NovelToon NovelToon
MENAKLUKKAN TUAN MUDA ALVARO

MENAKLUKKAN TUAN MUDA ALVARO

Status: sedang berlangsung
Genre:Enemy to Lovers
Popularitas:698
Nilai: 5
Nama Author: aera_yong

Di SMA Nusantara Jaya, aturan mainnya sangat sederhana: Uang adalah hukum, dan E4 (The Elite Four) adalah penguasanya. Dipimpin oleh Alvaro Pramudya, pewaris tunggal konglomerat terbesar di Indonesia yang angkuh dan tak tersentuh, geng E4 mengendalikan sekolah dengan sistem "Kartu Merah"—sebuah vonis perundungan kejam yang membuat siapa pun targetnya memilih untuk putus sekolah.

Namun, roda takdir berputar secara instan ketika Kayla Shaqueena, seorang gadis tangguh anak pemilik laundry kiloan, masuk ke sekolah elit tersebut lewat beasiswa jalur khusus. Kayla bukan tipikal gadis yang akan tunduk pada intimidasi. Ketika kartu merah mendarat di mejanya, alih-alih menangis dan memohon ampun, Kayla justru merobek kartu tersebut dan melayangkan

Di antara benturan kasta, harga diri, cinta segitiga yang rumit, dan intrik keluarga kaya yang kotor, akankah Kayla bertahan sebagai rumput liar yang merusak taman indah E4?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aera_yong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERANGKAP DI ISTANA PRAMUDYA

Kayla berdiri mematung di tengah aula megah itu. Sinar matahari yang menembus kaca patri tinggi di dinding istana Pramudya mendadak terasa menyengat, membakar kesadarannya. Di depannya, tumpukan karung kain bertuliskan *Shafa Laundry* seolah menjelma menjadi jeruji besi tak kasat mata yang siap mengurungnya.

"Lima ratus juta..." bisik Kayla dengan suara yang bergetar. Angka itu terlalu tidak nyata bagi gadis yang terbiasa menghitung recehan keuntungan dari mencuci pakaian kiloan. Jika kontrak itu batal, keluarganya tidak hanya akan kehilangan ruko, tetapi juga masa depan mereka akan hancur lebur demi melunasi denda penalti.

Alvaro berdiri dari sofa kulitnya, melangkah perlahan mendekati Kayla hingga bayangan tubuhnya yang tinggi kembali menelan tubuh mungil gadis itu. Ia menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celana abu-abunya, menatap Kayla dari atas dengan kepuasan yang nyaris mutlak.

"Kontraknya sudah ditandatangani oleh ibumu pagi-pagi sekali, Kayla. Beliau menangis bahagia karena mengira ini adalah mukjizat dari Tuhan yang akan menyembuhkan penyakit suaminya," bisik Alvaro, suaranya terdengar begitu lembut namun sarat akan racun intimidasi. "Ibumu tidak tahu, bahwa 'mukjizat' ini memiliki harga yang harus dibayar oleh anak gadisnya. Jadi, bagaimana? Apakah kamu akan menjadi anak yang berbakti, atau membiarkan harapan orang tuamu hancur hari ini juga?"

Kayla mendongak. Air mata kemarahan yang sejak tadi tertahan di sudut matanya perlahan luruh, membasahi pipinya yang memerah. Namun, di balik air mata itu, sepasang matanya tidak memancarkan ketakutan. Ada api kebencian yang berkobar, begitu murni hingga membuat Alvaro sempat tertegun selama satu detik.

"Kamu adalah monster paling licik yang pernah kutemui seumur hidupku, Alvaro," desis Kayla, suaranya parau namun penuh penekanan tajam. "Kamu menggunakan ketulusan seorang ibu untuk memuaskan egomu yang terluka. Baik, aku terima permainan kotor ini. Aku akan datang ke sini setiap hari dan menyetrika bajumu. Tapi ingat satu hal... kamu mungkin bisa mengikat ragaku dengan uangmu, tapi kamu tidak akan pernah bisa membuatku tunduk."

Alvaro merasakan jantungnya berdegup kencang mendengar ucapan itu. Ada rasa puas karena ia berhasil menyeret Kayla ke dalam wilayah kekuasaannya, namun ada juga rasa kesal yang aneh karena gadis ini tetap menolak untuk patah.

"Kita lihat saja seberapa lama durimu bisa bertahan, Rumput Liar," sahut Alvaro dingin. Ia berbalik, melambaikan tangannya ke arah kepala pelayan. "Sediakan dia ruang setrika di paviliun belakang. Pastikan dia menyelesaikan tumpukan pertama sebelum jam sekolah berakhir hari ini."

---

Hari-hari berikutnya berubah menjadi rutinitas neraka bagi Kayla. Setiap pagi, ia harus berhadapan dengan tatapan sinis murid-murid di SMA Nusantara Jaya yang masih memperlakukannya bagai wabah akibat kartu merah E4. Dan setiap sore, alih-alih pulang ke rumah untuk beristirahat, sebuah mobil jemputan dari keluarga Pramudya sudah menunggunya di gerbang belakang sekolah untuk membawanya ke istana megah itu.

Di paviliun belakang yang sunyi, Kayla menghabiskan waktu berjam-jam di depan meja setrika uap berukuran besar. Tubuhnya yang kurus harus mengangkat helai demi helai pakaian mahal milik Alvaro, memastikan tidak ada satu pun kerutan yang tertinggal. Keringat membasahi kening dan lehernya, namun ia menolak untuk mengeluh. Setiap kali rasa lelah mendera, ia selalu membayangkan wajah ayahnya yang kini bisa bernapas lebih lega berkat obat-obatan mahal yang dibeli dari uang muka kontrak tersebut.

Sore itu, jam menunjukkan pukul enam tepat. Kayla baru saja menyelesaikan tasan jas sekolah Alvaro yang terakhir. Dengan napas yang sedikit terengah-engah, ia menggantung jas biru dongker itu di atas gantungan baju kayu, lalu berjalan menuju gedung utama untuk mengantarkannya ke kamar sang tuan muda, sesuai dengan aturan kontrak yang gila itu.

Kamar Alvaro terletak di lantai tiga gedung utama, sebuah ruangan raksasa yang lebih mirip dengan suite hotel bintang lima dengan nuansa hitam dan abu-abu gelap. Ketika Kayla mendorong pintu kamar yang tidak dikunci, ia mendapati ruangan itu kosong.

Kayla melangkah masuk dengan ragu, menaruh jas yang telah disetrika rapi itu di dalam lemari pakaian kayu jati yang terbuka luas. Namun, saat ia berbalik hendak keluar secepat mungkin, langkah kakinya mendadak terhenti oleh kehadiran sesosok tubuh yang bersandar di bingkai pintu balkon kamar.

Bukan Alvaro. Melainkan Devan Narendra.

Devan berdiri di sana dengan segelas air putih di tangannya, mengenakan kemeja kasual hitam yang kancing atasnya terbuka. Pandangan matanya yang selalu terlihat tenang dan mengantuk itu menatap Kayla dengan campuran rasa terkejut dan prihatin.

"Jadi... kabar burung itu benar?" ujar Devan pelan, suaranya memecah keheningan kamar. "Alvaro benar-benar menggunakan kontrak bisnis ibunya untuk memaksamu bekerja di rumah ini?"

Kayla menghela napas panjang, bahunya merosot lelah. Ia tidak bisa menyembunyikan kondisinya yang berantakan di depan Devan. "Aku tidak punya pilihan, Devan. Kontrak itu terlalu besar untuk ditolak oleh ibuku. Jika aku mundur, keluargaku harus membayar denda lima ratus juta. Kami tidak punya uang sebanyak itu."

Devan melangkah masuk ke dalam kamar, meletakkan gelasnya di atas meja nakas, lalu berdiri tepat di depan Kayla. Ia menatap wajah gadis itu yang terlihat pucat dengan kantung mata yang mulai menghitam akibat kelelahan bekerja ganda sebagai murid dan pelayan. Dengan gerakan yang sangat lembut, Devan mengulurkan tangan kanannya, menyeka sebutir keringat yang menetes di pelipis Kayla menggunakan ibu jarinya.

Sentuhan hangat Devan membuat jantung Kayla berdesir hebat, pipinya mendadak terasa panas.

"Kamu terlalu memaksakan dirimu, Kayla," kata Devan dengan nada suara yang begitu lembut, memancarkan rasa protektif yang tulus. "Alvaro melakukan ini semua hanya karena dia cemburu melihatmu pulang bersamaku tempo hari. Dia ingin membuktikan bahwa dia bisa mengendalikanmu dengan uangnya. Aku bisa membantumu melunasi denda lima ratus juta itu besok pagi, agar kamu bisa keluar dari tempat ini."

Kayla tertegun mendengar tawaran luar biasa dari Devan. Lima ratus juta bukanlah angka yang kecil, namun Devan mengucapkannya seolah itu hanyalah nominal recehan demi menyelamatkannya. Untuk sesaat, Kayla merasa sangat tersentuh.

Namun, harga diri Kayla yang tinggi kembali berbicara. Ia menggelengkan kepalanya perlahan, melangkah mundur satu jengkal untuk menjaga jarak dari Devan. "Terima kasih, Devan. Kamu benar-benar orang yang sangat baik. Tapi... jika aku menerima uangmu untuk melunasi utang kepada Alvaro, itu artinya aku hanya berpindah dari satu sangkar emas ke sangkar emas yang lain. Aku tidak ingin berutang budi terlalu besar kepada siapa pun. Aku akan menyelesaikan ini dengan caraku sendiri."

Devan menatap Kayla dengan tatapan mata yang semakin dalam. Rasa kagum di dalam hatinya terhadap gadis rumput liar ini tumbuh semakin subur. "Kamu benar-benar keras kepala, ya?"

"Itu satu-satunya modal yang kupunya untuk bertahan hidup di antara orang-orang kaya seperti kalian," sahut Kayla dengan seulas senyuman tipis yang manis, memperlihatkan lesung pipitnya yang sempat hilang beberapa hari ini.

Tepat pada detik itu, sebuah suara deburan pintu yang dibuka secara kasar mengejutkan mereka berdua.

*Brak!!!*

Alvaro Pramudya berdiri di ambang pintu kamar dengan napas yang memburu cepat. Sepasang matanya yang tajam berkilat penuh amarah yang berapi-api saat melihat pemandangan di dalam kamarnya: Devan dan Kayla sedang berdiri berdekatan dengan suasana yang terasa begitu intim.

"Apa yang kalian lakukan di dalam kamarku?!" bentak Alvaro, suaranya menggelegar di seluruh penjuru ruangan, dipenuhi oleh rasa cemburu murni yang tidak bisa lagi ia sembunyikan dari balik topeng angkuhnya.

Alvaro melangkah masuk dengan gusar, mencengkeram lengan Kayla dengan kasar dan menarik gadis itu agar menjauh dari posisi Devan. "Kayla, tugasmu di sini adalah menyetrika bajuku, bukan untuk menggoda sahabatku di dalam kamarku sendiri! Dan kamu, Devan... keluar dari rumahku sekarang juga!"

Devan tidak bergerak setapak pun. Ia menatap cengkeraman tangan Alvaro pada lengan Kayla yang mulai memerah, lalu mengangkat pandangannya dengan kilatan mata yang mendadak berubah menjadi sangat dingin dan tajam—sebuah ekspresi langka dari seorang Devan Narendra yang biasanya tidak peduli pada apa pun.

"Lepaskan tanganmu dari dia, Alvaro," ujar Devan dengan nada suara yang rendah namun memiliki getaran ancaman yang sangat nyata. "Kamu menyakitinya."

"Dia pelayanku! Aku bebas melakukan apa saja pada barang yang sudah kubeli!" balas Alvaro berteriak, egonya yang terluka membuat pikirannya gelap total.

"Aku bukan barang milikmu, Alvaro!!!" Kayla berteriak histeris, menyentakkan tangannya dengan sekuat tenaga hingga cengkeraman Alvaro terlepas. Ia menatap Alvaro dengan air mata yang kembali mengalir karena rasa sakit di pergelangan tangannya. "Aku muak denganmu! Aku muak dengan semua permainan kekanak-kanakanmu ini!"

Kayla tidak tahan lagi. Ia berbalik dan berlari keluar dari kamar tersebut sambil menangis, melewati Alvaro yang terpaku menatap telapak tangannya sendiri yang mendadak terasa kosong.

Di dalam kamar yang kini kembali sunyi, Devan berjalan mendekati Alvaro. Ia berhenti tepat di sebelah sahabatnya, lalu berbisik dengan nada yang sangat dingin sebelum melangkah pergi mengejar Kayla, "Kamu pikir kamu sedang menjinakkannya dengan cara ini, Alvaro? Sial bagi dirimu... kamu justru sedang membuatnya berlari semakin jauh ke dalam pelukanku."

Alvaro tetap berdiri mematung di tengah kamarnya yang luas. Kata-kata Devan bagaikan petir yang menyambar kesadarannya, meninggalkan rasa perih yang teramat sangat di dalam dadanya. Ia mengepalkan kedua tangannya begitu erat hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri.

"Dia tidak akan pernah menjadi milikmu, Devan..." desis Alvaro ke dalam kegelapan malam, matanya memancarkan obsesi dan rasa kepemilikan yang semakin membara. "Karena aku akan melakukan apa saja untuk memastikan dia hanya akan melihat ke arahku, bahkan jika aku harus menjadi iblis di dalam hidupnya."

---

Bersambung

1
falea sezi
pergi jauh aja kayla😒 toxic bgt devan sama Alvaro sama aja bangke😒 biar aja mereka berantem bodoh amat😒
falea sezi
jahat amat devan😒
falea sezi
kayak f 4 aja masak sama🤣
Aera_yong
💪💪💪🥳
Aera_yong
😭 the four elite
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!