Dinzy Aurora, gadis berusia 21tahun yang hidup sebatang kara di Ibukota, mengadukan nasibnya berharap memiliki kehidupan yang layak. Saat ini Dinzy baru saja lulus dari kampus terbaik di kota tersebut, mendapatkan gelar cumlaude bukan berarti Dinzy bisa mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Setalah 2 bulan menerima Ijazahnya, Dinzy belum juga mendapat panggilan wawancara kerja. Dan selama 2 bulan tersebut sambil tetap mencari pekerjaan baru, Dinzy masih bekerja di sebuah coffee shop. Selama Dinzy tinggal di Ibukota, Dinzy memang melakukan pekerjaan paruh waktu untuk menyambung hidupnya, meskipun Dinzy mendapatan beasiswa dan juga biaya hidup, namun itu tidak menghalangi Dinzy untuk tetap bekerja. Dinzy tumbuh di sebuah panti asuhan di pesisir Ibukota. Ia tidak mengenal siapa Ayah dan Ibunya. Meskipun ia sangat penasaran, tapi pihak panti juga tidak bisa membantu Dinzy karena saat itu, Ibunya Dinzy hanya menyerahkan Dinzy begitu saja dan meninggalkan Dinzy di panti asuhan tersebut. Hanya nama yang Dinzy terima dari Ibunya, nama pemberian dari sang Ibu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yayalifeupdate, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
"Pak Luca mengenal gadis yang tadi?" tanya Rosa
"Sebatas kenal, dia gadis yang ada di puncak saat itu" jawab Luca
"Pak Luca mau saya carikan informasi tentang gadis itu?" tanya Rosa seolah mengerti jika bosnya tertarik dengan gadis tersebut.
Luca tidak menjawab, dia hanya menatap Rosa sekilas lalu tersenyum. Seperti tidak membutuhkan jawaban Luca, Rosa sudah tahu apa yang harus ia lakukan saat ini.
Jari lentiknya mulai menekan tombol ponselnya, mengetik kalimat yang tidak terlalu panjang. Kemudian mengirimkannya pada seseorang.
Mobil Luca masih belum sampai kantor dimana Dinzy berada, namun informasi tentang Dinzy sudah Rosa dapatkan.
"Permisi Pak" ucap Rosa memberikan ponselnya kepada Luca
Luca tersenyum melihat informasi tersebut, kemudian menyerahkan ponsel Rosa.
"Kirimkan kepada saya" ucap Luca
"Baik Pak"
Luca sudah mendapatkan nomor ponsel Dinzy, namun ia belum ingin mengirimkan pesan saat ini. Entah apa yang sedang Luca tunggu, namun Luca tidak ingin terlihat buru-buru.
Sampai di kantor koleganya, Luca menuju lift dan segera ke ruang meeting untuk melanjutkan meetingnya.
Siska dan beberapa staff lain memperhatikan Luca dengan seksama, mereka semua terpesona oleh ketampanan Luca. Namun mereka menyadari, itu hanyalah rasa kagum yang tidak akan pernah bisa mereka gapai.
Selesai meeting, Luca mengucapkan banyak terimakasih untuk sambutan hangat dan proses meeting yang berjalan dengan sangat baik.
Mereka meninggalkan ruang meeting menuju lift, hingga lift yang membawa Luca berhenti disebuah departemen. Departemen yang ia tahu, Dinzy berada di dalamnya.
"Ruangannya sangat nyaman ya Pak" ucap Luca basa-basi.
"Pak Luca mungkin mau cek dan berkeliling?" tanya Adam
"Tentu Pak" jawab Luca antusias
Rosa mengetahui, itu hanya siasat Luca untuk menemui Dinzy. Namun Rosa hanya diam dan menggelengkan kecil kepalanya.
Semua staff terkejut dengan kedatangan Luca, begitu juga Dinzy. Ia tidak menyangka jika Luca saat ini berdiri di departemennya bersama dengan jajaran direksi kantornya.
Mata Luca menatap kearah Dinzy, lalu bibirnya tersenyum tipis hingga membuat beberapa staff menyadari hal tersebut.
Tidak ada interaksi apapun, hanya mata yang saling memandang. Kemudian Luca meninggalkan ruangan tersebut dan segera kembali ke kantornya.
"Dinzy kenal Pak Luca?" tanya Siska
"Gak Mbak" jawab Dinzy spontan
"Kenal juga gak apa-apa Dinzy" goda Hendra
"Iya, Pak Luca kelihatan ramah banget sama Dinzy" imbuh Siska yang terlihat sangat senang melihat interaksi Dinzy dan Luca
Tidak merespon, Dinzy membiarkan seniornya begitu saja lalu ia kembali fokus dengan pekerjaannya.
Ting! Ponsel Dinzy berdering
"Nice to meet you, Dinzy. Luca" - Luca
DEG!
Jantung Dinzy berdegup kencang. Dia seperti sedang bermimpi mendapat pesan tersebut. Dia membaca pesan itu sekali lagi, dan benar saja ia tidak salah membaca nama yang tertera pada akhir pesan tersebut.
Dinzy membalas pesan tersebut dengan hati-hati, karena ia tahu Luca adalah salah satu investordi kantornya saat ini. Dan Dinzy tidak igin membuat kesalahan.
"Selamat siang Pak Luca. Nice to meet you too" - Dinzy
Dinzy melatakkan ponselnya, kemudian ia melanjutkan bekerja. 1 jam, 2 jam tidak ada balasan lagi dari Luca.
"Kenapa aku nungguin" batin Dinzy sambil menepuk keningnya
"Pulang yuk, udah waktunya nih" ucap Siska
"Iya mbak" jawab Dinzy
"Dinzy, besok kan weekend. Mau Jogging gak?"
"Mbak Siska suka jogging juga?"
"Iya, sambil diet sih"
"tapi setelah jogging, Siska makan bubur dua porsi Din" sahut Hendra
"HAHAHAHA" Siska tergelak
"Oke Mbak, kita ketemu di taman ya"
"Oke Dinzy, aku pulang dulu ya soalnya mau ngedate. Kamu hati-hati pulangnya"
"Siap Mbak Siska"