Dikhianati hingga tewas di dunia modern, Anya, seorang CEO jenius ahli strategi investasi, bertransmigrasi ke tubuh Permaisuri Xian—seorang istri kaisar yang lemah, miskin, dan ditindas oleh para selir di istana belakang.
Namun, si licik salah memilih lawan. Jiwa yang baru ini tidak mengenal kata menyerah. Menggunakan ilmu ekonomi modern, Anya mengobrak-abrik Paviliun Logistik, menyikat habis menteri korup, dan membalikkan keadaan hingga para musuhnya gemetar ketakutan!
Di tengah aksi balas dendamnya yang badass, Kaisar Liang yang dingin dan berwibawa justru mulai mendekat, terpikat oleh kepakan sayap sang Ratu yang baru.
"Kau sangat menarik, Xian. Katakan padaku... apa yang sebenarnya terjadi padamu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 AIR MATA DI ISTANA ANGGREK
Berita mengenai eksekusi massal klan Cui dan penangkapan ayahnya sampai ke Istana Anggrek laksana hantaman ombak raksasa yang menghancurkan dermaga. Di dalam paviliun utama yang dulunya merupakan simbol kemewahan dan kekuasaan tertinggi di istana belakang, kini suasananya berubah menjadi mencekam, dipenuhi oleh ratapan ketakutan dan kekacauan. Seluruh pelayan, dayang, dan kasim yang dulunya bermuka dua dan selalu memuja Selir Agung Cui kini mulai sibuk menjarah barang-barang berharga di sekitar paviliun untuk melarikan diri sebelum tempat itu disegel sepenuhnya oleh pengawal kekaisaran.
"Tidak mungkin... ini tidak mungkin terjadi! Ayahku adalah menteri terkuat di kekaisaran ini! Bagaimana bisa wanita jalang dari Istana Phoenix itu menghancurkannya dalam satu pagi?!" Selir Agung Cui berteriak histeris, suara melengkingnya bergema di seluruh ruangan. Dia melempar sebuah vas bunga porselen dinasti kuno yang sangat mahal ke dinding hingga hancur berkeping-keping.
Rambutnya yang biasanya ditata dengan sanggul megah penuh perhiasan giok kini terurai berantakan, menutupi sebagian wajah cantiknya yang kini pucat pasi. Air mata mengalir deras, merusak riasan tebal di wajahnya hingga membuatnya tampak seperti hantu wanita yang mengerikan.
“Tok... Tok... Tok...”
Suara ketukan langkah kaki sepatu sutra yang teratur dan anggun terdengar dari arah pintu depan paviliun. Anya melangkah masuk ke dalam Istana Anggrek dengan pembawaan diri yang sangat tenang dan dingin, ditemani oleh beberapa pengawal wanita kekaisaran bersenjata lengkap. Di sekelilingnya, pecahan porselen dan kain sutra berserakan di atas lantai, menandakan tingkat kepanikan yang luar biasa dari sang pemilik tempat.
"Permaisuri Xian!" Selir Agung Cui berteriak histeris begitu melihat kedatangan Anya. Dengan mata yang merah karena dendam, dia mencoba berlari menerkam Anya, mengarahkan kuku-kuku jarinya yang dihiasi pelindung emas panjang ke arah wajah Anya.
Namun, sebelum Cui sempat mendekat dalam jarak dua langkah, dua pengawal wanita kekaisaran yang bertubuh kekar langsung bergerak cepat mencengkeram kedua lengan Cui dengan kuat, memitingnya ke belakang, dan memaksanya berlutut dengan kasar di atas lantai batu yang dipenuhi oleh serpihan pecahan porselen yang tajam.
"Lepaskan aku! Dasar budak-budak sialan! Aku adalah Selir Agung! Aku sedang mengandung anak laki-laki dari Baginda Kaisar Liang! Jika kalian berani menyentuh seujung rambutku, Baginda akan memenggal kepala seluruh klan keluarga kalian!" jerit Cui sambil meronta-ronta menahan sakit pada lututnya yang tergores pecahan porselen. Dia menatap Anya dengan sepasang mata yang dipenuhi belati kebencian.
Anya melangkah mendekat perlahan, mengabaikan makian dari wanita di depannya. Dia membungkukkan tubuh fisiknya sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Selir Agung Cui dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa kasihan yang mendalam—sebuah tatapan meremehkan yang jauh lebih menyakitkan bagi wanita seangkuh Cui daripada sebuah siksaan fisik.
"Mengandung anak Kaisar, Cui? Apakah kau benar-benar berpikir bahwa kebohongan besarmu itu bisa menyelamatkan nyawamu dari tiang gantungan hari ini?" Anya berbisik dengan nada suara yang sangat rendah, namun setiap kata yang diucapkannya terasa seperti tusukan jarum es di telinga Cui. "Aku sudah memerintahkan Kasim Wang untuk mengamankan seluruh catatan medis istana belakang dari tabib pribadimu yang telah kau suap selama ini. Kau tidak pernah hamil, Cui. Kau hanya menggunakan ramuan herbal khusus untuk memanipulasi denyut nadimu demi mempertahankan perhatian dan kasih sayang dari Baginda Kaisar."
Mendengar rahasia terbesarnya dibongkar dengan begitu mudah dan detail oleh Anya, seluruh kekuatan fisik Selir Agung Cui seolah lenyap seketika dari tubuhnya. Tubuhnya lemas, merosot jatuh ke atas lantai pualam yang dingin. Sepasang matanya menatap kosong ke depan dengan pandangan yang dipenuhi oleh rasa syok dan keputusasaan yang amat sangat.
"Di duniaku yang lama, manipulasi data medis dan pemalsuan dokumen penting seperti ini adalah kejahatan korporasi tingkat tinggi yang akan menjebloskanmu ke dalam penjara seumur hidup tanpa ada kesempatan untuk jaminan bebas," ucap Anya sambil berdiri tegak kembali, merapikan ujung jubah Phoenix-nya dengan anggun. "Mulai hari ini, gelar Selir Agung-mu dicopot secara tidak hormat. Kau akan dipindahkan ke Paviliun Dingin di ujung barat istana, tempat di mana kau akan menghabiskan sisa hidupmu merenungi seluruh dosa dan kekejaman yang telah kau lakukan kepada Permaisuri Xian yang asli."
Anya berbalik badan dan melangkah pergi dari Istana Anggrek tanpa menoleh ke belakang lagi, meninggalkan Cui yang kini meraung menangis histeris di atas lantai yang dingin. Permainan kekuasaan yang dibangun oleh klan Cui di atas pondasi kepalsuan dan darah selama satu dekade penuh akhirnya runtuh total di bawah kaki sang Permaisuri tiruan.