahan. Pisau lipat milik Reno telah menancap cukup dalam di sisi lengan kanan atas pemuda itu, membuat darah segar langsung merembes keluar, membasahi kain jaket kulit hitam dan kaos yang dikenakannya hingga berubah menjadi warna merah pekat.

"K-Kak Rangga...!" teriak Keisha histeris, suaranya pecah menembus keheningan malam yang mendadak mencekam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!