NovelToon NovelToon
Istri Paruh Waktu

Istri Paruh Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: aurora23

Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 32 : Permintaan Terakhir

Lampu indikator di atas pintu ruang ICCU akhirnya berubah warna menjadi hijau. Seorang perawat keluar dan mengabarkan bahwa kondisi Tuan Baskoro Mahendra telah melewati masa kritis, meski tubuhnya masih sangat lemah. Pihak rumah sakit kemudian memindahkan sang kepala keluarga ke ruang perawatan VIP yang lebih tenang dan steril di lantai paling atas.

Aroma antiseptik yang khas menyengat hidung Arka begitu ia melangkah masuk ke dalam ruangan bernuansa putih bersih itu. Di tengah ruangan, di atas ranjang medis yang tinggi, tubuh Kakek Baskoro tampak begitu kecil. Beberapa selang dan kabel monitor medis masih menempel di dada dan lengannya, berbunyi ritmis dengan nada yang rendah. Masker oksigen yang tadinya menutupi wajahnya kini telah digantikan oleh kanula hidung yang lebih kecil, memperlihatkan gurat-gurat pucat di bibir sang kakek.

Anggota keluarga besar Mahendra yang lain hanya diizinkan melihat dari balik kaca besar di luar ruangan demi menjaga ketenangan pasien. Hanya Arka, sebagai cucu tunggal sekaligus orang yang paling dicari oleh Kakek Baskoro, yang diperbolehkan masuk.

Arka melangkah dengan sangat pelan, seolah takut suara langkah sepatunya akan mengusik istirahat pria tua itu. Ketika jarak mereka hanya tersisa dua langkah, kelopak mata Kakek Baskoro bergerak perlahan. Mata tua yang biasanya memancarkan otoritas mutlak itu kini terbuka, tampak sayu dan diliputi kabut keletihan.

"Ar... ka..." Suara itu nyaris menyerupai bisikan angin, begitu lirih dan serak.

"Iya, Kek. Ini Arka di sini," ucap Arka dengan suara yang tercekat. Ia segera mendekat, merendahkan tubuhnya di sisi ranjang agar sang kakek tidak perlu bersusah payah mendongak atau mengeraskan suaranya.

Kakek Baskoro menggerakkan jari-jari tangan kanannya yang bebas dari jarum infus secara perlahan. Melihat isyarat itu, Arka langsung menyambutnya. Ia menggenggam tangan kakeknya dengan kedua belah tangannya. Kulit tangan kakeknya terasa begitu dingin dan keriput, sebuah pengingat yang menyakitkan bahwa waktu yang dimiliki pria tua ini tidak lagi abadi. Pria yang selama ini menjadi tameng dan kompas dalam hidup Arka kini tampak begitu rapuh.

"Mendekatlah, Nak..." bisik Kakek Baskoro lagi. Matanya menatap lurus ke dalam manik mata Arka, mencari sisa-sisa cucu laki-lakinya yang dulu ia kenal sebagai pria tangguh, namun kini ia temukan dalam wujud seorang lelaki yang dipenuhi badai penyesalan.

Arka berlutut di samping tempat tidur. Ia mengabaikan noda air hujan yang masih menyisakan rasa kaku di celananya, mengabaikan statusnya sebagai CEO Mahendra Group yang disegani dunia bisnis. Di kamar ini, di hadapan pria yang telah membesarkannya setelah kematian ibunya, Arka hanyalah seorang anak yang bersalah.

"Maafkan Arka, Kek... Maafkan Arka karena telah membuat Kakek seperti ini," ucap Arka, air mata yang sejak tadi ia tahan di depan anggota keluarga lainnya kini mulai menetes, membasahi punggung tangan kakeknya yang berurat menonjol. "Arka telah mengecewakan Kakek. Arka telah merusak kepercayaan yang Kakek berikan."

Kakek Baskoro menarik napas panjang secara perlahan, dadanya naik-turun dengan berat. Sebuah senyuman tipis, yang lebih menyerupai helaan napas getir, muncul di sudut bibirnya yang kering.

"Arka... dengarkan Kakek," ucap pria tua itu, menjeda kalimatnya setiap beberapa kata untuk mengumpulkan kekuatan. "Selama puluhan tahun... Kakek hidup untuk membangun imperium Mahendra. Kakek mengumpulkan harta, tanah, saham... sampai Kakek mengira... bahwa semua angka-angka itu adalah lambang kejayaan yang sesungguhnya."

Pria tua itu terbatuk kecil, membuat monitor jantung di sampingnya berbunyi sedikit lebih cepat. Arka panik dan hendak memanggil dokter, namun genggaman lemah dari tangan kakeknya menahannya. Kakek Baskoro menggelengkan kepala.

"Kakek mengira... kau akan bahagia jika Kakek menurunkan seluruh kekayaan ini padamu," lanjut Kakek Baskoro, suaranya terdengar bergetar oleh emosi mendalam. "Tapi Kakek salah, Nak. Kakek baru menyadarinya ketika melihat rumah besar kita terasa seperti gurun pasir yang mati setelah... setelah Nadira pergi."

Mendengar nama itu kembali disebut, dada Arka berdenyut ngeri. Rasa bersalahnya kian meluap hingga mencekik tenggorokannya.

"Kekayaan... triliunan rupiah yang kau pegang saat ini... tidak akan pernah bisa membeli satu detik pun ketulusan," ucap Kakek Baskoro, matanya kini mulai berkaca-kaca, merefleksikan lampu ruangan yang temaram. "Uang bisa membelikanmu kesetiaan palsu seperti yang ditunjukkan Selena. Uang bisa membelikanmu pujian dari orang-orang di luar sana. Tapi Arka... kekayaan itu tidak akan berarti apa-apa jika kau kehilangan satu-satunya orang yang benar-benar mencintaimu tanpa syarat."

Kata-kata sang kakek bagaikan jangkar yang ditarik paksa dari dasar laut, mengobrak-abrik seluruh prinsip hidup yang selama ini Arka agungkan. Dulu, Arka berpikir bahwa dengan uang dan kekuasaan, ia bisa mengatur segalanya—termasuk pernikahan kontraknya dengan Nadira. Ia mengira Nadira hanyalah wanita lain yang bisa dinilai dengan materi. Namun kini, ketika ia berada di puncak kekayaannya dan di titik terendah jiwanya, ia menyadari betapa miskinnya dia tanpa kehadiran wanita itu.

"Nadira... dia tidak pernah memandang nama besar Mahendra," bisik Kakek Baskoro, air mata tua mengalir melewati pelipisnya. "Dia merawat Kakek karena dia menganggap Kakek sebagai ayahnya sendiri. Dia menyiapkan teh, mendengarkan cerita Kakek yang membosankan... dia melakukan semuanya dengan hati yang murni. Dan kau... kau menginjak-injak hati yang murni itu dengan kesombonganmu, Arka."

"Aku tahu, Kek... Aku tahu aku sangat bodoh," isak Arka. Bahunya terguncang pelan. Di dalam ruangan yang steril ini, seluruh topeng arogansi sang CEO Mahendra Group telah hancur berkeping-keping. "Aku menyadarinya terlalu lambat. Aku telah membiarkan fitnah itu menutup mataku."

Kakek Baskoro meremas tangan Arka dengan sisa kekuatan terakhir yang dimilikinya. Tatapannya mendadak berubah menjadi sangat intens, sebuah tatapan memohon yang belum pernah Arka lihat seumur hidupnya dari sang kakek.

"Ini... mungkin menjadi permintaan terakhir Kakek padamu, Arka," ucap Kakek Baskoro, suaranya mulai putus-putus karena kelelahan fisik yang amat sangat. "Bawa Nadira pulang, Nak. Temukan dia... memohonlah padanya. Turunkan egomu, berlututlah jika perlu. Jangan biarkan kesombonganmu membuatmu kehilangan dia selamanya."

Pria tua itu menghela napas berat, matanya menerawang ke langit-langit kamar perawatan. "Kakek tidak ingin mati dalam keadaan mengetahui bahwa keluarga ini telah menghancurkan hidup seorang wanita baik-baik. Bawa dia pulang... sebelum semuanya terlambat. Sebelum waktu Kakek habis, dan sebelum hatinya benar-benar membeku untukmu."

Kalimat "sebelum semuanya terlambat" menggema di dalam kepala Arka seperti suara lonceng kematian. Ia melihat betapa rapuhnya kondisi kakeknya saat ini. Ia juga membayangkan wajah Nadira yang menatapnya dengan kekosongan di bawah rintik hujan semalam. Ketakutan terbesar dalam hidup Arka kini bukanlah kebangkrutan perusahaan, melainkan ketidakmampuan untuk memperbaiki kehancuran yang telah ia perbuat.

Arka mengangkat tangan kakeknya, mencium punggung tangan yang dingin itu dengan takzim dan penuh rasa sesal. Ia menghapus air matanya sendiri dengan lengan bajunya, mencoba menstabilkan suaranya demi memberikan ketenangan pada orang tua yang sangat ia hormati ini.

"Arka berjanji, Kek," ucap Arka dengan nada suara yang bergetar namun sarat akan ketegasan tekad. "Arka bersumpah demi nama mendiang Ibu, demi kehormatan yang masih tersisa di dalam diri Arka... Arka akan mencari Nadira. Arka akan membawanya pulang."

Arka menatap mata kakeknya dengan sungguh-sungguh. "Aku tidak akan menggunakan kekuasaan, aku tidak akan menggunakan uang keluarga Mahendra untuk memaksanya. Aku akan datang kepadanya sebagai seorang pria yang penuh dosa, yang siap menebus setiap tetes air mata yang pernah ia jatuhkan karena perbuatanku. Aku akan memperbaiki semuanya, Kek. Semua kekacauan ini, nama baik Nadira, dan hubungan kami... aku akan memperbaikinya, meskipun aku harus mempertaruhkan sisa hidupku."

Mendengar sumpah yang keluar dari mulut cucunya, ketegangan di wajah Kakek Baskoro perlahan-lahan mengendur. Garis-garis kecemasan di dahinya tampak sedikit melunak. Alat monitor jantung di samping ranjang menunjukkan ritme yang lebih stabil, menandakan bahwa beban berat yang menghimpit dada sang kakek telah sedikit terangkat oleh janji tersebut.

"Bagus..." bisik Kakek Baskoro, kelopak matanya perlahan-lahan mulai memberat kembali akibat pengaruh obat penenang yang diberikan dokter. "Jangan... jangan jadi seperti Kakek yang terlambat menyadari arti cinta... Pergilah, Nak... cari dia..."

Suara Kakek Baskoro perlahan menghilang seiring dengan dirinya yang kembali jatuh tertidur ke dalam ketenangan. Napasnya kini terdengar lebih teratur dan tidak sesesak sebelumnya.

Arka perlahan meletakkan kembali tangan kakeknya di atas selimut. Ia berdiri dari posisi berlututnya, menatap sosok tua itu untuk beberapa saat demi memastikan bahwa kakeknya benar-benar telah beristirahat dengan aman. Di dalam dadanya, janji yang baru saja ia ucapkan telah mengunci seluruh fokus hidupnya. Tidak ada jalan untuk kembali. Tidak ada ruang untuk keraguan.

Ia membalikkan badannya dan melangkah keluar dari ruang perawatan VIP. Begitu pintu kaca tertutup di belakangnya, paman, bibi, dan beberapa sepupunya segera mengerumuninya dengan wajah penuh tanya.

"Bagaimana keadaan kakekmu, Arka? Apa yang beliau katakan?" tanya Paman Arka dengan nada cemas.

Arka menatap mereka semua dengan tatapan yang dingin namun tidak lagi dipenuhi amarah yang meledak-ledak. Kejadian di dalam ruangan tadi telah memberinya kedewasaan baru yang lahir dari rasa sakit.

"Kakek sudah stabil. Beliau sedang beristirahat," jawab Arka pendek. "Dan mulai detik ini, aku tidak ingin mendengar ada satu orang pun di keluarga ini yang merendahkan atau membicarakan hal buruk tentang Nadira. Jika sampai aku mendengar hal itu terjadi lagi, aku sendiri yang akan memastikan orang tersebut keluar dari struktur Mahendra Group tanpa membawa sepeser pun saham."

Ancaman yang keluar dari mulut Arka begitu tenang namun mematikan, membuat Tante Broto dan yang lainnya menelan ludah dengan ngeri. Mereka tahu, meskipun Arka sedang hancur karena penyesalan, taringnya sebagai pemimpin tertinggi Mahendra Group tidak pernah tumpul.

"Paman, tolong urus administrasi rumah sakit dan pastikan tim medis terbaik menjaga Kakek selama dua puluh empat jam," perintah Arka kepada pamannya, yang langsung diangguki dengan cepat. "Aku ada urusan penting yang harus kuselesaikan sekarang."

Tanpa menunggu jawaban dari keluarganya, Arka melangkah lebar meninggalkan lorong rumah sakit. Di tengah jalan menuju lift, ponsel di sakunya bergetar. Sebuah pesan masuk dari detektif swasta yang ia sewa. Pesan itu berisi alamat lengkap, nomor lantai, dan nomor kamar di apartemen tua yang ia datangi semalam, lengkap dengan informasi bahwa Nadira saat ini sedang berada di dalam kamarnya, bersiap untuk pergi ke sebuah sekolah komunitas tempat ia mengajar anak-anak kurang mampu secara sukarela.

Arka menggenggam ponselnya dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena ketakutan menghadapi rapat pemegang saham, melainkan karena ia tahu, beberapa saat lagi ia akan berhadapan langsung dengan kenyataan pahit dari kesalahannya. Ia akan menemui wanita yang telah ia hancurkan jiwanya.

"Tunggu aku, Nadira," bisik Arka dalam hati saat pintu lift terbuka. "Aku datang bukan untuk memintamu melupakan luka itu dengan mudah. Aku datang untuk membiarkanmu melihat bahwa pria yang dulu menyakitimu, kini siap hancur demi mendapatkan maafmu."

Dengan langkah yang mantap dan janji suci kakeknya yang terpatri di dalam dada, Arka Mahendra berjalan menuju mobilnya. Fajar telah berganti menjadi pagi yang cerah, dan bagi Arka, ini adalah hari pertama di mana ia akan melangkah di jalan penebusan yang panjang—sebuah jalan terjal yang akan membawanya kembali pada arti kemanusiaan dan cinta yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!