NovelToon NovelToon
Cegil Rusuh Dari Dunia Lain

Cegil Rusuh Dari Dunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Idola sekolah / Horor / Teen
Popularitas:37.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy_Ar

​"Ayo mengaku, Mas Sholeh! Kamu bisa lihat aku, kan?! Jangan bohong, bohong itu dosa, nanti masuk neraka loh!"
​Bagi Arash, menjadi cowok indigo itu melelahkan. Makanya, dia pakai trik keramat: Pura-pura buta huruf soal hal gaib. Mau ada pocong kayang pun, Arash bakal tetap lempeng.
​Strategi itu sukses bertahun-tahun, sampai dia ketempelan sesosok roh cewek misterius yang punya jiwa "cegil" (cewek gila) akut. Bukannya nakutin, roh genit ini malah rusuh mengintil kemana-mana, bahkan nekat narik kerah jaket Arash demi minta perhatian.
​Arash mati-matian bertahan demi menjaga iman dan aktingnya. Tapi saat teror mistis yang mengancam nyawanya datang, si hantu cegil justru pasang badan paling depan dengan cara yang paling bar-bar.
​Gimana jadinya kalau cowok sholeh berkharisma harus menghadapi musuh gaib bersama hantu cegil yang ternyata... belum sepenuhnya mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Sementara itu, Lala yang menjadi biang kerok dari keributan ini malah membalikkan posisi tubuhnya menjadi tegak kembali.

Dia duduk bersila di atas meja Arash, tepat di samping buku catatan cowok itu.

Bukannya merasa bersalah karena sudah membuat Arash hampir jantungan dan diamuk guru *killer*, hantu cegil itu malah menopang dagunya dengan kedua tangan sambil menjulurkan lidahnya ke arah Bu Tety.

"Ih, ibunya galak banget sih, Mas. Pantesan mukanya banyak kerutan, kurang asupan sajen ya?" bisik Lala dengan nada mengejek yang sangat nyaring di telinga indigo Arash.

Arash mati-matian menahan diri untuk tidak menatap Lala.

Pandangannya dia paksa tetap lurus menatap papan tulis dan ujung sepatu Bu Tety.

Tangannya yang berada di bawah meja sudah mengepal kuat, meremas celana seragamnya demi menyalurkan rasa dongkol yang amat sangat.

*Gue bilang jangan muncul di kelas, dasar setan budek!* jerit Arash dalam hati, frustrasi tingkat dewa.

"Kalau bukan karena saya, lalu kenapa kamu teriak 'Allahuakbar' sekencang itu? Seperti melihat hantu saja!" ketus Bu Tety, melipat kedua tangannya di depan dada, masih menatap Arash penuh selidik.

Mendengar kata 'hantu', seisi kelas langsung berbisik-bisik.

Reno dan Alvaro yang duduk di barisan sebelah bahkan menyenggol kaki Arash, memberikan kode 'lo-kenapa-sih' dengan gerakan mata mereka.

"Anu, Bu... tadi saya melihat ada laba-laba besar sekali merayap di atas meja saya. Makanya saya kaget," bual Arash cepat, mencari alasan yang paling masuk akal agar urusan ini tidak berbuntut panjang.

Bu Tety mendengus, melirik ke arah meja Arash yang bersih dari serangga apa pun kecuali ada Lala yang sedang asyik guling-gulingan di atasnya tanpa memedulikan gravitasi bumi.

"Laba-laba saja takut. Laki laki bukan sih kamu! badan saja yang besar seperti pintu, tapi nyalinya sekecil partikel debu! Sudah, perhatikan ke depan! Sekali lagi kamu membuat kegaduhan, kamu saya jemur di depan tiang bendera sampai jam pulang!"

"Baik, Bu. Maaf sekali lagi," ucap Arash buru-buru, menundukkan kepalanya dalam-dalam tanda penyesalan.

Bu Tety akhirnya berbalik dan kembali melanjutkan penjelasannya di papan tulis dengan ketukan kapur yang ritmis.

Begitu perhatian sang guru teralih, Arash langsung melirik tajam ke arah samping kanannya, di mana Lala sekarang sedang duduk bersandar di bahu kiri Arash dengan gaya kelewat santai.

"Kan aku udah bilang, jangan muncul di kelas!" desis Arash dengan volume suara yang sangat tipis, nyaris menyerupai desiran angin, agar tidak memancing kecurigaan teman sebangkunya.

Lala hanya mengerucutkan bibirnya, memasang wajah cemberut yang dibuat-buat agar terlihat menggemaskan, meskipun di mata Arash itu tetap saja menyebalkan.

"Abisnya di luar bosan banget. Gak ada yang bisa diajak ngobrol. Lagian tadi aku nemu sesuatu pas keliling koridor bawah."

Mendengar kata 'nemu sesuatu', fokus Arash mendadak terbelah. Dia melirik Lala dari sudut matanya tanpa menolehkan kepala.

"Lo nemu apaan?" tanya Arash.

Suaranya super pelan, nyaris menyerupai desis ular.

Pandangannya tetap fokus menatap lurus ke papan tulis, sementara tangan kanannya pura-pura sibuk mencatat rumus integral yang ditulis Bu Tety.

Gerakan tangannya sengaja dibuat sekaku mungkin agar teman sebangkunya, Mike, tidak curiga kalau Arash sedang mengobrol dengan udara kosong.

"Ada orang disekap di ruang kepsek," jawab Lala santai.

Dia sekarang sudah mengubah posisinya menjadi duduk bersila di atas meja Arash, tepat di samping kotak pensil, sambil memainkan penghapus karet milik Arash dengan jemari gaibnya yang transparan.

Dahi Arash berkerut dalam.

"Orang?Siapa?"

"Gak tahu, dia masih manusia. Soalnya dia nangis," lanjut Lala lagi.

Matanya yang bulat menatap Arash dengan ekspresi serius yang jarang sekali dia tunjukkan.

Arash menghela napas berat, menahan kepalanya agar tidak menoleh langsung ke arah Lala.

"Lo setan juga sering nangis!" desis Arash gemas, teringat mitos kuntilanak yang hobi menangis mendayu-dayu di bawah pohon pisang kalau malam hari.

"Ih Mas ganteng, jangan sebut Lala setan dong! sadis banget, gak ber peri kesetanan deh,"

Bibir Lala langsung dimanyunkan lagi,

maju beberapa sentimeter dengan gaya merajuk yang kelewat centil untuk ukuran makhluk halus. Dia bahkan sengaja menghentakkan kaki gaibnya ke atas meja, meskipun tentu saja tidak menimbulkan suara apa pun.

"Terus apaan? Gak mungkin gue panggil lo manusia!" balas Arash, masih dengan suara berbisik yang tertahan di tenggorokan.

"Hantu!" seru Lala bangga.

"Apa bedanya? Astaghfirullahaladzim..." Arash mengelus dadanya yang terasa makin sesak.

Cobaan kalkulus di depan mata ditambah cobaan debat kusir dengan mahluk astral di sampingnya benar-benar resep sempurna untuk membuat kepalanya pecah.

"Beda Mas! Setan itu kasar, suka menghasut orang buat berbuat jahat. Sementara hantu itu lembut. Nah, aku ini hantu karena aku selembut sutra~" ucap Lala dengan percaya diri tingkat dewa, lengkap dengan gerakan tangan yang mengelus pipinya sendiri seolah-olah dia sedang membintangi iklan sabun kecantikan.

Arash langsung melongo jengah.

Pengin rasanya dia melempar Lala pakai buku paket matematika setebal lima ratus halaman di tangannya, tapi dia sadar itu hanya akan membuat buku tersebut melayang mistis di udara dan memicu histeria massal satu kelas.

"Arash! Kamu melamun lagi?!"

Suara cempreng bin melengking milik Bu Tety tiba-tiba memotong perdebatan gaib itu.

Kapur tulis di tangan sang guru killer diketukkan dengan keras ke papan tulis, menghasilkan suara *TAK! TAK!* yang sukses membuat Arash tersentak tegak di kursinya.

"T-tidak, Bu! Saya sedang... sedang meresapi rumusnya," kilah Arash cepat, langsung memegang penanya dengan dramatis seolah sedang berpikir keras.

Bu Tety mendengus kencang, menatap Arash dari balik kacamata tebalnya dengan pandangan mengancam sebelum akhirnya kembali berbalik menghadap papan tulis.

Arash bernapas lega, namun detak jantungnya kembali berkejaran saat mengingat informasi yang baru saja diucapkan oleh Lala.

*Orang disekap di ruang Kepsek? Manusia? Menangis?*

Otak Arash mulai bekerja. Ruang Kepala Sekolah terletak di lantai satu gedung utama, posisinya agak terpisah dari koridor kelas dan biasanya sangat sepi kalau jam pelajaran berlangsung.

Kepala Sekolah mereka, Pak Baskoro, dikenal sebagai sosok yang tegas dan berwibawa, tapi entah kenapa bulu kuduk Arash mendadak meremajakan diri saat memikirkan ruangan tersebut.

Sebagai seorang indigo, instingnya mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Ada energi negatif yang samar-samar mulai merayap dari arah lantai bawah.

Sebenarnya, Arash malas berhadapan dengan mahkluk ghaib. Dia lebih suka berpura pura tidak melihat, tapi kata Lala, karena itu masih manusia, jiwa penolong nya meronta.

Apalagi itu adalah seorang gadis, arash tidak bisa diam saja. Arash melirik Lala dari sudut matanya.

"Lo serius? Gak lagi bohongin gue kayak di rooftop tadi, kan?" bisik Arash memastikan.

Lala mengangguk cepat, wajah cegilnya mendadak lenyap digantikan raut cemas yang tulus.

"Serius, Mas ganteng! Tadi pas aku lewat depan pintunya, hawa di sana gelap banget. Terus aku dengar suara tangisan cewek lirih banget, kayak mulutnya disumpal sesuatu. Aku mau masuk menembus pintu, tapi di depan pintunya ada jimat kertas kuno yang bikin energi aku mendadak lemas. Makanya aku langsung lari nyari kamu!"

Mendengar penjelasan Lala tentang 'jimat kertas kuno', Arash langsung menegang.

Itu artinya, siapa pun yang berada di dalam ruangan itu sengaja memasang pagar gaib untuk menghalau mahluk halus agar tidak bisa mengintip ke dalam.

Ini bukan lagi sekadar urusan kenakalan remaja atau gosip sekolah biasa. Ini sudah masuk ke ranah kriminal yang melibatkan hal mistis.

Arash melirik jam dinding di atas papan tulis. Masih ada sekitar tiga puluh menit sebelum bel istirahat kedua berbunyi.

Dia tidak bisa menunggu selama itu jika memang ada seseorang yang nyawanya sedang terancam di bawah sana.

"Lala," bisik Arash, matanya menatap tajam ke arah papan tulis namun fokusnya sepenuhnya pada roh cewek di sampingnya.

"Lo turun duluan ke bawah. Awasi area sekitar ruang Kepsek. Kalau ada orang mencurigakan keluar-masuk, lo langsung lapor ke gue. Paham?"

1
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
yah Arash mau belajar lagi, Lala pasti merasa dibohongi 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
eh pocongnya kenapa gak bisa bebas ya 🤔
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
Wah Lala nangkring sama mas pocong 🤭
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
La diajak jadian tuh 🤣
𝆯⃟ ଓε_Asti_ᵉᶜ✿🌱🐛•§͜¢•🦢🍒
kau sedang cemburu kah La 🤔🤣
Halimah
Siapa lg nih pocong...Kyk y perlu disekametin jg.
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
walaupun sama² hantu,,,
si Cegil ini ternyata pilih² pasangan ya,,
😅😅
Vike Kusumaningrum 💜
Siap² Rash, Lala ngambek nanti. pasti katanya kamu menghindar dan ingkar janji 🤭
Vike Kusumaningrum 💜
🤣🤣🤣 siapa nih dulunya 🤣🤔🤭🤭
Vike Kusumaningrum 💜
pocong 🤣🤣🤣🤣🤣😭
Vike Kusumaningrum 💜
Cemburu la ? 🤣🤣🤣🤣
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
heh Lala,,knp kamu ngagetin Arash🫵🫵🫵

bisa kan,,,sapa,,

Assalamualaikum dlu😅😅😅
🌷🌷 Mmh_Ara 🌷🌷
ayooohh Arash,,,banguuunnnn
suci nurfarida
cerita yang menarik dan unik dengan latar belakang spritual, menegangkan, lucu
HR_junior
eee alah JD PD di jadiin tumbal ya..Fira juga ya
HR_junior
knp LG Lo..apa si Fira juga korban ibunya..
Eva Karmita
pasti Lala lagi nungguin Arash di atas lemari kasur empuknya sambil tantrum 🤣🤣🤣
Ainal Fitri
eh mgkinkah sosok itu slah satu korban nya pak bakti juga 🤔😬😬
HR_junior
mosok sak sekolahan gak tau ya..kalopun gak tau nm kan biasane tau orngnya ya..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!