Seorang pemuda dari Klan Lin, Lin Huang mencoba mencari jalannya sendiri di tengah keputusannya. Hingga suatu hari, kejadian tak terduga yang dia alami justru menjadi titik balik baginya untuk hidup di tempat yang hanya peduli pada kekuatan ini... Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melarikan Diri
"Mundur, Putri! Biarkan aku menahannya!" Mu berteriak, bersiap untuk menerjang maju.
"Tidak, Kakak Senior Mu. Kita tidak punya waktu untuk bertarung di sini. Kelelawar-kelelawar itu akan terus memanggil bala bantuan jika tidak dihancurkan," ujar Elysa cepat. Dia menarik busur peraknya, melepaskan rentetan panah cahaya hijau yang langsung mengincar makhluk-makhluk pelacak di udara.
Ciaakk! Ciaakk!
Dua kelelawar berkepala manusia itu meledak menjadi abu saat terkena panah Elysa. Namun, tiga ekor lainnya langsung berpencar dan mengeluarkan jeritan ultrasonik yang memekakkan telinga, menggetarkan gendang telinga Huang hingga kepalanya terasa pening.
Di saat yang sama, pemimpin Iblis berambut perak itu melesat maju, mengincar leher Huang dengan cakar kirinya yang diselimuti api hitam. "Kali ini, tidak akan ada badai debu yang bisa menyelamatkanmu!"
"Mundur, Putri! Biarkan aku menahannya!" Mu berteriak, bersiap untuk menerjang maju.
"Tidak, Kakak Senior Mu. Kita tidak punya waktu untuk bertarung di sini. Kelelawar-kelelawar itu akan terus memanggil bala bantuan jika tidak dihancurkan," ujar Elysa cepat. Dia menarik busur peraknya, melepaskan rentetan panah cahaya hijau yang langsung mengincar makhluk-makhluk pelacak di udara.
Ciaakk! Ciaakk!
Dua kelelawar berkepala manusia itu meledak menjadi abu saat terkena panah Elysa. Namun, tiga ekor lainnya langsung berpencar dan mengeluarkan jeritan ultrasonik yang memekakkan telinga, menggetarkan gendang telinga Huang hingga kepalanya terasa pusing.
Di saat yang sama, pemimpin Iblis berambut perak itu melesat maju, mengincar leher Huang dengan cakar kirinya yang diselimuti api hitam. "Kali ini, tidak akan ada badai debu yang bisa menyelamatkanmu!"
Huang menarik napas dalam-dalam, menahan rasa pening di kepalanya. Dia tidak menghindar. Energi ungu gelap di dalam meridiannya melonjak hebat, merespons ancaman tersebut dengan agresivitas yang murni.
BOOM!
Alih-alih menangkis dengan tinju seperti sebelumnya, Huang menggunakan teknik bertarung baru yang mengalir secara alami di dalam kepalanya sejak tubuhnya menyerap warisan Iblis Kuno. Dia menggerakkan tangan kirinya memutar, menciptakan pusaran energi ungu yang pekat, lalu menghantamkan telapak tangan kanannya langsung ke pergelangan tangan sang musuh.
KRETEK!
"Apa?!" Pemuda Iblis itu terpekik saat merasakan cengkeraman energinya dipatahkan secara paksa oleh aliran Qi kuno Huang yang jauh lebih padat dan berat.
"Sekarang giliranmu untuk merasakan neraka," bisik Huang dingin.
Dengan jarak yang sangat dekat, Huang memusatkan seluruh sisa energi ungunya ke ujung jari telunjuk dan tengahnya, lalu menusukkannya lurus ke arah ulu hati pemimpin Iblis tersebut. Semburan energi destruktif melesat keluar bagai tombak tak kasat mata, menembus pertahanan perlindungan tubuh sang musuh.
BUMMM!
Pemuda Iblis berambut perak itu memuntahkan darah hitam dalam jumlah besar. Tubuhnya terpental ke belakang, menabrak batang pohon purba hingga retak, lalu ambruk ke tanah dengan dada yang cekung ke dalam.
Matanya melebar penuh horor, menatap Huang dengan sisa kesadarannya sebelum akhirnya terkulai tak bernyawa. Seorang kultivator puncak ranah Kondensasi Qi dari Ras Iblis baru saja tewas di tangan seorang remaja yang beberapa hari lalu masih dianggap sampah.
Di udara, Mu berhasil mengejar dan menebas tiga kelelawar pelacak tersisa hingga hancur menjadi serpihan kegelapan.
Napas Huang terengah-engah, tubuhnya gemetar hebat karena memaksakan seluruh energinya keluar dalam satu serangan mematikan. Namun, sebelum dia sempat beristirahat, tanah di bawah mereka tiba-tiba bergetar jauh lebih hebat daripada saat pertarungan tadi.
Dari kejauhan, lolongan ribuan siluman dan suara gemuruh langkah kaki yang masif mulai terdengar. Kematian makhluk pelacak jiwa dan ledakan energi kuno Huang tampaknya telah memicu reaksi berantai, membangunkan seluruh penghuni terdalam Hutan Kematian.
"Badai siluman... mereka sedang menuju ke mari!" wajah Mu memucat pasi saat melihat ke arah cakrawala hutan yang mulai menggelap oleh kepulan debu raksasa.
Elysa segera memapah Huang yang lemas. "Kita harus pergi sekarang juga! Batas Hutan Abadi tinggal satu mil lagi di depan. Jika kita bisa mencapai gerbang pelindung kaumku, para siluman itu tidak akan berani mengejar!"
Dengan sisa kekuatan yang ada, ketiganya berlari kencang menembus pepohonan, sementara di belakang mereka, bayang-bayang ribuan makhluk mengerikan dengan mata menyala merah mulai merobek kabut hutan, memburu mereka dengan kecepatan yang menakutkan. Rintangan hidup dan mati kembali menghadang di depan mata.
Gemuruh di belakang mereka semakin mendekat, bergaung seperti guntur yang membelah bumi. Tanah bergetar hebat hingga pohon-pohon purba bergoyang, menjatuhkan dedaunan kering yang langsung terinjak-injak oleh ribuan kaki siluman. Bau anyir darah, keringat binatang, dan aura kematian pekat merayap di udara, mencekik paru-paru.
"Sedikit lagi! Gerbang perbatasan ada di balik bukit kabut itu!" teriak Elysa di antara desing angin, napasnya mulai tersengal-sengal.
Huang memaksakan kakinya untuk terus melangkah, meski setiap jengkal ototnya terasa seperti ditarik paksa hingga hampir putus.
Energi ungu di dalam tubuhnya bekerja dua kali lebih keras—satu sisi mencoba menyembuhkan organ dalamnya yang terguncang, di sisi lain terus meledakkan dorongan Qi ke kakinya agar tidak tertinggal.
SWUSH!
Sebuah tombak tulang raksasa melesat dari belakang, menancap tepat di samping kaki Huang, meledakkan tanah dan serpihan batu yang menyayat pipinya. Huang menoleh sekilas. Di balik kabut yang menipis, dia bisa melihat barisan terdepan dari badai siluman tersebut: serigala berkepala dua, badak berduri besi, hingga siluman kera raksasa yang melompat dari dahan ke dahan.
"Kalian berdua, teruslah berlari! Aku akan menahan mereka di celah tebing ini!" Mu tiba-tiba menghentikan langkahnya di sebuah celah sempit di antara dua bukit batu. Wajahnya mengeras, dipenuhi tekad mati. Sebagai pengawal, tugas utamanya adalah memastikan keselamatan sang putri, bahkan jika itu harus menukar nyawanya sendiri.
"Kakak Senior Mu, tidak!" Elysa tersentak, mencoba berbalik.
"Pergi, Putri! Jika tidak, pengorbanan kita semua akan sia-sia!" bentak Mu. Sepasang sayap transparan di punggungnya mengepak hebat, memancarkan cahaya hijau terang yang menyilaukan. Dia mulai merapalkan mantra terlarang kaum peri untuk menciptakan dinding angin pembatas.
Namun, sebelum Mu sempat menyelesaikan mantranya, seekor siluman kera raksasa ranah Fondasi Jiwa tingkat awal melompat turun dari langit-langit tebing. Cakar besarnya menghantam bumi, menciptakan gelombang kejut yang membatalkan mantra Mu dan mementalkannya hingga menabrak dinding batu.
Mu terbatuk darah, belati kembarnya terlepas dari genggaman. Siluman kera itu melolong menang, mengangkat tangannya yang besar untuk meremukkan kepala Mu.
"Mu!" Elysa menjerit, busur peraknya ditarik maksimal, namun dia tahu panah cahayanya tidak akan cukup cepat untuk menyelamatkan pengawalnya.
Di detik yang krusial itu, sebuah bayangan hitam melesat melewati Elysa.
Itu adalah Huang.
Di ambang kepasrahan, melihat seseorang yang berniat mengorbankan diri demi orang lain memicu sesuatu yang mendalam di lubuk hati Huang. Di Keluarga Lin, dia hanya melihat pengkhianatan dan egoisme. Namun di sini, di antara ras yang dianggap asing oleh manusia, dia melihat kesetiaan yang murni.
’Aku tidak akan membiarkan siapa pun mati di depanku jika aku bisa mencegahnya!’ lolong Huang di dalam hatinya.
Garis keturunan Iblis Kuno di dalam tubuhnya seolah mendengarkan amarah dan tekad Huang. Jantungnya berdegup dalam frekuensi yang aneh, dan untuk pertama kalinya, sebuah tanda berbentuk tato tiga sayap hitam samar muncul di dahi Huang.
Aura dingin yang luar biasa pekat meledak dari tubuhnya, seketika membuat siluman kera raksasa itu membeku di tempat karena tekanan hierarki murni. Di dunia siluman, intimidasi garis keturunan adalah hukum mutlak.
Huang melompat, tubuhnya berputar di udara. Semua sisa energi ungu dan Qi alam yang terserap paksa dipusatkan pada kaki kanannya.
"Tendangan Penghancur Surga!"
BUMMM!!!